Memasuki Babak Baru

0 dibaca

A

Dengan langkah gontai dan mata yang masih sembap, Maya memutar gagang pintu flatnya. Di dalam, aroma roti panggang menyambutnya. Emily sedang duduk di meja makan dekat pantry, menikmati sarapan dengan santai.

Begitu Maya melangkah masuk, Emily langsung mendongak.

“Kamu dari mana?” tanya Emily.

“Kafe,” jawab Maya dengan lemas.

“Astaga, Maya! Aku lupa!” seru Emily panik. “Aku baru bangun! Bagaimana dengan kantong sampah semalam? Sudah kamu amankan sebelum Josh datang, kan?”

Maya tidak langsung menjawab. Ia berjalan lunglai menuju ruang tengah, lalu merebahkan tubuhnya di sofa depan televisi, menatap langit-langit dengan pandangan kosong.

Melihat tingkah sahabatnya yang tak biasa, Emily menaruh rotinya dan berbalik menghadap Maya dengan dahi berkerut.

“Maya? Kamu kenapa?”

“Aku dipecat, Emily.”

“Apa? Dipecat? Gara-gara sampah?” Emily terbelalak kaget.

Maya mengangguk. “Benar-bener mimpi buruk, Emily. Kantong sampah dirobek kucing liar. Sampah berhamburan dan basah oleh hujan. Bau menyengat. Tentu Josh marah besar.”

Emily langsung menghambur dan memeluk sahabatnya itu.

“Ya ampun, Maya... Maafkan aku! Andai semalam aku tidak mengajakmu begadang menonton film, pasti kita tidak akan kesiangan.”

“Bukan salahmu. Semua sudah takdir, Emily. Jangan menyalahkan diri sendiri.”

Emily mengusap punggung Maya dengan lembut. “Terima kasih, Maya. Tenang saja. Kamu tidak sendiri. Mulai besok aku akan membantumu mencari informasi lowongan kerja. Pasti ada tempat yang butuh tenaga kerja baru.”

“Sebenarnya... aku sudah dapat tawaran pekerjaan,” ujar Maya sambil melepaskan pelukan Emily.

Emily mengerjapkan mata dan memandang lekat mata sahabatnya. “Cepat sekali? Dari siapa?”

“Dari Leo.”

“Leo? Tetangga sebelah yang semalam mengantar kita?”

Maya mengangguk. “Dia menawariku posisi sebagai asisten pribadinya dengan gaji dua kali lipat dari gajiku di kafe.”

Mata Emily melotot sempurna. “Dua kali lipat? Yang benar saja?” Emily berseru girang, raut paniknya seketika berganti dengan binar antusias. “Kalau Leo butuh dua asisten pribadi, tolong bilang aku juga mau mendaftar!”

Namun tiba-tiba Emily menyipitkan matanya. “Tunggu dulu. Apa pekerjaan Leo sampai dia butuh asisten pribadi?”

Mereka berdua saling tatap dalam diam. Selama ini, Maya hanya mengenal Leo sebagai pelanggan tetap yang selalu duduk di sudut kafe selama berjam-jam membawa laptop.

“Apakah dia sedang lanjut studi? Atau dia seorang freelancer?” tebak Emily.

Maya teringat beberapa kilasan memori yang selama ini tanpa sengaja ia lihat dari benda-benda di sekitar Leo. Gadis itu beberapa kali melihat Leo mengetik semacam naskah cerita di layar laptopnya.

“Sepertinya... dia menulis cerita,” gumam Maya dengan nada ragu.

“Penulis buku? Penulis naskah film?” Emily makin penasaran. “Daripada kita menebak-nebak, sebaiknya kamu bertanya saja padanya. Tanya tugasmu apa saja. Dari situ kita bisa lebih tahu apa profesinya. Atau sekalian saja tanya dia kerja apa!”

“Ide bagus!”

Maya meraba saku jaketnya dan mengeluarkan ponsel. “Baiklah. Aku akan bertanya langsung kepadanya.”

Emily menaikkan alisnya. “Kamu punya nomornya?”

Maya mengangguk sambil mencari kontak Leo di ponselnya.

Emily makin penasaran. “Dapat dari mana?”

“Tadi di depan gedung, sebelum aku masuk ke sini,” kata Maya. “Leo memberiku nomor ponselnya agar bisa mengabari lewat pesan kalau aku sudah mengambil keputusan.”

Tanpa membuang waktu, Maya mengetik pesan singkat untuk Leo, menanyakan rincian tugas asisten pribadi yang ia maksud. Hanya butuh waktu beberapa detik hingga ponsel Maya bergetar menerima balasan pesan.

Tugasmu cukup fleksibel. Membantuku mencari bahan untuk referensi cerita, menemani ke mana pun aku pergi selama jam kerja, mengurus akomodasi saat aku ke luar kota atau ke luar negeri, berdiskusi, mencetak naskah, dan membuatkan kopi untukku saat aku sedang menulis. Mungkin besok kita bisa mendiskusikannya lebih terperinci jika kamu ada waktu.

Maya membacakan pesan itu keras-keras di depan Emily.

“Sepertinya benar dia seorang penulis!” ucap Emily. “Tugas yang diberikan Leo terdengar seru dan santai! Apalagi gajimu naik dua kali lipat. Menurutku, kamu harus menerima tawaran ini, Maya!”

Maya tersenyum, rasa sesak di dadanya perlahan terangkat. Ia membalas pesan Leo, menyetujui untuk bertemu Leo besok pagi dan membahas kontrak kerjanya secara lebih mendetail.

Sudah sampai ujung

Bab terakhir

← Bab sebelumnya

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Komentarnya bisa dibaca siapa saja, tapi menulis butuh akun.

Masuk