#MengakaliMalamPertama
“Dulu ada, tapi sekarang sudah putus.”
Kevin memutuskan untuk berbohong. Ia teringat akan ancaman Cokro di hari pernikahannya. Jika Dewinta tahu hubungan Kevin dengan Kirana, bukan mustahil wanita itu akan mengadu pada ayahnya. Kevin jelas tidak mau keselamatan Kirana terancam kalau Cokro sampai tahu hubungan mereka.
“Oh, gitu. Kapan putusnya? Sudah lama atau baru? Dia tinggal di mana? Di Jakarta juga atau di kota lain?”
“Nggak penting, Dew. Untuk apa juga kamu tahu wanita di masa laluku. Yang penting kita sekarang sudah menikah sesuai kemauan ayahmu.”
Dewinta merungut kesal. “Penting, dong, Vin. Kalau kamu putusnya baru-baru ini bisa jadi kamu masih ada perasaan sama dia. Trus kalau dia juga ada di Jakarta ini, wah bahaya dong. Kapan aja kamu bisa menemui dia. Walau pun pernikahan kita pernikahan bisnis, aku nggak mau ya diselingkuhi.”
Kevin menggaruk kepalanya yang mendadak gatal. Dia semakin yakin harus menutupi hubungan dengan Kirana. Tidak ada cara lain, dia harus kembali berbohong.
“Kami putusnya udah lama, kayaknya udah lebih setahun. Ntah lah aku ga terlalu ingat. Trus ... dia juga nggak di kota ini, kok.”
Kepala Dewinta mengangguk-angguk puas. “Bagus deh. Kalau begitu kamu pasti bisa jalani peran sebagai suamiku dengan baik.”
“Aku usahakan. Tapi jawab dulu pertanyaanku tadi.”
“Yang mana?”
“Tentang kebutuhan kamu. Jujur aja, Dew. Aku tipikal orang yang nggak bisa romantis tanpa perasaan. Jadi dalam waktu dekat ini jangan harap kita bisa lakukan itu.”
“Iiih, siapa juga yang mau gituan sama kamu. Sekalipun kamu telanjang di depanku, aku nggak bakal selera, Vin.” Dewinta berkata dengan ekspresi jijik.
Namun, Kevin justru lega mendengarnya karena itu berarti ia tidak perlu melakukan hubungan suami istri dengan Dewinta. Rasa bersalahnya pada Kirana pun bisa berkurang.
“Tapi ... kamu tahukan gimana sifat ayahku?” kata Dewinta lagi. “Dia pasti sedang mengawasi kita malam ini.”
Bola mata Kevin membesar, kepalanya spontan bergerak menyisiri kamar. “Maksud kamu ... kamar ini dipasang CCTV?”
Dewinta tertawa melihat ekspresi Kevin. “Ayahku nggak segila itu, Vin.”
“Tadi kamu bilang dia mengawasi kita.”
Dewinta menghela napas panjang. “Maksudku ini lho.” Tangannya menepuk seprai beberapa kali. “Besok pagi dia pasti periksa bukti malam pertama kita.”
Kevin tertegun. Ingatannya melayang pada Kirana yang baru saja ia perawani 24 jam yang lalu. Ah, belum apa-apa dia sudah merindukannya.
“Hei, kamu mikirin apa? Kok melamun?” Jentikan jari Dewinta di depan wajahnya membuyarkan lamunan Kevin.
“Ah, tidak. Aku tidak mikirin apapun kok. Cuma bingung. Apa yang harus kita lakukan untuk memenuhi ekspektasi ayahmu?”
“Gampang itu, mah. Tinggal lukain jari, trus olesin ke seprai. Seperti ini.”
Tanpa menunggu persetujuan Kevin, Dewinta menggigit jarinya hingga berdarah, lalu meneteskan darah itu di seprai sesuai rencana.
Kevin kaget, dia pun spontan menarik tangan Dewinta seraya berkata, “apa-apaan kamu, Dew? Kenapa melukai diri sendiri?”
Dewinta yang merasa bukan hal besar justru kaget melihat reaksi Kevin yang menurutnya berlebihan.
“Cuma luka kecil kok, Vin. Nih, lihat. Tanpa diobatin juga bakal sembuh sendiri,” kata Dewinta. Ia menatap hasil karyanya di seprai lalu kembali menggigit ujung jarinya.
“Eh, kamu mau ngapain lagi?” Kevin kembali menarik tangan Dewinta.
“Itu nodanya masih kurang. Aku mau tambahin dikit lagi.”
Kevin menahan tangan Dewinta sambil menggeleng keras. “Nggak, Dew. Itu udah cukup. Kamu pikir darah perawan itu sebanyak apa, hah?”
“Kamu yakin? Soalnya kalau aku lihat di film-film tuh lebih banyak dari ini.”
Kevin lagi-lagi menggeleng. “Hoax itu. Aslinya mah dikit aja.”
Kening Dewinta berkerut, ia menatap Kevin penuh selidik.
“Kok kamu tau? Pengalaman pribadi, ya? Sama siapa?”














Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!