Bab 1 Tangis Di Aula Yang Sunyi

3 dibaca

A

Aula itu masih menyimpan sisa-sisa pertempuran.

Lantai marmernya retak menjalar seperti sarang laba-laba raksasa, dan di beberapa bagian, pecahan batu menganga hingga memperlihatkan tanah gelap di bawahnya. Pilar-pilar tinggi yang dulu berdiri gagah kini miring, sebagian patah di tengah dan tergeletak melintang, berselimut debu tebal yang berkilau redup diterpa cahaya bulan. Lampu gantung kristal yang semula menjadi kebanggaan ruangan itu jatuh berkeping-keping, menebarkan serpihan kaca yang berkerlip di segala sudut, seolah ribuan bintang kecil ikut terkubur di sana.

Angin malam menyelinap masuk lewat jendela-jendela yang pecah. Tirai-tirai lapuk melambai pelan-pelan, mengeluarkan bunyi gesekan lirih yang terdengar seperti bisikan orang-orang yang sudah lama pergi.

Di tengah kehancuran itu, di atas lantai yang dingin, duduklah Karla.

Ia duduk memeluk kedua kakinya erat-erat, dagunya bertumpu di atas lutut, rambut hitamnya yang panjang menjuntai menutupi separuh wajah. Daster putihnya kusut dan dipenuhi debu. Tubuhnya bergetar hebat, dan dari balik tirai rambutnya terdengar isakan yang semula tertahan, lalu pecah menjadi tangisan yang menyayat.

“Kenapa...” suaranya serak dan putus-putus. “Kenapa semua orang pergi... kenapa tidak ada satu pun yang mau tinggal...”

Ia menangis sejadi-jadinya. Bukan tangisan makhluk yang menakutkan, bukan pula tangisan iblis yang baru saja kalah. Itu tangisan seorang perempuan yang sudah terlalu lama menahan sepi, yang hatinya sudah penuh sesak oleh kerinduan yang tak pernah terjawab. Lucy dan Ray telah lepas dari cengkeramannya, meninggalkan aula ini dengan langkah tergesa-gesa, dan bersama kepergian mereka, harapan terakhir Karla untuk memiliki seseorang di sisinya ikut lenyap.

“Aku cuma ingin dicintai,” bisiknya di sela isak. “Hanya itu. Apa itu terlalu banyak?”

Gema suaranya memantul di dinding-dinding aula yang bolong, kembali padanya tanpa jawaban. Tak ada yang menghibur, tak ada yang mendengar. Hanya dingin, debu, dan cahaya bulan yang pucat.

Berjam-jam ia menangis, atau mungkin hanya beberapa menit. Waktu di dalam kesedihan memang tak pernah jelas ukurannya. Namun perlahan, ada sesuatu yang berubah di udara.

Suhu ruangan turun lebih rendah lagi. Nyala lilin-lilin kecil yang masih tersisa di sudut aula mendadak bergoyang, lalu padam satu demi satu. Bayangan di dinding memanjang, menggeliat, dan menyatu di satu titik di hadapan Karla.

“Sudah cukup, Karla.”

Suara itu dalam dan tenang, bergema seperti datang dari dasar sumur yang tak terukur. Karla tersentak. Ia mengangkat kepalanya dengan mata sembap, dan pandangannya terpaku.

Di hadapannya berdiri sesosok makhluk yang tinggi menjulang, menyerupai manusia namun jelas bukan manusia. Tingginya nyaris menyentuh langit-langit aula yang setengah runtuh. Ia mengenakan jubah putih dari kain sederhana yang menjuntai hingga menyapu lantai. Yang paling mencolok adalah rambutnya: hitam pekat, lurus, dan panjang luar biasa, terurai hingga lima meter di belakang tubuhnya, menyeret di atas lantai marmer seperti sungai malam yang mengalir tanpa suara.

Wajahnya tirus dan pucat. Matanya hitam sepenuhnya, tanpa putih, tanpa cahaya, seperti dua lubang yang menelan segala yang memandangnya.

“Anggaro,” ucap Karla lirih, dan tangisnya pecah kembali.

Ia merangkak setengah berlutut, meraih ujung jubah putih itu, dan menangis tersengal-sengal. Tubuhnya menggigil, bahunya naik turun tak beraturan.

“Aku gagal... aku sudah berusaha... mereka pergi lagi... semua pergi lagi...”

Anggaro menunduk. Tangannya yang berjari panjang dan kurus terulur, lalu mengusap kepala Karla dengan gerakan yang sangat lembut, gerakan yang tidak cocok dengan rupa mengerikannya.

“Tenanglah,” katanya pelan. “Tarik napasmu. Aku di sini.”

“Aku sudah melakukan seperti yang kau minta,” isak Karla. “Aku menjadi seperti ini demi menghilangkan rasa sakitku, tapi sakitnya tidak pernah hilang, Anggaro. Sakitnya malah bertambah.”

Anggaro tidak menyahut segera. Ia membiarkan Karla menuntaskan tangisnya, membiarkan sedu sedan itu perlahan-lahan mereda, sedikit demi sedikit, hingga yang tersisa hanyalah napas tersendat dan bahu yang masih gemetar.

Ia adalah makhluk yang dulu, bertahun-tahun silam, mendatangi seorang perempuan yang hancur hatinya dan menawarkan sebuah jalan. Ia yang membisikkan bahwa rasa sakit bisa dibayar dengan kekuatan, bahwa kesepian bisa diubah menjadi kuasa. Dan Karla, yang saat itu tak punya apa-apa lagi untuk dipertahankan, menerima tawaran itu.

“Dengar aku baik-baik,” ujar Anggaro akhirnya, suaranya melunak. “Kau tidak salah karena menginginkan cinta. Yang salah adalah tempat kau mencarinya. Desa Clowfitch sudah menolakmu, dan kau sudah terlalu lama terkurung di sini. Dunia jauh lebih luas dari aula ini.”

Karla menyeka air matanya dengan punggung tangan. “Ke mana aku harus pergi?”

Anggaro memutar tubuhnya sedikit, memandang ke arah jendela pecah yang menghadap malam. Rambut panjangnya bergeser mengikuti, menimbulkan bunyi desir halus di lantai.

“Ada sebuah kota kecil, jauh dari desa ini. Namanya Krod.”

“Krod?”

“Ya. Dulu, Krod bukan kota kecil. Ia adalah kerajaan besar, dengan istana berkubah emas dan pasukan yang ditakuti seluruh negeri.” Nada suara Anggaro berubah, seperti seseorang yang sedang mengenang sesuatu yang sangat lama. “Namun para devil slayer, para pembunuh iblis itu, datang dan membumihanguskannya. Mereka membakar istana, membantai penghuninya, dan meratakan segalanya dengan tanah.”

Karla mendengarkan dengan mata terbelalak. Air mata masih membasahi pipinya, tapi rasa ingin tahu mulai menggantikan kesedihannya.

“Kerajaan itu memang hancur,” lanjut Anggaro, “tetapi darahnya belum habis. Para keturunan Krod masih hidup. Mereka bersembunyi di balik kehidupan biasa, dan diam-diam mereka masih menjalankan ritual cuci pusaka. Sebuah upacara kuno, dipimpin oleh tetua keturunan Krod yang baru, seorang laki-laki bernama Niniv.”

“Niniv,” ulang Karla pelan, mencoba mengingat nama itu.

“Ia pewaris tahta Krod, seandainya kerajaan itu masih berdiri. Kini Krod hanyalah sebuah kabupaten kecil, dan kotanya dikendalikan oleh pucuk pimpinan para devil slayer yang bernama Krura.”

Mendengar kata devil slayer, bulu kuduk Karla meremang. Ia teringat kisah-kisah yang pernah ia dengar, tentang orang-orang berpedang hitam yang memburu makhluk seperti dirinya tanpa ampun.

“Kalau ada devil slayer di sana, mengapa aku harus pergi ke tempat berbahaya itu?”

Anggaro tersenyum tipis, memperlihatkan barisan gigi runcing di balik bibirnya yang pucat. “Karena justru di sanalah tempat yang paling aman bagi kita, Karla. Para keturunan Krod menyelenggarakan ritual cuci pusaka begitu rutin, sehingga banyak dari bangsa kita berkumpul dan menetap di sana. Kami memasang segel, sebuah selubung gaib yang menutupi keberadaan kami, sehingga para devil slayer tak mampu mendeteksi kita sama sekali.”

“Bangsa kita?”

“Kami menyebut diri kami Unseen,” jawab Anggaro. “Mereka yang tidak terlihat. Mereka yang hidup di balik kelopak mata manusia.”

Kata itu jatuh ke dalam benak Karla dan menetap di sana. Unseen. Ada sesuatu yang menenangkan dalam nama itu. Selama ini ia hanya dipanggil hantu, iblis, atau makhluk terkutuk. Kini, untuk pertama kalinya, ada sebuah kata yang terdengar seperti tempat pulang.

“Di Krod, kau tidak akan sendirian,” lanjut Anggaro. “Dan ada satu hal lagi.”

“Apa itu?”

“Di distrik Gyari, di sebuah rumah kost sederhana, tinggal seorang pemuda bernama Jaru.” Sorot mata hitam Anggaro seakan berkilat sesaat. “Ia kurus, gondrong, dan pendiam. Orang-orang menjauhinya karena ia dianggap aneh. Ia benar-benar membutuhkan cinta, Karla, sebesar kau membutuhkannya. Ia masih segar, masih utuh, belum pernah dimiliki siapa pun.”

Jantung Karla yang sudah lama dingin berdegup aneh. “Seseorang yang... membutuhkan cinta?”

“Ya. Mungkin ia bisa menjadi milikmu.”

Untuk beberapa saat, Karla hanya terdiam. Ia menunduk, menatap kedua telapak tangannya yang pucat, lalu perlahan-lahan mengepalkannya. Ada sesuatu yang bangkit di dadanya, kecil, rapuh, tapi hangat: harapan.

Ia menghapus sisa air matanya dengan kasar, menegakkan punggung, lalu berdiri. Rambut hitamnya ia sibakkan ke belakang.

“Kalau begitu, aku akan pergi,” ucapnya, suaranya masih bergetar, tapi kini ada keteguhan di dalamnya. “Sekarang.”

Anggaro mengangguk puas. Ia mengangkat satu tangannya, dan di udara kosong di hadapan mereka, ruang mulai terkoyak. Sebuah garis vertikal berpendar ungu kehitaman melebar perlahan, membentuk lubang bundar yang berputar-putar seperti pusaran air di dasar danau. Dari dalamnya berhembus angin dingin yang membawa bau tanah basah dan dupa tua.

“Ikuti aku,” kata Anggaro.

Karla menoleh sekali lagi ke aula yang hancur itu, ke lantai tempat ia menangis, ke pilar-pilar yang patah, ke jendela-jendela yang bolong. Tempat itu telah menjadi saksi kekalahannya dan kesepiannya. Ia tidak akan merindukannya.

Tanpa menoleh lagi, ia melangkah masuk ke dalam lubang portal, disusul Anggaro yang jubah putih dan rambut panjangnya tertarik ke dalam pusaran, hingga lubang itu menutup dan aula kembali sunyi, hanya menyisakan debu yang berputar pelan-pelan di udara.


Jauh dari sana, di sebuah bangunan megah yang berdiri kokoh di jantung ibukota Tauph, suasana jauh dari sunyi.

Ruangan itu luas dan berlangit-langit tinggi, dindingnya dihiasi panji-panji hitam bersulam benang perak bergambar pedang bersilang. Obor-obor besi menyala di setiap tiang, memantulkan cahaya jingga di lantai batu yang mengilap. Di bagian tengah, di atas sebuah dais yang ditinggikan, duduk seorang laki-laki paruh baya bertubuh tegap dengan sorot mata setajam elang. Jubah hitamnya bersulam emas di bagian kerah. Dialah Krura, pucuk pimpinan para devil slayer, penguasa de facto atas kota Krod dan kabupaten-kabupaten di sekitarnya.

Di hadapannya, berbaris rapi dalam lima kelompok, berdiri para pemimpin divisi.

“Dengar baik-baik,” suara Krura menggelegar, memenuhi ruangan hingga ke sudut-sudutnya. “Laporan dari para pengintai menyebutkan bahwa kemunculan Unseen meningkat tajam di lima kabupaten. Greg, Shena, Jya, Vorta, dan Gasko. Kita tidak boleh membiarkan mereka berkembang biak.”

Krura bangkit dari kursinya, berjalan menuruni dais dengan langkah berat yang berwibawa.

“Kelima divisi akan diberangkatkan malam ini. Setiap divisi menyisir satu kabupaten. Hancurkan semua Unseen yang kalian temukan. Jangan beri belas kasihan.”

Ia berhenti di depan barisan pertama. “Divisi satu, dipimpin Morga.”

Seorang pria bertubuh besar dengan bekas luka di pipi kiri menunduk hormat. “Siap, Tuan.”

“Divisi dua, Elina.”

Seorang perempuan berambut pendek dengan sorot mata dingin dan tombak di punggungnya mengangguk singkat.

“Divisi tiga, Monda.”

“Divisi lima, Sandu.”

Masing-masing menjawab dengan tegas. Lalu pandangan Krura bergeser pada barisan keempat, dan ada kilatan bangga di matanya.

“Dan divisi empat, Rav.”

Seorang pemuda melangkah maju setengah langkah. Ia tinggi, berbahu lebar, berwajah tampan dengan rahang tegas dan mata segelap malam yang menyimpan luka lama. Rambut hitamnya dipotong rapi, dan di punggungnya tersandang sebuah pedang hitam besar, panjang dan berat, yang bagi orang lain hanya bisa diangkat dengan dua tangan, tapi bagi Rav terlihat seringan ranting.

“Siap, Tuan Krura,” jawabnya. Suaranya dalam, tenang, dan tak menyisakan keraguan.

Di belakangnya berdiri empat rekannya. Joki, yang bertubuh gempal dan selalu tersenyum. Tarya, yang kurus dan gesit dengan sepasang belati di pinggang. Adma, yang pendiam dengan busur besar di bahu. Dan Harya, yang paling muda dan paling ceria, yang bahkan di ruangan setegang ini masih sempat mengedipkan sebelah mata pada Joki, membuat rekannya itu nyaris tertawa.

“Jangan main-main,” desis Rav tanpa menoleh, dan Harya buru-buru menegakkan wajahnya, meski sudut bibirnya masih berkedut.

Krura melirik ke arah mereka dan menahan senyum. Divisi empat memang selalu begitu. Mereka bukan yang terkuat secara kasar, tetapi mereka adalah tim yang paling gesit di antara lima divisi, dan Krura tahu betul bahwa kecepatan sering kali lebih mematikan daripada kekuatan.

Rav sendiri menyimpan alasan yang dalam mengapa ia bertarung. Bertahun-tahun lalu, keluarganya diserang oleh para Unseen. Rumah mereka dibakar, ayah dan ibunya menjadi korban, dan ia yang saat itu masih kecil hanya bisa bersembunyi di kolong dipan sambil menahan napas. Bau asap dan jeritan itu tak pernah benar-benar meninggalkannya. Ia kemudian mengabdikan diri, dari prajurit biasa hingga menjadi ketua divisi, dengan satu tekad: memberantas semua Unseen tanpa tersisa.

Ia tidak tahu, saat itu, bahwa penyerangan atas keluarganya bukanlah kebetulan. Ia tidak tahu bahwa di balik tragedi itu ada ulah seorang laki-laki bernama Niniv.

“Berangkatlah,” perintah Krura. “Kembalilah dengan kabar kemenangan.”

Kelima pemimpin divisi memberi hormat serempak, lalu berbalik dan melangkah keluar, derap sepatu bot mereka bergema di sepanjang lorong batu. Di halaman depan, kuda-kuda perang telah menunggu, meringkik tak sabar, uap putih mengepul dari lubang hidung mereka di udara malam yang dingin.

Rav naik ke atas kudanya, seekor kuda hitam bertubuh kekar dengan surai yang berkilat. Ia menepuk lehernya pelan.

“Kita ke Greg,” bisiknya.

Kuda itu meringkik pendek seolah mengerti. Dan malam itu, lima divisi bergerak ke lima arah berbeda, membawa pedang dan tekad mereka menembus kegelapan.

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Komentarnya bisa dibaca siapa saja, tapi menulis butuh akun.

Masuk