Tantangan 1 Miliar

0 dibaca

A

Kevin jengah dengan pertanyaan-pertanyaan Dewinta yang menurutnya semakin memojokkan. Padahal dalam pernikahan ini bukan cuma dirinya yang memiliki kepentingan, tetapi Dewinta juga. Satu lagi, pernikahan ini juga sudah pasti tidak dilandasi cinta, jadi di antara mereka tidak ada kewajiban untuk mengetahui percintaan di masa lalu.

“Cukup, Dew. Jangan mengulik-ulik masa laluku lagi. Aku sepenuhnya sadar akan peranku dalam pernikahan ini. Sesuai perjanjian yang kita buat, sebagaimana aku menerima dirimu apa adanya, kamu juga harus menerimaku dengan semua masa laluku.”

Suara tegas Kevin membuat Dewinta terkejut, tetapi di sisi lain dia juga terpesona. Untuk pertama kali dalam hidupnya dia terkesima oleh pesona laki-laki. Padahal Kevin sama sekali tidak berkata manis, tetapi karena sikap apa adanya itu membuat Dewinta tertarik.

“Oke. Kalau begitu, mari kita jalani pernikahan ini dengan sebaik mungkin. Siapa tahu, kan? Kamu bisa membuatku kembali ke ‘jalan’ yang benar.”

Kevin tidak menjawab. Dia hanya mengangguk saja karena kepalanya sendiri tengah sibuk membayangkan Kirana. Ia butuh pelukan wanita itu sekarang. Bagi Kevin tidak ada tempat yang paling menenangkan selain pelukan Kirana.


Tiga hari berlalu.

Azan subuh baru saja selesai berkumandang, Kevin yang sudah bangun sejak setengah jam yang lalu mempercepat langkahnya menuju mushola keluarga. Ya, di rumah Cokro yang besar bak istana itu memang dilengkapi dengan mushola yang berdiri megah di halaman belakang. Ukurannya cukup besar, diperkirakan bisa menampung hingga seratus jamaah.

“Vin!” Suara Cokro terdengar memanggil dari belakang.

Kevin menoleh, seraya memperlambat langkahnya. “Iya, Yah.”

“Dewinta tidak kamu ajak sholat?”

“Sudah aku bangunkan, Yah. Tapi dia tidak mau.”

Helaan napas panjang terdengar dari mulut Cokro. “Anak itu, entah kapan akan berubah.” Dia menepuk pelan pundak Kevin lalu berkata, “Setelah sholat temui ayah di ruang kerja.”

Kevin mengangguk. “Baik, Yah.”

Mereka memasuki mushola tanpa banyak kata, selanjutnya fokus menunaikan ibadah subuh.

Sesuai rencana, Kevin langsung menuju ruang kerja Cokro yang berada di lantai dua.

Kevin mengetuk pintu. “Assalamualaikum, Yah. Ini Kevin.”

“Masuk saja, Vin,” sahut Cokro dari dalam.

Kevin menurut. Dia masuk ke ruangan berkarpet tebal itu. Ini adalah kali ketiga ia berada di ruangan kerja Cokro. Pertama kali saat masih sekolah dulu ketika ia dipanggil untuk menerima beasiswa. Bisa dibilang Cokro sangat berjasa dalam pendidikannya karena berkat beasiswa dari majikan ayahnya itulah Kevin bisa menyelesaikan kuliah tanpa hambatan berarti. Kali kedua saat ia diminta menikahi Dewinta demi menebus kesalahan ayahnya.

“Sudah tiga hari kamu jadi suami anakku. Bagaimana perasaanmu?” tanya Cokro setelah beberapa saat larut dengan pikirannya.

Ini adalah pertama kalinya mereka berbincang setelah akad nikah hari itu.

“Maaf, Yah. Boleh aku berkata jujur?” Kevin balik bertanya.

“Silakan.”

Kevin menghela napas sejenak. “Aku merasa ditipu, Yah.”

Cokro menatap dalam ke mata Kevin, menunggu kalimat selanjutnya, tapi tak kunjung keluar. Pemuda itu mungkin sedang menahan gejolak di dalam dadanya.

“Kenapa? Kamu kecewa karena keadaan Dewinta?” tebak Cokro.

Kevin mengangguk. “Kenapa Ayah tidak jujur sejak awal sehingga aku bisa mempersiapkan diri.”

“Kalau sejak awal kamu tahu kondisi anakku, kamu pasti tidak mau menikahinya.”

Kevin hanya menundukkan kepala, tidak membantah tapi tak juga membenarkan.

“Aku harus mempertahankan nama baik keluarga ini, Vin. Menikahkan Dewinta dengan orang asing sama saja mengumbar aib keluargaku. Beda dengan kamu. Ayahmu sudah puluhan tahun menjadi bagian keluarga ini. Berawal dari supir, hingga dia dipercaya mengurus pabrik. Kamu sendiri pun sudah sangat familiar dengan keluarga ini. Kamu dan Dewinta bisa dikatakan teman sepermainan saat kecil.”

Kepala Kevin berayun pelan. Yang Cokro katakan memang benar. Dia sendiri sudah sangat mengenal keluarga Cokro ini sejak kecil. Hanya saja sejak Dewinta sekolah di luar negeri mereka tidak pernah bertemu lagi.

“Aku mengerti, Yah. Karena itu aku juga meminta pengertian Ayah kalau kami tidak bisa memberikan Ayah cucu.”

“Usahakanlah, Vin. Kamu itu tampan, lho. Masa iya tidak bisa merayu Dewinta buat gituan,” bujuk Cokro seraya menggerakkan kedua alisnya.

Kevin tertawa miris. “Dewinta itu nggak suka laki-laki, Yah, sukanya sama perempuan. Bagaimana aku bisa merayunya kalau dia justru merasa jijik denganku.”

Tiba-tiba Cokro meraih tangan Kevin lalu menggenggamnya dengan sangat erat. Kali ini tatapannya berubah sangat serius.

“Ayah mohon, jangan menyerah, Kevin. Ayolah, kamu pasti bisa.” Cokro menyemangati. “Dengar ayah, ya. Kalau kamu bisa membuat Dewinta menjadi wanita normal dalam satu tahun ini, utang ayahmu yang segunung itu akan aku hapus. Kamu juga bebas mau melanjutkan pernikahan ini atau tidak.”

Kevin terdiam, otaknya mencerna kata-kata Cokro. “Maksud Ayah, aku nggak perlu menunggu sampai tiga tahun sesuai perjanjian pra nikah?”

Cokro mengangguk.

“Nggak perlu. Satu tahun saja, kalau kamu bisa membuat Dewinta jadi wanita normal, aku hapus semua utang ayahmu. Aku bahkan akan tambahkan bonus satu miliar kalau Dewinta melahirkan anak kalian.”

Tubuh Kevin menegang. Seumur hidup belum pernah ia melihat uang sebanyak itu, jadi mana mungkin ia tak kan tergiur.

“Sa-satu miliar?” Ia bergumam pelan.

“Ya. Satu miliar,” sahut Cokro dengan tatapan berbinar.

Kevin tersenyum lebar. Dalam bayangan Kevin uang sebanyak itu bisa ia berikan untuk membahagiakan Kirana. Rumah, kendaraan, perhiasan, dan properti lainnya bisa ia belikan untuk Kirana. Karena itu tanpa ragu sedikitpun, Kevin meraih tangan Cokro, menggenggamnya dengan erat, lalu berkata.

“Deal. Tolong buat perjanjiannya, Yah.”

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Komentarnya bisa dibaca siapa saja, tapi menulis butuh akun.

Masuk