Bab 8 Pedang Ilusi dan Air Mata Terakhir

0 dibaca

A

Hujan belum berhenti ketika Kosuke dan Chihiro tiba di perbatasan sisi selatan pemukiman Shizuoka.

Mereka berdiri di balik pohon ek tua yang batangnya cukup besar untuk menyembunyikan dua orang, mata-mata mereka menatap rumah Takeda yang berjarak kurang dari lima puluh langkah dari posisi mereka. Cahaya lentera yang hangat menyusup dari celah-celah jendela kertas, memotong kegelapan dengan garis-garis kekuningan yang tipis dan bergoyang-goyang.

“Itu rumahnya,” Chihiro berbisik, napasnya membentuk kabut tipis di udara malam yang dingin. “Jorogumo ada di dalam. Dia masih menyamar sebagai Ayumi.”

Kosuke menatap rumah itu tanpa berkedip. Tangannya kanannya beristirahat di gagang pedangnya, jari-jarinya melingkari sarung biru gelap itu dengan genggaman yang mantap namun tidak tegang. Di dadanya, jantungnya berdebar lebih cepat dari biasanya, namun napasnya tetap teratur, terlatih oleh puluhan tahun disiplin yang diajarkan Kaname kepadanya.

“Siapa yang ada di dalam selain Jorogumo?” Kosuke bertanya.

“Hanya Takeda,” Chihiro menjawab. “Dokter itu sendirian. Tidak ada penjaga. Tidak ada anak buah. Hanya dia dan Jorogumo.”

“Manusia biasa,” Kosuke bergumam. “Dia akan menjadi masalah.”

“Masalah?”

“Kalau aku menyerang Jorogumo di dalam rumah itu, Takeda bisa terluka,” Kosuke menjelaskan. “Atau lebih buruk, Jorogumo bisa menggunakannya sebagai perisai.”

Chihiro menggigit bibir bawahnya. “Jadi apa rencanamu?”

Kosuke terdiam selama beberapa saat. Hujan menetes dari rambut dan wajahnya, mengalir di dagunya dan menetes ke tanah yang sudah becek. Matanya yang tajam dan fokus menyapu rumah Takeda dari sudut ke sudut, menghitung jarak, memetakan pintu masuk dan pintu keluar, memperkirakan posisi-posisi di dalam yang bisa memberikan keuntungan taktis.

“Aku masuk dari depan,” Kosuke berkata akhirnya. “Langsung. Tanpa sembunyi-sembunyi.”

Chihiro menatap Kosuke dengan mata-mata yang melebar. “Langsung?”

“Jorogumo tahu bahwa pemburu yokai sedang mengincarnya,” Kosuke menjelaskan. “Dia sudah mengalahkan Tarou. Dia mengharapkan serangan diam-diam, serangan dari bayang-bayang, serangan yang tidak terlihat datang. Kalau aku melakukan itu, aku bermain di wilayahnya. Dia adalah siluman yang hidupnya dibangun dari tipuan dan penyamaran. Diam-diam adalah senjatanya, bukan senjataku.”

Kosuke menatap Chihiro.

“Jadi aku masuk dari depan,” Kosuke mengulangi. “Dengan satu tangan di pedang dan kata-kata di mulut. Aku akan memaksa Jorogumo untuk membuka penyamarannya di depan Takeda. Biarkan Takeda melihat sendiri siapa Ayumi sebenarnya. Itu akan menghilangkan perisai manusianya.”

Chihiro menelan ludah. Rencana itu berani. Berani dalam arti yang paling dekat dengan gila.

“Aku percaya padamu,” Chihiro berkata akhirnya. “Apa yang harus kulakukan?”

“Tetap di luar,” Kosuke menjawab. “Awasi perimeter. Kalau Jorogumo mencoba kabur, kau harus tahu ke arah mana dia pergi.”

Chihiro mengangguk. “Hati-hati, Kosuke.”

Kosuke tidak menjawab. Dia melangkah keluar dari balik pohon dan berjalan menuju rumah Takeda. Langkahnya tegap dan mantap, tidak berlari, tidak mengendap, hanya berjalan dengan langkah-langkah yang teratur dan tegas, seperti seorang prajurit yang berjalan menuju medan perang yang sudah ditentukan.

Hujan menghantam bahunya. Angin meniup rambutnya. Petir menyambar di kejauhan, menerangi sosoknya selama sepersekian detik, bayangan hitam yang bergerak menuju cahaya.

Kosuke sampai di depan pintu rumah Takeda.

Dia tidak mengetuk.

Kakinya menendang pintu.


BRAK!

Pintu kayu itu terbang dari engselnya, pecah menjadi beberapa bagian yang berserakan di lantai ruang depan rumah Takeda. Serpihan-serpihan kayu beterbangan di udara, bercampur dengan air hujan yang masuk melalui lubang yang baru terbentuk.

Kosuke melangkah masuk.

Di dalam rumah, di ruang perawatan yang hangat dan diterangi lentera, Ayumi dan Takeda duduk berhadapan di atas tatami. Di antara mereka terdapat meja rendah yang memuat teko teh dan dua cangkir, serta mangkuk kecil berisi buah-buahan kering. Tangan Takeda memegang pergelangan tangan Ayumi, jari-jarinya memeriksa denyut nadi wanita itu dengan sentuhan yang profesional namun menyimpan kelembutan yang melampaui batas hubungan dokter dan pasien.

Mereka berdua menoleh bersamaan ketika pintu hancur.

“APA-APAAN INI?!” Takeda melompat dari duduknya, tubuhnya secara refleks bergerak di depan Ayumi, melindungi wanita itu dari penyusup yang baru saja menghancurkan pintu rumahnya. Matanya yang biasanya hangat dan ramah kini berkilat oleh kemarahan dan keterkejutan. “SIAPA KAU?! BAGAIMANA BERANI KAU MERUSAK RUMAHKU?!”

Kosuke berdiri di ambang pintu yang hancur, tubuhnya basah kuyup oleh hujan, pedangnya masih tersarung di pinggangnya. Matanya yang tajam dan fokus tidak tertuju pada Takeda.

Matanya tertuju pada Ayumi.

Ayumi yang duduk di belakang Takeda, mata-mata cokelat gelapnya menatap Kosuke dengan ekspresi yang campuran antara keterkejutan dan sesuatu yang lebih gelap, sesuatu yang tidak terlihat oleh mata Takeda namun sangat jelas bagi mata Kosuke yang terlatih.

Pengenalan.

Ayumi mengenali Kosuke. Bukan secara pribadi, karena mereka belum pernah bertemu. Tapi Ayumi, atau lebih tepatnya Jorogumo, mengenali aura yang dipancarkan oleh Kosuke. Aura yang sama dengan Tarou. Aura pemburu yokai.

“Takeda-san,” Kosuke berkata, suaranya tenang dan terkontrol, kontras tajam dengan kekacauan yang baru saja dia ciptakan dengan menendang pintu. “Namaku Kawamura Kosuke. Aku minta maaf karena merusak pintumu. Tapi aku datang dengan peringatan yang tidak bisa menunggu.”

“Peringatan?” Takeda mendesis, tangannya mengepal di sisinya. “Peringatan macam apa yang membutuhkan penghancuran pintu orang?!”

“Wanita di belakangmu,” Kosuke berkata, matanya masih tertuju pada Ayumi. “Dia bukan manusia.”

Keheningan yang mengikuti kata-kata Kosuke terasa seperti batu besar yang dijatuhkan ke dalam air yang tenang. Gelombang-gelombang keterkejutan menyebar di wajah Takeda, dari mata-matanya yang melebar, ke mulutnya yang terbuka, ke pipinya yang memucat.

“Apa... apa yang kau bicarakan?” Takeda berbisik, suaranya pecah oleh ketidakpercayaan.

“Wanita yang menyebut dirinya Ayumi,” Kosuke melanjutkan, suaranya tetap datar dan tanpa emosi, seperti dokter yang menyampaikan diagnosis yang tidak ingin didengar pasiennya. “Dia adalah Jorogumo. Siluman laba-laba. Yokai yang sudah membunuh banyak orang di Shizuoka. Dia menyerang Komamura Genji dan seluruh anak buahnya. Dia menyerang Satoru dan seluruh penghuni kediamannya. Dan dia melukai rekan saya, Tarou, hingga hampir mati.”

“OMONG KOSONG!” Takeda berteriak, wajahnya memerah oleh kemarahan yang mendidih. Dia memutar tubuhnya setengah lingkaran untuk menatap Ayumi di belakangnya, lalu kembali menatap Kosuke, tangannya terentang di samping tubuhnya seolah-olah mencoba memagari Ayumi dari kata-kata Kosuke. “Ayumi adalah manusia! Aku sudah memeriksanya! Aku dokter! Aku tahu perbedaan antara manusia dan... dan...”

“Dan yokai?” Kosuke menyelesaikan kalimat Takeda.

“Dia terluka!” Takeda berteriak lagi. “Dia datang ke rumahku bersimbah darah! Dia butuh pertolongan! Dan sekarang kau datang menghancurkan pintuku dan menuduhnya sebagai monster?! Kau gila!”

“Aku tidak gila, Takeda-san,” Kosuke berkata. “Tapi aku mengerti kenapa kau tidak percaya. Jorogumo memiliki kemampuan untuk memanipulasi pikiran manusia. Dia bisa membuat manusia mana pun jatuh cinta kepadanya, mempercayainya, membelanya. Itu yang sedang terjadi padamu sekarang.”

“KAU YANG GILA!” Takeda melangkah maju, jari telunjuknya menuding Kosuke. “Ayumi adalah wanita yang baik! Dia penyanyi yang berbakat! Dia bukan monster! Kau hanya cemburu karena wanita secantik dan sehebat dia menjadi milikku! Kau iri!”

Di belakang Takeda, Ayumi bangkit dari duduknya. Tangannya yang lembut menyentuh punggung Takeda, gerakannya pelan dan menenangkan.

“Takeda, sayang,” Ayumi berkata, suaranya lembut dan merdu, setiap kata yang keluar dari bibirnya terasa seperti madu yang menetes di telinga. “Jangan dengarkan Kosuke. Dia cemburu. Dia iri karena aku menjadi milikmu seutuhnya.”

Ayumi melingkarkan lengannya di lengan Takeda, menyandarkan kepalanya di bahunya, matanya menatap Kosuke dengan tatapan yang polos dan terluka.

“Lihat apa yang kau lakukan,” Ayumi berkata kepada Kosuke, suaranya bergetar seolah menahan tangis. “Kau membuatnya marah. Kau menuduhku tanpa bukti. Kau datang ke rumah orang di tengah malam, menghancurkan pintu, dan menebarkan kebohongan. Siapa yang sesungguhnya monster di sini?”

Ayumi tertawa. Tawa yang kecil dan ringan, seperti lonceng yang berdering di angin musim semi.

“Dia cemburu, Takeda,” Ayumi berkata lagi. “Hahaha. Dia cemburu.”

Takeda menertawakan Kosuke. Tawanya keras dan penuh dengan kepuasan dan penghinaan, tawa seorang pria yang yakin bahwa dia benar dan lawannya salah.

“Kau dengar itu?” Takeda tertawa. “Dia cemburu! Pergi dari rumahku, Kosuke atau apa pun namamu! Pergi sebelum aku memanggilkan warga untuk mengusirmu!”

Kosuke merasakan sesuatu yang berat menekan kepalanya.

Rasanya seperti seluruh langit runtuh dan mendarat di pundaknya. Otot-otot lehernya menegang, rahangnya mengeras, dan perlahan-lahan, gerakan tubuhnya melambat. Tangan yang tadinya siap mencabut pedang kini tergantung kaku di sisinya, jari-jarinya yang seharusnya lincah dan cepat terasa seperti terbuat dari batu.

Manipulasi pikiran.

Jorogumo sedang mencoba memanipulasi pikirannya.

Kosuke merasakan gelombang-gelombang halus yang menyusup ke dalam otaknya, seperti jari-jari tak terlihat yang meraba-raba di dalam kepalanya, mencari celah, mencari kelemahan, mencari pintu masuk untuk menguasai kesadarannya. Gelombang-gelombang itu membisikkan hal-hal yang menenangkan. Bahwa Ayumi memang manusia. Bahwa Takeda benar. Bahwa Kosuke salah. Bahwa tidak ada yokai di ruangan ini. Bahwa sebaiknya Kosuke pergi dan tidak kembali lagi.

Kosuke mematung.

Tubuhnya membeku di posisinya. Kaki-kakinya menolak untuk bergerak. Lengannya menolak untuk mengangkat pedang. Bahkan matanya terasa berat, seolah-olah kelopak matanya terbuat dari timbal yang ingin menutup dan tidak pernah membuka lagi.

Takeda menatap Kosuke yang mematung dengan ekspresi puas.

“Lihat,” Takeda mendengus. “Bahkan tubuhnya sendiri tahu bahwa dia salah. Dia mematung karena malu.”

Takeda berbalik dan berjalan menuju Kosuke. Langkahnya lebar dan penuh kepercayaan diri, wajahnya memancarkan kemarahan yang bercampur dengan keangkuhan. Dia berdiri di depan Kosuke yang membatu, matanya menatap ke atas karena Kosuke lebih tinggi darinya, jari telunjuknya menusuk-nusuk dada Kosuke.

“Dengarkan aku baik-baik,” Takeda berkata dengan suara yang rendah dan tajam. “Aku tidak peduli siapa kau atau dari mana kau datang. Ayumi adalah milikku. Aku yang merawatnya. Aku yang mengobati lukanya. Aku yang memberinya tempat berlindung. Dan aku tidak akan membiarkan siapa pun menyakitinya. Termasuk orang gila sepertimu.”

Takeda membalikkan badannya untuk kembali ke Ayumi.

Dan membeku.

Karena Ayumi sudah tidak ada.

Yang berdiri di tempat Ayumi berdiri tadi adalah sesuatu yang lain. Sesuatu yang tinggi dan gelap dan mengerikan. Sesuatu yang memiliki tubuh bagian atas menyerupai wanita namun tubuh bagian bawahnya dipenuhi kaki-kaki laba-laba yang besar dan hitam dan beruas-ruas, menjulur ke segala arah seperti akar-akar pohon mati yang tumbuh dari tubuh manusia.

Mata-mata emas menyala di kegelapan.

Taring-taring panjang memanjang dari mulut yang menyeringai.

Dan jaring-jaring mulai melesat.

“Ta... Ta...” Takeda tidak bisa menyelesaikan kata apa pun. Mulutnya terbuka, matanya terbelalak, seluruh tubuhnya dipasung oleh ketakutan yang begitu besar hingga otaknya tidak mampu memprosesnya. Pria yang beberapa detik lalu tertawa dengan penuh kepercayaan diri kini berdiri membeku di tempatnya, wajahnya putih seperti kertas yang belum ditulis.

Jorogumo menyerang.

Kaki-kaki laba-labanya yang besar mengayun di udara. Satu kaki menghantam bahu kiri Takeda, merobek kain kimono dan kulit di bawahnya. Darah merah menyembur. Takeda berteriak. Kaki kedua menyabet dada Takeda dari kanan ke kiri, meninggalkan luka sayatan panjang yang segera mengucurkan darah. Kaki ketiga menghantam perutnya, membuat tubuh dokter muda itu terbungkuk oleh rasa sakit yang meledak-ledak di rongga perutnya.

Takeda jatuh ke lantai.

Tubuhnya yang tadi tegak dan penuh percaya diri kini tergeletak di tatami yang berubah warna oleh darahnya sendiri. Tangannya yang halus dan terlatih untuk menyembuhkan kini gemetar memegangi luka-lukanya yang terbuka. Mulutnya terbuka dalam teriakan yang tidak ada suaranya, paru-parunya terlalu tertekan oleh rasa sakit untuk menghasilkan suara.

“Ta... Takeda...” suara Ayumi keluar dari mulut Jorogumo, namun bukan lagi suara yang merdu dan lembut. Suara itu dalam dan bergema, menyimpan kesedihan yang tulus dan kejam pada saat yang bersamaan. “Maafkan aku.”

Di seberang ruangan, Kosuke berperang di dalam pikirannya sendiri.

Gelombang-gelombang manipulasi Jorogumo masih menekan kesadarannya, masih mencoba menguasai otaknya, masih berbisik-bisik bahwa dia harus diam dan tidak bergerak. Namun kata-kata Kaname bergema di benaknya, lebih keras dari bisikan-bisikan itu, lebih kuat dari tekanan yang menghimpit otaknya.

“Teknik ini bukan tentang kekuatan fisik. Ini tentang niat.”

Niat.

Kosuke memusatkan seluruh kesadarannya pada satu titik. Satu niat. Satu tujuan. Melawan. Menolak. Membebaskan diri dari belenggu yang tidak terlihat yang membelit pikirannya.

Jari-jarinya berkedut.

Pertama jari kelingking. Lalu jari manis. Lalu jari tengah. Satu per satu, jari-jarinya kembali bergerak, membebaskan diri dari kekakuan yang menahan mereka. Tangannya meraih gagang pedang. Jari-jarinya melingkari sarung biru gelap itu dengan genggaman yang semakin mantap.

Kosuke mengerahkan seluruh niatnya ke dalam satu gerakan.

Dan tubuhnya bergerak.

Katana biru gelap terhunus dari sarungnya dengan bunyi logam yang bergema di ruangan. Kosuke meluncur ke depan, tubuhnya membungkuk rendah, kaki-kakinya menendang lantai dengan kekuatan yang meretakkan tatami di bawahnya. Dia melompat ke udara, tubuhnya berputar, pedangnya mengayun di atas kepalanya.

Dan dia mendarat di depan Jorogumo.

CLANG!

Pedang bertemu kaki laba-laba. Bunyi yang dihasilkan bergema seperti lonceng kuil yang dipukul dengan palu baja, memecah keheningan yang mencekam dan mengirimkan getaran yang terasa hingga ke tulang-tulang mereka berdua.

Kosuke menyerang.

Pedangnya menari di udara, memotong, menusuk, menggores. Setiap ayunan membawa niat yang jelas dan kuat, niat yang bukan hanya fisik tapi juga mental, setiap tebasan memancarkan gelombang-gelombang yang menembus pertahanan mental Jorogumo dan menyerang pikirannya secara langsung.

Jorogumo merasakan serangannya.

Bukan hanya rasa sakit fisik dari luka-luka yang dibuat pedang Kosuke di tubuhnya, luka-luka yang mengeluarkan darah hitam yang kental dan berbau busuk. Tapi juga rasa sakit mental, seperti jarum-jarum tak terlihat yang menusuk-nusuk di dalam kepalanya, mengacaukan konsentrasinya, mengganggu kemampuannya untuk mengendalikan jaring-jaringnya dan memanipulasi pikiran.

“Teknik pedang ilusi,” Jorogumo mendesis, mata-mata emasnya menyipit. “Jadi ada orang yang masih mengajarkan teknik kuno itu.”

Kosuke tidak menjawab. Bibirnya terkatup rapat, matanya terfokus, seluruh kesadarannya tercurah pada pertarungan. Pedangnya mengayun lagi, kali ini dari bawah ke atas, memotong udara dengan kecepatan yang membuat mata tidak bisa mengikuti.

Jorogumo mundur. Kaki-kaki laba-labanya bergerak cepat, membawanya menjauhi jangkauan pedang Kosuke. Namun Kosuke mengejarnya. Langkahnya cepat dan presisi, setiap langkah mendekatkannya pada Jorogumo, setiap ayunan pedangnya mengirimkan gelombang ilusi yang menghantam pikiran Jorogumo.

“KAU!” Jorogumo berteriak, mata-mata emasnya berkilat oleh kemarahan dan frustrasi. Kaki-kaki laba-labanya mengayun ke arah Kosuke dari segala arah, delapan kaki yang masing-masing bergerak secara independen, menyerang dari delapan sudut yang berbeda secara bersamaan.

Kosuke menghindari empat kaki pertama dengan gerakan tubuh yang cepat dan efisien. Kaki kelima dan keenam dia tangkis dengan pedangnya, mengirimkan percikan-percikan cahaya yang terbang di udara. Kaki ketujuh menyerempet bahunya, merobek kain dan menggores kulit, mengeluarkan darah merah yang segera membasahi lengannya.

Kaki kedelapan menghantam dadanya.

Kosuke merasakan udara dipaksa keluar dari paru-parunya. Tubuhnya terangkat dari lantai dan terbang ke belakang, menghantam dinding ruangan dengan bunyi yang keras. Kayu retak. Kertas sobek. Debu beterbangan.

Namun Kosuke tidak jatuh.

Kakinya mendarat di dinding, menempel di permukaannya selama sepersekian detik, menggunakan momentum untuk meluncur kembali ke depan. Pedangnya mengayun dari samping, memotong dua kaki laba-laba yang terlalu lambat untuk menghindarinya.

Darah hitam menyembur.

Jorogumo mendesis kesakitan. Dua kaki laba-labanya yang terpotong jatuh ke lantai, berkedut-kedut selama beberapa detik sebelum berhenti bergerak.

Pertarungan bergerak ke seluruh rumah Takeda. Dari ruang perawatan ke ruang kerja, dari ruang kerja ke dapur, dari dapur ke halaman belakang. Dinding-dinding hancur ditembus tubuh-tubuh yang terpental. Rak-rak obat jatuh dan pecah, menyebarkan botol-botol dan toples-toples yang isinya bercampur dengan darah merah dan hitam di lantai. Lentera-lentera terjatuh dan padam, meninggalkan ruangan demi ruangan dalam kegelapan yang hanya sesekali diterangi oleh kilatan petir dari luar.

Mereka berakhir di halaman belakang.

Hujan menghantam mereka berdua. Tanah di bawah kaki mereka sudah berubah menjadi lumpur yang licin dan berbahaya. Pohon-pohon tanaman obat di taman Takeda yang tadinya tertata rapi kini tumbang dan tercabut akarnya, menjadi korban dari pertarungan yang merobek rumah dari dalam ke luar.

Kosuke berdiri di bawah hujan, napasnya berat dan memburu. Darah mengalir dari luka di bahunya, dari goresan di perutnya, dari lecet-lecet di wajahnya. Pedangnya yang biru gelap berkilat-kilat ditimpa cahaya petir, ujungnya dilumuri darah hitam Jorogumo.

Jorogumo berdiri di seberangnya, enam kaki laba-laba yang tersisa menjulur ke segala arah. Luka-luka di tubuhnya mengalirkan darah hitam yang bercampur dengan air hujan. Napasnya berbunyi berat dan serak, seperti suara gerinda yang berputar di atas batu. Mata-mata emasnya menatap Kosuke dengan campuran kebencian dan sesuatu yang menyerupai rasa hormat.

“Kau lebih kuat dari yang kukira,” Jorogumo berkata, suaranya bergema di bawah hujan. “Lebih kuat dari pemburu yang datang sebelummu.”

“Dan aku belum selesai,” Kosuke menjawab, mengangkat pedangnya ke posisi siaga.

Jaring-jaring melesat dari tubuh Jorogumo.

Puluhan utas sutra yang tebal dan kuat melesat ke arah Kosuke dari segala arah, menyelubunginya seperti jala yang ditebar di atas ikan. Jaring-jaring itu melilit lengannya, kakinya, tubuhnya, menariknya ke tanah, membelit semakin erat setiap kali dia bernapas.

Kosuke meronta.

Jaring-jaring itu terlalu kuat. Terlalu banyak. Terlalu ketat. Setiap gerakan yang dia buat untuk membebaskan diri hanya membuat jaring semakin mengerat, memotong kain dan kulit di bawahnya, meremas tulang-tulangnya yang sudah lelah dan sakit.

Udara mulai menipis. Jaring-jaring itu menutupi wajahnya, menghalangi hidung dan mulutnya, memotong pasokan oksigen ke paru-parunya. Dada Kosuke sesak, paru-parunya berteriak meminta udara yang tidak datang. Matanya mulai kabur, cahaya petir yang sesekali menyambar berubah menjadi bintik-bintik putih yang berputar-putar di penglihatannya.

Jorogumo mendekati Kosuke yang terbelit jaring.

Kaki-kaki laba-labanya melangkah pelan di lumpur, setiap langkah meninggalkan jejak yang dalam. Dia berdiri di atas Kosuke yang terbaring lemah, menatap ke bawah dengan mata-mata emas yang menyala terang di bawah hujan.

“Selesai,” Jorogumo berkata. “Kau bertarung dengan baik, manusia. Lebih baik dari siapa pun yang pernah kulawan. Tapi ini sudah berakhir.”

Jorogumo mengangkat satu kaki laba-labanya yang paling besar. Ujungnya yang lancip dan tajam teracung ke bawah, ditujukan tepat ke dada Kosuke. Satu tusukan di titik itu akan menembus jantungnya, mengakhiri pertarungan ini untuk selamanya.

Kaki itu turun.

Dan Kosuke membuka matanya.

Matanya yang tadinya kabur dan hampir tertutup kini terbuka lebar, jernih dan tajam, berkilat dengan cahaya yang bukan pantulan petir. Cahaya itu datang dari dalam, dari tempat yang lebih dalam dari otot dan tulang dan darah, dari tempat di mana niat bersemayam, di mana tekad tertidur, di mana kekuatan terakhir yang tersisa disimpan untuk saat-saat yang paling menentukan.

Tangannya yang terbelit jaring bergerak.

Bukan gerakan meronta. Bukan gerakan panik. Ini adalah gerakan yang terkontrol dan terarah, gerakan yang membawa seluruh niat dan tekad dan kekuatan terakhirnya ke dalam satu titik, satu tujuan, satu serangan.

Pedangnya yang masih tergenggam di tangannya yang terbelit jaring memotong sutra yang mengikatnya. Bukan hanya memotong secara fisik, gelombang ilusi yang dipancarkan pedangnya menghancurkan struktur supernatural jaring-jaring itu dari dalam, memecah ikatan-ikatan gaib yang membuatnya lebih kuat dari baja.

Jaring-jaring itu pecah.

Serpihan-serpihan sutra beterbangan di udara, bercampur dengan hujan dan lumpur, berputar-putar seperti salju hitam yang jatuh dari langit yang marah.

Kosuke bangkit.

Dan menusuk.

Pedangnya meluncur ke depan dengan kecepatan yang melampaui batas kemampuan manusia yang terluka dan kelelahan. Ujung biru gelap itu menembus udara, menembus hujan, menembus pertahanan Jorogumo yang untuk sepersekian detik terbuka karena keterkejutannya.

Dan menembus dada Jorogumo.

Bunyi yang dihasilkan bukan bunyi logam menembus daging. Ini adalah bunyi yang lebih dalam, lebih resonan, seperti bunyi lonceng yang retak, seperti bunyi senar koto yang putus, seperti bunyi hati yang pecah.

Pedang itu masuk hingga ke gagang.

Jorogumo terhenti.

Mata-mata emasnya melebar. Mulutnya terbuka, namun tidak ada suara yang keluar. Tubuhnya yang besar dan mengerikan, tubuh setengah wanita setengah laba-laba yang telah menyebarkan ketakutan di seluruh Shizuoka, membeku di tempatnya.

Darah hitam mengalir dari luka di dadanya, merembes di sekitar bilah pedang yang tertancap, menetes ke tanah yang sudah basah oleh hujan dan darah.

Jorogumo jatuh.

Perlahan-lahan, seperti pohon raksasa yang ditebang, tubuhnya condong ke belakang. Kaki-kaki laba-labanya melemas satu per satu, kehilangan kekuatan untuk menopang berat tubuhnya. Tubuhnya jatuh ke tanah berlumpur dengan bunyi yang berat dan basah, menciptakan percikan lumpur yang beterbangan ke segala arah.

Dan di tanah berlumpur itu, di bawah hujan yang tidak berhenti, Jorogumo terbaring.


Kosuke berdiri di atas Jorogumo yang terbaring.

Napasnya berat dan tidak teratur. Tubuhnya gemetar oleh campuran kelelahan, rasa sakit, dan adrenalin yang masih berputar-putar di pembuluh darahnya. Pedangnya yang biru gelap masih tertancap di dada Jorogumo, gagangnya bergoyang-goyang sedikit di bawah tetesan hujan.

Jorogumo tidak bergerak.

Mata-mata emasnya yang biasanya menyala terang kini meredup, cahayanya berkedip-kedip seperti lentera yang kehabisan minyak. Kaki-kaki laba-labanya yang tadinya kuat dan mengerikan kini tergeletak lemah di tanah, tidak bergerak, tidak berkedut, hanya terbaring seperti ranting-ranting pohon mati yang jatuh setelah badai.

Air hujan membasahi wajah Jorogumo. Wajah yang setengah wanita setengah monster. Wajah yang pernah tersenyum hangat sebagai Ayumi. Wajah yang pernah menyeringai mengerikan sebagai Jorogumo. Kini wajah itu tidak menunjukkan ekspresi apa pun. Hanya kekosongan. Hanya ketenangan yang datang setelah semua kemarahan dan kesedihan dan dendam habis terbakar.

Lalu air mata mengalir.

Dari mata-mata emas yang meredup itu, air mata mengalir. Bukan darah hitam. Bukan racun. Air mata yang jernih dan bening, air mata yang tidak berbeda dari air mata manusia mana pun yang pernah menangis di bawah hujan.

“Maafkan aku,” Jorogumo berbisik, suaranya lemah dan pecah-pecah, nyaris tidak terdengar di bawah gemuruh hujan. “Maafkan aku, anak-anakku.”

Kosuke yang tadinya bersiap untuk mencabut pedangnya dan memberikan serangan terakhir berhenti. Tangannya yang memegang gagang pedang membeku di udara.

“Kyo,” Jorogumo berbisik, matanya menatap langit yang gelap di atasnya, seolah-olah dia bisa melihat wajah-wajah yang tidak terlihat oleh siapa pun selain dirinya. “Shigeru. Koji.”

Nama-nama itu keluar dari bibirnya seperti doa yang sudah terlambat. Seperti panggilan yang tidak akan pernah dijawab. Seperti pelukan yang tidak akan pernah sampai.

“Anak-anakku yang malang,” Jorogumo terisak, tubuhnya yang besar bergetar oleh tangisan yang datang dari tempat yang paling dalam dan paling tua di dalam dirinya. “Ibu gagal. Ibu tidak bisa membalaskan kematian kalian. Ibu tidak cukup kuat. Maafkan Ibu.”

Kosuke menatap Jorogumo yang menangis di kakinya. Pedangnya yang tertancap di dada makhluk itu bergetar sedikit setiap kali Jorogumo terisak. Hujan membasahi wajah Kosuke, bercampur dengan keringat dan darah yang mengalir dari luka-lukanya.

“Apa maksudmu?” Kosuke bertanya, suaranya rendah dan waspada namun menyimpan rasa ingin tahu yang tidak bisa dia sembunyikan. “Anak-anakmu?”

Jorogumo menatap Kosuke. Mata-mata emasnya yang hampir padam menatap wajah pria yang menancapkan pedang di dadanya. Tatapannya bukan tatapan kebencian. Bukan tatapan dendam. Tatapan itu penuh dengan kesedihan yang begitu besar dan begitu tua hingga Kosuke merasakan beratnya menekan dadanya sendiri.

“Aku punya empat anak,” Jorogumo berkata, suaranya yang tadinya dalam dan bergema kini hanya bisikan yang rapuh dan pecah. “Kyo. Shigeru. Koji. Dan Nanami. Mereka kecil. Mereka tidak pernah menyakiti siapa pun. Mereka hanya bermain dengan jaring-jaring mereka di gua kami. Membuat sarang-sarang kecil yang indah. Berlari-lari dengan kaki-kaki mungil mereka. Tertawa dengan suara-suara yang hanya bisa didengar oleh telinga ibu.”

Air mata mengalir semakin deras di pipi Jorogumo.

“Lalu manusia datang,” Jorogumo melanjutkan, bibirnya bergetar. “Seorang samurai bernama Kanbe. Dia masuk ke gua kami. Dia menghancurkan sarang-sarang yang dibuat anak-anakku. Dan kemudian... dia menebas mereka. Satu per satu. Kyo yang paling besar. Shigeru yang paling lucu. Koji yang paling pendiam. Mereka tidak melawan. Mereka tidak bisa melawan. Mereka terlalu kecil. Terlalu lemah. Terlalu... terlalu tidak berdosa.”

Jorogumo menutup matanya. Air matanya mengalir di balik kelopak matanya yang tertutup, bercampur dengan air hujan, menciptakan sungai-sungai kecil yang mengalir di pipinya yang berubah-ubah antara kulit manusia dan kulit laba-laba.

“Hanya Nanami yang selamat,” Jorogumo berbisik. “Anak bungsuku. Yang paling kecil. Yang bersembunyi di celah batu yang terlalu sempit untuk dijangkau pedang Kanbe.”

Kosuke merasakan sesuatu yang berat di dadanya. Sesuatu yang bukan rasa sakit dari luka-lukanya. Sesuatu yang lebih dalam dan lebih menyakitkan.

“Jadi dendammu...” Kosuke berkata pelan.

“Dendam seorang ibu,” Jorogumo menyelesaikan. “Dendam yang tidak bisa padam meskipun aku membakar seluruh dunia. Karena tidak ada kematian manusia yang cukup untuk mengembalikan anak-anakku. Tidak ada darah yang cukup untuk menghapus darah mereka.”

Jorogumo membuka matanya. Mata-mata emasnya menatap Kosuke untuk terakhir kalinya.

“Aku tahu apa yang akan terjadi sekarang,” Jorogumo berkata. “Aku kalah. Tubuhku akan hancur. Dan mungkin itu yang seharusnya terjadi. Karena sepanjang perjalanan dendamku, aku tidak pernah merasa lebih dekat dengan anak-anakku. Aku hanya merasa semakin jauh. Semakin kosong. Semakin sendirian.”

Jorogumo tersenyum. Senyum yang lemah dan menyedihkan dan indah secara bersamaan.

“Kyo. Shigeru. Koji. Tunggu Ibu.”

Tubuh Jorogumo mulai berubah.

Kulit laba-labanya yang hitam dan kasar mulai retak, seperti tanah kering yang dipecah oleh panas matahari. Dari retakan-retakan itu, cahaya keemasan memancar, cahaya yang hangat dan lembut yang kontras tajam dengan kegelapan dan hujan di sekeliling mereka. Kaki-kaki laba-labanya menyusut dan menghilang, menjadi serpihan-serpihan cahaya yang beterbangan di udara seperti kunang-kunang yang terbang menuju langit.

Tubuh Jorogumo hancur berkeping-keping.

Setiap keping yang lepas dari tubuhnya berubah menjadi cahaya keemasan yang melayang ke atas, menembus hujan, menembus awan, menembus kegelapan. Cahaya-cahaya itu berputar-putar di udara selama beberapa saat sebelum melesat ke langit dan menghilang, satu per satu, seperti bintang-bintang yang pulang ke tempatnya.

Wajah Jorogumo adalah bagian terakhir yang tersisa. Wajah yang setengah Ayumi setengah Jorogumo. Wajah yang tersenyum. Wajah yang menangis. Wajah yang akhirnya menemukan kedamaian yang tidak pernah ditemukannya dalam dendam.

Lalu wajah itu juga pecah menjadi cahaya.

Dan menghilang.

Tidak ada yang tersisa dari Jorogumo kecuali pedang Kosuke yang tergeletak di tanah berlumpur, dan keheningan yang menyusul setelah cahaya-cahaya terakhir lenyap dari pandangan.

Kosuke berdiri sendirian di bawah hujan.

Air mengalir di wajahnya. Hujan. Air mata. Dia tidak tahu mana yang mana. Dia hanya berdiri di sana, menatap tempat di mana Jorogumo terbaring tadi, menatap tanah kosong yang tidak menyimpan jejak apa pun kecuali lumpur dan air.

Kosuke mengambil pedangnya dari tanah. Membersihkan bilahnya dengan ujung lengan kimononya yang sudah robek dan kotor. Menyarungkannya kembali di pinggangnya.

Pertarungan sudah berakhir.

Jorogumo sudah tiada.


Kosuke kembali ke dalam rumah Takeda.

Rumah yang sudah berupa reruntuhan. Dinding-dinding hancur. Lantai tatami terkelupas. Rak-rak obat berserakan. Botol-botol dan toples-toples pecah, isinya bercampur menjadi genangan-genangan berwarna-warni di lantai yang basah.

Takeda tergeletak di ruang perawatan, tubuhnya yang berlumuran darah terbaring di atas tatami yang sudah berwarna merah gelap. Matanya tertutup. Napasnya lemah dan tidak teratur. Luka-luka di bahu, dada, dan perutnya masih mengalirkan darah, meskipun aliran itu sudah melambat karena tubuhnya kehilangan terlalu banyak darah.

Kosuke berlutut di samping Takeda. Tangannya yang kasar dan berlumuran darah menyentuh leher dokter muda itu, merasakan denyut nadinya.

Lemah. Namun masih ada.

Takeda masih hidup.

Kosuke mengangkat tubuh Takeda dengan hati-hati, menempatkannya di punggungnya. Tubuh dokter muda itu terasa ringan di punggung Kosuke, terlalu ringan untuk pria dewasa, tanda bahwa dia sudah kehilangan banyak darah.

Kosuke berjalan keluar dari reruntuhan rumah Takeda.

Di luar, hujan sudah mulai mereda. Langit di timur menunjukkan semburat abu-abu yang pertama, tanda bahwa fajar akan datang meskipun matahari masih tersembunyi di balik awan-awan yang tebal.

Chihiro muncul dari balik pohon, matanya melebar melihat Kosuke yang keluar dengan Takeda yang berlumuran darah di punggungnya.

“Kosuke! Kau baik-baik saja?”

“Aku hidup,” Kosuke menjawab singkat. “Jorogumo sudah tiada.”

Chihiro menutup mulutnya dengan kedua tangannya. Matanya yang besar berkaca-kaca.

“Sungguh?” Chihiro berbisik.

“Sungguh,” Kosuke mengangguk. “Dia hancur. Tidak ada yang tersisa.”

Chihiro menarik napas panjang dan menghembuskannya pelan. Tubuhnya yang dari tadi tegang oleh ketakutan dan kecemasan perlahan-lahan merileks, bahunya turun, napasnya menjadi lebih teratur.

“Takeda terluka parah,” Kosuke berkata. “Aku harus membawanya ke dokter.”

“Ayahnya,” Chihiro berkata segera. “Yamada. Dia dokter paling berpengalaman di Shizuoka. Rumahnya di dekat pusat pemukiman.”

Kosuke mengangguk dan mulai berjalan. Chihiro berjalan di sampingnya, sesekali melirik ke belakang, matanya mengawasi kegelapan hutan yang mulai memudar oleh cahaya fajar.


Rumah Yamada terletak di jalan utama pemukiman, rumah yang lebih besar dan lebih tua dari rumah Takeda, dengan papan kayu besar di gerbangnya yang bertuliskan “Klinik Matsumoto” dengan kaligrafi yang sama rapinya namun huruf-hurufnya lebih besar dan lebih tebal, menunjukkan bahwa klinik ini adalah klinik utama, klinik asli, klinik yang didirikan oleh generasi Matsumoto yang pertama.

Kosuke mengetuk pintu.

Langkah-langkah kaki tergesa-gesa terdengar dari dalam. Pintu terbuka, dan seorang pria berusia enam puluh tahun berdiri di ambangnya. Yamada. Wajahnya yang tua dan berwibawa menunjukkan kekagetan ketika matanya jatuh pada tubuh Takeda yang berlumuran darah di punggung Kosuke.

“TAKEDA!” Yamada berteriak, wajahnya berubah dari kaget menjadi ketakutan dalam sepersekian detik. Tangannya yang tua namun masih terampil meraih tubuh putranya dan menariknya masuk ke dalam. “Apa yang terjadi?! SIAPA YANG MELAKUKAN INI PADA PUTRAKU?!”

Yamada membaringkan Takeda di atas meja perawatan yang selalu siap di ruang depan kliniknya. Tangannya yang terlatih selama puluhan tahun langsung bergerak, memeriksa luka-luka, meraba denyut nadi, menilai tingkat keparahan. Matanya yang basah oleh air mata tidak menghalangi ketelitian gerakannya. Dia adalah dokter. Dan di saat-saat seperti ini, meskipun hatinya menjerit, tangannya tetap harus bekerja.

“Dia diserang oleh yokai,” Kosuke berkata, berdiri di ambang pintu ruang perawatan. “Wanita yang menyebut dirinya Ayumi. Dia adalah Jorogumo.”

Yamada mengangkat kepalanya sejenak dari tubuh putranya, matanya menatap Kosuke dengan tatapan yang penuh kesedihan dan kemarahan.

“Yokai?” Yamada berbisik.

“Siluman laba-laba,” Kosuke menjelaskan. “Dia sudah dimusnahkan. Tapi sebelum itu... Takeda-san tidak mau percaya bahwa Ayumi adalah yokai. Dia membela Ayumi. Dan Ayumi... Jorogumo... menyerangnya.”

Yamada menatap putranya yang terbaring tak sadarkan diri. Wajah tampan Takeda yang biasanya bersih dan terawat kini pucat dan penuh luka. Tangan-tangan halus yang biasa menyembuhkan orang lain kini tergeletak lemah di sisinya, tidak berdaya.

Air mata mengalir di pipi Yamada yang keriput.

“Putraku yang bodoh,” Yamada berbisik, suaranya pecah. “Memilih wanita yang belum jelas asal-usulnya ketimbang keselamatan dirinya sendiri.”

Kosuke menundukkan kepalanya. Kata-kata Yamada menusuk hatinya, bukan karena ditujukan kepadanya, tapi karena kebenaran yang terkandung di dalamnya. Takeda memilih cinta yang palsu dan membayarnya dengan darah yang nyata.

“Dia akan hidup,” Yamada berkata setelah beberapa saat memeriksa luka-luka putranya dengan lebih teliti. “Luka-lukanya parah, tapi tidak ada yang mengenai organ vital. Dengan perawatan yang tepat, dia akan pulih.”

Kosuke mengangguk. “Kalau begitu, aku permisi.”

“Tunggu,” Yamada memanggil. Kosuke berhenti di ambang pintu.

Yamada menatap Kosuke selama beberapa saat. Lalu dia membungkuk dalam-dalam, dahinya nyaris menyentuh lantai.

“Terima kasih,” Yamada berkata, suaranya bergetar. “Terima kasih sudah menyelamatkan putraku.”

Kosuke menatap punggung Yamada yang membungkuk. Lalu dia membungkuk balik, meskipun punggungnya protes kesakitan oleh luka-lukanya.

“Jaga dia baik-baik,” Kosuke berkata. “Dia pria yang baik. Hanya sedikit bodoh.”

Kosuke berbalik dan berjalan keluar dari klinik Yamada. Chihiro menunggunya di luar, berdiri di bawah pohon yang melindunginya dari gerimis terakhir yang masih jatuh dari langit yang mulai terang.

Mereka berjalan berdampingan menuju hutan, menuju pondok Kaname, meninggalkan pemukiman Shizuoka yang perlahan-lahan terbangun oleh cahaya fajar.


Di pondok Kaname, Kosuke dan Chihiro disambut oleh guru mereka yang sudah menunggu di beranda.

Kaname menatap Kosuke yang datang dengan tubuh penuh luka dan mata yang lelah namun menyimpan kedamaian yang tidak ada sebelumnya.

“Selesai?” Kaname bertanya.

“Selesai, Sensei,” Kosuke menjawab. “Jorogumo sudah tiada.”

Kaname mengangguk. Wajahnya yang biasanya datar dan tanpa ekspresi menunjukkan sesuatu yang jarang terlihat. Kelegaan. Dan di matanya yang tajam, ada kelembutan yang hanya muncul di saat-saat yang sangat langka.

“Masuk,” Kaname berkata. “Biarkan aku melihat luka-lukamu.”

Kosuke dan Chihiro masuk ke dalam pondok. Kaname menyiapkan air hangat dan perban-perban bersih. Chihiro membantu membersihkan luka-luka di tubuh Kosuke, tangannya yang terlatih untuk tugas-tugas yang membutuhkan ketelitian bergerak dengan hati-hati dan lembut.

Kosuke duduk diam sementara luka-lukanya diobati. Matanya menatap api lilin yang bergoyang-goyang di tengah ruangan, pikirannya melayang ke tempat-tempat yang jauh.

“Sensei,” Kosuke berkata setelah beberapa saat.

“Ya?”

“Jorogumo... sebelum dia hancur, dia menangis.”

Kaname menghentikan gerakan tangannya yang sedang membalut lengan Kosuke. Matanya menatap muridnya.

“Dia menangis dan menyebut nama anak-anaknya,” Kosuke melanjutkan. “Kyo. Shigeru. Koji. Dia bilang seorang samurai bernama Kanbe membunuh mereka. Dan dendamnya selama ini... adalah dendam seorang ibu.”

Kaname terdiam selama beberapa saat yang panjang. Tangannya yang tua dan keriput kembali bergerak, menyelesaikan balutan perban dengan gerakan yang lebih pelan dari sebelumnya.

“Yokai juga memiliki perasaan, Kosuke,” Kaname berkata akhirnya. “Itu yang membuatnya berbahaya. Dan itu juga yang membuatnya tragis.”

Kosuke mengangguk.

Mereka duduk dalam keheningan selama beberapa saat. Hujan di luar sudah berhenti. Matahari pagi mulai menyusup melalui celah-celah dinding pondok, melemparkan garis-garis cahaya emas di lantai kayu yang tua.

Kaname menyelesaikan pengobatannya dan duduk di depan Kosuke dan Chihiro. Wajahnya yang tua dan bijaksana menatap kedua muridnya dengan ekspresi yang serius namun penuh kasih sayang.

“Dengarkan aku, kalian berdua,” Kaname berkata. “Pertarungan dengan Jorogumo sudah berakhir. Kosuke terluka. Tarou terluka lebih parah lagi. Aliansi pemburu yokai kita sudah tidak dalam kondisi untuk beroperasi.”

Kosuke dan Chihiro menatap guru mereka, menunggu.

“Aku sudah memikirkan ini selama beberapa hari,” Kaname melanjutkan. “Dan keputusanku sudah bulat. Aliansi pemburu yokai kita... dibubarkan.”

Keheningan yang mengikuti kata-kata Kaname terasa berat dan final. Chihiro menarik napas tajam. Kosuke menatap gurunya tanpa berkedip.

“Dibubarkan, Sensei?” Chihiro berbisik.

“Ya,” Kaname mengangguk. “Kalian berdua, Kosuke dan Chihiro, akan pergi ke sebuah desa di Tokyo. Kalian akan hidup sebagai manusia biasa. Meninggalkan pedang dan jaring dan bayangan-bayangan. Menemukan kehidupan yang normal. Kehidupan yang tidak dipenuhi oleh darah dan kematian.”

“Tapi, Sensei...” Kosuke memulai.

“Ini bukan hukuman,” Kaname mengangkat tangannya, menghentikan protes Kosuke. “Ini adalah hadiah. Kalian sudah memberikan cukup banyak untuk dunia ini. Kalian sudah mempertaruhkan nyawa kalian berkali-kali untuk melindungi orang-orang yang bahkan tidak tahu bahwa kalian ada. Sudah cukup. Waktunya kalian hidup untuk diri sendiri.”

Kosuke menatap gurunya selama beberapa saat. Lalu dia menundukkan kepalanya.

“Bagaimana dengan Sensei?” Kosuke bertanya.

Kaname tersenyum. Senyum yang langka dan berharga, senyum yang hanya muncul beberapa kali dalam seumur hidupnya.

“Aku akan pergi ke Kyoto,” Kaname menjawab. “Ada seorang pemuda dari Arab bernama Malik yang sedang singgah di sana. Dia memiliki pengetahuan tentang makhluk-makhluk supernatural dari tanah kelahirannya, pengetahuan yang berbeda dari apa yang kita miliki. Aku ingin berbicara dengannya. Bertukar pikiran. Mungkin bersama-sama, kita bisa menemukan cara untuk memastikan bahwa tragedi seperti ini tidak terulang lagi.”

“Cara pemusnahan yokai yang permanen?” Chihiro bertanya.

“Bukan pemusnahan,” Kaname menggeleng pelan. “Aku sudah terlalu tua untuk percaya bahwa pemusnahan adalah jawabannya. Jorogumo mengajarkan kita itu, bukan? Dia menjadi monster karena anak-anaknya dimusnahkan. Kekerasan melahirkan kekerasan. Dendam melahirkan dendam.”

Kaname menatap api lilin yang bergoyang-goyang di antara mereka.

“Yang kucari bukan cara untuk memusnahkan yokai,” Kaname berkata. “Yang kucari adalah cara agar manusia dan yokai bisa hidup tanpa saling membunuh. Mungkin itu mustahil. Mungkin itu mimpi orang tua yang sudah terlalu banyak melihat darah. Tapi selama masih ada kemungkinan, aku akan mencarinya.”

Kosuke dan Chihiro menatap guru mereka. Pria tua yang sudah menghabiskan seluruh hidupnya memburu dan membunuh yokai, kini berbicara tentang kedamaian. Pria tua yang sudah melatih mereka untuk menjadi senjata, kini menyuruh mereka meletakkan senjata dan menjadi manusia biasa.

“Kami mengerti, Sensei,” Kosuke berkata akhirnya. “Kami akan melakukan apa yang kau perintahkan.”

“Bukan perintah,” Kaname menggeleng. “Permintaan. Dari guru kepada muridnya. Dari orang tua kepada anak-anaknya.”

Air mata mengalir di pipi Chihiro. Dia membungkuk dalam-dalam, dahinya menyentuh lantai.

“Terima kasih, Sensei,” Chihiro berkata, suaranya bergetar. “Untuk segalanya.”

Kosuke membungkuk juga, dahinya menyentuh lantai di samping Chihiro.

“Terima kasih, Sensei,” Kosuke berkata. “Kami tidak akan melupakanmu.”

Kaname menatap kedua muridnya yang membungkuk di hadapannya. Tangannya yang tua dan keriput menyentuh kepala mereka berdua, satu tangan untuk masing-masing, sentuhan yang hangat dan lembut dan penuh dengan cinta yang tidak pernah dia ucapkan dengan kata-kata.

“Pergilah,” Kaname berkata, suaranya sedikit serak. “Hiduplah. Bahagia. Itu adalah misi terakhir yang kuberikan kepada kalian.”


Matahari pagi bersinar terang ketika Kosuke dan Chihiro meninggalkan pondok Kaname.

Mereka berjalan berdampingan menyusuri jalan setapak yang berkelok-kelok di antara bukit-bukit bambu. Udara pagi terasa segar dan bersih setelah hujan semalam, berbau tanah basah dan daun-daun yang segar. Burung-burung bernyanyi di dahan-dahan pohon, mengisi kesunyian hutan dengan melodi-melodi yang ceria dan penuh kehidupan.

Di belakang mereka, pondok Kaname semakin kecil, semakin jauh, semakin samar, hingga akhirnya menghilang di balik tikungan jalan dan pepohonan yang rapat.

Di depan mereka, jalan terbentang menuju Tokyo. Menuju kehidupan baru. Menuju kedamaian yang sudah lama mereka cari namun tidak pernah mereka temukan di antara pedang-pedang dan darah.

Chihiro melirik Kosuke yang berjalan di sampingnya.

“Kosuke,” Chihiro berkata.

“Ya?”

“Menurutmu, apakah Jorogumo menemukan anak-anaknya?”

Kosuke terdiam selama beberapa langkah. Matanya menatap langit biru yang terbentang di atas mereka, langit yang bersih dan cerah setelah dibersihkan oleh hujan semalam.

“Aku harap begitu,” Kosuke menjawab.

Mereka berjalan terus.

Dan di atas mereka, langit yang biru dan luas dan tanpa awan membentang seperti kanvas kosong yang menunggu untuk dilukis. Tanpa bayangan. Tanpa kegelapan. Tanpa jaring-jaring laba-laba yang berkilau di bawah cahaya bulan.

Hanya cahaya.

Hanya kedamaian.

Hanya awal yang baru.

TAMAT

Sudah sampai ujung

Bab terakhir

← Bab sebelumnya

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Komentarnya bisa dibaca siapa saja, tapi menulis butuh akun.

Masuk