Kediaman Satoru terletak di perbukitan sebelah utara pemukiman Shizuoka, dikelilingi oleh pagar-pagar batu yang tinggi dan kokoh yang dibangun untuk menunjukkan kekayaan sekaligus memberikan keamanan. Rumah utamanya terdiri dari tiga bangunan yang saling terhubung oleh koridor-koridor kayu beratap, dengan halaman-halaman luas yang ditumbuhi pohon-pohon pinus tua yang bentuknya dipangkas dengan seni yang rumit. Kandang-kandang kuda berjajar di sayap barat, tempat enam ekor kuda terbaik di Shizuoka dipelihara dengan perawatan yang lebih baik dari perawatan yang diterima sebagian besar manusia di pemukiman.
Rumah ini tidak kalah megah dari kediaman Genji. Lantai-lantainya dilapisi tatami terbaik yang diimpor dari Heian-Kyo. Dinding-dindingnya dihiasi lukisan-lukisan dan kaligrafi dari seniman-seniman terkenal. Lentera-lentera perunggu menggantung di setiap sudut, memberikan cahaya yang hangat dan mewah. Dan di ruangan-ruangan yang luas, wanita-wanita cantik berlalu-lalang, mengenakan kimono-kimono sutra yang berwarna-warni, wajah-wajah mereka dipoles dengan bedak putih dan bibir-bibir mereka diwarnai merah.
Wanita-wanita itu adalah selir-selir Satoru.
Ada tujuh orang dari mereka, semuanya cantik, semuanya muda, semuanya dipilih oleh Satoru dengan kriteria yang sama ketatnya dengan kriteria yang dia gunakan untuk memilih kuda-kuda dan batu-batu bangunan terbaiknya. Mereka tinggal di sayap timur kediaman, di kamar-kamar yang nyaman dan tertata rapi, memenuhi hari-hari mereka dengan permainan kartu, gosip, dan persaingan diam-diam satu sama lain untuk mendapatkan perhatian Satoru.
Dan di antara ketujuh wanita itu, yang paling berkuasa adalah Mae.
Mae berusia dua puluh delapan tahun, dengan tubuh yang ramping dan wajah yang cantik dalam cara yang tajam dan menusuk. Mata-matanya yang sipit menyipit lebih sempit lagi setiap kali dia menilai seseorang, memberikan kesan seekor kucing yang mengamati mangsanya sebelum menerkam. Rambutnya yang hitam selalu ditata dengan sempurna, dihiasi tusuk konde dari emas yang berkilau di bawah cahaya lentera. Bibirnya yang tipis selalu membentuk senyum yang tidak pernah menyentuh matanya, senyum yang menyembunyikan pikiran-pikiran yang tajam dan kadang-kadang berbahaya.
Mae adalah yang pertama sampai di kediaman Satoru, dan selama bertahun-tahun, dia menjadi yang paling disayang. Satoru memberikan kamar terbaik kepadanya. Kimono-kimono termahal. Perhiasan-perhiasan tercantik. Dan yang paling penting, perhatian terbanyak. Mae terbiasa menjadi yang pertama dan satu-satunya, dan dia tidak berniat melepaskan posisi itu kepada siapa pun.
Maka ketika Satoru tiba di kediaman di tengah malam dengan seorang wanita asing yang basah kuyup dan berlumuran darah di belakang kudanya, Mae merasakan sesuatu yang sangat familiar dan sangat tidak menyenangkan bergerak di dalam perutnya.
Ancaman.
*
“Semuanya berkumpul!” Satoru berdiri di ruangan utama kediamannya, suaranya yang keras bergema di dinding-dinding yang tinggi. Ayumi duduk di sampingnya, tubuhnya yang terluka sudah dibalut perban-perban putih yang bersih, kimono baru berwarna lavender menggantikan kimono robek yang dikenakannya tadi. Wajahnya yang cantik terlihat pucat dan lelah, mata-matanya berkaca-kaca, bibir bawahnya sesekali bergetar.
Gambaran sempurna seorang wanita yang baru saja mengalami kekejaman.
Tujuh wanita Satoru berdiri berjajar di hadapan mereka, wajah-wajah mereka menunjukkan ekspresi yang bervariasi dari keingintahuan hingga ketidaksukaan yang terang-terangan. Mae berdiri di posisi paling depan, tangannya tersilang di dada, matanya menyipit menatap Ayumi dengan tatapan yang bisa membekukan air.
“Mulai malam ini,” Satoru mengumumkan dengan nada yang tidak menerima bantahan, “Ayumi akan tinggal di rumah ini. Dia adalah tamu kehormatan. Kalian akan memperlakukannya dengan hormat dan kebaikan. Siapa pun yang menyakitinya, dalam bentuk apa pun, akan berhadapan langsung denganku. Apakah itu jelas?”
“Jelas, Satoru-sama,” wanita-wanita itu menjawab serentak, suara-suara mereka datar dan tanpa emosi. Kecuali Mae, yang bibirnya bergerak mengucapkan kata-kata itu tanpa suara yang benar-benar keluar.
“Bagus,” Satoru mengangguk puas. “Dan satu hal lagi. Mulai malam ini, Ayumi akan menjadi penyanyi di rumah ini. Dia akan tampil setiap malam untuk menghibur kita semua. Kalian semua harus menonton pertunjukannya.”
Wanita-wanita itu saling berpandangan. Beberapa dari mereka terlihat penasaran. Beberapa lagi terlihat tidak peduli. Dan Mae terlihat seperti seseorang yang baru saja diminta untuk menelan batu besar yang penuh duri.
Ayumi membungkuk dari posisi duduknya, senyumnya lemah namun hangat. “Senang berkenalan dengan kalian semua. Aku harap kita bisa berteman baik.”
Mae menatap Ayumi. Mata-mata sipitnya yang tajam menyapu wanita di depannya dari ujung kepala hingga ujung kaki, menilai, menghitung, menyimpulkan. Cantik. Sangat cantik. Mungkin lebih cantik dari Mae sendiri, meskipun Mae tidak akan pernah mengakuinya bahkan di bawah ancaman kematian.
“Tentu saja,” Mae menjawab, senyumnya selebar dan sedingin pedang yang baru diasah. “Tentu saja kita bisa berteman baik, Ayumi-san.”
Dua senyum saling berhadapan di ruangan itu. Senyum Ayumi yang hangat dan polos. Senyum Mae yang tajam dan berbahaya. Kedua senyum itu bertemu di udara seperti dua bilah pedang yang beradu tanpa suara, masing-masing mengukur kekuatan lawannya.
Di balik senyum Ayumi, Jorogumo tersenyum juga.
Senyum yang ketiga. Senyum yang paling berbahaya.
Pertunjukan pertama Ayumi di kediaman Satoru berlangsung keesokan malamnya.
Ruangan besar di sayap tengah kediaman sudah disulap menjadi panggung darurat. Lentera-lentera tambahan digantung di langit-langit, memberikan cahaya yang hangat dan berlimpah. Bantal-bantal duduk ditata di lantai untuk para penonton. Meja-meja rendah berjajar di depan setiap bantal, memuat sake, teh, dan camilan-camilan ringan.
Satoru duduk di posisi paling depan, tepat di tengah, dengan jubah sutra hitam yang membuatnya terlihat seperti raja di singgasananya sendiri. Lima anak buahnya berdiri di belakangnya, tegap dan waspada seperti biasa. Dan di samping Satoru, di bantal duduk yang sengaja ditempatkan lebih dekat dari yang lain, Mae duduk dengan wajah yang tersenyum namun mata yang tidak.
Tujuh wanita lainnya duduk di barisan belakang, berbisik-bisik satu sama lain dengan suara-suara yang seperti dengung lebah.
Ayumi duduk di panggung dengan kotonya. Kimono baru yang diberikan Satoru kepadanya berwarna biru tua dengan motif gelombang-gelombang perak yang berkilau di bawah cahaya lentera. Rambutnya yang hitam ditata dengan hiasan tusuk konde baru yang terbuat dari perak murni. Luka-luka di tubuhnya yang sudah mulai sembuh tersembunyi di balik kain kimono yang tebal dan elegan.
Ayumi menutup matanya. Jari-jarinya menyentuh senar-senar koto.
Dan dia mulai bermain.
Melodi yang mengalun malam itu berbeda dari melodi-melodi yang biasa dimainkan Ayumi di restoran Genji. Ini lebih gelap. Lebih dalam. Lebih misterius. Nada-nada yang keluar dari koto terasa seperti bisikan-bisikan yang datang dari tempat yang sangat jauh dan sangat tua, tempat di mana waktu bergerak dengan kecepatan yang berbeda dan aturan-aturan yang dikenal manusia tidak berlaku.
Lalu dari balik punggung Ayumi, mereka muncul.
Enam penari.
Mereka muncul seperti biasa, tanpa peringatan, tanpa transisi, seperti kelopak-kelopak bunga yang tiba-tiba mekar dari tangkai yang tadinya kosong. Enam wanita cantik dengan kimono-kimono berwarna-warni dan kipas-kipas yang sudah terbuka lebar, tubuh-tubuh mereka langsung bergerak mengikuti irama koto.
Mae terbelalak.
Mulutnya terbuka. Matanya melebar hingga putih matanya terlihat di sekeliling irisnya. Tangannya yang tadinya memegang cangkir sake membeku di udara, sake di dalamnya bergoyang-goyang oleh gemetar tangannya yang tiba-tiba tidak bisa dia kendalikan.
“Dari mana...” Mae berbisik, suaranya nyaris tidak terdengar. “Dari mana mereka datang?”
Di sampingnya, Satoru tidak mendengar pertanyaan Mae. Matanya terpaku pada Ayumi dan penari-penarinya, tubuhnya condong ke depan, mulutnya sedikit terbuka, ekspresinya seperti anak kecil yang melihat kembang api untuk pertama kalinya. Dia sepenuhnya terhipnotis.
Mae menarik lengan teman terdekatnya, seorang wanita bernama Saki yang duduk di belakangnya.
“Saki!” Mae berbisik di telinga wanita itu. “Kau lihat itu? Penari-penari itu muncul dari belakang punggungnya! Dari udara kosong! Itu bukan manusia!”
Saki mengangguk, matanya juga melebar oleh keterkejutan, namun pandangannya mulai berkabut oleh melodi koto yang meresap ke dalam pikirannya.
“Dia melakukan sihir,” Mae mendesis, jari-jarinya mencengkeram lengan Saki dengan kekuatan yang membuat wanita itu meringis. “Kau lihat bagaimana Satoru menatapnya? Seperti orang yang kehilangan akalnya. Ini sihir, Saki. Wanita itu menggunakan sihir kepada Satoru dan kepada kita semua.”
Saki mengangguk lagi, kali ini dengan lebih yakin. “Kau benar, Mae. Aku juga merasakannya. Musiknya... ada sesuatu di dalam musiknya yang tidak normal.”
Mae melepaskan lengan Saki dan menatap Ayumi yang masih bermain koto di panggung. Penari-penari di belakangnya berputar-putar dengan kipas-kipas mereka, menciptakan pola-pola warna yang memukau. Seluruh ruangan terhipnotis. Setiap mata tertuju pada pertunjukan itu. Setiap telinga terisi oleh melodi yang memabukkan.
Setiap pikiran terjerat.
Kecuali pikiran Mae.
Entah karena kecemburuan yang membakar dadanya memberikan semacam kekebalan terhadap pesona Ayumi, atau entah karena kewaspadaannya sebagai wanita yang terbiasa hidup di lingkungan yang penuh persaingan dan pengkhianatan, Mae tetap sadar. Otaknya tetap jernih. Matanya tetap melihat apa yang sebenarnya terjadi di depannya.
Dan apa yang terjadi di depannya adalah sesuatu yang tidak alami.
“Kita harus menyingkirkannya,” Mae berbisik kepada Saki. “Sebelum dia menyingkirkan kita semua.”
Saki menelan ludah. “Bagaimana?”
Mae menatap Saki. Lalu matanya bergerak ke wanita-wanita lain yang duduk di belakang mereka, wanita-wanita yang juga mulai menunjukkan tanda-tanda ketidaknyamanan di balik wajah-wajah mereka yang berusaha terlihat tenang.
“Racun,” Mae berbisik, bibirnya nyaris tidak bergerak. “Besok pagi, kita akan menyiapkan minuman untuk Ayumi yang diberi racun tikus. Campur dengan madu dan gula agar rasanya tidak terasa. Tawarkan sebagai hadiah selamat datang. Dia tidak akan curiga.”
Saki menatap Mae dengan mata-mata yang melebar oleh ketakutan. “Racun? Mae, kalau Satoru-sama tahu...”
“Satoru-sama tidak akan tahu,” Mae memotong. “Karena setelah Ayumi mati, tidak akan ada bukti. Kita semua akan mengatakan bahwa dia mati karena lukanya yang belum sembuh. Luka-luka dari sabetan pedang yang katanya diterimanya di restoran Genji.”
Saki terdiam selama beberapa saat. Lalu dia mengangguk, pelan dan ragu-ragu, namun akhirnya mengangguk.
“Baiklah,” Saki berbisik. “Aku ikut.”
Di panggung, Ayumi terus bermain. Melodi kotonya mengalun semakin indah, semakin memukau, semakin menghipnotis. Penari-penari di belakangnya bergerak semakin anggun, kipas-kipas mereka membentuk pola-pola yang semakin rumit dan memukau.
Dan di balik wajah cantiknya yang tersenyum, di balik mata-mata cokelat gelapnya yang tertutup setengah oleh kekhusyukan bermain musik, Jorogumo mendengar semuanya.
Setiap bisikan Mae. Setiap kata yang keluar dari bibir tipis wanita itu. Setiap rencana yang disusun di balik punggungnya.
Jorogumo hampir tertawa.
Racun tikus? Untuk siluman laba-laba yang sudah berusia ratusan tahun?
Manusia memang selalu menghibur.
Jorogumo tersenyum. Senyum yang terlihat damai dan bahagia dari luar. Senyum yang menyembunyikan sesuatu yang jauh lebih kejam dari racun tikus mana pun.
Keesokan paginya, Mae bertindak.
Dia bangun lebih awal dari biasanya, sebelum matahari muncul dari balik perbukitan. Dengan langkah-langkah yang ringan dan hati-hati, dia menyelinap ke dapur yang masih gelap dan sunyi. Tangannya yang terlatih bergerak dengan cepat dan efisien, mengambil bubuk racun tikus dari lemari penyimpanan di sudut dapur, mencampurkannya ke dalam teko teh yang sudah disiapkan untuk sarapan pagi.
“Sedikit madu,” Mae bergumam sambil menuangkan madu ke dalam teko, mengaduknya dengan sendok kayu. “Sedikit gula. Dan sedikit daun mint untuk menyamarkan baunya.”
Mae mengangkat teko itu dan mencium aromanya. Manis. Segar. Tidak ada jejak racun yang bisa terdeteksi oleh hidung manusia biasa.
“Sempurna,” Mae tersenyum puas.
Dia menyiapkan nampan dengan teko teh beracun dan dua cangkir kecil, menambahkan beberapa kue beras kecil dan manisan kering sebagai pelengkap. Nampan itu terlihat seperti hadiah yang ramah dan tidak berbahaya, persembahan dari seorang wanita yang ingin menyambut teman barunya.
Mae membawa nampan itu ke kamar Ayumi.
Kamar yang diberikan Satoru kepada Ayumi terletak di ujung sayap timur, bersebelahan dengan kamar Mae. Ironis, mengingat Mae sedang berusaha membunuh wanita yang tidur di dinding sebelahnya. Namun ironi itu tidak mengganggu Mae sedikit pun. Dalam dunia yang dipenuhi persaingan dan pengkhianatan, ironi adalah bumbu yang membuat segalanya lebih menarik.
Mae mengetuk pintu.
“Ayumi-san?” Mae memanggil dengan suara yang manis dan ramah. “Selamat pagi. Aku membawakan teh dan camilan untukmu. Boleh aku masuk?”
Tidak ada jawaban selama beberapa saat.
Lalu pintu geser terbuka.
Ayumi berdiri di ambang pintu, mengenakan yukata tidur berwarna putih, rambutnya yang hitam tergerai bebas di bahunya. Wajahnya segar meskipun terlihat sedikit pucat, mata-matanya yang cokelat gelap menatap Mae dengan kehangatan yang terlihat tulus.
“Mae-san,” Ayumi tersenyum. “Selamat pagi. Masuklah.”
Mae melangkah masuk ke kamar Ayumi dan meletakkan nampan di atas meja rendah di tengah ruangan. Dia duduk bersimpuh di depan meja dan menuangkan teh dari teko ke dalam dua cangkir dengan gerakan-gerakan yang terlatih dan anggun.
“Ini teh spesial,” Mae berkata sambil mendorong salah satu cangkir ke arah Ayumi. “Resep keluargaku. Campuran teh hijau dengan madu dan daun mint. Sangat segar dan menyegarkan di pagi hari.”
Ayumi duduk di seberang Mae dan mengambil cangkir itu. Dia mengangkatnya ke hidungnya dan menghirup aromanya.
“Wangi sekali,” Ayumi tersenyum. “Terima kasih, Mae-san. Kau sangat baik.”
Mae tersenyum manis. “Tentu saja. Kita kan sesama wanita. Kita harus saling menjaga.”
Ayumi mengangguk dan mengangkat cangkir itu ke bibirnya.
Mae menahan napasnya.
Ayumi menyeruput teh itu.
Satu teguk. Dua teguk. Tiga teguk.
Mae memperhatikan setiap gerakan Ayumi dengan intensitas yang nyaris tidak bisa dia sembunyikan. Matanya mengikuti aliran teh dari cangkir ke bibir, dari bibir ke mulut, dari mulut ke tenggorokan. Dia menunggu reaksinya. Perubahan warna wajah. Tremor di tangan. Napas yang tersengal. Apa pun yang menandakan bahwa racun sudah mulai bekerja.
Ayumi meletakkan cangkir itu dan tersenyum.
“Enak sekali, Mae-san,” Ayumi berkata. “Kau harus mengajari aku cara membuatnya.”
Mae berkedip. “Ka... kau baik-baik saja?”
“Tentu saja,” Ayumi memiringkan kepalanya dengan ekspresi bingung yang polos. “Kenapa tidak?”
“Tidak, bukan apa-apa,” Mae memaksakan senyumnya kembali. “Aku hanya khawatir tentang luka-lukamu. Apa masih sakit?”
“Sudah jauh lebih baik,” Ayumi menyentuh perban di lengannya. “Satoru-sama sangat baik. Dia menyuruh tabib terbaik untuk mengobatiku.”
Mae mengangguk, namun di dalam hatinya, kegelisahan mulai tumbuh. Racun itu seharusnya bekerja dalam hitungan menit. Dia sudah menghitung dosisnya dengan cermat, cukup untuk membunuh orang dewasa dalam waktu kurang dari satu jam. Tapi Ayumi duduk di depannya, segar dan tersenyum, seolah-olah dia baru saja minum teh biasa.
“Mae-san,” Ayumi berkata tiba-tiba, suaranya tetap lembut namun matanya menangkap tatapan Mae dan menahannya. “Aku tahu kau khawatir dengan kehadiranku di sini.”
Mae membeku.
“Aku mengerti perasaanmu,” Ayumi melanjutkan, senyumnya tidak berubah namun sesuatu di matanya bergeser, sedikit, nyaris tidak terlihat, seperti awan tipis yang melintas di depan bulan. “Kau sudah berada di sisi Satoru-sama lebih lama dari siapa pun. Kau pasti merasa terancam oleh kedatanganku. Itu wajar.”
Mae tidak bergerak. Mulutnya yang biasanya selalu siap dengan kata-kata tajam kini terbungkam.
“Tapi kau tidak perlu khawatir, Mae-san,” Ayumi berkata sambil mengangkat cangkir tehnya lagi dan menyeruput isinya dengan pelan. “Aku tidak berniat merebut apa pun darimu.”
Ayumi meletakkan cangkir itu dan tersenyum.
“Karena aku...” Ayumi berhenti sejenak, matanya menatap Mae dengan kedalaman yang membuat wanita itu merasa seolah-olah lantai di bawahnya baru saja menghilang. “...memiliki tujuan yang jauh berbeda dari yang kau bayangkan.”
Udara di ruangan itu terasa berubah. Lebih dingin. Lebih berat. Lebih mengancam.
Namun sesaat kemudian, Ayumi tertawa kecil dan ekspresinya kembali ceria.
“Aku hanya bercanda, Mae-san,” Ayumi mengibaskan tangannya dengan ringan. “Jangan terlalu serius. Aku senang kita bisa ngobrol begini. Terima kasih untuk tehnya. Sangat lezat.”
Mae memaksakan tawa yang kering dan pendek. “Ya... ya, sama-sama. Aku... aku harus pergi sekarang. Ada urusan lain.”
Mae bangkit dari duduknya dengan gerakan yang sedikit terlalu cepat untuk terlihat tenang. Dia membungkuk cepat kepada Ayumi dan berjalan keluar dari kamar, langkah-langkahnya yang biasanya percaya diri kini sedikit goyah.
Ketika pintu kamar tertutup di belakangnya, Mae bersandar di dinding koridor dan menarik napas panjang. Jantungnya berdebar-debar di dadanya. Tangannya yang biasanya mantap gemetar di sisinya.
Racun itu tidak bekerja.
Racun yang cukup untuk membunuh orang dewasa tidak berpengaruh sama sekali pada Ayumi.
Mae merasakan sesuatu yang dingin dan licin bergerak di perutnya. Sesuatu yang menyerupai ketakutan.
Siapa sebenarnya Ayumi?
Di dalam kamar, Jorogumo menatap pintu yang baru saja tertutup. Senyum di wajah Ayumi perlahan-lahan menghilang, digantikan oleh ekspresi yang datar dan tanpa emosi.
Jorogumo mengangkat cangkir teh yang tersisa dan meminum isinya sampai habis. Racun tikus itu terasa seperti garam di lidahnya, sedikit pahit, sedikit pedas, sama tidak berpengaruhnya dengan air hujan yang jatuh di atas batu.
“Racun,” Jorogumo bergumam, meletakkan cangkir kosong di atas meja. “Dia mencoba meracuniku dengan racun tikus.”
Jorogumo menutup matanya.
Di balik kelopak matanya, wajah Mae muncul. Wanita yang berani dan bodoh secara bersamaan. Wanita yang mencoba membunuh siluman laba-laba dengan racun tikus.
“Kau seharusnya bersyukur, Mae,” Jorogumo berbisik pada dirinya sendiri. “Karena malam ini bukan giliranmu.”
Jorogumo membuka matanya.
Malam ini adalah giliran Satoru.
Hari itu berlalu dengan lambat dan panas.
Matahari musim gugur yang biasanya lembut bersinar terik hari itu, seolah-olah langit sedang marah pada bumi di bawahnya. Udara di kediaman Satoru terasa berat dan pengap, membuat seluruh penghuninya bergerak dengan lesu dan tidak bersemangat.
Kecuali Ayumi.
Ayumi menghabiskan sore harinya di dapur besar kediaman Satoru, dikelilingi oleh mangkuk-mangkuk dan bahan-bahan yang tersebar di meja kayu panjang. Tangannya yang lentik bergerak dengan keterampilan yang terlatih, menguleni adonan, membentuknya menjadi bola-bola kecil, mencelupkannya ke dalam sirup gula yang mendidih.
Dia sedang membuat manisan.
Para koki yang bekerja di dapur itu menatapnya dengan campuran kekaguman dan keheranan. Mereka tidak menyangka bahwa penyanyi yang biasanya tampil anggun di panggung juga memiliki keahlian memasak yang luar biasa. Setiap gerakan Ayumi di dapur terlihat sama anggunnya dengan gerakan-gerakannya di panggung, seolah-olah memasak dan bernyanyi adalah dua sisi dari seni yang sama.
“Ini untuk Satoru-sama,” Ayumi berkata kepada koki kepala yang berdiri di sampingnya, mengamati proses pembuatan manisan dengan mata yang profesional. “Dia bilang dia suka manisan. Aku ingin membuatkannya yang spesial.”
“Ayumi-san sangat perhatian,” koki kepala itu tersenyum. “Satoru-sama pasti sangat senang.”
“Semoga,” Ayumi tersenyum balik. “Aku hanya ingin membalas kebaikannya.”
Manisan yang dibuat Ayumi selesai di sore hari. Bola-bola kecil yang dilapisi sirup gula dan ditaburi bubuk kacang, berkilau kecokelatan di atas piring porselen putih. Aromanya manis dan menggoda, mengundang setiap hidung yang menangkapnya untuk mencicipi.
Manisan itu tidak beracun.
Jorogumo tidak membutuhkan racun. Racun adalah senjata manusia, senjata lemah untuk makhluk lemah. Jorogumo memiliki senjata yang jauh lebih efektif.
Sore itu, sebuah tenda kereta kuda berhenti di jalan utama pemukiman Shizuoka.
Tenda kereta kuda itu mewah, ditarik oleh dua ekor kuda putih yang gagah, dengan tirai-tirai sutra yang menutupi kabin penumpangnya. Ini adalah kereta kuda pribadi Satoru, yang biasa digunakan untuk perjalanan-perjalanan singkatnya di sekitar Shizuoka.
Di dalam kereta, Satoru duduk bersandar di bantal-bantal sutra, tubuhnya yang tua namun masih bugar rileks dan santai. Di sampingnya, Ayumi duduk dengan nampan manisan di pangkuannya, senyumnya hangat dan penuh perhatian.
“Buka mulutmu, Satoru-sama,” Ayumi berkata sambil mengambil satu bola manisan dari nampan dan mengarahkannya ke mulut Satoru.
Satoru membuka mulutnya seperti anak kecil yang disuapi ibunya. Manisan itu masuk ke mulutnya, dan dia mengunyahnya dengan mata tertutup, menikmati rasa manis yang memenuhi lidahnya.
“Mmm,” Satoru menggumam, mulutnya masih penuh. “Enak sekali, Ayumi. Kau yang membuatnya?”
“Tentu saja,” Ayumi mengambil sapu tangan kecil dan menyeka sudut mulut Satoru yang terkena sirup. “Kubuat sendiri di dapur tadi siang. Spesial untukmu.”
“Kau tidak hanya cantik dan berbakat bernyanyi,” Satoru membuka matanya dan menatap Ayumi dengan tatapan yang bisa disebut sebagai kekaguman, meskipun di mata Jorogumo tatapan itu terlihat lebih seperti tatapan pemilik yang kagum pada barang baru yang baru dibelinya. “Kau juga pandai memasak. Aku beruntung sekali.”
“Aku yang beruntung, Satoru-sama,” Ayumi menjawab dengan suara yang lembut dan rendah hati. “Kau menolongku ketika tidak ada orang lain yang mau. Kau memberiku tempat tinggal, pakaian, dan keamanan. Aku tidak akan pernah melupakan kebaikanmu.”
Satoru tersenyum puas. Tangannya yang kasar menepuk-nepuk tangan Ayumi yang halus dan lembut.
“Kau tidak perlu merasa berhutang, Ayumi,” Satoru berkata. “Aku melakukannya karena aku ingin. Karena kau pantas mendapatkannya. Dan karena...” Satoru berdeham, pipinya yang biasanya kering dan kaku merona sedikit. “Karena aku menyukaimu.”
“Satoru-sama...” Ayumi menundukkan kepalanya, pipinya merona merah muda.
Mereka menghabiskan sisa perjalanan dengan mengobrol dan makan manisan. Satoru bercerita tentang bisnisnya, tentang proyek-proyek pembangunan barunya, tentang rencana-rencananya untuk memperluas kekayaannya. Ayumi mendengarkan dengan penuh perhatian, mengangguk dan tersenyum di saat-saat yang tepat, menanyakan pertanyaan-pertanyaan yang membuat Satoru merasa didengarkan dan dihargai.
Kereta kuda kembali ke kediaman Satoru menjelang senja. Langit berwarna jingga kemerahan, matahari tenggelam di balik perbukitan, melemparkan bayangan-bayangan panjang yang membuat segalanya terlihat lebih gelap dan lebih dalam dari biasanya.
Di udara, aroma hujan mulai tercium.
Malam itu, Satoru meminta Ayumi menemaninya di kamarnya.
Kamar Satoru terletak di bangunan utama, ruangan paling besar dan paling mewah di seluruh kediaman. Dinding-dindingnya dihiasi lukisan-lukisan pemandangan alam yang indah. Futon yang digelar di lantai terbuat dari sutra dan diisi dengan kapas terbaik. Lentera-lentera yang menggantung di keempat sudut ruangan memancarkan cahaya yang hangat dan lembut.
Satoru berbaring di futonnya, tubuhnya rileks setelah hari yang panjang dan menyenangkan. Manisan yang dibuat Ayumi masih terasa di lidahnya, manis dan lembut. Dia tersenyum menatap langit-langit kamarnya yang dihiasi ukiran-ukiran kayu yang rumit.
“Ayumi,” Satoru memanggil. “Matikan lampunya.”
Ayumi berdiri di dekat lentera yang paling dekat dengan futon Satoru. Tangannya yang lentik meraih sumbu lentera.
“Tentu, Satoru-sama,” Ayumi menjawab dengan suara yang lembut.
Lampu pertama padam.
Cahaya di ruangan berkurang.
Lampu kedua padam.
Bayangan-bayangan semakin panjang.
Lampu ketiga padam.
Kegelapan mulai merayap dari sudut-sudut ruangan.
Dan ketika Ayumi meraih lampu terakhir, hujan turun.
Bukan hujan biasa. Ini adalah hujan yang datang seperti dinding air yang runtuh dari langit, tanpa peringatan, tanpa transisi dari gerimis ke lebat. Satu detik langit tenang, detik berikutnya seluruh dunia tenggelam dalam air. Petir menyambar dengan ganasnya, cahayanya yang putih menerangi kamar melalui jendela-jendela kertas, melemparkan bayangan-bayangan yang melompat-lompat di dinding.
Lampu terakhir padam.
Kegelapan total.
Dan di dalam kegelapan itu, suara Ayumi berubah.
“Satoru-sama,” suaranya masih terdengar lembut, namun ada lapisan baru di bawahnya, lapisan yang dalam dan bergema, seperti suara yang keluar dari dasar gua yang sangat dalam. “Aku ingin menunjukkan sesuatu kepadamu.”
Satoru yang sudah hampir tertidur membuka matanya. “Apa itu, Ayumi?”
Petir menyambar.
Cahaya putih membanjiri ruangan selama sepersekian detik.
Dan dalam sepersekian detik itu, Satoru melihat.
Sosok yang berdiri di ujung futonnya bukan lagi Ayumi. Bukan lagi wanita cantik berkulit putih dengan senyum yang hangat. Sosok itu tinggi dan gelap, tubuh bagian atasnya masih menyerupai manusia namun tubuh bagian bawahnya dipenuhi kaki-kaki hitam yang besar dan beruas-ruas. Taring-taring panjang menjulur dari mulut yang terbuka. Dan mata-mata emas menyala di kegelapan seperti dua bola api kecil yang melayang di udara.
“AAAAARGH!”
Teriakan Satoru merobek malam. Tubuhnya yang tua namun masih bugar melompat dari futon dengan kecepatan yang mengejutkan. Dia berlari mundur, punggungnya menghantam dinding, tangannya meraba-raba di kegelapan mencari apa pun yang bisa dijadikan senjata.
“Apa... apa kau...” Satoru tergagap, matanya terbelalak, wajahnya pucat seperti lilin yang kehilangan nyalanya. “JOROGUMO?!”
“Kau tahu namaku,” Jorogumo berkata, suaranya memenuhi seluruh ruangan seperti air yang mengisi bejana. “Bagus. Itu menghemat waktu.”
“TOLONG!” Satoru berteriak dengan seluruh kekuatan paru-parunya. “TOLONG! SIAPA PUN! TOLONG AKU!”
Jaring-jaring melesat dari tubuh Jorogumo. Cepat. Tepat. Tanpa ampun. Mereka melilit Satoru sebelum teriakannya yang kedua selesai keluar dari mulutnya, menutupi tubuhnya dari leher hingga kaki, membelit lengan-lengannya yang meronta, membungkam mulutnya yang berteriak.
Satoru tumbang.
Tubuh tuanya jatuh ke lantai tatami, terbelit jaring sutra yang berkilau keperakan di bawah cahaya petir. Matanya yang masih terbuka menatap langit-langit dengan keterkejutan dan ketakutan yang membeku di irisnya.
Jorogumo mendekati Satoru yang terbaring tak berdaya.
“Kau bilang kau menyukaiku,” Jorogumo berbisik, wajahnya yang setengah manusia setengah laba-laba condong di atas wajah Satoru. “Kau menyukai Ayumi yang cantik dan berbakat. Tapi Ayumi tidak pernah ada, Satoru. Dia hanya topeng.”
Satoru tidak bisa menjawab. Mulutnya tertutup jaring. Tubuhnya tidak bisa bergerak. Hanya matanya yang bergerak-gerak liar, mencari jalan keluar yang tidak ada.
Jorogumo menegakkan tubuhnya dan berjalan keluar dari kamar Satoru. Kaki-kaki laba-labanya mengetuk-ngetuk lantai kayu koridor dengan irama yang teratur dan mengerikan, seperti detak jantung raksasa yang berdegup di kegelapan.
Dan di koridor itu, dia bertemu Mae.
Mae berdiri di ujung koridor, tangannya memegang lentera minyak yang bergoyang-goyang, cahayanya yang kuning keemasan menerangi wajahnya yang pucat oleh ketakutan. Di belakangnya, Saki dan dua wanita lain berdiri merapat, mata-mata mereka melebar, mulut-mulut mereka terbuka dalam teriakan-teriakan yang belum sempat keluar.
Mae melihat Jorogumo.
Melihat tubuh yang setengah wanita setengah laba-laba. Melihat kaki-kaki hitam yang besar dan berlapis bulu kasar. Melihat taring-taring yang panjang. Melihat mata-mata emas yang menyala.
Lentera di tangan Mae jatuh ke lantai. Minyaknya tumpah. Api menyebar di lantai kayu, kecil namun rakus.
“A... A... Ayu...” Mae tidak bisa menyelesaikan nama itu. Lidahnya membeku. Kakinya membeku. Seluruh tubuhnya membeku, dipasung oleh ketakutan yang melampaui batas kemampuan otaknya untuk memproses.
“Mae,” Jorogumo berkata, suaranya terdengar hampir lembut. “Kau mencoba meracuniku tadi pagi.”
Air mata mengalir di pipi Mae. Tubuhnya gemetar hebat, giginya bergemeletuk.
“Aku... aku...”
“Kau seharusnya lari,” Jorogumo berkata. “Bukan meracuni.”
Mae berlari.
Terlambat.
Jaring-jaring melesat dan menangkap kakinya sebelum langkah ketiganya menyentuh lantai. Mae jatuh tersungkur, tubuhnya menghantam lantai kayu dengan bunyi yang keras dan menyakitkan. Dia meronta, menjerit, mencakar lantai dengan kuku-kukunya yang panjang, berusaha merangkak menjauh.
Saki dan wanita-wanita lainnya berteriak dan berlari ke arah yang berlawanan. Namun jaring-jaring Jorogumo lebih cepat dari kaki-kaki mereka yang panik. Satu per satu, mereka jatuh, terbelit, terbungkam.
Jorogumo berjalan menyusuri koridor, menyerang setiap manusia yang ditemuinya. Lima anak buah Satoru yang berlari keluar dari kamar-kamar mereka dengan pedang-pedang terhunus dilawan dan dikalahkan dalam hitungan menit. Pelayan-pelayan yang mencoba melarikan diri melalui pintu belakang tertangkap oleh jaring-jaring yang sudah dipasang Jorogumo di sekeliling kediaman sejak sore tadi.
Tidak ada yang lolos.
Ketika semuanya selesai, Jorogumo berdiri di halaman kediaman Satoru. Hujan masih turun dengan deras, membasahi tubuhnya yang berlumuran darah, mencuci taring-taring dan kaki-kaki laba-labanya. Di sekelilingnya, kepompong-kepompong sutra berjajar di koridor-koridor yang gelap, setiap kepompong berisi satu manusia yang tidak lagi bergerak.
Jorogumo tertawa.
Tawanya meledak-ledak di bawah hujan, bercampur dengan suara petir dan gemuruh langit, menciptakan simfoni kegilaan dan kemenangan dan kesakitan yang bergaung ke seluruh penjuru Shizuoka.
Lalu tawanya berhenti.
Karena di antara semua wajah yang muncul di pikirannya malam ini, di antara Satoru dan Mae dan Genji dan semua orang yang sudah dia kalahkan, satu wajah muncul yang berbeda dari yang lain.
Wajah yang tersenyum lembut kepadanya. Wajah yang menatapnya dengan mata-mata hangat yang penuh kekaguman. Wajah dokter muda yang tampan yang duduk di barisan depan restorannya dulu, yang menatapnya bukan dengan nafsu atau keinginan untuk memiliki, tapi dengan sesuatu yang lebih murni.
Takeda.
“Dokter muda itu,” Jorogumo bergumam, jari-jarinya yang berlumuran darah menyentuh bibirnya sendiri. “Dia yang menatapku dengan mata yang berbeda.”
Jorogumo menutup matanya. Hujan membasahi wajahnya yang perlahan-lahan berubah kembali. Kaki-kaki laba-laba menyusut dan menghilang. Taring-taring memendek dan lenyap di balik bibir merah. Kulit yang kasar kembali menjadi halus.
Ayumi kembali.
Namun kali ini, Ayumi tidak berjalan. Dia melayang. Tubuhnya terangkat dari tanah, kaki-kakinya menggantung beberapa jengkal di atas lumpur, kimononya yang baru entah dari mana berkibar-kibar ditiup angin yang tidak terasa oleh pohon-pohon di sekitarnya. Dia bergerak menyusuri malam, melayang di atas jalan-jalan sepi pemukiman yang sudah terlelap tidur, menembus hujan dan kegelapan, menuju satu tujuan.
Rumah Takeda.
Rumah Matsumoto Takeda terletak di kawasan yang tenang di sisi selatan pemukiman Shizuoka. Rumah itu tidak sebesar kediaman Genji atau Satoru, namun terlihat terawat dengan baik, dengan taman kecil yang ditumbuhi tanaman-tanaman obat di halaman depannya dan papan kayu di gerbangnya yang bertuliskan “Klinik Matsumoto” dengan kaligrafi yang rapi.
Di dalam rumah, Takeda duduk di ruang kerjanya, dikelilingi oleh rak-rak yang dipenuhi toples-toples berisi ramuan-ramuan obat, gulungan-gulungan kertas tentang ilmu kedokteran, dan peralatan-peralatan medis yang tertata rapi. Cahaya lentera yang hangat menerangi wajahnya yang tampan namun sedikit lelah, tangan-tangannya yang halus melingkari cangkir teh hijau yang mengepulkan uap.
Hujan di luar mengetuk-ngetuk atap rumahnya dengan irama yang konstan dan menenangkan. Takeda menyeruput tehnya sambil membaca gulungan kertas tentang teknik pengobatan baru yang baru saja dia dapatkan dari seorang tabib di Heian-Kyo. Matanya yang gelap bergerak-gerak di atas huruf-huruf tinta, menyerap informasi dengan kecepatan dan ketelitian yang hanya dimiliki oleh orang-orang yang benar-benar mencintai bidang mereka.
Tok tok tok.
Suara ketukan di pintu depan.
Takeda mengangkat kepalanya dari gulungan kertas. Dahinya berkerut. Siapa yang datang di tengah malam di bawah hujan deras seperti ini?
Tok tok tok.
Ketukan itu terulang, lebih lemah kali ini, seolah-olah orang yang mengetuk sudah kehabisan tenaga.
Takeda meletakkan cangkir tehnya dan bangkit dari duduknya. Dia berjalan menuju pintu depan, langkahnya cepat namun hati-hati, tangannya secara refleks mengambil pisau kecil dari meja kerjanya dan menyelipkannya di balik obi-nya.
Takeda membuka pintu.
Dan membeku.
Ayumi berdiri di depan pintunya.
Ayumi yang basah kuyup oleh hujan, kimononya yang kotor menempel di tubuhnya, rambutnya yang biasanya tertata indah kini berantakan dan menempel di wajahnya. Dan di tubuhnya, darah. Darah yang merah dan segar, mengalir dari luka-luka yang terbuka di lengannya, di bahunya, di perutnya. Darah yang bercampur dengan air hujan, menciptakan aliran-aliran merah muda yang menetes dari ujung-ujung jari-jarinya ke tanah.
“Ta... Takeda-san...” Ayumi berbisik, suaranya lemah dan pecah-pecah. “To... tolong aku...”
Mata Ayumi berputar ke belakang kepalanya, dan tubuhnya yang lemah mulai limbung ke depan.
Takeda bergerak tanpa berpikir. Tangannya menangkap Ayumi sebelum tubuh wanita itu menyentuh tanah, melingkarkan lengannya di bahu Ayumi yang kecil dan gemetar, menopang berat tubuhnya yang terasa terlalu ringan untuk orang dewasa.
“Ayumi-san! Ayumi-san, apa yang terjadi?” Takeda berteriak, matanya yang gelap melebar oleh keterkejutan dan kekhawatiran. “Siapa yang melakukan ini padamu?”
Ayumi tidak menjawab. Matanya tertutup, napasnya lemah dan tidak teratur, tubuhnya lunglai di pelukan Takeda.
Takeda mengangkat Ayumi dalam pelukannya dan membawanya masuk ke dalam rumah. Dia membaringkan Ayumi di atas futon di ruang perawatan, ruangan bersih dan steril yang biasa digunakannya untuk merawat pasien-pasien. Tangannya yang terlatih bergerak dengan cepat dan efisien, membuka luka-luka di tubuh Ayumi, membersihkannya dengan kain bersih yang dicelupkan ke dalam air hangat, memeriksa kedalaman dan tingkat keparahan setiap luka.
“Luka-luka ini...” Takeda mengerutkan dahinya sambil memeriksa luka panjang di lengan Ayumi. “Ini luka sayatan. Dari senjata tajam. Pedang, mungkin.”
Takeda bekerja dengan teliti dan sabar. Dia membersihkan setiap luka dengan ramuan antiseptik yang dibuatnya sendiri, mengoleskan salep penyembuh yang terbuat dari campuran herbal-herbal pilihan, dan membalut setiap luka dengan perban-perban bersih yang digunting dengan presisi yang sempurna.
Ayumi membuka matanya ketika Takeda sedang membalut luka di bahunya. Mata-mata cokelat gelapnya yang setengah terbuka menatap wajah Takeda yang berkonsentrasi di atasnya. Jarak wajah mereka sangat dekat, hanya beberapa jengkal, cukup dekat untuk merasakan napas masing-masing.
“Takeda-san,” Ayumi berbisik, suaranya lemah namun ada kehangatan di dalamnya. “Terima kasih.”
Takeda mengangkat matanya dan bertemu dengan tatapan Ayumi. Dan untuk sesaat, waktu berhenti di ruangan kecil itu. Hujan di luar masih turun. Lentera masih bergoyang-goyang. Namun di antara dua pasang mata yang saling menatap, dunia menjadi sangat sempit dan sangat tenang.
Pipi Ayumi merona merah muda. Dia memalingkan wajahnya, malu.
“Kau tidak perlu berterima kasih,” Takeda berkata, suaranya sedikit lebih serak dari biasanya. Dia berdeham dan kembali fokus pada pekerjaannya. “Ini tugasku sebagai dokter. Menolong orang yang terluka.”
“Bukan hanya itu,” Ayumi berkata pelan. “Kau membukakan pintu untukku. Di tengah malam. Di bawah hujan. Tanpa tahu siapa aku. Tanpa bertanya dulu. Kau langsung menolong.”
“Tentu saja,” Takeda menyelesaikan balutan terakhir dan mundur sedikit, menatap hasil kerjanya dengan mata profesional. “Apa gunanya menjadi dokter kalau aku menutup pintu untuk orang yang membutuhkan pertolongan?”
Ayumi menatap Takeda. Dan di dalam dirinya, Jorogumo merasakan sesuatu yang sudah terlalu sering muncul belakangan ini. Sesuatu yang mengganggu. Sesuatu yang tidak seharusnya ada.
Takeda berbeda.
Genji mencintai Ayumi karena kecantikan dan bakatnya. Satoru menginginkan Ayumi karena nafsu dan keserakahan. Namun Takeda, dokter muda yang tampan ini, menolong Ayumi bukan karena kecantikan atau bakat atau nafsu. Dia menolong karena memang begitulah sifatnya. Karena menolong orang adalah inti dari siapa dirinya, bukan aksesoris, bukan basa-basi, bukan alat untuk mendapatkan sesuatu.
Jorogumo menekan perasaan itu ke bawah. Lagi.
“Istirahatlah,” Takeda berkata sambil menarik selimut dan menutupi tubuh Ayumi yang sudah diperban. “Luka-lukamu tidak terlalu dalam, tapi kau kehilangan banyak darah. Kau butuh istirahat dan makanan yang bergizi.”
“Takeda-san,” Ayumi meraih tangan Takeda sebelum pria itu sempat berdiri. Jari-jarinya yang lembut melingkari pergelangan tangan Takeda, menahannya.
“Bolehkah aku tinggal di sini?” Ayumi bertanya, matanya yang besar dan dalam menatap Takeda dari bawah selimut. “Untuk sementara. Sampai aku pulih. Aku... aku tidak punya tempat lain untuk pergi.”
Takeda menatap tangan Ayumi yang memegang pergelangan tangannya. Kulit wanita itu halus dan dingin di bawah sentuhannya, seperti sutra yang baru diambil dari air.
“Tentu saja,” Takeda menjawab tanpa ragu. “Tinggallah selama yang kau butuhkan. Aku akan merawatmu sampai kau sembuh.”
Ayumi tersenyum. Senyum yang lemah namun tulus, senyum yang membuat wajahnya yang pucat dan lelah terlihat semakin cantik.
Dan di balik senyum itu, Jorogumo merasa goyah.
Untuk pertama kalinya sejak semua ini dimulai, sejak kematian anak-anaknya dan kelahiran dendamnya, Jorogumo merasa goyah. Bukan karena pedang atau racun atau kekuatan fisik. Melainkan karena kebaikan. Kebaikan yang sederhana dan tanpa pamrih dari seorang manusia yang bahkan tidak tahu bahwa dia sedang berbaik hati kepada makhluk yang berniat membunuhnya.
Jorogumo menutup matanya dan membiarkan dirinya tertidur.
Tidur yang nyata, bukan tidur pura-pura. Tidur yang dipenuhi mimpi-mimpi tentang gua gelap dan anak-anak yang tertawa dan jaring-jaring bunga sakura yang bergoyang-goyang tertiup angin musim semi.
Dan untuk pertama kalinya dalam waktu yang sangat lama, Jorogumo tidak bermimpi tentang darah.
Sementara itu, di pondok Kaname yang tersembunyi di balik bukit-bukit bambu, waktu berjalan dengan kecepatan yang berbeda.
Kosuke berdiri di halaman pondok, tubuhnya basah oleh keringat meskipun udara malam sangat dingin. Katananya yang biru gelap terhunus di tangan kanannya, ujungnya berkilat ditimpa cahaya bulan yang mengintip dari celah-celah awan. Matanya terfokus pada titik tak terlihat di udara di depannya, napasnya teratur dan dalam, setiap tarikan dan hembusan diperhitungkan dengan presisi yang sempurna.
Kaname duduk di beranda pondok, matanya yang tajam mengamati setiap gerakan muridnya tanpa berkedip.
“Lagi,” Kaname berkata.
Kosuke mengangkat pedangnya dan memulai gerakan yang sama yang sudah dia ulangi ratusan kali sejak subuh tadi. Pedangnya memotong udara dengan gerakan yang lambat dan terkontrol, bukan gerakan menyerang, bukan gerakan bertahan, melainkan gerakan yang berada di antara keduanya, gerakan yang mengalir seperti air yang menemukan jalannya sendiri.
Teknik pedang ilusi.
Berbeda dari teknik pedang konvensional yang berfokus pada kekuatan, kecepatan, dan presisi serangan fisik, teknik pedang ilusi berfokus pada manipulasi pikiran lawan. Setiap ayunan pedang tidak hanya memotong udara atau daging, tapi juga memancarkan gelombang-gelombang energi yang memasuki pikiran lawan dan mengacaukan persepsinya. Lawan yang terkena teknik ini akan melihat hal-hal yang tidak ada, mendengar suara-suara yang tidak nyata, dan merasakan sentuhan-sentuhan yang tidak terjadi. Pikirannya menjadi medan pertempuran, dan pedang ilusi adalah senjata yang menyerang medan pertempuran itu.
“Konsentrasi, Kosuke,” Kaname berkata. “Teknik ini bukan tentang kekuatan fisik. Ini tentang niat. Setiap ayunan pedangmu harus membawa niat yang jelas. Niat untuk menembus pertahanan mental lawanmu. Niat untuk membalikkan ilusi mereka kepada mereka sendiri.”
Kosuke mengangguk tanpa berhenti bergerak. Pedangnya mengayun lagi, kali ini dengan gerakan yang sedikit berbeda, lebih halus, lebih mengalir, seolah-olah pedang itu bukan lagi benda padat melainkan cairan yang bergerak di udara.
Kaname memperhatikan. Menilai. Memutuskan.
“Cukup,” Kaname berkata.
Kosuke berhenti. Napasnya berat namun teratur, dadanya naik turun dengan ritme yang konstan. Keringatnya mengalir di wajahnya yang tegas, menetes dari dagunya ke tanah.
“Kau sudah siap,” Kaname berkata.
Kosuke menatap gurunya. “Benarkah, Sensei?”
“Teknikmu belum sempurna,” Kaname menjawab dengan kejujuran yang menjadi ciri khasnya. “Seorang master teknik pedang ilusi membutuhkan bertahun-tahun latihan untuk mencapai kesempurnaan. Kau hanya punya beberapa hari. Tapi yang kau miliki saat ini sudah cukup untuk menghadapi Jorogumo. Asalkan kau tidak ceroboh.”
Kosuke mengangguk, rahangnya mengeras. “Aku tidak akan ceroboh, Sensei.”
Kaname bangkit dari duduknya dan berjalan mendekati Kosuke. Tangannya yang tua dan keriput menyentuh bahu muridnya dengan sentuhan yang jarang dia berikan.
“Kosuke,” Kaname berkata, suaranya lebih pelan dari biasanya. “Tarou sudah terluka parah. Chihiro tidak memiliki kemampuan bertarung langsung. Kau adalah harapan terakhir kita.”
“Aku tahu, Sensei.”
“Dan ingat,” Kaname menatap Kosuke dengan mata-mata yang serius. “Jorogumo bukan monster tanpa pikiran. Dia adalah makhluk yang cerdas, yang merasakan, yang menderita. Itu tidak membuatnya kurang berbahaya, justru sebaliknya, itu membuatnya jauh lebih berbahaya. Karena makhluk yang menderita adalah makhluk yang tidak takut mati.”
Kosuke meresapi kata-kata gurunya. Lalu dia mengangguk sekali, tegas dan final.
“Aku akan menemukan Jorogumo,” Kosuke berkata. “Dan aku akan mengakhiri semua ini.”
Kaname mengangguk. “Chihiro akan membantumu menemukan lokasinya. Cari dia terlebih dahulu.”
Kosuke menyarungkan pedangnya, membungkuk dalam-dalam kepada gurunya, dan berbalik menuju hutan.
Kosuke berlari menyusuri hutan gelap.
Kakinya yang terlatih menapak tanah basah tanpa suara, tubuhnya menari di antara pepohonan dengan kelincahan yang menyerupai angin. Hujan masih turun, namun tidak sederas sebelumnya, dan sesekali bulan mengintip dari balik awan-awan yang bergerak, memberikan cahaya keperakan yang cukup untuk menerangi jalannya.
Di sebuah cabang pohon yang rendah, sebuah bayangan meluncur turun dan mendarat di sampingnya.
Chihiro.
“Kosuke,” Chihiro berkata, napasnya sedikit tersengal. Matanya yang besar dan gelap menyimpan kecemasan yang tidak bisa dia sembunyikan. “Aku sudah melacak pergerakan Jorogumo.”
“Di mana dia?” Kosuke bertanya tanpa mengurangi kecepatannya.
“Dia menyerang kediaman Satoru malam ini,” Chihiro menjawab sambil berlari di samping Kosuke. “Satoru dan seluruh penghuni kediamannya sudah tumbang. Setelah itu, Jorogumo berubah kembali menjadi Ayumi dan pergi ke rumah seorang dokter.”
“Dokter?”
“Matsumoto Takeda,” Chihiro menjelaskan. “Dokter muda yang ahli di Shizuoka. Jorogumo sekarang ada di rumahnya.”
Kosuke mengangguk. “Tunjukkan jalannya.”
Chihiro meluncur ke depan, tubuhnya yang dibalut pakaian hitam menyatu dengan kegelapan hutan. Kosuke mengikuti di belakangnya, pedangnya berkilat sesaat ditimpa cahaya bulan sebelum menghilang kembali ke dalam bayang-bayang.
Mereka berlari menyusuri hutan, menembus hujan yang semakin mereda, menuju rumah Takeda di sisi selatan pemukiman.














Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!