Pengakuan

0 dibaca

A

Resepsi sudah selesai sejak setengah jam yang lalu, sekarang Kevin dan Dewinta sudah berada di kamar pengantin. Di pinggir ranjang Kevin duduk terdiam dengan wajah shock.

Bagaimana tidak shock mengingat penampilan Dewinta saat pertama kali muncul di ruang akad tadi. Dewinta muncul bukan dalam balutan kebaya putih yang senada dengan pakaian yang ia kenakan, tetapi dalam setelan jas hitam.

Sekali lagi. Setelan jas hitam lengkap dengan rambut pendek persis lelaki. Seandainya saja Kevin belum mengenal siapa Dewinta, pasti ia akan mengira Dewinta itu pria. Untung saja pas acara resepsi Dewinta mengenakan gaun pengantin yang normal, jika tidak entah kemana rasanya mukanya akan disembunyikan karena malu.

Banyak pertanyaan berputar di ruang benak Kevin,  tapi dia tahan sekuat tenaga hingga semua rangkaian acara resepsi selesai.

Di satu sisi Kevin lega karena Dewinta tak lagi gemuk seperti dulu, tetapi dia tidak menyangka kalau Dewinta akan menjadi tomboy begini.

“Kok pucet gitu kayak habis ketemu hantu? Belum pernah melihat transgender, ya?” ucap Dewinta seraya menghenyakkan bokong di samping Kevin.

Bagai disambar petir di siang hari, Kevin menoleh dengan tatapan tak percaya, menatap Dewinta dari ujung rambut hingga ujung kaki. “Ka-kamu transgender? Ja-jadi kamu laki-laki?” Sekujur tubuh Kevin merinding seketika. Dia pun spontan menggeser posisi duduknya menjauhi Dewinta, lalu berdiri dengan gusar.

“Oh, jadi ini alasan Pak Cokro memaksaku menikahimu? Karena kamu ternyata manusia jadi-jadian?  Sialan. Tau begini aku nggak akan terima pernikahan ini. Nggak bisa, aku harus minta penjelasan!” Kevin menggeram, bersiap untuk keluar kamar, tetapi Dewinta dengan sigap mencekal tangannya.

“Jangan terbawa emosi, Kevin. Sebelum kami protes ke ayahku, mending kamu baca lagi deh perjanjian pra nikah yang kamu tanda tangani,” ucap Dewinta seraya menunjuk map di atas meja rias.

Kevin meraih map itu, lalu membaca isinya lagi dengan hati-hati. Di situ tertulis jelas pihak kedua alias dirinya harus menerima apa pun keadaan sang istri.

Kevin menghela napas panjang, lalu melempar map itu ke meja. Setelah itu ia kembali menatap Dewinta yang membalas tatapannya dengan senyuman jahil.

“Jawab pertanyaanku tadi, Dewinta! Kamu itu beneran transgender? Kamu itu sebenarnya laki-laki atau perempuan?” Suara Kevin meninggi.

Pertanyaan Kevin bukannya dijawab, Dewinta justru tertawa.

“Iiih, gemes deh. Kamu gampang banget dikibulin.”

“Jawab aku, Dewinta!” desak Kevin tak sabar. Ia sama sekali tidak ada niat bercanda kali ini.

“Dew! Panggil aku Dew.” Dewinta meralat dengan nada setengah memaksa.

Kevin semakin frustrasi. Dia menghela napas panjang lalu kembali mendesak Dewinta. “Jawab aku, Dew. Kamu ini laki-laki atau masih perempuan?”

Dewinta lagi-lagi tertawa. “Maunya sih jadi laki aja, tapi papa ga kasih duit buat operasi. So, lucky you. Sampai detik ini aku masih perempuan.”

Kevin bernapas lega, tapi hanya sesaat karena Dewinta kembali berkata, “tapi aku biseks, ya.”

Kevin shock untuk yang kesekian kalinya. “Ya, Tuhan. Cobaan apa lagi ini?”

“Udahlah. Kamu kenapa shock gitu sih? Hari gini biasa kale. Lagian pernikahan kita kan cuma pernikahan bisnis, Vin. Kamu pun mau menikahiku karena hutang ayahmu, kan?”

Kevin terdiam, tapi kepalanya mengangguk. Ya, memang itu adalah alasan sebenarnya.

“Sekarang mending kamu tenangin diri dulu. Setelah kamu tenang mari kita bicara serius tentang pernikahan ini. Gimana?”

Kevin menghela napas panjang lalu mengangguk. “Kalau begitu, aku mandi dulu.”

“Mau aku temani?”

Kevin terbelalak, Dewinta lagi-lagi tertawa. Kevin bergegas ke kamar mandi lalu mengunci pintunya dari dalam. Dia kembali merinding teringat pengakuan Dewinta tadi.

“Astaga! Jadi Dewinta itu penyuka sejenis?”

Kevin sengaja berlama-lama di kamar mandi dengan harapan Dewinta sudah tidur saat ia kembali.

Sayangnya harapan Kevin salah. Dewinta sedang asyik bermain game di ponselnya ketika Kevin keluar dari kamar mandi.

Menyadari kehadiran Kevin, dia pun duduk lalu mengakhiri permainan.

“Duduk sini, Vin,” katanya seraya menepuk kasur.

Kevin menurut. Ya, begini lebih baik dari pada menghindar, batinnya.

“Seperti yang aku bilang tadi, aku biseks.” Dewinta mengulangi kata-katanya tadi. “Jadi ... aku sama sekali nggak keberatan melayani kebutuhan biologis kamu. Ini juga kalau kamu mau ya, aku nggak maksa.”

“Kalau aku nggak mau? Bagaimana dengan kebutuhan kamu?”

“Ini yang harus kita bicarakan. Eh, tapi sebelumnya aku mau tanya dulu. Sebelum kita menikah, kamu ada pacar nggak?”

Kevin terdiam. Bolehkah dia menjawab jujur?

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Komentarnya bisa dibaca siapa saja, tapi menulis butuh akun.

Masuk