Rahasia Sang Novelis

0 dibaca

A

Cahaya matahari pagi menyinari dinding bata merah rumah Leo. Pukul delapan lewat empat puluh lima menit, Maya melangkah keluar dari gerbang The Paras Residence dan menyusuri trotoar menuju kediaman Leo. Dengan sedikit canggung, ia memencet bel di sebelah pagar besi hitam.

Tak butuh waktu lama sampai pintu kayu jati berukir itu terbuka. Maya melihat Leo berdiri di sana, mengenakan kemeja kasual berwarna biru muda.

“Selamat pagi, Maya. Masuklah,” sapa Leo sambil membukakan pagar rumahnya.

Leo membawa Maya ke ruang tamu yang bernuansa hangat dan elegan. Di atas meja kayu mengkilap, tertata rapi beberapa lembar dokumen kontrak dan cangkir teh hangat.

Maya duduk di sofa empuk, membaca setiap poin perjanjian kerja itu dengan cermat. Semuanya jelas dan masuk akal. Gaji yang ditawarkan juga dua kali lipat dari penghasilannya di kafe. Setelah memastikan tidak ada yang merugikan dirinya, Maya akhirnya membubuhkan tanda tangan pada dokumen tersebut.

“Selamat bergabung, Maya,” ucap Leo sambil tersenyum setelah menerima salinan dokumennya. “Ayo, aku tunjukkan ruang kerjamu agar kamu bisa membayangkan situasinya nanti.”

Leo mengajak Maya naik ke lantai dua. Ketika pintu di ujung lorong dibuka, Maya menahan napas. Ruang kerja Leo begitu luas dengan pencahayaan alami yang menembus jendela besar. Namun, yang paling menarik perhatian Maya adalah salah satu dinding ruangan yang sepenuhnya dipenuhi oleh rak buku tinggi menjulang dari lantai hingga langit-langit. Ratusan buku tersusun rapi di sana.

Tanpa sadar, Maya melangkah mendekati rak buku tersebut. Matanya berbinar-binar menatap deretan judul di hadapannya. Langkahnya terhenti pada dua rak khusus di bagian tengah.

Di sana berjejer rapi seri novel thriller, misteri, dan sastra klasik dari dua nama yang sangat tidak asing baginya.

“Astaga... koleksinya lengkap sekali,” bisik Maya takjub. “Karya-karya Levi Andreas dan Judy Olivia. Lengkap sampai cetakan pertamanya!”

Maya menoleh ke arah Leo dengan mata berbinar. “Aku sangat menyukai karya-karya mereka berdua! Judy Olivia dengan kisah melankolisnya yang indah, dan Levi Andreas dengan alur misteri-thriller-nya yang selalu membuatku berdebar. Mereka berdua penulis favoritku sepanjang masa!”

Leo yang berdiri di dekat meja kerjanya tersenyum, ada seberkas kerinduan di matanya.

“Judy Olivia adalah mendiang ibuku,” ujar Leo.

Langkah Maya mendadak terhenti. “Ibumu? Benarkah?”

Leo mengangguk. “Iya. Beliau menulis banyak novel hebat semasa hidupnya.”

Maya masih berusaha mencerna informasi tersebut. Ibu Leo adalah sastrawan legendaris itu? Keren sekali! Namun, kejutan pagi ini ternyata belum berakhir.

“Dan mengenai Levi Andreas...” Leo berjalan mendekati rak buku, lalu mengambil salah satu edisi terbaru novel bestseller karya Levi Andreas yang ada di sana, “...itu adalah nama penaku.”

Ruangan itu mendadak hening. Maya mematung di tempatnya. Lidahnya seketika kelu. Matanya berpindah-pindah antara novel di tangan Leo dan wajah pria di hadapannya.

“K-kamu... Levi Andreas?” bisik Maya dengan suara yang nyaris tak terdengar. Seolah ia takut ini hanya mimpi.

Leo terkekeh melihat ekspresi syok di wajah Maya. “Iya, Maya. Senang berkenalan dengan penggemar beratku.”

Rasa takjub dan syukur yang luar biasa membuncah di dada Maya. Gadis itu masih tidak bisa percaya bahwa penulis misteri jenius yang novel-novelnya selalu ia buru di toko buku, pria yang karya-karyanya selalu menemani malam-malam sepinya, ternyata adalah Leo. Tetangganya sendiri. Pelanggan yang setiap malam duduk tenang di sudut kafe.

‘Astaga…! Ini bukan mimpi kan?’ batin Maya. ‘Bahkan mulai bulan depan aku resmi menjadi asisten pribadinya.’

Seumur hidupnya, Maya tidak pernah membayangkan bisa bekerja begitu dekat dengan penulis yang selama ini hanya ia kenal melalui karya-karyanya.

Maya kembali menatap rak buku di hadapannya. Ada begitu banyak hal yang ingin ia tanyakan kepada Leo. Tentang proses menulisnya, tentang bagaimana ia menciptakan tokoh-tokoh misterius dalam novelnya, bahkan tentang alasan ia memilih menggunakan nama pena.

Namun, yang paling membuat Maya penasaran justru bukan soal kepenulisan, tapi tentang bagaimana Leo bisa tahu ada seseorang yang berniat mencelakainya malam itu?

Sudah sampai ujung

Bab terakhir

← Bab sebelumnya

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Komentarnya bisa dibaca siapa saja, tapi menulis butuh akun.

Masuk