Soul Brew Cafe mulai lengang. Leo melirik ke sekeliling. Hanya tersisa dua pelanggan perempuan yang duduk berdampingan di dekat jendela.
“Aku boleh mencoba kuemu?” tanya salah satu perempuan kepada temannya.
Perempuan di sebelahnya tersenyum. “Tentu saja boleh.”
Namun tak berselang lama, Leo mendengar sesuatu yang benar-benar berbeda dari ucapan bernada tulus itu.
‘Menyebalkan sekali. Kenapa dia selalu meminta kueku?’
Leo menghela napas. Ia sudah terbiasa mendengar ucapan manis yang ternyata berbeda jauh dengan maksud sebenarnya.
Ia pun mengalihkan pandangan kembali ke layar laptop dan hendak memakai headphonenya saat sebuah suara baru tiba-tiba menyusup ke pendengarannya.
“Jadi di sini tempat gadis itu bekerja? Aku akan mengeceknya.”
Leo mengangkat kepala dan meletakkan kembali headphonenya. Suara itu datang dari luar kafe, tepat di balik pintu kaca. Leo menatap jam dinding. Pukul sembilan lewat sepuluh menit. Tinggal lima puluh menit sebelum kafe tutup. Saat itulah bel pintu berdenting.
Dari pintu yang terbuka, Leo melihat seorang pria masuk sambil menundukkan kepala. Ia mengenakan jaket hitam. Langkahnya tenang, tampak seperti pelanggan yang teringat ingin membeli kopi sebelum pulang.
“Selamat malam,” sapa Maya dan Emily dari balik meja kasir.
Pria itu menoleh kepada kedua gadis itu.
“Masih bisa pesan?”
“Masih. Pesanan terakhir masih kami terima sampai dua puluh menit lagi,” jawab Emily.
“Kalau begitu, satu aren latte panas,” ujar pria itu sambil membaca menu di hadapannya.
Usai memesan, pria itu berjalan mencari kursi kosong. Leo menurunkan pandangan ke laptop dan kembali mengetik. Pria itu memilih kursi dua meja dari Leo, yang duduk di sudut ruangan terjauh dari pintu.
‘Dia yang ada di foto. Tidak salah lagi. Cantik juga dari dekat. Bos Besar tidak bilang dia semuda ini.’
Leo melirik ke arah pria di sampingnya. Pria itu sedang memperhatikan ponselnya.
‘Menurut informasi, gadis itu akan keluar membuang sampah lewat pintu belakang begitu kafe tutup. Aku harus keluar dan bersiap sebelum pukul sepuluh.’
Jemari Leo berhenti di atas papan ketik. Pandangannya sekali lagi bergeser ke arah pria berjaket hitam itu.
‘Dia memikirkan siapa, sih? Berisik sekali.’
Leo kembali menatap layar laptop, tetapi pikirannya sudah tidak lagi tertuju pada naskah novel yang sedang dikerjakannya.
‘Begitu barista itu membuang sampah, aku akan membekapnya dari belakang.’
Tubuh Leo menegang. ‘Barista? Membekap?’
“Ini pesanannya, Pak.”
Maya yang tiba-tiba muncul di samping meja pria itu membuat Leo tersentak.
“Terima kasih,” ujar pria itu.
Maya menoleh ke arah Leo dan tersenyum.
‘Pelanggan di sudut itu belum pulang juga. Apakah dia seorang penulis? Atau sedang mengerjakan tugas? Setiap malam dia selalu duduk di tempat yang sama bersama laptopnya. Jangan menatap terlalu lama, Maya. Nanti dia merasa tidak nyaman.’
Jantung Leo berdebar lebih kencang.
‘Jadi Maya memperhatikanku selama ini.’
Hampir saja sudut bibirnya terangkat. Namun, pikiran pria berjaket hitam itu kembali terdengar.
‘Gadis itu sepertinya tidak terlalu berat. Mudah saja membawanya ke mobil.’
Mata Leo membulat. Ia menatap punggung Maya yang berjalan ke meja kasir.
‘Targetnya Maya!’
Leo pun langsung mengambil ponselnya dan menghampiri pria berjaket hitam.
“Permisi, Pak.”
Pria itu mengangkat wajah.
Leo tersenyum. “Maaf kalau tiba-tiba. Saya memperhatikan Anda sejak tadi. Wajah Anda mirip sekali dengan aktor yang saya kenal.”
Pria itu mengernyit. “Aktor?”
“Danny Trejo! Boleh kita foto bersama?”
Tanpa menunggu jawaban, Leo berdiri di sampingnya dan mengangkat ponsel.
Klik.
Satu foto sudah cukup.
“Terima kasih.”
Leo bergegas kembali ke mejanya dan mengemasi barang-barangnya. Setelah itu, ia berjalan menuju kasir sambil mengangkat ponsel ke telinga.
“Ya... ya... Aku datang sekarang. Kamu tahu aku baru saja bertemu siapa? Danny Trejo! Pasti kamu tidak percaya. Aku pun tidak. Tapi ini nyata, bro!”
Sebelum membuka pintu, Leo melirik sekilas ke arah pria berjaket hitam. Pria itu masih duduk sambil menyesap kopinya.
Leo melangkah keluar. Namun, ia tidak benar-benar pergi. Ia bergerak menuju taman di sisi kiri bangunan, lalu berhenti di balik pohon besar yang tumbuh tidak jauh dari jendela samping.














Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!