Bab 1 Sarang yang Hancur

2 dibaca

A

Kabut tipis merayap di antara pepohonan raksasa yang menjulang tinggi ke langit kelabu. Hutan di prefektur Shizuoka pada zaman Heian-Kyo bukanlah hutan biasa. Pepohonan di sini memiliki batang-batang sebesar lima orang dewasa yang saling berpelukan. Akar-akarnya mencengkeram tanah seperti jari-jari tangan raksasa yang menolak untuk melepaskan genggamannya dari bumi. Lumut hijau tua menyelimuti setiap permukaan batu dan kulit kayu, memberikan kesan bahwa hutan ini telah ada sejak dunia pertama kali terbentuk.

Di kedalaman hutan itu, tersembunyi sebuah sungai yang mengalir pelan. Airnya jernih namun gelap, memantulkan bayangan-bayangan pohon yang bergoyang tertiup angin seperti tarian makhluk-makhluk tak kasat mata. Suara gemericik air bercampur dengan nyanyian jangkrik dan dengungan serangga-serangga malam yang bersembunyi di balik dedaunan.

Tepat di sisi sungai itu, di balik tirai sulur-sulur tanaman merambat yang menjuntai bagai rambut panjang seorang wanita, terdapat mulut sebuah gua. Gua itu gelap. Gelap sekali. Bahkan cahaya bulan yang biasanya mampu menembus celah-celah dedaunan tidak berani masuk ke dalam gua itu. Seolah-olah kegelapan di dalamnya adalah sesuatu yang hidup, yang menelan setiap berkas cahaya yang mencoba menyentuhnya.

Namun di dalam kegelapan itu, ada kehidupan.

Jaring-jaring laba-laba membentang di setiap sudut gua. Bukan jaring biasa yang tipis dan mudah tertiup angin. Jaring-jaring ini tebal, berkilau keperakan ketika sesekali cahaya kunang-kunang yang tersesat masuk ke dalam gua menyentuh permukaannya. Setiap helai benang jaring itu sekuat tali tambang yang digunakan nelayan-nelayan untuk menambatkan perahu mereka di dermaga.

Di sudut terdalam gua, empat sosok kecil sedang bermain.

Yang pertama adalah Kyo. Dia yang paling tua di antara keempatnya. Tubuhnya menyerupai anak manusia berusia sepuluh tahun, namun dari punggungnya muncul empat kaki laba-laba berwarna hitam mengkilap yang bergerak-gerak dengan lincah. Rambutnya hitam panjang sebahu, dan matanya berwarna merah gelap seperti batu delima yang dipoles hingga berkilau. Kyo sedang memintal jaring baru di langit-langit gua, jari-jarinya yang kecil bergerak cepat, menarik benang-benang sutra dari ujung jemarinya dengan keterampilan yang luar biasa untuk anak seusianya.

“Shigeru, kau lihat ini?” Kyo memanggil adiknya dengan suara yang riang. “Aku membuat pola baru. Bentuknya seperti bunga sakura.”

Shigeru mendongak dari posisinya yang tengkurap di atas batu besar. Dia yang kedua tertua, bertubuh lebih kecil dari Kyo namun memiliki kaki-kaki laba-laba yang lebih panjang dan lebih banyak. Enam kaki laba-laba muncul dari sisi-sisi tubuhnya, masing-masing bergerak dengan irama yang berbeda-beda seolah memiliki pikiran sendiri-sendiri.

“Bunga sakura?” Shigeru memiringkan kepalanya. “Itu tidak terlihat seperti bunga sakura, Kyo. Itu lebih mirip bintang laut yang terdampar.”

“Kau tidak tahu seni,” Kyo mendengus kesal.

“Aku tahu seni,” Shigeru membela diri sambil menggeliat, kaki-kaki laba-labanya mengetuk-ngetuk permukaan batu seperti penabuh drum yang gelisah. “Aku hanya mengatakan yang sebenarnya.”

Di pojok gua yang lain, Koji duduk dengan tenang. Dia anak ketiga, yang paling pendiam di antara keempat bersaudara. Tubuhnya kurus dan pucat, hampir menyatu dengan dinding gua yang lembap. Koji tidak memiliki kaki laba-laba sebanyak kakak-kakaknya, hanya dua, namun kedua kaki itu sangat kuat. Dia mampu menahan beban sepuluh kali lipat berat tubuhnya hanya dengan kedua kaki laba-laba itu. Koji sedang mengelus-elus seekor kelabang hitam besar yang melingkar di pangkuannya seperti kucing peliharaan.

“Koji, kau masih bermain dengan kelabang itu?” Shigeru melirik dengan jijik. “Itu menjijikkan.”

Koji tidak menjawab. Dia hanya tersenyum tipis dan terus mengelus kelabangnya.

Yang terakhir adalah Nanami. Dia yang paling muda dan paling kecil. Tubuhnya menyerupai anak manusia berusia lima tahun, dengan pipi-pipi tembam dan mata-mata besar yang bulat seperti kelereng hitam. Nanami belum memiliki kaki laba-laba sama sekali. Ibunya mengatakan bahwa kaki-kaki itu akan tumbuh seiring waktu, ketika dia cukup dewasa. Nanami sedang duduk di pangkuan sesosok wanita yang tubuhnya setengah manusia dan setengah laba-laba.

Wanita itu adalah Jorogumo.

Dari pinggang ke atas, Jorogumo menyerupai wanita manusia yang sangat cantik. Rambutnya hitam legam, panjangnya menyapu lantai gua. Kulitnya putih pucat seperti porselen, halus tanpa cacat. Wajahnya memiliki kecantikan yang mengerikan. Hidungnya mancung, bibirnya merah seperti darah segar, dan matanya berwarna emas menyala yang mampu menembus kegelapan paling pekat. Namun dari pinggang ke bawah, tubuhnya adalah tubuh seekor laba-laba raksasa. Delapan kaki-kaki besar berwarna hitam mengkilap menopang tubuhnya, masing-masing sepanjang dua tombak prajurit. Perut laba-labanya besar dan bulat, ditutupi bulu-bulu halus berwarna hitam kecokelatan.

Jorogumo mengelus rambut Nanami dengan jari-jari panjangnya yang lentik. Kuku-kukunya panjang dan tajam, berwarna hitam seperti obsidian, namun sentuhannya pada rambut Nanami begitu lembut seperti hembusan angin musim semi.

“Ibu,” Nanami mendongak, matanya yang besar menatap wajah ibunya. “Kapan aku punya kaki seperti Kak Kyo?”

Jorogumo tersenyum. Senyumnya hangat, penuh kasih sayang yang tulus. Saat tersenyum seperti ini, tidak ada seorang pun yang akan menduga bahwa wanita ini adalah siluman laba-laba raksasa yang ditakuti seluruh makhluk di hutan Shizuoka.

“Sabar, Nanami,” suara Jorogumo mengalir lembut seperti air sungai di luar gua. “Kaki-kakimu akan tumbuh saat kau sudah siap. Setiap siluman laba-laba memiliki waktunya sendiri-sendiri.”

“Tapi aku ingin sekarang,” Nanami merengek, bibir bawahnya maju beberapa senti. “Aku ingin bisa memanjat dinding seperti Kak Kyo dan Kak Shigeru.”

“Kau akan bisa,” Jorogumo menjawab sambil mencium puncak kepala Nanami. “Dan saat waktunya tiba, kaki-kakimu akan menjadi yang paling kuat dan paling indah di antara semua saudaramu.”

Kyo yang mendengar percakapan itu dari atas langit-langit gua menyeringai.

“Jangan khawatir, Nanami,” Kyo berseru dari atas. “Kalau kaki-kakimu tidak tumbuh-tumbuh juga, aku akan menggendongmu ke mana-mana dengan kaki-kakiku.”

“Benarkah, Kak Kyo?” Nanami tersenyum lebar, memperlihatkan gigi-gigi kecilnya yang runcing.

“Tentu saja. Aku ini kakak tertua. Itu sudah tugasku.”

Shigeru mendengus. “Kau bahkan tidak bisa menggendong Koji, Kyo. Kakimu sendiri masih goyah kalau memanjat terlalu tinggi.”

“Itu tidak benar!” Kyo protes dengan wajah merah. “Aku hanya tergelincir sekali, dan itu karena lumut di dindingnya terlalu licin!”

“Sekali?” Shigeru mengangkat alis. “Aku menghitung setidaknya tujuh kali bulan ini.”

“Shigeru!”

Jorogumo tertawa kecil mendengar pertengkaran anak-anaknya. Suara tawanya bergema di dinding-dinding gua, menciptakan gema yang terdengar seperti lonceng-lonceng kecil yang berdering di kejauhan. Inilah hidupnya. Inilah dunianya. Gua gelap ini, anak-anak yang saling bertengkar dan bermain, jaring-jaring yang ditenun dengan sabar setiap hari, dan sungai yang mengalir tenang di luar sana. Jorogumo tidak membutuhkan apa pun lagi selain ini.

Dunia manusia di luar sana tidak pernah menarik perhatiannya.

Jorogumo tahu bahwa manusia-manusia tinggal di pemukiman yang tidak jauh dari hutannya. Dia pernah melihat asap-asap tipis yang mengepul dari balik pepohonan, menandakan adanya rumah-rumah dan dapur-dapur tempat manusia memasak makanan mereka. Dia pernah mendengar suara-suara mereka yang samar terbawa angin, tawa-tawa, teriakan-teriakan, dan nyanyian-nyanyian yang aneh dan asing di telinganya. Namun Jorogumo tidak pernah mendekati mereka. Dia tidak membenci manusia, tetapi dia juga tidak mempercayai mereka. Manusia adalah makhluk yang tidak bisa diprediksi. Mereka bisa tersenyum ramah di satu saat dan menghunuskan pedang di saat berikutnya.

Ibunya dulu pernah berpesan.

“Jangan pernah percaya manusia, Jorogumo,” kata ibunya dengan suara yang berat dan penuh peringatan. “Mereka takut pada apa yang tidak mereka pahami. Dan ketika manusia takut, mereka membunuh.”

Jorogumo selalu mengingat pesan itu.

Malam itu, setelah anak-anaknya tertidur, Jorogumo merangkak pelan keluar dari gua. Kedelapan kakinya bergerak tanpa suara di atas batu-batu basah, setiap langkahnya begitu hati-hati seolah dia takut membangunkan batu-batu itu dari tidurnya. Dia berdiri di tepi sungai dan menatap pantulan dirinya di permukaan air.

Di bawah cahaya bulan, wajahnya terlihat lebih pucat dari biasanya. Mata-mata emasnya berkilau seperti dua lentera kecil di tengah kegelapan. Rambut hitamnya terjuntai ke permukaan air, ujung-ujungnya menyentuh arus yang mengalir pelan dan terseret mengikuti arah aliran.

Jorogumo menghirup udara malam dalam-dalam. Udara di sini bersih, tercampur dengan aroma tanah basah dan daun-daun yang membusuk di lantai hutan. Dari kejauhan, dia bisa mendengar suara burung hantu yang berseru-seru, memanggil pasangannya di balik kegelapan.

“Aku akan melindungi kalian,” Jorogumo berbisik kepada angin malam. “Aku akan melindungi anak-anakku. Apa pun yang terjadi.”

Dia tidak tahu bahwa kata-kata itu akan menjadi janji yang mustahil untuk ditepati.


Pagi datang dengan cahaya matahari yang menerobos celah-celah dedaunan dan menerangi hutan dengan berkas-berkas cahaya keemasan yang membentuk pola-pola rumit di lantai hutan. Kabut malam perlahan-lahan menguap, digantikan oleh embun yang menetes-netes dari ujung-ujung daun dan membasahi setiap permukaan yang bisa dijangkaunya.

Di dalam gua, Kyo sudah bangun lebih dulu dari saudara-saudaranya. Dia merangkak ke langit-langit gua dan memeriksa jaring-jaring yang dibuatnya semalam. Beberapa helai benang sudah putus, mungkin diterjang oleh kelelawar-kelelawar yang keluar masuk gua di malam hari. Kyo berdecak kesal dan mulai memperbaikinya.

“Kak Kyo, kau sudah bangun?” suara Nanami terdengar dari bawah, masih serak karena baru bangun tidur.

“Sudah dari tadi,” Kyo menjawab tanpa menoleh, jari-jarinya sibuk memintai benang-benang baru untuk menggantikan yang putus. “Kau sendiri, kenapa bangun sepagi ini?”

“Aku bermimpi buruk,” Nanami menjawab dengan suara kecil. “Aku bermimpi ada orang-orang jahat yang datang ke gua kita.”

Kyo berhenti memintal. Dia menoleh ke bawah dan melihat adik bungsunya yang berdiri di lantai gua dengan mata-mata besar yang berkaca-kaca. Kyo segera meluncur turun dari langit-langit menggunakan benang sutra dan mendarat di depan Nanami dengan lembut.

“Itu hanya mimpi, Nanami,” Kyo berkata sambil menepuk-nepuk kepala adiknya. “Tidak ada orang jahat yang bisa masuk ke gua kita. Ibu ada di sini. Aku ada di sini. Shigeru dan Koji juga ada. Kita semua akan melindungimu.”

Nanami mengangguk pelan, namun matanya masih menyimpan ketakutan yang belum sepenuhnya hilang.

Shigeru menggeliat dan bangun dari tidurnya, keenam kaki laba-labanya merentang ke segala arah seperti bintang laut yang baru terbangun.

“Berisik sekali pagi-pagi,” Shigeru menguap lebar. “Ada apa sih?”

“Nanami bermimpi buruk,” Kyo menjelaskan.

“Mimpi buruk?” Shigeru menggaruk kepalanya dengan salah satu kaki laba-labanya. “Mimpi apa?”

“Ada orang-orang jahat,” Nanami menjawab dengan bibir gemetar.

Shigeru terdiam sejenak, lalu merangkak mendekati Nanami dan memeluknya dengan dua kaki laba-labanya yang panjang.

“Dengar ya, Nanami,” Shigeru berkata dengan nada yang tidak biasa baginya, nada yang serius dan penuh perhatian. “Tidak ada yang bisa menyakiti kita selama kita bersama-sama. Kita ini siluman laba-laba. Kita kuat. Paham?”

Nanami mengangguk dan memeluk kakaknya erat-erat.

Koji yang terbangun oleh keributan itu hanya menatap mereka dari sudut gua dengan ekspresi datarnya yang biasa. Kelabang hitam besarnya sudah hilang entah ke mana, mungkin merayap keluar gua mencari makanan. Koji tidak berkata apa-apa, namun matanya yang gelap menyimpan perhatian yang sama besarnya terhadap adik bungsunya itu.

Jorogumo muncul dari kedalaman gua, tubuh laba-labanya bergerak dengan anggun meski ukurannya sangat besar. Dia melihat anak-anaknya yang sudah berkumpul di bagian tengah gua.

“Apa yang terjadi?” Jorogumo bertanya, suaranya lembut namun ada nada waspada di dalamnya. Insting seorang ibu tidak pernah bisa ditipu.

“Nanami bermimpi buruk, Bu,” Kyo menjawab. “Tentang orang-orang jahat yang datang ke gua kita.”

Jorogumo menatap Nanami. Mata-mata emasnya melembut ketika melihat putri bungsunya yang masih gemetar dalam pelukan Shigeru. Jorogumo merangkak mendekati mereka dan mengangkat Nanami dari pelukan Shigeru dengan hati-hati, menempatkan anak bungsunya di atas punggung laba-labanya yang lebar dan empuk karena dilapisi bulu-bulu halus.

“Ini hanya mimpi, sayang,” Jorogumo berkata sambil mengelus pipi Nanami. “Gua ini adalah rumah kita. Tidak ada yang bisa menemukan kita di sini. Kita aman.”

“Janji, Bu?” Nanami menatap ibunya dengan mata-mata yang penuh harap.

“Janji.”

Janji itu terucap dengan begitu mudahnya. Seperti hembusan angin yang melewati dedaunan tanpa hambatan. Jorogumo tidak tahu bahwa janji itu akan menjadi beban terberat yang pernah dia pikul sepanjang hidupnya.


Hari-hari berlalu dengan damai. Kyo terus menyempurnakan keterampilan menenun jaringnya. Setiap hari dia membuat pola-pola baru yang semakin rumit dan indah. Shigeru menemani adik-adiknya bermain di tepi sungai, mengajari mereka cara menangkap ikan-ikan kecil yang berenang di air dangkal. Koji tetap menyendiri di sudut gua dengan hewan-hewan kecilnya, namun sesekali dia bergabung dengan saudara-saudaranya ketika Nanami memintanya dengan mata yang berkaca-kaca. Dan Nanami, si bungsu yang periang, mengisi gua dengan celoteh-celoteh dan tawa-tawa yang membuat setiap sudut gelap menjadi sedikit lebih terang.

Jorogumo mengawasi mereka semua dengan penuh kasih. Dia mengajarkan anak-anaknya cara memintal sutra, cara merasakan getaran di jaring untuk mendeteksi mangsa atau bahaya, dan cara-cara bertahan hidup yang telah diturunkan dari generasi ke generasi siluman laba-laba sebelumnya.

Pada suatu sore yang cerah, ketika matahari mulai condong ke barat dan cahayanya berubah menjadi jingga kemerahan yang mewarnai langit seperti kanvas lukisan, keempat anak Jorogumo sedang bermain di bagian depan gua. Kyo menggantung jaring-jaring barunya di mulut gua, membuat tirai sutra yang berkilau ditimpa cahaya senja. Shigeru memanjat batu-batu besar di sekitar mulut gua sambil menantang Koji untuk balapan. Koji menggeleng-gelengkan kepalanya namun akhirnya ikut memanjat juga setelah Shigeru mengejeknya berulang-ulang. Nanami duduk di tepi sungai, kaki-kaki kecilnya terendam air dingin yang mengalir, matanya mengikuti gerakan-gerakan ikan-ikan kecil yang berenang di antara bebatuan.

Jorogumo sedang berada di bagian dalam gua, memperbaiki sarangnya yang sudah mulai tua dan rapuh di beberapa bagian. Dia menarik-narik benang sutra dari tubuhnya dan memperkuat struktur sarang dengan teknik yang hanya dikuasai oleh siluman laba-laba yang sudah hidup ratusan tahun.

Saat itulah semuanya berubah.

Suara itu muncul dari arah hutan. Suara langkah-langkah kaki yang berat dan tegas, menginjak ranting-ranting kering yang patah dengan bunyi retakan tajam. Suara itu semakin dekat, semakin keras, semakin mengancam.

Kyo yang sedang menggantung jaring di mulut gua adalah yang pertama mendengarnya. Dia membeku di posisinya, keempat kaki laba-labanya menegang seperti busur yang ditarik. Telinganya yang tajam menangkap setiap detail dari suara itu. Langkah kaki manusia. Satu orang. Berat. Membawa sesuatu yang berat di pinggangnya, mungkin senjata.

“Shigeru,” Kyo berbisik tajam. “Berhenti.”

Shigeru yang sedang bergelantungan di sisi batu langsung berhenti bergerak. Dia menatap Kyo dengan tatapan bertanya.

“Ada seseorang,” Kyo berbisik lagi, matanya merah gelapnya menyipit memandang ke arah hutan.

Koji yang mendengar bisikan Kyo langsung meluncur turun dari batu dan merapat ke dinding gua. Tubuhnya yang pucat hampir menyatu sempurna dengan batu-batu keabu-abuan di sekitarnya. Matanya yang gelap menatap ke arah hutan dengan kewaspadaan yang tajam.

Nanami yang masih duduk di tepi sungai belum menyadari apa yang terjadi. Dia masih asyik memperhatikan ikan-ikan kecil yang berenang.

“Nanami!” Kyo mendesis. “Kemari! Sekarang!”

Nanami mendongak dengan bingung. “Ada apa, Kak?”

“Kemari! Cepat!”

Nanami bangkit dari duduknya dan berlari-lari kecil menuju gua, air sungai yang menetes dari kakinya meninggalkan jejak-jejak basah di atas batu. Belum sempat dia mencapai mulut gua, sosok itu muncul dari balik pepohonan.

Seorang samurai.

Dia berdiri di tepi hutan, tepat di mana pepohonan mulai menipis dan membuka jalan menuju sungai. Tubuhnya tinggi dan tegap, dibalut baju zirah berwarna hitam yang kusam karena sudah lama dipakai. Di pinggangnya terselip sebuah katana panjang dengan sarung berwarna merah gelap yang sudah terkelupas di beberapa bagian. Rambutnya diikat ke belakang dengan ikatan yang rapi, memperlihatkan dahinya yang lebar dan bekas luka melintang di pipi kirinya. Matanya tajam dan dingin, menatap lurus ke depan dengan pandangan seorang pemburu yang menemukan mangsanya.

Namanya Kanbe.

Kanbe adalah ronin, samurai tak bertuan yang berkelana dari satu wilayah ke wilayah lain. Dia bukan pria yang baik. Dia juga bukan pria yang jahat. Dia adalah pria yang hidup dengan aturannya sendiri, dan aturan itu sederhana. Bunuh apa pun yang menghalangi jalanmu. Ambil apa pun yang kau butuhkan. Jangan pernah menoleh ke belakang.

Kanbe sudah berjalan selama tiga hari menembus hutan ini. Perutnya lapar, tenggorokannya kering, dan kakinya mulai terasa berat. Ketika dia mendengar suara air sungai di kejauhan, dia mengikuti suara itu dengan harapan bisa minum dan beristirahat. Yang tidak dia duga adalah menemukan mulut gua yang dipenuhi jaring-jaring laba-laba yang berkilau aneh di bawah cahaya senja.

Kanbe menyipitkan matanya. Jaring-jaring itu terlalu besar dan terlalu tebal untuk jaring laba-laba biasa. Setiap helai benangnya setebal rambut manusia, dan polanya terlalu sempurna, terlalu indah untuk dibuat oleh serangga biasa.

“Apa ini?” Kanbe bergumam, suaranya serak dan rendah.

Lalu dia melihat mereka.

Empat sosok kecil yang sebagian tubuhnya adalah anak manusia dan sebagian lagi adalah laba-laba. Kyo yang membeku di mulut gua. Shigeru yang menempel di sisi batu. Koji yang menyatu dengan dinding. Dan Nanami yang berdiri di antara sungai dan gua dengan tubuh gemetar.

Kanbe menarik katananya dari sarungnya. Bunyi logam yang bergesekan itu memecah kesunyian hutan seperti teriakan kematian.

“Yokai,” Kanbe mendesis, matanya menyala dengan campuran rasa jijik dan amarah.

Kyo bergerak lebih dulu. Dia melompat dari mulut gua dan mendarat di depan Nanami, kaki-kaki laba-labanya membentang lebar, melindungi adiknya di balik tubuhnya.

“Lari, Nanami!” Kyo berteriak. “Masuk ke dalam gua! Panggil Ibu!”

Nanami terlalu ketakutan untuk bergerak. Tubuhnya membeku, mata-mata besarnya terbelalak menatap samurai besar yang berdiri di depannya dengan pedang terhunus. Air mata mulai mengalir di pipi-pipinya yang tembam.

“NANAMI! LARI!”

Teriakan Kyo menyadarkan Nanami dari kebekuannya. Nanami berbalik dan berlari secepat kaki-kaki kecilnya mampu membawanya, masuk ke dalam kegelapan gua sambil menangis memanggil-manggil ibunya.

“IBU! IBU! ADA ORANG JAHAT! IBU!”

Kanbe tidak menunggu. Dia maju dengan langkah-langkah besar dan cepat, katananya terangkat tinggi di atas kepalanya. Cahaya senja memantul di permukaan bilah pedang itu, menciptakan kilatan-kilatan jingga yang menyilaukan.

Kyo mengangkat kaki-kaki laba-labanya dan mencoba menahan serangan Kanbe. Tapi dia hanya anak-anak. Kaki-kakinya yang masih muda dan belum sekuat milik ibunya tidak mampu menahan tebasan katana seorang ronin yang sudah bertarung seumur hidupnya.

Tebasan pertama mengenai kaki laba-laba Kyo yang paling kanan. Kaki itu putus dan jatuh ke tanah, berkedut-kedut beberapa kali sebelum berhenti bergerak. Darah hitam pekat menyembur dari luka itu.

Kyo menjerit kesakitan. Suaranya memekakkan telinga, bercampur dengan suara manusia dan suara serangga yang mengerikan.

“KAK KYO!” Shigeru menjerit dari atas batu.

Shigeru melompat dari batu dan menerjang Kanbe dari samping. Keenam kaki laba-labanya menyerang secara bersamaan, mencoba menusuk, mencakar, dan melilit tubuh samurai itu. Namun Kanbe adalah petarung yang berpengalaman. Dia berputar dengan gerakan yang cepat dan presisi, katananya memotong udara dengan suara mendesis yang tajam.

Tebasan kedua mengenai Shigeru tepat di tubuh laba-labanya. Shigeru terpental ke belakang dan menghantam dinding batu di tepi sungai. Tubuhnya merosot jatuh ke air, darah hitamnya menodai air sungai yang jernih.

“Shigeru! Tidak!” Kyo berusaha bangkit meski salah satu kakinya sudah hilang. Dia merangkak mendekati adiknya yang tergeletak di air sungai.

Kanbe melangkah maju tanpa ragu. Wajahnya tidak menunjukkan emosi apa pun. Tidak ada keraguan, tidak ada belas kasihan, tidak ada penyesalan. Baginya, makhluk-makhluk ini bukanlah anak-anak. Mereka adalah yokai, monster, ancaman yang harus dimusnahkan.

Koji yang selama ini bersembunyi di dinding gua akhirnya bergerak. Dia meluncur dari dinding dengan kecepatan yang menakjubkan, tubuh pucatnya melesat seperti anak panah menuju Kanbe. Dua kaki laba-labanya yang kuat menghantam dada Kanbe dengan kekuatan penuh.

Kanbe terhuyung mundur beberapa langkah. Dia meringis kesakitan. Pukulan itu cukup kuat untuk membuat tulang-tulang rusuknya berderak. Namun Kanbe tidak jatuh. Dia menancapkan kakinya di tanah dan menahan tubuhnya agar tetap berdiri.

“Lumayan untuk seekor anak laba-laba,” Kanbe menggeram.

Kanbe menebaskan katananya dengan gerakan horizontal yang cepat. Koji mencoba menghindar namun bilah pedang itu terlalu cepat. Tebasan itu mengenai sisi tubuhnya, membuat Koji terlempar dan berguling-guling di tanah berbatu.

Kyo merangkak mendekati Shigeru yang sudah tidak bergerak di air sungai. Darah hitam adiknya menodai tangannya. Kyo mengguncang-guncang tubuh Shigeru.

“Shigeru! Bangun! Shigeru!”

Shigeru tidak menjawab. Matanya tertutup. Tubuhnya sudah tidak bergerak.

“TIDAK!” Kyo menjerit, suaranya pecah oleh tangis dan amarah.

Kanbe berjalan mendekati Kyo dengan langkah-langkah yang lambat dan penuh ancaman. Katananya meneteskan darah hitam ke tanah, setiap tetesnya meninggalkan bekas yang tidak akan pernah hilang.

“Menyedihkan,” Kanbe bergumam.

Kyo mendongak menatap Kanbe dengan mata-mata yang dipenuhi kebencian. Dia ingin melawan. Dia ingin menerjang samurai itu dan mencabik-cabiknya menjadi serpihan-serpihan daging. Namun tubuhnya terlalu lemah. Darah yang terus mengalir dari luka di kakinya yang putus telah menguras kekuatannya.

“Kau...” Kyo mendesis, suaranya bergetar. “Kau akan menyesal...”

Kanbe mengangkat katananya.

Tebasan terakhir jatuh tanpa ampun.

Kyo tumbang di samping Shigeru, di tepi sungai yang airnya kini berwarna hitam pekat.

Kanbe berbalik dan melihat Koji yang masih tergeletak di tanah berbatu. Anak ketiga itu masih bernapas, namun napasnya lemah dan tersengal-sengal. Darah hitam menggenang di bawah tubuhnya.

Kanbe mengayunkan pedangnya sekali lagi.

Dan gua itu menjadi sunyi.


Jauh di dalam kedalaman gua, Jorogumo mendengar jeritan-jeritan anak-anaknya. Suara-suara itu menembus kegelapan dan menusuk jantungnya seperti ribuan jarum yang ditancapkan secara bersamaan.

Nanami berlari masuk ke dalam gua dengan wajah bersimbah air mata. Tubuh kecilnya gemetar hebat, kakinya berkali-kali tersandung batu-batu yang berserakan di lantai gua.

“IBU! IBU! ADA MANUSIA! DIA MENYERANG KAK KYO! IBU!”

Jorogumo tidak membuang waktu. Dia melesat keluar gua dengan kecepatan yang mustahil untuk tubuh sebesar itu. Delapan kakinya mencengkeram dinding dan langit-langit gua bergantian, membawa tubuhnya menembus kegelapan seperti kereta perang yang menerjang medan pertempuran.

Ketika Jorogumo mencapai mulut gua, pemandangan yang menyambutnya membekukan seluruh darah di tubuhnya.

Tiga anaknya tergeletak di tanah.

Kyo. Shigeru. Koji.

Tidak bergerak. Tidak bernapas.

Darah hitam mereka menodai tanah, batu-batu, dan air sungai. Jaring-jaring indah yang ditenun Kyo di mulut gua sudah hancur, potongan-potongan sutranya berserakan di tanah seperti serpihan-serpihan mimpi yang pecah.

Dan di tengah-tengah kehancuran itu, berdiri seorang samurai dengan katana berlumuran darah di tangannya.

Jorogumo tidak berteriak.

Dia tidak menangis.

Dia tidak memohon.

Dia hanya berdiri di sana, menatap tubuh-tubuh anak-anaknya yang sudah tidak bernyawa, dan sesuatu di dalam dirinya pecah. Sesuatu yang selama ratusan tahun dijaganya dengan hati-hati, sesuatu yang membuatnya tetap hidup sebagai makhluk yang menghindari manusia dan memilih ketenangan di gua gelapnya.

Sesuatu itu hancur berkeping-keping.

Dan dari reruntuhan itu, bangkit sesuatu yang lain. Sesuatu yang gelap, yang panas, yang membakar setiap sudut jiwanya dengan api yang tidak akan pernah padam.

Dendam.

Kanbe yang melihat Jorogumo muncul dari gua langsung mengangkat katananya. Dia mengenali makhluk di depannya sebagai sesuatu yang jauh lebih berbahaya dari anak-anak yang baru saja dia bunuh. Tubuh laba-laba raksasa itu, mata-mata emas yang menyala-nyala di kegelapan, dan aura kematian yang menguar dari seluruh tubuhnya memberitahu Kanbe bahwa pertarungan yang sesungguhnya baru saja dimulai.

Namun Kanbe tidak gentar. Dia adalah ronin yang telah membunuh puluhan makhluk dan ratusan manusia. Dia tidak mengenal rasa takut.

“Induk laba-laba,” Kanbe menyeringai. “Akhirnya kau keluar juga.”

Jorogumo menatap Kanbe. Mata-mata emasnya yang biasanya hangat dan penuh kasih kini berubah menjadi dua bara api yang membara di dalam tungku kegelapan. Bibirnya yang merah bergerak perlahan, mengucapkan kata-kata yang lebih dingin dari es di puncak gunung tertinggi.

“Kau membunuh anak-anakku.”

Bukan pertanyaan. Bukan teriakan. Hanya pernyataan. Pernyataan yang menyimpan kekuatan penghancur yang mampu meruntuhkan gunung.

“Mereka yokai,” Kanbe menjawab dengan dingin. “Sama sepertimu. Makhluk-makhluk seperti kalian tidak seharusnya ada di dunia ini.”

Jorogumo bergerak.

Kecepatannya melampaui apa yang bisa diikuti oleh mata manusia. Satu detik dia berdiri di mulut gua, detik berikutnya dia sudah berada tepat di depan Kanbe. Delapan kaki laba-labanya menghantam Kanbe dari segala arah.

Kanbe berhasil menangkis dua serangan pertama dengan katananya, bunyi logam beradu dengan kaki-kaki laba-laba yang keras seperti baja bergema di seluruh hutan. Namun serangan ketiga, keempat, dan kelima mengenainya secara beruntun. Kaki-kaki laba-laba Jorogumo menghantam dadanya, perutnya, dan kakinya dengan kekuatan yang menghancurkan.

Kanbe terpental ke belakang dan menabrak pohon besar yang berdiri di tepi hutan. Batang pohon itu retak oleh benturan, serpihan-serpihan kulit kayu berterbangan ke segala arah. Kanbe memuntahkan darah dari mulutnya. Tulang-tulang rusuknya patah, dia bisa merasakannya. Namun dia masih berusaha bangkit.

Jorogumo tidak memberinya kesempatan.

Jaring-jaring sutra melesat dari tubuh Jorogumo dan melilit Kanbe seperti ular-ular raksasa yang menangkap mangsanya. Benang-benang sutra itu mengikat tangan-tangannya, kaki-kakinya, lehernya, hingga Kanbe tidak bisa bergerak satu senti pun. Katananya terlepas dari genggamannya dan jatuh ke tanah dengan bunyi kelontang yang memilukan.

Jorogumo merangkak mendekati Kanbe yang terikat di pohon. Wajahnya yang cantik kini berubah menjadi topeng kemarahan yang mengerikan. Taring-taring panjang muncul dari balik bibirnya yang merah, meneteskan racun berwarna hijau kehitaman yang mendesis ketika menyentuh tanah.

“Kau membunuh anak-anakku,” Jorogumo mengulangi kata-katanya, kali ini dengan suara yang lebih pelan, lebih berbahaya, seperti geraman harimau yang bersiap menerkam. “Mereka hanya anak-anak. Mereka tidak pernah menyakiti manusia mana pun. Mereka hanya bermain. Mereka hanya tertawa. Mereka hanya hidup.”

Kanbe menatap Jorogumo dengan tatapan yang masih penuh keberanian meski tubuhnya sudah hancur.

“Mereka yokai,” Kanbe mendesis. “Dan kau juga yokai. Kalian semua harus musnah.”

Jorogumo tersenyum. Senyum itu lebih mengerikan dari teriakan apa pun. Senyum yang menyimpan kesakitan yang tak terbayangkan dan kebencian yang tak terukur.

“Kalau begitu,” Jorogumo berbisik, wajahnya hanya sejengkal dari wajah Kanbe. “Aku akan menunjukkan padamu apa yang bisa dilakukan oleh seekor yokai yang kehilangan segalanya.”

Jorogumo menancapkan taring-taringnya ke leher Kanbe.

Jeritan Kanbe bergema di seluruh hutan, membuat burung-burung berterbangan dari dahan-dahan pohon dan binatang-binatang kecil berlari ketakutan ke dalam lubang-lubang persembunyian mereka. Jeritan itu berlangsung lama, sangat lama, sebelum akhirnya senyap.

Dan hutan kembali sunyi.


Jorogumo kembali ke mulut gua setelah semuanya selesai. Tubuh Kanbe yang sudah tidak bernyawa tergantung di pohon, terlilit jaring-jaring sutra yang tebal seperti kepompong raksasa. Jorogumo tidak meliriknya lagi. Samurai itu sudah tidak berarti apa-apa baginya.

Yang berarti baginya adalah tiga tubuh kecil yang tergeletak di tanah.

Jorogumo merangkak mendekati Kyo. Dia mengangkat tubuh anak sulungnya dengan hati-hati, memeluknya erat-erat ke dadanya. Tubuh Kyo sudah dingin. Darah hitamnya sudah berhenti mengalir. Matanya yang merah gelap tertutup untuk selamanya.

“Kyo...” Jorogumo berbisik, suaranya pecah. “Anak sulungku... yang selalu melindungi adik-adiknya...”

Air mata mengalir di pipi-pipi Jorogumo yang pucat. Air mata itu bening seperti kristal, namun setiap tetes yang jatuh ke tanah meninggalkan bekas seperti luka bakar di permukaan batu.

Jorogumo membaringkan Kyo dengan lembut dan mengambil Shigeru dari air sungai. Tubuh anak keduanya basah dan dingin, keenam kaki laba-labanya terkulai tak bertenaga.

“Shigeru... anak nakalku yang selalu membuat kakaknya kesal... yang selalu melindungi Nanami...”

Lalu Koji. Anak yang pendiam, yang tidak pernah banyak bicara namun selalu ada ketika saudara-saudaranya membutuhkannya.

“Koji... anakku yang paling penyabar...”

Jorogumo membaringkan ketiga tubuh anak-anaknya berdampingan di depan mulut gua. Dia menyelimuti mereka dengan jaring-jaring sutra terhalusnya, jaring yang sama yang biasa dia gunakan untuk menyelimuti mereka ketika mereka tidur di malam-malam yang dingin.

Dan kemudian Jorogumo menangis.

Tangisnya bukan tangisan biasa. Bukan isakan pelan atau air mata yang mengalir diam-diam. Tangisnya adalah raungan yang mengguncang hutan. Suaranya menyatu dengan angin malam yang bertiup, dengan gemuruh sungai, dengan gemerisik daun-daun, menciptakan simfoni kesakitan yang belum pernah terdengar di hutan Shizuoka sejak dunia ini diciptakan.

Nanami yang bersembunyi di dalam gua mendengar tangisan ibunya dan ikut menangis. Dia menangis tanpa suara, air matanya membasahi lutut-lututnya yang dipeluk erat-erat. Dia tidak berani keluar. Dia tidak berani melihat. Dia hanya bisa mendengar tangisan ibunya yang merobek malam.

Jorogumo menangis hingga air matanya mengering. Hingga suaranya habis. Hingga langit berubah dari hitam menjadi kelabu, menandakan datangnya fajar baru yang tidak diinginkannya.

Dan ketika fajar itu benar-benar tiba, ketika cahaya pertama matahari menyentuh wajahnya yang basah oleh air mata dan darah anak-anaknya, Jorogumo bangkit.

Matanya yang emas tidak lagi menyimpan kehangatan. Tidak lagi menyimpan kasih sayang seorang ibu. Yang tersisa hanyalah api. Api dendam yang menyala tanpa bahan bakar, yang akan terus membakar meski seluruh air di sungai-sungai dunia ini dicurahkan ke atasnya.

Jorogumo menatap ke arah barat, di mana asap-asap tipis mengepul dari balik pepohonan, menandakan pemukiman manusia yang selama ini dihindarinya.

“Manusia,” Jorogumo berbisik, suaranya sedingin logam yang membeku di musim dingin.

“Kalian mengambil segalanya dariku.”

Dia menoleh ke belakang, menatap tiga gundukan sutra yang menyelimuti tubuh-tubuh anak-anaknya.

“Dan aku akan mengambil segalanya dari kalian.”

Jorogumo merangkak kembali ke dalam gua, menuju kegelapan yang kini terasa lebih gelap dari sebelumnya. Di dalam sana, Nanami yang masih menangis dalam diam menatap ibunya dengan ketakutan yang tidak lagi hanya ditujukan kepada samurai yang telah membunuh saudara-saudaranya.

Nanami melihat sesuatu di mata ibunya yang belum pernah dia lihat sebelumnya.

Sesuatu yang lebih menakutkan dari samurai mana pun.

Dan Jorogumo tersenyum.

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Komentarnya bisa dibaca siapa saja, tapi menulis butuh akun.

Masuk