Rencana di Remang Malam

1 dibaca

A

Dari persembunyiannya, Leo masih bisa melihat bagian dalam kafe melalui jendela kaca besar. Percakapan dan suara pikiran orang-orang di dalam juga masih terdengar. Selain itu, ia dapat mengawasi jalan kecil yang terhubung dengan pintu belakang kafe.

Leo tidak bisa berdiri terlalu dekat. Jika pria itu menyadari keberadaannya, rencana mereka mungkin berubah. Namun, ia juga tidak boleh menjauh. Lima meter. Hanya sejauh itu ia masih bisa menangkap pikiran seseorang dengan jelas.

Pukul sembilan lewat empat puluh menit, kedua pelanggan perempuan di dekat jendela mulai berkemas. Mereka membayar, mengucapkan selamat malam kepada Maya, lalu keluar satu per satu.

Kini, di dalam kafe hanya tersisa pria berjaket hitam yang sedang melakukan panggilan telepon.

“Halo, sebentar lagi aku ke sana.”

Itulah yang terdengar di telinga Leo. Namun, beberapa detik kemudian, pikiran pria itu ikut melintas.

‘Malam ini aku tidak boleh gagal. Aku harus menghabisi gadis itu sesuai perintah Bos Besar.’

Bulu kuduk Leo meremang.

“Menghabisi?” bisiknya. “Ini gila! Bagaimanapun caranya, aku harus menolong Maya.”

Pria itu tampak meletakkan ponselnya, lalu menghabiskan kopinya sebelum bangkit dari kursi. Leo menunggu sambil terus mengawasi jalan kecil di depannya.

Jalan itu sempit dan sepi. Selama ini Leo hanya pernah melihat truk sampah dan kendaraan logistik melewatinya pada pagi sampai sore hari.

“Terima kasih, Pak!”

Pria itu sudah selesai membayar dan berjalan keluar, lalu berbelok ke kanan mengikuti jalan utama di sisi kafe. Saat itulah Leo tidak lagi dapat menjangkau pikiran pria berjaket hitam tersebut. Jarak mereka sudah terlalu jauh.

Dari balik jendela, Leo melihat Maya dan Emily membersihkan kafe. Beberapa menit kemudian, Maya mengambil kantong sampah dan berjalan menuju pintu belakang, meninggalkan Emily yang masih menyusun kursi.

‘Sudah selesai. Tinggal membuang sampah, lalu pulang.’

Tak lama kemudian, suara mesin mobil terdengar memasuki jalan kecil di belakang bangunan dan berhenti di ujung dekat jalan besar. Leo dapat melihat siluetnya di antara cahaya lampu yang remang. Namun, ia tidak tahu mobil apa itu sampai percakapan samar terdengar dari arahnya.

“Kita harus bersiap. Begitu dia membuka tutup tong sampah, aku akan menyergapnya dari belakang. Setelah itu, aku akan memasukkannya ke mobil dan kita langsung pergi.”

Rahang Leo mengeras. Meskipun terhalang jarak dan dinding bangunan, ia mengenali suara itu sebagai suara pria berjaket hitam. Tak lama kemudian, suara lain menimpali.

“Siap, Bos!”

Leo mengepalkan tangan. Pandangannya terus berpindah antara pintu belakang dan ujung jalan. Sementara itu, Maya sudah memutar gagang pintu dan seberkas cahaya menyelinap dari celah yang terbuka.

Leo tidak punya waktu lagi untuk mencari alasan yang masuk akal. Menelepon polisi juga bukan pilihan. Apa yang harus ia katakan? Bahwa ia tahu rencana penculikan itu hanya karena mendengar pikiran seseorang?

“Aku harus mencegah Maya membuang sampah. Tapi bagaimana caranya?” gumam Leo. “Berpikir Leo... Ayo berpikir!”

Melihat celah pintu belakang makin terbuka lebar, Leo bergerak cepat. Ia keluar dari persembunyian, berjalan ke arah pintu belakang kafe dan langsung memanggil gadis itu.

“Maya!”

Saat pintu terbuka setengah, Leo sudah berdiri di hadapan gadis itu.

Alis Maya terangkat. Matanya menatap lurus ke arah Leo dengan penuh tanda tanya.

‘Dia pria yang biasa duduk di sudut kafe. Sedang apa dia di sini?’

“Flashdisk milikku hilang,” ujar Leo sambil memasang wajah cemas. “Aku sudah mencarinya ke mana-mana, tapi tidak ketemu. Apa aku boleh mencarinya sebentar di dalam? Siapa tahu terjatuh di bawah mejaku tadi.”

“Boleh. Silakan masuk. Aku mau buang sampah dulu.” Maya membuka pintu lebih lebar dan menjauh dari pintu agar Leo bisa lewat.

“Tunggu dulu!” Leo menahan Maya yang hampir melangkah.

Sudah sampai ujung

Bab terakhir

← Bab sebelumnya

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Komentarnya bisa dibaca siapa saja, tapi menulis butuh akun.

Masuk