Beberapa temanku sering menjulukiku sebagai buku diary berjalan. Bahkan Chika, satu-satunya sahabat perempuan yang bisa kujadikan tempat curhat, mengakui sendiri kelebihan yang tak kusadari itu.
Banyak sekali teman-teman atau orang yang baru kukenal akan dengan mudah menceritakan rahasia yang membuat mereka tertekan atau sedih. Aku sendiri juga tak habis pikir dengan mereka. Justru aku sebenarnya sangat tidak peduli dengan perasaan orang lain. Jika gadis lain akan mudah menangis atau terharu saat menonton drama romantis, aku bukanlah orang yang seperti itu, kecuali sebuah kejadian luar biasa menimpaku, barulah aku menangis seperti saat harus berpisah dengan Leo.
Salah satunya adalah Mia. Kami diterima sebagai pegawai baru di minggu yang sama, hingga kini kami tergabung di bawah departemen yang sama, yaitu Departemen Fiksi. Baru dua minggu kenal, Mia sudah bercerita soal kekasihnya yang hobi mendua. Padahal aku tidak pernah bertanya secara langsung, hnaya saja waktu itu Mia sering sekali datang ke kantor dengan mata bengkak. Kupikir kalau dia tidak begadang pasti ia habis menangis sampai stok air matanya habis.
“Kenapa matamu bengkak? Kompres es batu sana,” tanyaku sekaligus memberikan saran pada Mia. Setelah memberikan pendapat pun aku sudah larut dengan pekerjaanku sendiri.
Mia menyeret kursinya untuk lebih dekat ke kursiku. Ia menepuk pundakku sambil berbisik.
“Es batu nggak bisa menyelesaikan semuanya, Ra.” Mia mulai membuka cerita. ”Aku harusnya melempar satu ton kuintal es batu ke kepala Dion supaya otaknya kembali ke posisi benar.”
Sebenarnya aku sedikit terganggu dengan niatan Mia untuk membicarakan kekasihnya, tetapi demi alasan pertemanan di dalam kantor, kuhentikan aktivitas mengetikku dan menyiapkan diri menjadi pendengar yang baik.
“Kalau kamu tersiksa, kenapa nggak putus aja?” ujarku memberi pendapat. Heran saja dengan Mia dan juga jutaan perempuan lainnya yang bisa diam diperlakukan tidak adil oleh kekasihnya.
“Tapi dia janji kalau mau berubah, dan hanya aku yang cocok menjadi istrinya. Kedua orang tuanya juga sangat menyayangiku,” kata Mia memberi alasan.
“Apapun kesedihan yang sedang kamu rasakan sekarang, akan segera mendatangkan kegembiraan. Just believe this, every heart has that right. Kalau kamu putus, pasti sakit banget, tapi kan kamu nggak akan kesiksa terus kaya gini. Rugi banget lho kalau kamu terusin.” Aku lebih sebal lagi sekarang, masa iya sih perempuan secantik Mia harus rela mengorbankan perasaan demi laki-laki brengsek macam kekasihnya? ”Nah, sekarang yuk lanjut kerja lagi, deadline udah numpuk nih,”
Mia mengangguk-angguk setuju. ”Thanks ya, Mayra. Kamu nggak banyak ngasih wejangan, tapi kata-katamu pas banget buatku. Mungkin aku harus mikir buat putus,” sambil mengucapkan terima kasih, ia memelukku dari samping, membuatku sedikit risi atas sikapnya yang sedikit berlebihan.
Rupanya kejadian itu membekas di ingatan Arga. Karena terlalu sibuk mendengarkan curhatan Mia, aku tidak mengira jika Arga memperhatikan pembicaraanku dengan rekan sebelahku itu. Sekarang, aku malah lupa. Setelah Arga mengingatkan lagi, baru aku ingat soal Mia.
“Kamu memang tidak bercerita pada siapapun di kantor kita soal bagaimana peraasaanmu. Tetapi kamu akhir-akhir ini semakin jarang tersenyum,” kata Arga. Banana splitnya kini tinggal setengah, ia melahap dengan begitu nikmat.
“Sok tahu kamu, kamu juga jarang tersenyum kan, jangan sok menilai,” tukasku.
“Ya maaf kalau kamu tersinggung. Tapii, meski mukaku nggak ramah, aku masih lebih peka ketimbang kamu. Yah, aku tahu kalau kamu nggak sepenuhnya simpati sama curhatan Mia waktu itu. Saran itu kamu berikan juga karena kamu perempuan yang mengandalkan logika daripada perasaan.” Arga menilaiku sekali lagi.
Aku tidak merespon komentar Arga. Menikmati es krim cokelatku terlihat lebih menggiurkan ketimbang meladeni Arga. Anehnya, aku sama sekali tidak marah. Sedikit tersinggung memang, tapi apa yang dikatakan Arga tidak sepenuhnya salah.
Kualihkan pandanganku ke luar kedai es krim. Kedai es krim ini dilindungi dinding transparan yang akan terlihat dari luar. Di posisiku dengan Arga sekarang, aku bisa menikmati kerumunan pejalan kaki atau kendaraan yang berlalu sepuasnya, sampai perhatianku tertumbuk pada dua orang renta.
Pasangan renta itu sama-sama sudah berambut nyaris putih seluruhnya. Mereka menunggu lampu lalu lintas menyala merah bersama pejalan kaki lain yang hendak menyeberang. Yang menarik perhatianku adalah bagaimana mesranya mereka. Bukannya menggandeng, si kakek memeluk nenek yang mungkin istrinya dari samping. Sampai akhirnya lampu merah berganti hijau dan si kakek membimbing si nenek dengan sabar. Mereka berjalan beriringan pelan-pelan.
Sepertinya si nenek memiliki tubuh yang sedikit ringkih, terlihat dari kaki kecilnya yang berjalan sedikit diseret. Si kakek yang masih tegap untuk orang yang memasuki usia senja, membimbing wanitanya menuju seberang jalan. Hal itu lebih romantis daripada pasangan muda-mudi yang berjalan di sekitar mereka.
“Mei.” Panggilan Arga membangunkanku dari suasana romantis.
“Hmm,” sahutku sambil bergumam.
“Honestly, kamu lebih cantik kalau sedang tersenyum tulus seperti barusan,”
Dan sepertinya kalimat Arga membuatku hampir tersedak. Wajahnya sangat tenang, tidak ada bias rona, tetap innocent seperti biasanya. Namun, efeknya membuatku terheran-heran.
Kepakan sayap kupu-kupu beterbangan di perutku.














Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!