Hari-Hari yang Berlalu Tanpa Namanya

3 dibaca

A

Tiga tahun lalu,

“Aku sayang kamu, Ra. Aku udah kagum sama kamu semenjak ngeliat kamu awal-awal masuk klub mading. Jadi mau nggak kamu mempertimbangkan pernyataanku sekarang? Would you mind being my lovely girl?”

Akhirnya Leo bisa juga mengungkapkan kalimat-kalimat keramat itu. Setelah hampir dua jam kami berdua duduk di warung mi ayam “Anugerah” yang selalu menjadi favoritku, tanpa bicara apa-apa. Pantatku sudah semakin gatal ingin segera pulang.

“Tiba-tiba banget ngomongnya, tapii kamu bilang dari awal aku ikut klub mading?” tanyaku heran.

Kalau dari awal bergabung klub mading kampus, bisa dihitung sudah hampir dua tahun dong dia tertarik padaku. Dan setahuku, baru beberapa bulan lalu Leo putus dengan Ana, mantannya yang sangat judes itu.

“Aku tahu kenapa kamu bisa begitu heran, but honestly, aku memang sudah kagum sama kamu semenjak masih pacaran sama Ana. Cuma aku sadar diri, karena aku nggak mungkin pedekate sama kamu,” katanya sembari menunduk malu. Wajah putihnya berubah warna menjadi merah muda. Sungguh menggemaskan sekali.

Aku tak langsung menjawab.  Pernyataan Leo sebenarnya tidak terlalu mengejutkanku. Terlihat sekali dari dua bulan kedekatan kami, ia begitu gencar menunjukkan perhatiannya. Bahkan hari ini, ia terlihat begitu gugup semenjak menjemputku di tempat kos. Rencana untuk pergi nonton bersama malah batal karena STNK motornya tertinggal di rumah Leo.

Inilah kami sekarang terdampar di warung mi ayam dekat kos yang menjadi langgananku. Warung sederhana yang hanya terisi lima buah meja dan empat kursi plastik di masing-masing meja. Meskipun sederhana, warung yang di salah satu temboknya diberi cat berbentuk ayam jago besar itu tak pernah sepi pengunjung dari siang sampai malam hari. Apalagi di musim penghujan seperti sekarang, menyantap mi ayam hangat adalah pilihan menyenangkan untuk mengenyangkan perut.

“Bagaimana kalau tawaran itu kujawab sekarang?” kataku begitu saja.

Leo langsung terkesiap. Untuk pertama kalinya semenjak dua jam lalu, ia berani menatap mataku.

“Maksudnya?” tanyanya.

“Jadi pernyataan itu kujawab sekarang,” ucapku mantap, sambil berusaha menenangkan gemuruh yang bertalu di dalam dada.

“So then?” tanyanya memastikan.

“I will be your lovely girl, thank you,” ujarku pelan-pelan.

Tanpa kusangka, Leo berdiri dari kursinya lalu melonjak kegirangan. Beberapa pengunjung warung melihatnya aneh.

“Stop, Leo! Malu-maluin tahu,” kataku berusaha menghentikan tingkah konyolnya.

“Nope, aku akan loncat-loncat sampai bosan!” katanya spontan, inilah yang membuatku selalu nyaman berada di dekatnya. Karena ia bisa membuatku tertawa serta melupakan segala macam rasa penat yang membebaniku kadang-kadang.


Aku membenci es krim dan cokelat, aku benci cokelat dengan kacang mente di dalamnya yang sebelumnya jadi favoritku itu, aku juga jadi membenci hujan, ya aku sangat benci. Terlebih lagi aku lebih membenci diriku sendiri. Mengapa aku menjadi kehilangan selera pada hal-hal yang sebelumnya kucintai? Apakah ini karena nama itu sudah tak mengisi hari-hariku lagi?

Ini adalah sebuah tragedi yang semestinya tidak perlu terjadi. Mayra Vanessa tidak seharusnya lemah hanya gara-gara patah hati. Bukankah sebelum berhubungan dengan Leo, aku sudah mengalami beberapa kegagalan sebelumnya?

“Menangislah kalau ingin menangis, Ra. Buat apa kamu berusaha sok tegar. Beberapa hari ini kamu jauh lebih mengerikan ketimbang boneka Chucky,” komentar Chika.

“What? Kamu menyamakanku dengan boneka mengerikan favoritmu itu?” sahutku pedas. Chika memang maniak film-film horor dan thriller, salah satunya film Chucky yang sadis itu.

“Bukannya aku tidak bersimpati. Tetapi, jujur saja, aku sangat bersyukur kalau kamu akhirnya putus sama Leo. Seseorang yang pernah berkhianat contohnya selingkuh, memiliki kemungkinan besar untuk kambuh lagi,”

“Tapi, Ka, terakhir kali itu Leo kan tidak sampai selingkuh,” tukasku.

“Dan berhubungan dekat dengan perempuan lain meski hanya lewat dunia maya apa menurutmu tidak bisa dibilang berbahaya? Kalau dia memang tidak ada niatan berselingkuh lagi, kenapa dia sampai harus memikirkan ulang soal pernikahan kalian?” sembur Chika lebih meninggikan oktaf suaranya.

Untung kami sedang berbincang di ruang kantor Chika. Hari ini aku memutuskan untuk cuti bekerja selama sehari karena pikiranku sedang tidak bisa diajak berkompromi. Semua pekerjaan di kantor malah menjadi semacam penjara bagiku. Aku tidak bisa konsentrasi sama sekali.

“It’s been two weeks, udah dua minggu kalian putus dan dia sama sekali nggak ngehubungin kamu buat basa-basi minta balikan. Padahal, mantan-mantan kamu sebelumnya selalu merengek minta balik kalo putus sama kamu. Jadi ini bukti kalau dia happy jauh dari kamu. Dan ini udah dua minggu kamu menuh-menuhin timeline tweet dengan status galau nggak jelas. No mention sih tapi aku tahu itu buat si kunyuk Leo!” Chika tak bisa menahan emosinya. Paket makan siang yang kami pesan dari salah satu restoran cepat saji, sama sekali belum tersentuh.

“Ka, aku begitu menyedihkan ya? Tapi katering dan baju pernikahan udah selesai kami pesan. Aku nggak bisa mundur sekarang,” keluhku.

“Kamu belum bilang ke ortumu kan?” tanya Chika.

Tebakan Chika tepat sasaran. Aku belum memberitahukan perihal putusku dengan Leo pada Mama dan Papa yang saat ini tinggal di Jakarta. Tapi dua minggu lagi Mama akan datang berkunjung ke Surabaya dengan Tante Lina. Bagaimana caranya aku mengatakan pada keluarganya  besarku jika pertunanganku dengan Leo sudah buyar?

Sudah sampai ujung

Bab terakhir

← Bab sebelumnya

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Komentarnya bisa dibaca siapa saja, tapi menulis butuh akun.

Masuk