Bab 01

Bukan Sebuah Awal

0 dibaca

A

Aku rasa, hujan deras atau gerimis seperti apapun, akan selalu membangkitkan satu hal, yakni kenangan lama. Bagaimana bisa seseorang sedang meresapi kenangan masa lalu yang bisa jadi baik atau buruk atau juga bermakna atau sia-sia jika diingat, ketika hujan turun secara dermawan membagikan tetes airnya. Jika bagi seorang muslim, turunnya hujan berarti salah satu di antara waktu yang baik utuk berdoa, bagi etnis tionghoa, hujan adalah berkah, tetapi bagi penduduk di perkmapungan padat di bantaran sungai yang dipenuhi sampah, maka hujan bisa menjadi musibah.

Begitupula dengan cinta. Kehadirannya sama bermakna gandanya seperti hujan.

Dan kini aku sedang duduk melamun di dekat jendela kamar setelah seharian menangis hebat. Baru sehari hatiku berputar, dari yang semula baik-baik saja dan penuh kemungkinan, menjadi hancur di titik rasa itu bermula.

Kekasihku atau yang sekarang sudah menjadi mantan, merelakanku pergi setelah merasa tidak pantas untuk merajut mimpi bersama lagi.

“Apa perlu kutarik kembali ucapanku? Apa perlu aku menghapus dua pilihan yang membuatmu ingin melepaskanku?” tanyaku putus asa setelah mengetahui jawabannya.

Dia menggeleng. Matanya berair dan suaranya sudah semakin parau. Senja yang begitu gigih dan hujan gerimis yang mengiringi kesedihan kami, membuat suasana menjadi begitu getir. Aku akan kehilangannya, dan kenyataan ini menjadi jawaban dari pertanyaan egoisku.

“Ra, aku sudah pernah merusak kepercayaan yang kamu beri buatku. Dan kini aku juga hampir membuatmu kecewa lagi, jadi wajar saja jika kamu bertanya seperti itu,” katanya.

Beberapa menit lalu aku memberinya dua pilihan. Apakah ia memilih terus bersamaku atau masih meneruskan sikap main-mainnya dengan perempuan lain. Hal itu dipicu dari kecurigaanku dan juga sebuah status di akun Facebooknya yang berbunyi begini.

“Harus memikirkan semuanya lagi.”

Tentu saja aku curiga. Apa yang mesti dipikirkan ulang? Apa itu tentang hubungan kami yang sudah menginjak tiga tahun? Kami sedang menyusun rencana pernikahan, dua keluarga juga sudah menyepakati kira-kira kapan waktu yang tepat untuk meminang sekaligus mencari hari baik pernikahan beberapa bulan sesudahnya. Bahkan ia juga sudah mencari desain manis untuk undangan pernikahan. Apa yang masih kurang, hingga membuatnya harus berpikir panjang?

“Tetapi kita sudah pernah melewati fase terburuk dan bisa melaluinya. Kurasa, kata-kataku mungkin menyinggungmu dan membuatmu merasa bersalah lagi.” Secara naluriah aku tidak ingin ia begitu saja menyerah. Tangisku pecah lebih hebat lagi.

Leo menggeleng sekali lagi, tetapi ia menggenggam jemari tanganku semakin erat. Rasa-rasanya semuanya menjadi larut dalam sunyi, bahkan detak jarum jam dinding di ruang tamu terdengar semakin kencang sekaligus mencekam. Diam-diam, aku ikut menghitung detik mengikuti suara tik, tok, tik, tok jarum jam.

“Aku sudah jahat. Meskipun kali ini aku tidak sampai berkhianat lagi, tapi hatiku sudah goyah, dan mengancam keyakinanku untuk hidup bersama denganmu,” tegasnya, kali ini ia berusaha berbicara dengan suara lebih tegas.

Aku masih diam. Sejujurnya meski kuberikan dua pilihan yang terkesan tegas, hatiku tetap yakin jika ia akan berjuang dan meminta maaf meskipun sempat ragu. Hubungan maya melalui chatting dengan seorang perempuan yang tak kukenal, memang tak separah pengkhianatannya dahulu. Ia juga tak sampai jatuh cinta, tetapi ketertarikan seperti itu bukannya mengancam posisiku? Makanya aku marah setelah mengetahui kepastiannya. Rupanya ia sudah tak punya tenaga untuk berjuang sekali lagi.

“Aku terlalu sering menyakiti. Sudah telalu sering aku membuatmu menangis. Akan lebih baik kalau kamu memilih laki-laki yang lebih baik dariku, ini semua bukan karena aku membencimu tetapi karena aku sangat menyayangimu,” katanya kemudian memelukku erat.

Air mataku susut perlahan. Kesedihan berganti dengan amarah yang datang tiba-tiba, kulepaskan diriku dari pelukannya.

“Kalau kau mencintai, kamu akan berjuang bukannya melepaskan. Kurasa sudah cukup kita berbicara tentang hal ini. Baiklah, aku putuskan hubungan kita sekarang. Jangan ragu untuk pergi!” kataku berusaha mendorongnya enyah.

Leo lalu berdiri dan berjalan keluar rumah dengan muka tertunduk.  Tiap langkahnya meninggalkan rumahku berarti sama dengan meninggalkan semua jejak yang kami rencanakan. Ah, aku lupa, mungkin hanya aku yang merencanakan masa depan sementara ia masih belum siap untuk berjalan ke arah yang kutuju.

Sesungguhnya aku berjalan sendirian.

Dan baru sehari berlalu dari perpisahan kami, aku sudah merasakan sebuah kekosongan. Ia pergi dengan kecepatan cahaya. Tak ada permintaan maaf atau permohonan untuk meninjau ulang keputusanku. Lagi-lagi hujan. Aroma tanah yang selalu menjadi favoritku, kini membuatku sedikit mual. Sebab banyak memori yang terpasang saat hujan sedang turun.

Kenangan itu mungkin mengakar terlalu kuat. Hujan di sekitarku sama dengan menghadirkan aroma Leo di panca inderaku.

 “Tiap kali mengingat namaku, kuharap kamu selalu memaafkan semua kesalahanku. Kamu pantas untuk mendapatkan pria yang lebih baik. Aku hanya pria lemah yang sulit maju dan berubah lebih baik seperti dirimu,” katanya.

“Kamu tidak ingin berjuang lagi? Oke, kalau begitu sejak saat ini, kita adalah dua orang yang saling mengetahui nama tapi tidak memiliki kenangan bersama lagi,” pungkasku, sedih bercampur sedikit amarah.

Lalu kami berpisah. Begitu saja. Ia berdiri dengan wajah kaku dan berpamitan pulang. Tidak ada yang bisa kami lakukan untuk menyusun kepingan hati ini. Untuk sesaat, aku ingin berlari dan menahan kepergiannya. Tetapi rasanya hatiku sudah terlampau lelah. Tidak seperti sebelumnya, aku tidak bersikeras menggenggam erat tangannya agar ia tidak pergi.

Sudah sampai ujung

Bab terakhir

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Komentarnya bisa dibaca siapa saja, tapi menulis butuh akun.

Masuk