Bab 2 Nelayan dan Kabar

1 dibaca

A

Tiga hari berlalu sejak kematian Kyo, Shigeru, dan Koji.

Tiga hari yang terasa seperti tiga abad bagi Jorogumo.

Gua itu berubah. Dulu, gua ini dipenuhi suara-suara. Celoteh Nanami yang tidak pernah berhenti. Pertengkaran Kyo dan Shigeru yang selalu berakhir dengan tawa. Keheningan Koji yang anehnya justru memberikan ketenangan bagi seisi gua. Suara-suara itu membuat kegelapan gua terasa hangat, terasa hidup, terasa seperti rumah.

Sekarang, yang tersisa hanyalah kesunyian.

Kesunyian yang begitu tebal hingga terasa seperti selimut basah yang menempel di kulit dan menolak untuk dilepaskan. Kesunyian yang membuat setiap tetesan air dari langit-langit gua terdengar seperti pukulan palu di atas batu. Kesunyian yang memaksa Jorogumo mendengarkan suara-suara yang hanya ada di dalam kepalanya. Suara tawa Kyo. Suara ejekan Shigeru. Suara napas pelan Koji di sudut gua.

Suara-suara yang tidak akan pernah terdengar lagi.

Nanami duduk di sudut tergelap gua, memeluk lutut-lututnya dengan kedua tangan kecilnya. Matanya yang besar dan bulat menatap ke kegelapan tanpa fokus, seperti dua kelereng hitam yang kehilangan kilaunya. Dia hampir tidak makan selama tiga hari terakhir. Jorogumo sudah mencoba membujuknya berkali-kali, menyodorkan serangga-serangga gemuk dan ikan-ikan kecil yang biasanya menjadi makanan favorit Nanami. Namun Nanami hanya menggeleng-gelengkan kepalanya dan semakin merapatkan tubuhnya ke dinding gua.

“Nanami,” Jorogumo memanggil dari kedalaman gua, suaranya terdengar serak dan asing bahkan di telinganya sendiri. “Kau harus makan.”

Nanami tidak menjawab.

Jorogumo merangkak mendekati anak bungsunya. Delapan kakinya bergerak pelan di atas lantai gua yang basah, setiap langkahnya menghasilkan bunyi ketukan halus yang bergema di dinding-dinding batu. Ketika dia sampai di hadapan Nanami, Jorogumo menurunkan tubuhnya hingga wajahnya sejajar dengan wajah putrinya.

“Nanami,” Jorogumo memanggil lagi, kali ini lebih lembut. “Lihat Ibu.”

Nanami mengangkat wajahnya perlahan-lahan. Pipi-pipi tembamnya yang biasanya merona sehat kini terlihat pucat dan tirus. Lingkaran-lingkaran gelap menghiasi kulit di bawah matanya, menandakan malam-malam tanpa tidur yang dihabiskannya dengan menangis dalam diam.

“Ibu,” Nanami berbisik, suaranya kecil seperti desiran angin yang nyaris tak terdengar. “Kenapa Kak Kyo tidak bangun-bangun?”

Pertanyaan itu menusuk Jorogumo lebih dalam dari taring mana pun. Lebih dalam dari pedang samurai mana pun. Lebih dalam dari apa pun yang pernah melukai tubuh atau jiwanya sepanjang ratusan tahun hidupnya.

Jorogumo menelan ludah. Tenggorokannya terasa kering dan perih, seolah-olah ada duri-duri yang tumbuh di dalamnya.

“Kak Kyo sudah pergi, Nanami,” Jorogumo menjawab, setiap kata yang keluar dari mulutnya terasa seperti batu yang harus ditarik keluar dari dadanya satu per satu. “Kak Shigeru dan Kak Koji juga sudah pergi.”

“Pergi ke mana?” Nanami menatap ibunya dengan mata-mata yang penuh kebingungan yang polos dan menyayat hati. “Kapan mereka pulang?”

Jorogumo tidak mampu menjawab. Dia menarik Nanami ke dalam pelukannya dan mendekap anak bungsunya erat-erat. Tubuh Nanami yang kecil dan ringkih gemetar di dalam pelukannya, dan Jorogumo bisa merasakan tulang-tulang rusuk Nanami yang mulai menonjol di balik kulitnya yang tipis.

“Mereka tidak akan pulang, sayang,” Jorogumo berbisik di telinga Nanami, air matanya jatuh membasahi rambut putrinya. “Mereka sudah pergi ke tempat yang sangat jauh.”

Nanami terdiam beberapa saat. Lalu tubuhnya mulai bergetar lebih hebat, dan isakan-isakan kecil pecah dari bibirnya yang kering.

“Aku mau Kak Kyo,” Nanami menangis. “Aku mau Kak Shigeru. Aku mau Kak Koji. Ibu, aku mau mereka pulang.”

“Aku tahu, sayang. Aku tahu.”

Jorogumo mengelus-elus punggung Nanami sambil menggigit bibirnya sendiri hingga berdarah. Rasa sakit di bibirnya tidak seberapa dibandingkan dengan rasa sakit yang mengoyak-oyak bagian dalam dadanya. Setiap isakan Nanami seperti cakaran di luka yang belum kering, membukanya lebar-lebar dan membuatnya berdarah lagi.

Mereka berdua duduk di kegelapan itu untuk waktu yang sangat lama. Jorogumo memeluk Nanami, dan Nanami menangis di dada ibunya, sampai akhirnya tangisan itu berubah menjadi isakan-isakan yang semakin pelan, semakin lemah, dan akhirnya senyap ketika kelelahan menarik Nanami ke dalam tidur yang gelisah.

Jorogumo membaringkan Nanami di atas jaring-jaring sutra yang dibuatnya menjadi alas tidur. Dia menyelimuti tubuh kecil putrinya dan memastikan bahwa Nanami tidur dengan nyaman sebelum merangkak menjauh.

Jorogumo berdiri di mulut gua dan menatap keluar.

Malam sudah turun. Bulan sabit menggantung rendah di langit, cahayanya tipis dan pucat, tidak cukup kuat untuk menerangi hutan namun cukup untuk membuat bayangan-bayangan panjang yang bergerak-gerak di antara pohon-pohon seperti jari-jari tangan raksasa yang meraba-raba kegelapan.

Tiga gundukan sutra masih berada di tempatnya, tepat di depan mulut gua. Jorogumo sudah memindahkan tubuh-tubuh anak-anaknya ke dalam tanah kemarin, menguburkan mereka berdampingan di bawah pohon ek terbesar yang tumbuh di tepi sungai. Namun gundukan-gundukan sutra itu tetap dia biarkan di sana, sebagai penanda, sebagai pengingat, sebagai bahan bakar untuk api yang membakar di dalam dadanya.

Mata-mata emas Jorogumo menyala di kegelapan. Cahayanya lebih tajam dari biasanya, lebih dingin, lebih berbahaya. Seperti mata-mata predator yang sudah lama menahan lapar dan akhirnya memutuskan bahwa sudah waktunya untuk berburu.

“Manusia,” Jorogumo bergumam, suaranya bercampur dengan desiran angin malam yang bertiup melewati mulut gua. “Kalian hidup tanpa tahu apa yang menunggu kalian.”

Dia merangkak keluar dari gua dan berdiri di tepi sungai. Air sungai yang mengalir pelan di bawah kakinya memantulkan bayangan tubuhnya yang besar dan mengerikan. Delapan kaki laba-labanya menjejak tanah basah, meninggalkan bekas-bekas yang dalam di lumpur.

Jorogumo mendongak menatap langit. Bintang-bintang bertaburan di atas sana, berkedip-kedip seperti mata-mata kecil yang mengawasi dunia di bawahnya. Dulu, Jorogumo sering memandangi bintang-bintang itu bersama anak-anaknya. Kyo akan menunjuk rasi-rasi bintang dan memberikan nama-nama buatannya sendiri. Shigeru akan membantah setiap nama yang diberikan Kyo dan menyodorkan nama-nama yang menurutnya lebih bagus. Koji hanya akan memandang dalam diam, dan Nanami akan tertidur di pangkuan ibunya sebelum mereka selesai menghitung bintang.

Kenangan-kenangan itu menyakitkan. Lebih menyakitkan dari luka fisik mana pun.

Jorogumo mengalihkan pandangannya dari langit dan menatap ke arah barat. Di sana, meski tertutup pepohonan yang rapat dan kegelapan malam yang tebal, dia bisa mencium bau-bau yang berasal dari pemukiman manusia. Bau asap kayu dari tungku-tungku perapian. Bau makanan yang dimasak. Bau manusia itu sendiri, campuran keringat, tanah, dan sesuatu yang khas yang hanya dimiliki oleh makhluk-makhluk berdarah panas itu.

Bau-bau itu dulu tidak berarti apa-apa bagi Jorogumo. Hanya petunjuk-petunjuk samar bahwa ada kehidupan lain di luar hutannya. Namun sekarang, bau-bau itu memancing sesuatu di dalam dirinya. Sesuatu yang lapar. Sesuatu yang gelap.

Jorogumo menyentuh permukaan air sungai dengan ujung salah satu kakinya. Riak-riak kecil menyebar dari titik sentuhan itu, memecah bayangan bulan yang terpantul di permukaan air.

“Belum,” Jorogumo berbisik pada dirinya sendiri. “Belum saatnya. Aku harus menyiapkan diri. Aku harus menjadi sesuatu yang tidak bisa mereka lawan.”

Jorogumo kembali ke dalam gua. Dia melewati Nanami yang tertidur dan merangkak ke bagian terdalam gua, ke ruangan-ruangan yang tidak pernah dijangkau cahaya, di mana kegelapan begitu pekat hingga bahkan mata-mata emasnya harus bekerja keras untuk melihat.

Di sana, di ruangan paling dalam, Jorogumo mulai berlatih.

Dia berlatih mengubah wujudnya. Transformasi dari laba-laba raksasa menjadi manusia bukanlah hal yang asing baginya. Setiap siluman laba-laba yang sudah cukup tua memiliki kemampuan itu. Namun Jorogumo membutuhkan lebih dari sekadar perubahan wujud. Dia membutuhkan penyamaran yang sempurna. Penyamaran yang mampu menipu mata manusia paling tajam sekalipun.

Jorogumo menutup mata-mata emasnya dan berkonsentrasi. Energi mengalir dari inti tubuhnya, menyebar ke setiap sudut, setiap serat, setiap sel. Tubuh laba-labanya mulai menyusut. Kaki-kaki besarnya perlahan-lahan menghilang, tertarik masuk ke dalam tubuhnya seperti pedang yang dikembalikan ke sarungnya. Perut laba-labanya mengecil, mengecil, dan akhirnya lenyap. Kulit yang menutupi tubuhnya berubah dari hitam mengkilap menjadi putih pucat yang halus.

Ketika proses itu selesai, yang berdiri di ruangan gelap itu bukan lagi seekor laba-laba raksasa. Yang berdiri di sana adalah seorang wanita.

Wanita yang sangat cantik.

Jorogumo membuka matanya dan menatap tangannya sendiri. Jari-jari yang lentik dan ramping, dengan kuku-kuku pendek yang rapi. Kulit yang halus tanpa bulu, tanpa cacat, tanpa tanda apa pun yang bisa mengungkapkan identitas aslinya. Dia mengangkat tangannya dan menyentuh wajahnya. Hidung mancung. Pipi yang halus. Bibir yang penuh. Semua sempurna.

Namun Jorogumo tahu bahwa penyamaran visual saja tidak cukup. Manusia tidak hanya mengandalkan mata. Mereka juga mengandalkan perasaan, insting, firasat. Jorogumo harus mampu bergerak seperti manusia, berbicara seperti manusia, tersenyum seperti manusia, dan jika perlu, menangis seperti manusia.

Dia menghabiskan sisa malam itu berlatih. Berjalan dengan dua kaki alih-alih delapan. Menggerakkan tangan-tangannya dengan gerakan-gerakan yang alami, bukan gerakan-gerakan kaku seperti boneka yang dikendalikan oleh benang-benang. Mengubah ekspresi wajahnya dari satu emosi ke emosi lain. Tersenyum ramah. Tertawa riang. Menatap dengan tatapan polos dan tidak berdosa. Setiap ekspresi dipraktikkan berulang-ulang hingga terlihat sempurna, hingga tidak ada jejak kepalsuan yang tersisa.

Menjelang fajar, Jorogumo sudah menguasai penyamarannya.

Dia berjalan keluar dari ruangan gelap itu dengan langkah-langkah yang anggun dan ringan, seperti seorang wanita bangsawan yang berjalan di atas lantai kayu istananya. Kimono putih yang terbuat dari sutra laba-labanya sendiri membalut tubuhnya dengan sempurna, jatuh hingga menyapu lantai gua dengan setiap langkahnya. Rambutnya yang hitam legam terurai bebas di punggungnya, bergoyang pelan mengikuti gerakan tubuhnya.

Nanami yang baru terbangun melihat sosok wanita asing yang berjalan mendekat dan langsung berteriak ketakutan.

“SIAPA KAU?” Nanami melompat mundur, punggungnya menabrak dinding gua. “JANGAN MENDEKAT!”

“Nanami,” Jorogumo tersenyum lembut dan berlutut di depan putrinya. “Ini Ibu.”

Nanami mengedip-ngedipkan matanya berkali-kali. Dia menatap wanita cantik di depannya dengan campuran ketakutan dan kebingungan. Wanita ini tidak memiliki kaki-kaki laba-laba. Tidak memiliki perut besar yang ditutupi bulu-bulu halus. Tidak memiliki kuku-kuku hitam yang panjang dan tajam. Tapi suaranya...

“Ibu?” Nanami berbisik ragu-ragu. “Ibu, itu benar-benar Ibu?”

“Ini Ibu, sayang,” Jorogumo mengulurkan tangannya. “Ibu hanya mengubah penampilan. Tapi di dalam, Ibu tetap Ibu. Ibumu.”

Nanami menatap tangan yang terulur itu selama beberapa saat. Lalu perlahan-lahan, dengan keraguan yang masih tersisa di matanya, Nanami meraih tangan ibunya. Kulit tangan itu terasa hangat dan familiar, meskipun bentuknya berbeda dari yang biasa dia genggam.

“Kenapa Ibu berubah seperti ini?” Nanami bertanya, jari-jari kecilnya meremas tangan ibunya.

Jorogumo tidak langsung menjawab. Dia menarik Nanami ke pangkuannya dan membelai rambut putrinya dengan gerakan yang sama lembutnya seperti ketika dia masih dalam wujud aslinya.

“Karena Ibu harus pergi ke tempat manusia-manusia tinggal,” Jorogumo menjawab setelah keheningan yang panjang. “Dan Ibu tidak bisa pergi ke sana dengan wujud asli Ibu.”

Nanami mendongak menatap ibunya. Matanya yang besar menyimpan pertanyaan-pertanyaan yang terlalu banyak untuk anak seusianya.

“Kenapa Ibu harus pergi ke sana?”

Jorogumo tersenyum. Senyumnya hangat di permukaan, namun di baliknya tersembunyi kedinginan yang bisa membekukan api.

“Ibu perlu mencari sesuatu, Nanami. Sesuatu yang penting.”

Nanami sepertinya merasakan bahwa ada hal-hal yang tidak diceritakan ibunya kepadanya. Namun dia tidak bertanya lagi. Dia hanya menyandarkan kepalanya di dada ibunya dan memejamkan matanya, mendengarkan detak jantung Jorogumo yang berdetak pelan dan teratur.

“Ibu akan kembali, kan?” Nanami bertanya dengan suara yang nyaris tak terdengar.

“Selalu,” Jorogumo menjawab. “Ibu akan selalu kembali untukmu.”


Sungai itu mengalir tenang seperti biasanya. Airnya yang jernih memantulkan cahaya matahari sore yang keemasan, menciptakan permainan-permainan cahaya yang berkilauan di permukaan seperti ribuan keping emas yang bertaburan. Batu-batu besar dan kecil berjajar di sepanjang tepiannya, sebagian tertutup lumut hijau yang basah dan licin, sebagian lagi kering dan hangat terkena sinar matahari.

Dua orang pria berjalan menyusuri sungai itu.

Yang pertama adalah Goro. Tubuhnya besar dan gemuk, dengan perut yang menonjol di balik kimono cokelatnya yang lusuh dan bertambal di sana-sini. Wajahnya lebar dan merah, dengan hidung pesek dan mata-mata kecil yang selalu menyipit ketika dia tertawa, yang terjadi sangat sering. Goro adalah nelayan. Dia sudah menjadi nelayan sejak dia cukup besar untuk memegang jala, dan dia akan menjadi nelayan sampai hari terakhir hidupnya. Setidaknya itulah yang selalu dia katakan kepada siapa pun yang mau mendengar.

Di punggung Goro tersampir dua jala besar yang sudah basah dan berbau amis. Ikan-ikan hasil tangkapannya bergoyang-goyang di dalam jala itu dengan setiap langkahnya yang berat, beberapa di antaranya masih bergerak-gerak lemah, ekor-ekor mereka mengibas-ngibas dengan sia-sia.

Yang kedua adalah Kenshiro. Berbeda dengan Goro, Kenshiro bertubuh kurus dan tinggi, dengan bahu-bahu yang sempit dan tangan-tangan panjang yang berujung pada jari-jari yang lincah dan terampil. Wajahnya lonjong dan kering, dengan rahang yang tajam dan mata-mata yang selalu bergerak-gerak gelisah seperti seekor burung kecil yang terus-menerus mengawasi lingkungannya. Kenshiro juga nelayan, namun dia lebih muda dari Goro dan jauh kurang berpengalaman.

“Goro-san,” Kenshiro berkata sambil melangkah hati-hati di atas batu-batu licin di tepi sungai. “Kita sudah terlalu jauh masuk ke dalam hutan. Sebaiknya kita kembali sebelum gelap.”

“Kembali?” Goro tertawa keras, suara tawanya bergema di antara pepohonan dan membuatnya seolah-olah ada sepuluh orang Goro yang tertawa bersamaan. “Kenshiro, kau ini penakut sekali. Kita baru berjalan setengah jam dari dermaga. Lagipula, aku dengar dari Takeshi bahwa di hulu sungai ini ada kolam-kolam dalam tempat ikan-ikan besar berkumpul. Kalau kita beruntung, kita bisa menangkap ikan sebesar lenganku!”

Goro mengangkat lengannya yang gemuk dan tebal sebagai perbandingan, dan Kenshiro meringis.

“Ikan sebesar lenganmu itu namanya ikan paus, Goro-san,” Kenshiro bergumam pelan.

“Apa kau bilang?”

“Tidak, tidak ada apa-apa.”

Mereka terus berjalan menyusuri sungai, semakin dalam memasuki hutan. Pepohonan di sekitar mereka semakin rapat dan semakin tinggi, membentuk kanopi alami yang menghalangi sebagian besar cahaya matahari. Bayangan-bayangan panjang mulai terbentuk di lantai hutan, menandakan bahwa sore akan segera berubah menjadi senja.

Udara semakin dingin. Kenshiro merapatkan kimononya dan melirik ke sekeliling dengan gelisah. Ada sesuatu yang membuatnya tidak nyaman tentang tempat ini. Suara-suara hutan terasa berbeda di sini. Lebih sunyi dari yang seharusnya. Burung-burung yang biasanya berkicau riuh di sore hari nyaris tidak terdengar. Serangga-serangga yang biasanya berdengung di sekitar sungai juga menghilang. Seolah-olah seluruh penghuni hutan telah meninggalkan tempat ini, atau bersembunyi dari sesuatu yang mereka takuti.

“Goro-san,” Kenshiro menelan ludah. “Kau tidak merasa ada yang aneh?”

“Aneh?” Goro mengangkat alis tebalnya. “Aneh bagaimana?”

“Terlalu sunyi. Biasanya di dekat sungai selalu ramai. Burung-burung, katak-katak, serangga-serangga. Tapi di sini...” Kenshiro mengedarkan pandangannya. “Tidak ada suara apa-apa.”

Goro berhenti berjalan dan memiringkan kepalanya, mendengarkan. Dia memang tidak pernah menjadi orang yang peka terhadap hal-hal semacam ini, namun kali ini bahkan dia harus mengakui bahwa Kenshiro ada benarnya. Hutan di sekitar mereka terlalu sunyi. Sunyinya tidak alami. Sunyinya seperti kesunyian yang sengaja diciptakan.

“Mungkin sedang musim kawin,” Goro berkata setelah jeda yang cukup lama. “Binatang-binatang sedang sibuk berpasangan. Tidak sempat berisik.”

“Musim kawin?” Kenshiro menatap Goro dengan tatapan tidak percaya. “Sekarang bukan musim kawin, Goro-san.”

“Ya sudah, mungkin mereka memutuskan untuk kawin lebih awal tahun ini. Siapa yang tahu apa yang ada di pikiran binatang-binatang itu?” Goro mengangkat bahu dan melanjutkan perjalanannya. “Ayolah, Kenshiro. Jangan jadi penakut. Ikan-ikan besar menunggu kita di depan sana.”

Kenshiro menghela napas panjang namun tetap mengikuti Goro. Dia tidak memiliki pilihan lain. Goro adalah seniornya, dan di desa nelayan, senioritas adalah hukum yang tidak bisa dilanggar.

Mereka berjalan selama beberapa waktu lagi hingga akhirnya mencapai sebuah tikungan sungai yang lebar. Di sisi tikungan itu, batu-batu besar bertumpuk-tumpuk membentuk semacam dinding alami yang menghalangi pandangan ke bagian hulu sungai. Goro memanjat batu-batu itu dengan susah payah, napasnya tersengal-sengal karena berat tubuhnya sendiri. Kenshiro mengikuti di belakangnya dengan lebih mudah berkat tubuhnya yang ringan.

Ketika mereka mencapai puncak batu-batu itu dan melihat apa yang ada di baliknya, Goro bersiul pelan.

“Lihat itu, Kenshiro,” Goro menunjuk ke depan dengan jari gemuknya. “Kolam alami. Dalam. Sempurna untuk ikan-ikan besar.”

Di depan mereka terbentang sebuah kolam alami yang cukup luas, dibentuk oleh bebatuan dan tanah yang membendung aliran sungai di titik itu. Airnya lebih gelap dari air sungai di bagian hilir, menandakan kedalamannya. Permukaan air itu tenang, hampir tanpa riak, memantulkan bayangan-bayangan pohon di sekelilingnya seperti cermin raksasa.

Namun bukan kolam itu yang menarik perhatian Kenshiro. Yang menarik perhatiannya adalah apa yang ada di seberang kolam.

Mulut sebuah gua.

Gua itu tersembunyi di balik sulur-sulur tanaman merambat yang menjuntai seperti tirai alami. Dari jarak ini, Kenshiro bisa melihat sisa-sisa jaring-jaring yang masih menempel di batu-batu di sekitar mulut gua. Jaring-jaring itu sebagian sudah rusak dan tercabik-cabik, namun bagian-bagian yang masih utuh berkilau keperakan ditimpa cahaya senja.

“Goro-san,” Kenshiro berbisik, tangannya menarik-narik lengan kimono Goro. “Lihat gua itu.”

“Gua?” Goro menyipitkan matanya. “Hm. Gua biasa. Banyak gua di hutan ini, Kenshiro. Tidak ada yang istimewa.”

“Tapi jaring-jaring itu,” Kenshiro menunjuk ke arah mulut gua dengan jari yang gemetar. “Lihat ukurannya. Itu bukan jaring laba-laba biasa.”

Goro menatap lebih seksama. Memang benar, jaring-jaring itu terlalu besar, terlalu tebal, terlalu kuat untuk dibuat oleh laba-laba biasa. Tapi Goro bukan orang yang mudah takut. Dia sudah menghabiskan terlalu banyak tahun di laut dan sungai untuk takut pada jaring laba-laba, sebesar apa pun jaring itu.

“Mungkin laba-labanya makan terlalu banyak,” Goro terkekeh. “Seperti aku. Kalau kau makan banyak, kau jadi besar. Termasuk jaring-jaringmu. Sudahlah, ayo kita tangkap ikan di kolam ini.”

Goro melompat turun dari batu-batu dengan bunyi gedebuk yang keras dan berjalan menuju tepi kolam. Dia menurunkan jala dari punggungnya dan mulai mempersiapkan peralatan memancingnya, bersenandung riang seperti orang yang tidak punya kekhawatiran apa pun di dunia ini.

Kenshiro turun dari batu-batu itu dengan lebih perlahan-lahan. Matanya tidak pernah meninggalkan mulut gua di seberang kolam. Firasatnya meneriakkan peringatan-peringatan yang tidak bisa dia abaikan. Setiap serat di tubuhnya mengatakan bahwa mereka harus pergi dari sini. Sekarang juga.

“Goro-san,” Kenshiro mencoba sekali lagi. “Aku rasa sebaiknya kita tidak memancing di sini. Kita bisa mencari tempat lain.”

“Tempat lain?” Goro mendengus sambil melemparkan jalanya ke kolam dengan gerakan yang terlatih. Jala itu membentang di udara seperti sayap burung raksasa sebelum mendarat di permukaan air dengan suara percikan yang pelan. “Kenshiro, kolam ini sempurna. Airnya dalam, arusnya tenang, dan lokasinya terlindung. Ikan-ikan pasti berkumpul di sini. Kita akan pulang dengan tangkapan yang luar biasa. Kau lihat saja nanti.”

Kenshiro membuka mulutnya untuk membantah, namun dia tidak jadi mengatakan apa-apa. Dia hanya menghela napas dan duduk di atas batu besar di tepi kolam, meletakkan peralatannya di tanah dan memeluk lututnya.

Goro memancing dengan semangat yang tinggi. Dia menarik jalanya beberapa kali dan mendapatkan ikan-ikan yang memang lebih besar dari yang biasa mereka tangkap di hilir sungai. Setiap kali ikan yang besar tertangkap, Goro bersorak kegirangan dan memamerkannya kepada Kenshiro, yang hanya membalas dengan senyum tipis dan anggukan-anggukan kecil.

Matahari semakin tenggelam. Langit berubah dari jingga menjadi ungu tua, dan bayangan-bayangan di hutan semakin panjang dan semakin gelap. Cahaya yang tersisa semakin menipis, membuat detail-detail di sekitar mereka mulai kabur dan tidak jelas.

“Goro-san,” Kenshiro bangkit dari duduknya. “Sudah hampir gelap. Kita harus kembali.”

“Sebentar lagi,” Goro menjawab sambil menarik jalanya. “Satu lemparan terakhir. Aku merasakan sesuatu yang besar di bawah sana. Sangat besar.”

Goro melemparkan jalanya sekali lagi. Jala itu mendarat di permukaan air dan tenggelam ke dalam kegelapan kolam. Goro menunggu beberapa saat, lalu mulai menarik jalanya perlahan-lahan.

Jala itu terasa berat. Sangat berat.

“Kenshiro! Kenshiro!” Goro berteriak kegirangan. “Bantu aku! Ini besar! Ini pasti ikan raksasa!”

Kenshiro berlari menuju tepi kolam dan membantu Goro menarik jala. Mereka berdua menarik dengan sekuat tenaga, otot-otot tangan mereka menegang, kaki-kaki mereka mencengkeram tanah basah untuk mendapatkan pijakan yang kuat.

Perlahan-lahan, jala itu naik ke permukaan.

Namun yang muncul dari dalam kolam bukanlah ikan.

Permukaan air bergerak. Riak-riak kecil terbentuk dari pusat kolam, menyebar ke segala arah dengan cepat. Lalu riak-riak itu berubah menjadi gelombang-gelombang kecil yang semakin besar, semakin kuat, semakin kacau, seolah-olah ada sesuatu yang sangat besar yang bergerak di bawah permukaan.

Goro berhenti menarik. Senyumnya memudar. Untuk pertama kalinya sejak mereka tiba di tempat ini, ekspresinya berubah menjadi waspada.

“Apa itu?” Goro bergumam.

Dan kemudian, dari permukaan air yang bergejolak, muncul sebuah wajah.

Wajah seorang wanita.

Putih pucat seperti porselen. Mata-mata emas yang menyala seperti dua lentera di kegelapan. Bibir merah yang tersenyum, namun senyum itu tidak memiliki kehangatan, tidak memiliki kebaikan, tidak memiliki apa pun selain kelaparan yang gelap dan mengerikan.

Wajah itu muncul perlahan-lahan dari air, diikuti oleh leher yang panjang dan ramping, bahu-bahu yang halus, dan tubuh seorang wanita yang cantik hingga menyakitkan mata memandangnya. Rambut hitam legam yang basah menempel di kulit putihnya, menjuntai ke permukaan air seperti ganggang-ganggang hitam yang tumbuh di dasar danau.

Goro terpaku di tempatnya. Mulutnya terbuka, namun tidak ada suara yang keluar. Jala di tangannya terlepas dan jatuh ke air tanpa dia sadari.

Kenshiro mundur satu langkah. Dua langkah. Tiga langkah.

Wanita itu berdiri di permukaan air kolam. Berdiri, bukan berenang. Kakinya yang telanjang menginjak permukaan air seolah-olah air itu adalah lantai marmer yang kokoh. Kimono putih yang membalut tubuhnya basah dan melekat di kulitnya, namun tidak ada tetesan air yang jatuh dari kain itu. Seolah-olah air dan kain itu adalah satu kesatuan yang sama.

“Se... selamat sore,” Goro berhasil mengeluarkan suaranya, meski suara itu lebih menyerupai cicit tikus yang ketakutan daripada suara manusia dewasa. Kebiasaan lamanya untuk bersikap ramah kepada semua orang muncul secara otomatis, meski akal sehatnya menjerit-jerit agar dia berlari.

Wanita itu memiringkan kepalanya. Gerakan itu terlalu halus, terlalu anggun, terlalu tidak manusiawi. Seperti gerakan boneka yang dikendalikan oleh benang-benang tak terlihat.

“Kau memancing di sungaiku,” wanita itu berkata. Suaranya merdu seperti dentingan lonceng-lonceng perak, namun ada sesuatu di balik kemerduan itu yang membuat bulu-bulu halus di tengkuk Kenshiro berdiri tegak.

“Ma... maaf,” Goro tergagap. “Kami tidak tahu ini sungaimu. Kami hanya nelayan. Kami akan pergi. Sekarang. Segera.”

Goro mulai mundur, kakinya bergerak-gerak panik di atas tanah basah. Namun sebelum dia sempat berbalik, sesuatu melilit pergelangan kakinya. Goro menunduk dan melihat benang-benang putih keperakan yang keluar entah dari mana, melingkari kakinya dengan kekuatan yang mustahil.

“APA INI?” Goro berteriak, menarik-narik kakinya dengan panik. “LEPASKAN! LEPASKAN AKU!”

Benang-benang itu semakin banyak. Semakin cepat. Semakin kuat. Mereka melilit kaki-kaki Goro, naik ke pinggangnya, ke dadanya, ke tangan-tangannya. Goro meronta-ronta dengan kekuatan putus asa, namun setiap gerakan yang dia buat hanya membuat benang-benang itu semakin erat membelit tubuhnya.

Wanita itu berjalan mendekati Goro. Setiap langkahnya di atas permukaan air menciptakan riak-riak kecil yang menyebar tanpa suara. Senyumnya semakin lebar, memperlihatkan gigi-gigi putih yang berjajar rapi. Namun di balik deretan gigi itu, Kenshiro bisa melihat sesuatu. Taring-taring panjang yang tersembunyi di balik bibir merah. Taring-taring yang meneteskan cairan berwarna hijau kehitaman.

“KENSHIRO! LARI!” Goro berteriak, suaranya pecah oleh ketakutan. “LARI! JANGAN LIHAT KE BELAKANG! PERGI DARI SINI!”

Kenshiro tidak perlu diperintah dua kali.

Tubuhnya bergerak sebelum otaknya sempat memproses apa yang terjadi. Kakinya yang panjang dan kurus membawanya melompat di atas batu-batu besar di tepi kolam, berlari menyusuri sungai dengan kecepatan yang tidak pernah dia tahu bahwa dia mampu mencapainya. Ranting-ranting menyambar wajahnya, meninggalkan goresan-goresan merah di pipinya dan dahinya, namun dia tidak merasakannya. Batu-batu licin nyaris membuat kakinya terpeleset berkali-kali, namun adrenalin yang memompa di seluruh pembuluh darahnya menjaga keseimbangannya.

Di belakangnya, dia bisa mendengar teriakan-teriakan Goro yang semakin lemah, semakin jauh, semakin putus asa. Lalu teriakan itu berubah menjadi jeritan. Jeritan yang bukan lagi terdengar seperti suara manusia. Jeritan yang menjadi suara terakhir yang akan dikeluarkan Goro seumur hidupnya.

Kemudian jeritan itu berhenti.

Dan kesunyian yang mengikutinya lebih mengerikan dari jeritan itu sendiri.

Kenshiro terus berlari. Dia berlari menembus kegelapan hutan yang semakin pekat, tersandung akar-akar pohon, menabrak batang-batang kayu rendah, terjatuh dan bangkit lagi berulang-ulang. Air matanya mengalir di pipinya, bercampur dengan darah dari luka-luka goresan dan lumpur yang menempel di wajahnya. Napasnya terputus-putus, paru-parunya terasa terbakar, kakinya mulai mati rasa.

Namun dia tidak berhenti. Dia tidak bisa berhenti.

Karena setiap kali dia melambat, setiap kali langkahnya berkurang kecepatannya bahkan satu detik saja, dia bisa merasakan sesuatu di belakangnya. Sesuatu yang mengikuti. Sesuatu yang menunggu. Sesuatu yang tersenyum di dalam kegelapan.

Kenshiro tidak tahu berapa lama dia berlari. Mungkin satu jam. Mungkin dua jam. Mungkin lebih. Yang dia tahu adalah ketika akhirnya cahaya-cahaya kecil muncul di depannya, cahaya-cahaya obor dan lentera yang bergoyang-goyang di kejauhan, dia merasa seolah-olah dia baru saja bangkit dari kematian.

Pemukiman Shizuoka.

Rumah-rumah kayu berjajar di sepanjang jalan tanah yang berliku-liku. Obor-obor yang ditancapkan di depan setiap rumah menerangi malam dengan cahaya jingga yang hangat. Beberapa penduduk yang masih berada di luar rumah menatap Kenshiro dengan keterkejutan ketika dia berlari masuk ke pemukiman dengan kondisi yang mengenaskan. Kimononya robek di mana-mana. Wajah dan tangannya dipenuhi goresan dan lumpur. Matanya terbelalak lebar dengan ekspresi orang yang baru saja menyaksikan sesuatu yang tidak seharusnya dilihat oleh manusia mana pun.

Kenshiro ambruk di tengah jalan utama pemukiman. Lututnya menyentuh tanah terlebih dahulu, disusul oleh tangannya, lalu seluruh tubuhnya yang roboh ke samping. Napasnya terputus-putus, dadanya naik turun dengan cepat seperti ikan yang baru ditarik dari air.

“Kenshiro?” seorang pria tua yang membawa lentera berlari mendekatinya. “Kenshiro, apa yang terjadi? Di mana Goro?”

Kenshiro mengangkat kepalanya dengan susah payah. Mulutnya terbuka, namun butuh beberapa saat sebelum kata-kata bisa keluar.

“Go... Goro-san...” Kenshiro terbata-bata, suaranya parau dan nyaris tidak terdengar. “Goro-san... sudah...”

“Sudah apa? Di mana dia?” pria tua itu berlutut di samping Kenshiro, wajahnya penuh kekhawatiran.

“Mati,” Kenshiro mengeluarkan kata itu seperti memuntahkan racun dari perutnya. “Goro-san mati. Di sungai... di hulu... ada gua gelap... ada wanita...”

Semakin banyak penduduk yang berkumpul di sekeliling Kenshiro. Mereka saling berbisik-bisik, wajah-wajah mereka berubah dari penasaran menjadi cemas, dari cemas menjadi ketakutan.

“Wanita apa?” pria tua itu bertanya.

Kenshiro menatap pria tua itu dengan mata-mata yang penuh teror. Bibirnya bergetar ketika dia mengucapkan kata-kata berikutnya.

“Bukan wanita biasa,” Kenshiro berbisik. “Dia muncul dari air. Wajahnya pucat. Matanya menyala emas. Dia mengikat Goro-san dengan benang-benang yang keluar dari tubuhnya. Benang-benang seperti jaring... jaring laba-laba.” Kenshiro berhenti sejenak, menelan ludah dengan susah payah. “Siluman. Siluman laba-laba. Di gua gelap di hulu sungai.”

Kerumunan yang mengelilinginya menjadi senyap. Kata-kata Kenshiro bergema di keheningan malam seperti lonceng peringatan yang dibunyikan di puncak menara pengawas.

Seorang wanita tua yang berdiri di barisan depan kerumunan menutup mulutnya dengan kedua tangan. Matanya yang sudah keruh karena usia melebar dengan ketakutan yang berakar jauh ke dalam tulang-tulangnya.

“Jorogumo,” wanita tua itu berbisik, suaranya bergetar. “Itu Jorogumo.”

“Jorogumo?” bisik-bisik menyebar di kerumunan seperti riak air yang menjalar di permukaan kolam. “Jorogumo? Siluman laba-laba? Yang dari cerita-cerita nenek moyang?”

“Itu bukan hanya cerita!” wanita tua itu berteriak, suaranya yang biasanya lemah kini menggelegar dengan kekuatan yang mengejutkan. “Nenekku pernah melihatnya! Ibunya nenekku juga! Jorogumo itu nyata! Dia siluman laba-laba yang menjelma menjadi wanita cantik untuk menjebak manusia!”

Kepanikan mulai menyebar. Wanita-wanita menarik anak-anak mereka masuk ke rumah. Pria-pria berlari mengambil senjata-senjata sederhana, tombak-tombak bambu dan parang-parang. Suara-suara tangisan, teriakan, dan perintah-perintah yang saling bertumpuk mengisi malam yang tadinya tenang.

Kenshiro masih terbaring di tanah, napasnya perlahan-lahan mulai teratur. Seorang warga memberikannya air minum, dan dia meneguknya dengan rakus, air yang tumpah dari mulutnya membasahi kimononya yang sudah basah oleh keringat dan lumpur.

Malam itu, tidak ada seorang pun di pemukiman Shizuoka yang tidur.


Hari-hari berikutnya, cerita Kenshiro menyebar seperti api yang membakar padang rumput di musim kemarau. Dari mulut ke mulut, dari rumah ke rumah, dari desa ke desa. Setiap kali cerita itu diceritakan ulang, detailnya bertambah dan berubah, seperti sungai yang mengumpulkan air dari anak-anak sungai yang dilaluinya. Namun inti ceritanya tetap sama.

Di gua gelap di hulu sungai di Shizuoka, ada seekor siluman laba-laba raksasa. Siluman itu bisa berubah menjadi wanita cantik yang sangat memesona. Dan siluman itu sudah membunuh seorang nelayan bernama Goro.

Namanya adalah Jorogumo.

Para tetua desa mengadakan pertemuan. Mereka duduk bersila di aula kayu terbesar di pemukiman, wajah-wajah keriput mereka diterangi oleh cahaya obor-obor yang bergoyang tertiup angin malam yang masuk melalui celah-celah dinding. Di antara mereka duduk Kenshiro, yang diminta untuk menceritakan kembali pengalamannya dari awal hingga akhir tanpa menambah atau mengurangi apa pun.

Kenshiro menceritakannya. Suaranya masih gemetar, matanya masih menyimpan bayangan-bayangan ketakutan yang mungkin tidak akan pernah hilang sepenuhnya. Dia menceritakan tentang sungai yang terlalu sunyi, tentorang kolam yang gelap, tentang mulut gua dengan jaring-jaring raksasa, tentang wajah pucat yang muncul dari air, tentang teriakan terakhir Goro yang menghantuinya setiap kali dia memejamkan mata.

Setelah Kenshiro selesai bercerita, aula itu hening selama beberapa saat. Para tetua saling bertukar pandangan, wajah-wajah mereka keras dan serius.

“Kita harus memperingatkan semua orang,” tetua tertua, seorang pria botak dengan janggut putih panjang bernama Saburo, berkata dengan suara yang tegas meski tangannya yang memegang tongkat sedikit gemetar. “Tidak ada seorang pun yang boleh mendekati gua itu. Tidak ada yang boleh pergi ke hulu sungai sendirian.”

“Tapi bagaimana dengan Goro?” seorang tetua lain bertanya. “Kita tidak bisa membiarkan jasadnya di sana.”

“Goro sudah tidak bisa diselamatkan,” Saburo menjawab dengan getir. “Yang bisa kita lakukan sekarang adalah memastikan tidak ada korban lagi.”

Para tetua sepakat. Mereka memutuskan untuk membuat peringatan bagi seluruh penduduk di sekitar Shizuoka. Peringatan itu disebarkan dengan segala cara yang mungkin. Utusan-utusan dikirim ke desa-desa tetangga, membawa pesan yang sama. Para pendeta Shinto di kuil-kuil terdekat diminta untuk membuat jimat-jimat pelindung dan menggantungkannya di setiap pintu masuk pemukiman.

Dan yang paling penting, para penduduk diminta untuk menggambarkan visual Jorogumo. Karena tidak ada yang benar-benar melihat wujud asli siluman itu kecuali Kenshiro, dan bahkan Kenshiro hanya melihat wujud manusianya, setiap orang menggambarkan Jorogumo berdasarkan imajinasi dan ketakutan mereka sendiri.

Kalangan atas, para bangsawan dan samurai yang tinggal di kediaman-kediaman besar di pinggiran pemukiman, menggambarkan Jorogumo dengan gaya yang lebih halus dan artistik. Mereka menggunakan tinta-tinta berkualitas tinggi dan kertas-kertas terbaik, menggambarkan sosok wanita cantik dengan tubuh laba-laba raksasa di bagian bawah. Gambar-gambar mereka memperlihatkan Jorogumo sebagai makhluk yang anggun namun mengerikan, dengan mata-mata emas yang bersinar di kegelapan dan jaring-jaring sutra yang membentang di sekelilingnya.

Kalangan bawah, para petani, nelayan, dan pedagang kecil, menggambarkan Jorogumo dengan cara yang lebih kasar namun lebih menakutkan. Mereka menggunakan arang dan potongan-potongan kain untuk membuat gambar-gambar sederhana yang menampilkan monster laba-laba berwajah manusia, dengan taring-taring besar dan mata-mata merah yang menyala-nyala. Gambar-gambar itu ditempelkan di dinding-dinding rumah, di tiang-tiang pasar, di pohon-pohon di tepi jalan, di mana pun orang-orang bisa melihatnya.

Nama Jorogumo menjadi kata yang ditakuti. Ibu-ibu menggunakannya untuk menakut-nakuti anak-anak yang nakal. Para nelayan menyebutnya sebelum berangkat ke sungai, sebagai pengingat agar tidak pergi terlalu jauh ke hulu. Para pedagang yang melewati hutan selalu berjalan berkelompok-kelompok dan tidak pernah berhenti hingga mereka keluar dari bayang-bayang pepohonan.

Sementara itu, di gua gelap di hulu sungai, Jorogumo tersenyum.

Dia berdiri di mulut gua dalam wujud manusianya, menatap ke arah pemukiman yang kini dipenuhi oleh ketakutan. Angin malam membawa samar-samar suara-suara manusia kepadanya. Suara-suara yang dipenuhi kecemasan, ketakutan, dan kepanikan.

“Mereka menyebut namaku,” Jorogumo bergumam, bibirnya yang merah membentuk senyum tipis yang dingin. “Bagus. Biarkan mereka takut. Biarkan mereka mengenal nama yang akan menghancurkan mereka.”

Di belakangnya, di dalam kegelapan gua, Nanami duduk sendirian dengan mata-mata yang menatap ke kejauhan tanpa ekspresi. Anak bungsu itu tidak lagi menangis. Dia tidak lagi bertanya tentang kakak-kakaknya. Dia hanya duduk dalam diam, seperti boneka porselen yang ditinggalkan pemiliknya di sudut ruangan yang gelap.

Jorogumo menatap putrinya sekilas. Ada sedikit kesakitan yang melintas di mata-mata emasnya, secepat kilatan cahaya yang langsung padam. Namun kesakitan itu segera tenggelam di bawah gelombang kebencian yang jauh lebih besar dan lebih kuat.

“Ini baru permulaan,” Jorogumo berbisik pada malam.

Angin bertiup lebih kencang, menggoyang-goyangkan pepohonan dan membuat suara-suara yang menyerupai rintihan panjang yang datang dari kedalaman bumi.

Dan di kejauhan, di pemukiman Shizuoka, seorang anak kecil terbangun dari mimpi buruknya dan menangis memanggil ibunya, tanpa tahu bahwa monster yang ada di mimpinya jauh lebih nyata dari yang bisa dibayangkan oleh siapa pun.

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Komentarnya bisa dibaca siapa saja, tapi menulis butuh akun.

Masuk