Every Heart

0 dibaca

A

“Kata orang, terlalu banyak membiarkan pikiran negatif menguasai otak, maka akan lebih memperpendek usia kita,” celoteh Arga sambil mengunyah potongan waffle  ice cream cokelatnya.

Sore ini, entah apa karena aku butuh teman atau hanya sedang kesepian makanya ajakan untuk makan es krim di tempat favorit Arga kusetujui. Yang paling menyebalkan adalah Arga memilih tempat yang juga sering menjadi lokasi kencanku dengan Leo.

“Ayo makan, keburu es krimnya lumer. Lagian mending kamu makan es krim daripada kebanyakan ngelamun kaya di kantor,” tukas Arga sembari menyendok satu suapan besar di mulutnya.

“Kenapa kamu peduli? Biasanya kamu selalu sibuk dengan duniamu sendiri,” kataku pada Arga.

Sebelum pulang dari kantor tadi, Arga melempariku dengan buntalan kertas lagi. dia menyuruhku untuk membuka lipatannya yang ternyata berisi sebuah pesan untuk mengajakku makan es krim bersama.

“Bukannya kamu yang asosial?” sahut Arga.

“Aku?” Suaraku sedikit meninggi karena tidak terima. Bagaimana bisa laki-laki aneh itu menyebutku asosial?

“Selama dua tahun kerja di Wordhouse, hanya kamu rekan kantor yang nggak pernah jalan bareng aku di luar. Yang lain kaya Reza, Firman, Dewi dan juga Rina, sering kok aku ajak makan bareng. Itu sih yang satu departemen sama kita. Belum yang departemen lain. Kamu yang kelihatannya kurang bergaul. Seringnya kalau waktu pulang ya pulang aja. Dijemput sama tuh pacarmu.”

Tak kusangka aku bisa dikomentari oleh Arga, rekan kerja yang kuanggap eksentrik itu. Arga yang selalu memasang wajah masam dan tak ramah, ternyata lebih mudah bersosialisasi dengan kawan-kawan kantor lainnya. Aku sesekali memang hang out dengan rekan lainnya, namun itupun sangat jarang jika tidak dalam momen khusus seperti buka puasa bersama misalnya. Selama ini duniaku lebih sering berkutat di tulisan, komunitas literasi, Chika dan juga Leo.

“Ya, kamu ada benarnya juga,” kataku menyetujui anggapan Arga.

Arga tersenyum sampai mata sipitnya hampir hilang tinggal segaris. Melihat itu, entah kenapa aku tergelitik untuk tertawa.

“Heh, tadi awalnya murung, kenapa kamu malah ketawa? Dasar cewek sarap,” omel Arga. Kemudian ia memanggil waitress untuk menambah menu lagi.

“Heh, satu porsi waffle ice cream besar jumbo begitu belum bikin kamu kenyang?” komentarku.

“Nggak apa-apa, kayanya kamu udah bisa ngatur mood sekarang. Jadi kurasa sedikit lebih lama di sini nggak ada salahnya.”

Spontan aku menghentikan tawaku. Aku baru sadar, setelah berbincang dengan Arga sore ini, pikiranku menjadi lebih rileks. Tak kusangka, laki-laki yang kuanggap aneh ini memiliki sikap baik juga. Mungkin ini yang membuat Arga memiliki banyak teman meski ekspresinya datar dan masam.

Waitress yang membawakan pesanan chocolate ice creamku menyita perhatianku saat ini. Es krim cokelat ukuran jumbo dengan potongan oreo dua buah dan juga stroberi kecil di puncak es krim, selalu membangkitkan selera, dan juga kenangan. Nah, mulai lagi otak galauku bereaksi. Awalnya aku berniat memesan strawberry ice cream, tetapi tetap saja aku akhirnya memesan rasa cokelat.

“Apa yang paling kamu sukai dari es krim yang sedang kamu makan itu, Mei?” Arga menyodorkan pertanyaan aneh.

“Emm, pertanyaanmu aneh. Tapi oke, kujawab aja. Yang paling kusuka tentu saja stroberi dan oreonya, tetapi kumakan paling belakangan.”

“Jadii, kamu memang tipe orang yang lebih memilih bersusah dulu baru bisa meraih kebahagiaan sejati,” seloroh Arga, ia menyilangkan tangannya di atas meja sembari menatapku lekat-lekat.

“Hah, apa sih yang kamu omongin?” tukasku.

“Yah, itu sih menurut analisis psikologi di artikel yang perna,h kubaca. Jadi orang yang makan makanan bagian favoritnya di bagian paling terakhir, berarti termasuk tipe orang yang lebih mengutamakan kebahagiaan di bagian akhir, dan ia akan lebih memilih penderitaan didahulukan karena menganggap kebahagiaan adalah hal yang sangat berharga. Sebaliknya kalau makan bagian paling enak di awal, berarti orang itu termasuk tipe malas, maunya enak dulu susah belakangan.”

“Iya, aku kayanya pernah dengar soal penelitian itu, benar juga katamu,” ucapku setuju dengan pendapat Arga.

“Jadi..” Omongan Arga terputus dengan waitress yang membawa pesanan banana splitnya. Sesudah waitress berlalu, Arga menambahkan. ”Apapun kesedihan yang sedang kamu rasakan sekarang, pasti akan segera mendatangkan kegembiraan. Just believe this, every heart has that right,”

“Kamu ini sok tahu deh,” kilahku, apa-apaan sih Arga, dia seolah berusaha menebak isi otakku sekarang. Punya hak apa dia? ”Kalimatmu bijak banget, siapa yang ngajarin?”

Arga tersenyum simpul. ”Lho, aku belajar dari kamu. Kamu lupa?”

Aku kebingungan dengan jawaban Arga. Ia masih tak mau juga menjawab dengan jelas. Hanya saja, saat ini pikiranku lebih ringan selama berbincang dengannya.

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Komentarnya bisa dibaca siapa saja, tapi menulis butuh akun.

Masuk