Pengantin 8 Jam

1 dibaca

A

“Ka-kamu bilang akadnya masih sebulan lagi, Mas,” protes Kirana sambil meraih bajunya yang tercecer di lantai. Dengan langkah bergegas dia mengikuti Kevin yang sedang mengambil sepatunya.

“Setauku juga begitu, Na. Tapi barusan ibuku memberi tau kalau akadnya dimajukan jadi besok pukul sebelas.”

Kirana terpaku, berdiri mematung di depan Kevin. Baru 8 jam yang lalu dia berstatus sebagai istri, kini dia harus menerima kenyataan sang suami akan menikah lagi. Yah, dia memang sudah tahu hal ini sejak awal, hanya saja dalam bayangannya tidak secepat ini. Dia pikir selama satu minggu ini dia bebas menikmati kebersamaan mereka.

“Kirana, please. Jangan buat aku jadi penjahat di sini. Aku tidak kuat melihat air matamu lagi. Sejak awal kamu ‘kan sudah tau bagaimana kondisiku? Kamu juga yang mengusulkan pernikahan kita.”

Kirana menghela napas panjang seraya menghapus air mata yang mengalir di pipinya.

“Maafin aku, Mas. Seharusnya aku sudah tidak menangis lagi, tapi aku juga nggak bisa menahan diri. Air mataku mengalir begitu saja. Maaf ....”

Suara Kirana bergetar, bahunya terguncang dengan kedua tangan menutupi wajah. Melihat hal itu Kevin berdiri lalu memeluk Kirana dengan sangat erat.

“Kenapa kamu meminta maaf, Sayang. Bukan salah kamu. Aku yang salah karena tidak berdaya melindungi pernikahan kita. Maafin Mas ya, Na.”

Kirana menggeleng. Dia kembali menyeka air matanya berusaha untuk tegar. “Tidak perlu meminta maaf lagi, Mas. Pernikahan kita adalah kemauanku sendiri, jadi aku juga sudah siap dengan konsekuensinya.”

Kirana menyeka air mata yang mulai bergulir di pipi Kevin, lalu memberikan kecupan lembut di sana. “Pergilah, Mas. Tunaikan baktimu sebagai anak. Aku ... di sini akan menunggumu dengan doa.”

Kevin mengecup kening Kirana, lama sekali. Ia tak rela mengakhiri kebersamaan mereka hari itu, tapi ia juga tidak punya pilihan.

“Aku janji, Na. Seminggu sekali akan menginap di sini. Aku nggak akan lupa dengan kewajibanku sebagai suami. Kamu percaya padaku, kan?”

Kirana mengangguk. “Aku percaya kamu, Mas. Selalu.”

Mereka kembali berpelukan. Setelah beberapa saat pelukan mereka terurai, dan Kevin pun melangkah menuju pintu.

“Nggak usah mengantar. Kamu langsung kunci aja pintunya, setelah itu tidur.”

Kirana kembali mengangguk dengan senyum patah yang berusaha ia perlihatkan. Dalam hitungan detik saja tubuh Kevin menghilang di balik pintu, air mata Kirana pun kembali terjun bebas.

Malam itu, Kirana menghabiskan sisa malam pertamanya dengan menangis hingga pagi.


Ballroom Hotel Angkasa tampak indah dipenuhi dekorasi. Ruangan berukuran dua kali lapangan voli itu akan menjadi tempat sakral ijab kabul sekaligus resepsi pernikahan Kevin dan Dewinta.

Jam sudah menunjukkan pukul 11 siang. Di sudut ruangan yang dihiasi dengan bunga berwarna putih, Kevin duduk berhadapan dengan Cokro, calon mertuanya.

“Kamu jangan macam-macam dengan pernikahan ini, ya. Ingat ayahmu!” Cokro membisikkan ancaman dengan bibirnya yang setengah rapat.

Kevin mengangguk pasrah. “Demi ayah. Demi keluargaku. Aku harus berkorban,” bisiknya dalam hati.

“Sudah siap semuanya?” Suara penghulu memecah ketegangan di hati Kevin.

Lalu dalam hitungan menit, acara ijab kabul pun berlangsung, dan Kevin pun resmi menyandang status sebagai suami sah Dewinta.

Semua orang menghela napas lega saat saksi menyatakan sah, tetapi tidak dengan Kevin. Dia sangat tidak nyaman, apa lagi mengingat sosok Dewinta yang ia kenal selama ini.

“Ayo, pengantinnya silakan dibawa masuk,” kata MC membuat jantung Kevin semakin berdetak tak karuan.

Semua mata tertuju pada pintu di mana pengantin wanita akan muncul, kecuali Kevin. Kepalanya tetap menunduk dengan kedua tangan saling meremas. Dia ingin kabur dari tempat itu, tapi tak bisa.

“Angkat kepalamu, Kevin. Hargai istrimu!” ucap Cokro dengan nada tegas.

Kevin tak berdaya. Mau tak mau dia pun mengangkat kepala, menoleh kearah pintu seperti yang lainnya.

Dalam bayangan Kevin seorang wanita bertubuh super gemuk akan muncul di sana, tetapi perkiraannya salah. Lama tak bertemu Dewinta yang ia kenal ternyata telah jauh berubah. Dia tak lagi gemuk, tetapi ...

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Komentarnya bisa dibaca siapa saja, tapi menulis butuh akun.

Masuk