Bab 2 Lima Unseen Di Greg

1 dibaca

A

Kabupaten Greg menyambut divisi empat dengan kesunyian yang tidak wajar.

Mereka tiba menjelang tengah malam, setelah dua hari perjalanan tanpa henti melewati hutan pinus, jembatan batu yang lapuk, dan padang ilalang yang berdesir seperti lautan kering. Kuda-kuda mereka basah oleh keringat, napasnya memburu, tetapi Rav tidak mengizinkan siapa pun beristirahat lama. Ia menghentikan rombongan di sebuah bukit kecil yang menghadap ke arah kota, dan dari sanalah mereka memandang Greg untuk pertama kalinya.

Kota itu terhampar di lembah dalam bayangan kelabu. Deretan gedung bertingkat berdiri berdempetan, sebagian besar berupa bangunan batu tua dengan jendela-jendela gelap yang menganga seperti rongga mata tengkorak. Tak ada satu pun lampu yang menyala. Tak ada suara kereta, tak ada gonggongan anjing, tak ada tawa orang mabuk di sudut kedai. Kabut tipis melayang di antara menara-menara jam yang sudah lama mati, dan di kejauhan, sebuah lonceng entah di mana berdentang sekali, dua kali, lalu berhenti begitu saja, seolah tali yang menariknya diputus di tengah jalan.

“Kota ini sudah kosong,” gumam Joki, suaranya yang biasanya riang kini terdengar ciut. “Penduduknya mengungsi?”

“Atau sudah tidak ada yang tersisa untuk mengungsi,” sahut Tarya datar sambil mengencangkan tali belati di pinggangnya.

Adma, yang sejak tadi diam, menurunkan busurnya dari bahu dan menarik seutas tali untuk memeriksa ketegangannya. “Saya mencium sesuatu,” katanya pelan. “Bau busuk yang manis. Seperti daging yang dibiarkan berhari-hari di bawah matahari.”

Rav mengangguk. Ia juga mencium bau itu, dan tubuhnya yang sudah terlatih bertahun-tahun langsung bereaksi: otot-otot lehernya menegang, jari-jarinya bergerak perlahan menuju gagang pedang hitam besar di punggungnya.

“Kita masuk dari sisi utara,” katanya. “Jangan bergerak sendirian. Jangan menatap terlalu lama ke jendela mana pun. Kalau kalian melihat sesuatu bergerak, jangan berteriak, cukup beri isyarat tangan. Mengerti?”

“Mengerti, Ketua,” jawab keempatnya serempak.

Harya, yang berdiri di ujung barisan, tersenyum lebar sambil menyandarkan tombak pendeknya di bahu. “Ketua, boleh saya bertaruh? Siapa yang paling banyak menebas malam ini, dia yang mentraktir makan di Tauph.”

“Kalau kau yang kalah, kau yang membayar,” balas Joki sambil menyikutnya.

“Kalau saya yang menang, kalian semua bayar dua kali.”

“Cukup,” potong Rav, tetapi sudut bibirnya nyaris terangkat. Ia tahu, di antara semua orang di divisinya, Harya adalah pengingat bahwa hidup ini tidak seluruhnya terdiri dari darah dan pedang. Ia yang selalu bercanda saat tegang, yang menyanyikan lagu-lagu konyol saat perjalanan panjang, yang membagi bekalnya pada siapa pun yang kelaparan.

Mereka menuruni bukit, menyusuri jalan setapak berbatu yang berkelok-kelok menuju gerbang utara Greg.


Gerbang kota itu terbuka setengah, salah satu daunnya miring lepas dari engselnya. Di baliknya, jalan utama membentang lebar, dikelilingi bangunan-bangunan tinggi yang tampak menunduk seakan hendak menelan siapa pun yang lewat di bawahnya. Lantai jalan dipenuhi kertas-kertas lusuh, pecahan kaca, sepatu yang tercecer, dan noda-noda gelap yang mengering di sela batu.

Rav berjalan paling depan, langkahnya nyaris tak bersuara. Keempat rekannya mengikuti dalam formasi tersebar, saling menutupi sudut pandang satu sama lain.

Baru setengah jalan menuju alun-alun, tiba-tiba terdengar bunyi seperti sesuatu diseret di atas atap. Srek. Srek. Srek. Lambat, berat, dan berirama.

“Di atas,” bisik Adma sambil mengangkat kepalanya.

Rav mengangkat tangan, memberi isyarat berhenti. Semua membeku. Bunyi itu berhenti pula. Lalu dari sebuah gang sempit di sisi kiri, terdengar tawa. Bukan tawa manusia, melainkan bunyi cekikikan tipis dan patah-patah, seperti tulang-tulang kecil yang saling beradu.

Dari kegelapan gang itu, muncul satu sosok, disusul yang kedua, ketiga, dan keempat. Mereka berperawakan kurus kering, tubuhnya melengkung seperti udang, kulitnya abu-abu pucat dan mengilap seperti lilin yang meleleh. Kepala mereka botak sepenuhnya, licin tanpa sehelai rambut, dan mulut mereka terlalu lebar, membelah wajah hingga nyaris ke telinga. Gigi-gigi mereka kecil dan runcing, berbaris rapat seperti gigi ikan piranha. Tangan mereka terlalu panjang, jari-jari kurusnya menyentuh tanah saat berjalan merangkak.

Dan dari belakang mereka, dari kegelapan gang yang lebih dalam, muncul sosok kelima.

Bumi seakan bergetar setiap kali kakinya menapak. Ia raksasa. Tingginya hampir dua kali lipat manusia dewasa, tubuhnya kekar berotot seperti pahatan batu, kulitnya cokelat kemerahan dan penuh urat yang menonjol. Rambutnya hitam kusut, panjang menjuntai hingga ke pinggang, bergoyang-goyang di setiap langkahnya. Matanya merah menyala seperti bara. Di tangan kanannya ia menyeret sebatang tiang besi bengkok yang mungkin dulunya adalah tiang lampu jalan, dan di ujungnya masih tersangkut sepotong kain berlumur darah.

“Manusia,” ujar raksasa itu. Suaranya berat, serak, dan dipenuhi kepuasan. “Lama sekali kami tidak dikunjungi. Nama saya Dayu. Selamat datang di rumah kami.”

“Rumah kalian?” Rav menarik pedang hitamnya perlahan dari punggung. Bilah besar itu berdesing rendah saat lepas dari sarungnya. “Ini kota manusia.”

Dayu terkekeh, dan keempat Unseen botak di sekelilingnya ikut tertawa, cekikikan mereka bersahut-sahutan. “Sudah bukan lagi. Kau lihat sekelilingmu, pemuda? Tidak ada yang tersisa. Semua sudah kami makan.”

Tarya mendesis. Adma menarik anak panahnya. Joki menggenggam gada besinya erat-erat. Harya, untuk pertama kalinya malam itu, tidak tersenyum.

Rav menghela napas panjang. Ia menutup mata sekejap, mengingat bau asap di masa kecilnya, jeritan ayah dan ibunya, kolong dipan yang sempit dan gelap. Lalu ia membuka mata, dan tatapannya sedingin baja.

“Berpencar,” katanya.

Itu satu-satunya perintah yang ia butuhkan.


Pertempuran meledak dalam sekejap.

Keempat Unseen botak menerjang serentak, merangkak dengan kecepatan yang mustahil untuk tubuh sekurus itu, menggunakan tembok-tembok bangunan sebagai pijakan. Dayu mengayunkan tiang besinya dengan satu tangan, dan udara di depannya seperti terbelah, mengirimkan gelombang angin yang membuat debu di jalan beterbangan.

Rav melompat ke samping tepat waktu. Tiang besi itu menghantam tempat ia berdiri, dan batu jalan di sana hancur berkeping-keping, serpihannya menghambur ke segala arah. Tanpa menoleh, Rav menjejakkan kaki kanannya ke dinding sebuah toko, mendorong tubuhnya ke atas, lalu berlari menyusuri tembok secara vertikal, melawan gravitasi, sepatu botnya mencengkeram batu dengan ketangkasan yang hanya bisa didapat dari latihan bertahun-tahun.

“Ke atap!” teriaknya. “Jangan bertarung di bawah!”

Divisi empat memang tim yang paling gesit, dan malam itu mereka membuktikannya. Tarya melempar belati ke sebuah kusen jendela, menggunakan tali yang terikat di gagangnya untuk mengayunkan tubuhnya naik ke lantai dua. Adma menembakkan sebatang panah ke arah balkon di atasnya, menancap kuat, lalu memanjat dengan tali yang menyertainya. Joki, dengan tubuh gempalnya yang mengejutkan lincah, melompati tumpukan peti dan tong, menaiki tangga kayu bobrok di sisi bangunan, sementara Harya sudah lebih dulu berlari di atap-atap, tombak pendeknya berputar-putar di tangan.

Satu Unseen botak mengejar Rav. Ia melompat dari dinding ke dinding, cakar-cakarnya menggores batu hingga meninggalkan bekas panjang, mulutnya yang lebar terbuka, mengeluarkan desis basah. Rav berbalik di tengah lari, memutar tubuh, dan menebas dalam satu ayunan besar.

Pedang hitam itu membelah udara dengan bunyi mendesing. Unseen itu menjerit tinggi saat bilahnya menyayat dari bahu hingga pinggang, dan tubuh kurusnya jatuh ke jalan, menggeliat, mengeluarkan darah hitam kental yang berbau busuk. Namun ia belum mati. Ia merangkak bangkit, mulutnya masih menyeringai.

“Keras kepala,” desis Rav.

Ia melompat turun, mendarat tepat di atas punggung Unseen itu, dan menusukkan pedangnya lurus ke bawah, menembus tengkuk hingga ke batu di bawahnya. Unseen itu bergetar sekali, dua kali, lalu diam. Tubuhnya perlahan-lahan menguap menjadi asap kelabu yang terbang tertiup angin.

Satu selesai. Tersisa empat.

Di atas atap sebuah kedai, Tarya berhadapan dengan Unseen botak kedua. Makhluk itu menyerang dengan kelincahan mengerikan, cakarnya menyambar berkali-kali, tetapi Tarya lebih cepat. Ia menari di antara serangan-serangan itu, tubuh kurusnya meliuk, belatinya menebas di sela setiap gerakan, meninggalkan luka-luka dangkal yang berdarah hitam. Unseen itu mengamuk, kehilangan kesabaran, dan mengayunkan kedua tangannya secara serampangan. Justru itulah yang ditunggu Tarya.

Ia berjongkok, menyelinap ke bawah lengan makhluk itu, lalu menghujamkan kedua belatinya ke lambungnya sekaligus. Ia memutar bilah-bilah itu, dan Unseen tersebut menjerit, mencengkeram bahu Tarya dengan cakarnya yang tajam hingga darah manusia mengucur dari pundaknya.

“Tarya!” teriak Joki dari bawah.

“Aku baik-baik saja!” balas Tarya sambil menahan sakit, tangan kirinya masih menekan belati sedalam mungkin. “Urus yang lain!”

Unseen itu meronta-ronta, tetapi Tarya tidak melepas pegangannya sampai makhluk itu akhirnya lunglai dan berubah menjadi abu.

Di sisi lain alun-alun, Adma berdiri di menara jam yang miring. Dari sana ia punya pandangan penuh ke seluruh medan. Anak panahnya melesat satu demi satu, presisi dan mematikan. Salah satunya menembus telapak tangan Unseen botak ketiga yang hendak memanjat naik ke tempat Tarya. Makhluk itu menjerit dan jatuh terguling. Panah kedua menembus lututnya, panah ketiga menembus lehernya. Ia tergeletak dan tak bergerak lagi.

“Tiga,” bisik Adma pada dirinya sendiri.

Namun Dayu, si raksasa, belum tersentuh sama sekali.


Dayu tertawa menggelegar saat melihat satu per satu bawahannya jatuh. Ia tidak marah. Justru ia tampak menikmati. Dengan langkah-langkah beratnya, ia menghampiri Joki yang berdiri di tengah alun-alun, gada besinya terangkat.

“Kau gemuk,” kata Dayu sambil menyeringai. “Pasti enak.”

“Aku bukan makan malammu,” balas Joki. Keringat mengalir di pelipisnya, tetapi matanya menyala.

Dayu mengayunkan tiang besinya dari atas. Joki menyilangkan gadanya menahan pukulan itu, dan benturannya memekakkan telinga. Percikan api berhamburan. Lutut Joki nyaris menekuk, urat-urat di lehernya menegang, kedua kakinya melesak ke dalam batu jalan yang retak.

“Kuat juga,” ujar Dayu, terkesan. Ia menekan lebih keras.

Joki menggertakkan giginya. “Tarya! Sekarang!”

Dari atas atap, sesosok bayangan meluncur turun. Tarya, yang telah mengikat luka di pundaknya dengan sobekan jubah, menjatuhkan diri dengan kedua belati terhunus, mendarat di punggung Dayu dan menancapkan bilahnya dalam-dalam di antara tulang belikat raksasa itu.

Dayu meraung. Ia mengayunkan tubuhnya ke samping, membanting Tarya ke tanah seperti boneka kain. Tarya terguling beberapa kali, terbatuk, lalu bangkit sambil meringis. Luka-luka di punggung Dayu mengeluarkan darah hitam yang mengepul, tetapi raksasa itu masih berdiri tegak, matanya membara.

“Kalian serangga,” geramnya. “Serangga yang berisik.”

Ia menyapukan tiang besinya dalam lengkungan lebar. Joki melompat mundur, Tarya menunduk. Sebatang panah dari Adma menyambar dan menancap di bahu Dayu, tetapi raksasa itu hanya mendengus.

Saat itulah Rav tiba. Ia melompat dari atap gedung tiga lantai, menjatuhkan diri dengan pedang hitamnya terangkat tinggi di atas kepala, membawa seluruh berat tubuhnya dalam satu tebasan yang menghantam bahu kiri Dayu.

Bunyinya seperti kayu keras yang dibelah kapak. Dayu terhuyung. Lengan kirinya nyaris terlepas dari sendi, menjuntai tak berdaya dengan darah hitam menyembur keluar. Raungan raksasa itu mengguncang kaca-kaca jendela yang tersisa hingga pecah berhamburan.

“Kau!” desis Dayu, menatap Rav dengan mata merahnya. Ia menyerang dengan tangan kanannya, mencoba mencengkeram Rav, tetapi Rav berguling ke samping, bangkit, dan menebas paha kanannya. Dayu jatuh berlutut.

“Sekarang!” teriak Rav.

Joki menghantamkan gadanya ke kepala Dayu dengan seluruh tenaganya. Tengkorak raksasa itu retak. Adma menembakkan dua panah sekaligus ke matanya. Dayu menjerit untuk terakhir kalinya, dan tubuhnya yang sebesar gunung itu ambruk ke tanah, mengguncang alun-alun, lalu perlahan berubah menjadi abu kelabu yang diterbangkan angin malam.

Sunyi turun. Napas-napas terengah-engah terdengar bersahut-sahutan.

Hanya tersisa satu Unseen botak. Ia meringkuk di sudut, menggigil, seolah baru menyadari bahwa pemimpinnya telah tumbang. Adma menarik busur, tetapi makhluk itu sudah lebih dulu melesat ke lorong sempit dan menghilang di kegelapan.

“Kejar!” seru Rav.

“Aku!” sahut Harya cepat. Ia melompat dari atap ke atap, tombaknya berputar, tawa kecil tetap terselip di bibirnya meski napasnya terengah. “Ini bagianku, Ketua! Aku belum menebas satu pun!”

“Harya, tunggu!” panggil Rav. “Jangan sendiri!”

Tetapi Harya sudah menghilang di balik bayangan gang, dan suara langkahnya lenyap ditelan malam.


Butuh waktu setengah jam bagi Rav, Joki, Tarya, dan Adma untuk menyisir kawasan itu. Mereka memeriksa setiap lorong, setiap kolong, setiap balik pintu. Mereka menemukan Unseen botak yang terakhir tergeletak tak bernyawa di dekat sumur tua, tubuhnya berlubang oleh mata tombak. Ia telah mati. Tetapi Harya tidak ada di sana.

“Harya!” teriak Joki. Suaranya menggema di antara dinding-dinding kota. “Harya! Di mana kau! Traktiran itu masih menunggumu!”

Tak ada jawaban.

Rav berdiri di dekat sumur, memandang tanah di sekelilingnya. Ada jejak tapak sepatu bot, jejak tombak yang terseret, dan di ujungnya, sebuah genangan darah. Bukan darah hitam Unseen. Darah merah. Manusia.

Di dalam genangan itu tergeletak sebilah tombak pendek yang gagangnya berlumur, dan di dekatnya, sepotong kain jubah hitam yang robek dan koyak.

Rav berlutut. Tangannya gemetar saat meraih tombak itu.

“Tidak,” bisik Joki, matanya membesar. “Tidak, tidak mungkin.”

Adma memejamkan mata dan menunduk. Tarya berbalik membelakangi mereka, bahunya bergetar, tangannya mengepal begitu kuat hingga buku-bukunya memutih.

Perlahan-lahan Rav memahami. Unseen botak terakhir itu, sebelum mati, telah lebih dulu memakan Harya. Mungkin dalam sekejap, mungkin saat Harya lengah, mengira kemenangan sudah di tangan. Tak ada teriakan, tak ada perlawanan panjang. Hanya senyap. Dan tawa ceria yang biasanya menemani perjalanan mereka telah lenyap selamanya.

Rav mendekap tombak pendek itu di dadanya. Ia teringat wajah Harya yang tersenyum lebar sesaat sebelum bertarung, teringat taruhan konyol tentang traktiran makan, teringat bagaimana pemuda itu selalu menjadi orang pertama yang menyapa para prajurit baru dengan senyuman.

Air matanya jatuh tanpa suara, menetes ke tanah yang merah.

“Maafkan aku,” bisiknya. “Aku seharusnya menahanmu.”

Tak ada yang menjawab. Angin malam berhembus, membawa serpihan abu dari tubuh Dayu yang berhamburan ke udara, dan di kejauhan, lonceng yang tadi berhenti berdentang kini kembali berbunyi sekali, seolah sedang berduka.


Divisi empat menyelesaikan penyisiran Greg dalam waktu yang belum pernah dicapai divisi mana pun. Pada dini hari, tidak ada lagi Unseen yang tersisa di kota itu. Jalan-jalannya sunyi, dan kabut perlahan menipis. Namun kemenangan itu terasa hambar.

Mereka membawa pulang tombak Harya dan sepotong kain jubahnya, dibungkus rapi dengan selembar kain putih.

Perjalanan kembali ke Tauph terasa lebih panjang dari saat berangkat. Tak ada nyanyian konyol, tak ada canda, tak ada taruhan. Joki berkuda dengan kepala menunduk, sesekali menyeka wajahnya dengan lengan baju. Tarya menatap lurus ke depan tanpa berkata apa pun. Adma sesekali mengeluarkan desah berat. Dan Rav memimpin di depan, punggungnya tegak, tetapi bahunya tampak lebih berat dari sebelumnya.

Ketika akhirnya gerbang ibukota Tauph terlihat di cakrawala, matahari sedang terbit, mewarnai langit dengan garis-garis jingga dan merah muda. Keindahan itu terasa mengejek.


Ruangan Krura masih sama seperti saat mereka berangkat: luas, hening, dan dihiasi panji-panji hitam bersulam perak. Obor-obor besi sudah dipadamkan dan digantikan cahaya pagi yang menyelinap lewat jendela-jendela tinggi, jatuh menjadi garis-garis emas di atas lantai batu.

Krura duduk di kursinya, membaca sebuah gulungan laporan. Ia mengangkat wajah saat pintu terbuka, dan senyum kecil yang sempat muncul di bibirnya langsung memudar begitu melihat wajah Rav.

“Ketua Rav,” katanya. “Kalian kembali lebih cepat dari perkiraan. Kudengar Greg sudah bersih.”

“Sudah, Tuan.” Rav melangkah masuk, berlutut di hadapan dais dengan satu lutut menyentuh lantai. Suaranya serak. “Lima Unseen tingkat menengah, satu di antaranya raksasa bernama Dayu. Semua sudah kami musnahkan.”

“Bagus sekali. Tetapi mengapa wajahmu seperti pulang dari pemakaman?”

Rav tidak menjawab segera. Ia meletakkan bungkusan kain putih itu di lantai, di hadapannya, dengan kedua tangan yang bergetar. Krura menatap bungkusan itu, lalu menatap tiga orang lainnya yang berdiri di belakang Rav, dan ia langsung mengerti.

“Siapa?” tanyanya pelan.

“Harya, Tuan.” Suara Rav pecah. Bahunya mulai berguncang. “Ia dimakan. Salah satu Unseen botak memakannya, dan saya tidak sempat menolongnya. Saya seharusnya tidak membiarkan ia mengejar sendirian. Saya ketua divisi, Tuan, itu tanggung jawab saya.”

Air matanya jatuh, satu demi satu, membasahi lantai batu. Untuk pertama kalinya sejak ia menjadi ketua divisi, Rav menangis di hadapan pimpinannya tanpa berusaha menyembunyikannya. Ia adalah pemuda yang selalu tampak tak tergoyahkan, tetapi di balik baja itu ada seorang anak kecil yang pernah bersembunyi di kolong dipan, dan anak kecil itu baru saja kehilangan seseorang lagi.

Krura bangkit dari kursinya, menuruni dais, dan berlutut di hadapan Rav. Ia meletakkan tangan berat di bahu pemuda itu.

“Dengarkan aku, Rav.” Suaranya lembut, tetapi tegas. “Aku ikut berduka. Harya adalah salah satu prajurit terbaik yang pernah kita miliki. Semua orang di markas ini akan mengingat tawanya.”

Rav mengangguk, tak mampu berkata apa-apa.

“Tetapi kau tahu risikonya sejak hari pertama kau mengangkat pedang. Menjadi devil slayer berarti hidup berdampingan dengan kematian. Kau harus merelakannya. Bukan melupakannya, tetapi merelakannya.”

“Saya tahu, Tuan.” Rav menyeka wajahnya dengan punggung tangan. Perlahan-lahan, ia menegakkan tubuh, dan sorot matanya berubah. Kesedihan itu tidak hilang, tetapi kini bercampur dengan sesuatu yang lain: tekad yang mengeras seperti besi ditempa api.

“Saya masih ingat janji saya dulu,” ucapnya. “Ketika Tuan mengambil saya dan melatih saya, saya bersumpah akan mengabdi pada Tuan hingga semua Unseen musnah. Karena para Unseen itulah keluarga saya dihabisi. Karena mereka pula Harya kini tiada.”

Ia mengepalkan tangannya. “Saya bersumpah, Tuan. Saya akan memberantas mereka semua, tanpa tersisa satu pun.”

Krura menatapnya lama, lalu mengangguk. “Aku percaya padamu.”

Ia berdiri dan kembali ke kursinya. Namun ketika ia duduk, Rav menangkap sesuatu yang aneh: guratan kecemasan di antara alis pimpinannya, sesuatu yang jarang sekali terlihat.

“Ada yang mengganggu Tuan?”

Krura menghela napas panjang, jemarinya mengetuk-ngetuk sandaran kursi. “Kau perhatian sekali. Ya, ada.” Ia memandang ke arah jendela. “Lima kabupaten yang kuperintahkan disisir, semuanya sudah dilaporkan aman. Tetapi ada satu kabupaten lagi, yang menjadi wilayah tanggung jawabku sendiri, yang tak pernah bisa kami tembus. Krod.”

“Krod?” Rav mengerutkan kening. “Kabupaten bekas kerajaan itu?”

“Benar. Setiap kali aku mengirim pasukan ke sana, mereka kembali dengan wajah pucat dan napas tersengal. Katanya ada sesuatu di udara Krod, sesuatu yang mencekik tenggorokan, membuat dada sesak dan kaki berat. Seolah ada tangan-tangan tak terlihat yang mencengkeram leher mereka. Bahkan aku sendiri tidak sanggup melangkah lebih dari seratus meter dari perbatasannya.”

Joki, Tarya, dan Adma saling berpandangan. Mereka belum pernah mendengar hal ini.

“Energi gaib,” gumam Rav. “Sebuah segel.”

“Kami menduga begitu, tetapi tidak ada yang tahu cara memecahkannya. Dan selama segel itu berdiri, Krod menjadi sarang yang aman bagi Unseen yang kita buru. Mereka bersembunyi di sana, berkembang biak, lalu menyebar ke kabupaten lain.”

Rav terdiam. Pikirannya berputar cepat, dan perlahan-lahan sebuah ingatan lama muncul dari sudut benaknya.

Ia teringat masa pelatihannya dulu, di lapangan latihan berdebu di belakang markas. Di sana ada seorang instruktur tua yang berjenggot putih, bermata setajam pisau, dan bersuara berat seperti batu yang menggelinding: Karuna, mantan ketua divisi empat, pendahulu Rav sendiri, yang kini sudah pensiun.

Pada suatu sore yang lengang, ketika Rav masih menjadi prajurit muda yang kelelahan setelah latihan, Karuna duduk di sampingnya dan menceritakan hal-hal yang tidak diajarkan di buku mana pun.

“Ada dinding yang tidak bisa ditembus pedang,” kata Karuna waktu itu, sambil menyesap teh dari cawan kayunya. “Dinding energi negatif, yang dibangun oleh Unseen tingkat tinggi. Tak peduli seberapa tajam bilahmu, ia hanya akan memantul.”

“Lalu bagaimana menghancurkannya, Guru?” tanya Rav muda.

“Dengan air suci.” Karuna tersenyum tipis. “Air yang dibacakan ayat suci, lalu ditiupkan. Oleskan pada pedangmu, dan bilah itu akan mampu membakar segel pelindung. Bukan hanya itu, ia juga bisa membakar Unseen tingkat tinggi yang tak mempan oleh baja biasa.”

“Ayat suci apa, Guru?”

“Kelak kalau kau sudah pantas, akan kuajarkan.” Dan Karuna pun menutup percakapan itu, meninggalkan Rav dengan rasa penasaran yang tak pernah tuntas.

Kini, bertahun-tahun kemudian, ingatan itu kembali dengan kejelasan yang mengejutkan.

“Tuan Krura,” ucap Rav, matanya bersinar. “Saya mungkin tahu cara menembus Krod.”

Krura menegakkan tubuh. “Katakan.”

“Guru Karuna, mantan ketua divisi empat, pernah menyinggung tentang air suci. Air yang dibacakan ayat suci tertentu, yang jika dioleskan pada pedang devil slayer, mampu menghancurkan segel pelindung dan membakar Unseen tingkat tinggi. Saya hanya diberi tahu garis besarnya. Detailnya, ayatnya, dan caranya, belum pernah saya dengar.”

“Karuna.” Krura menyandarkan punggung, mengelus dagunya. “Sudah lama sekali. Ia pensiun bertahun-tahun lalu dan menghilang dari ibukota. Kudengar ia menetap di sebuah desa terpencil.”

“Desa Kras, Tuan. Jaraknya seribu kilometer dari Tauph.”

“Seribu kilometer.” Krura mengembuskan napas. “Perjalanan yang tidak ringan.”

“Saya siap, Tuan.” Rav kembali berlutut. “Izinkan saya menemui Guru Karuna. Saya akan meminta ia mengajari saya ayat suci itu dan seluruh tata caranya. Dengan itu, saya bisa membuka jalan bagi kita menembus Krod.”

Krura menatap pemuda di hadapannya lama sekali. Ia melihat ketulusan, keberanian, dan luka lama yang tak pernah sembuh. Ia juga melihat sesuatu yang lebih berharga dari semuanya: harapan bahwa kabupaten terkutuk itu bisa dibersihkan.

“Baik,” katanya akhirnya. “Aku mengizinkanmu. Pergilah menemui Karuna, dan kembalilah dengan ilmu itu. Selama kau pergi, wakilkan tugas divisimu pada Joki.”

Joki, yang berdiri di belakang, terkejut, lalu menegakkan tubuh dan memberi hormat kikuk. “Siap, Tuan!”

“Terima kasih, Tuan Krura.” Rav menunduk dalam-dalam. Ia bangkit, lalu berbalik menghadap ketiga rekannya. “Jaga markas. Jaga satu sama lain. Dan kuburkan Harya dengan layak. Aku akan hadir di makamnya sepulang nanti.”

Ketiganya mengangguk, dan Adma, yang jarang bicara, menepuk bahu Rav pelan. “Hati-hati di jalan, Ketua.”


Sebelum matahari mencapai puncaknya, Rav sudah berdiri di halaman belakang markas, mengencangkan pelana kudanya. Kuda hitam itu meringkik pelan, menggosokkan hidungnya ke lengan tuannya, seakan tahu bahwa perjalanan panjang menanti.

Ia hanya membawa bekal secukupnya: dendeng kering, kantong air, selimut tipis, dan sebuah masker gas khusus anti Unseen yang ia simpan di dasar tas pelana, benda yang selama ini hanya digunakan dalam misi-misi khusus. Pedang hitam besarnya tersandang di punggung, dan di dalam saku jubahnya, terlipat rapi, potongan kain jubah Harya yang tadi ia ambil.

Ia menaiki pelana, menggenggam tali kekang, lalu menoleh sekali ke arah markas yang menjulang di belakangnya. Di salah satu jendela lantai atas, ia melihat siluet Krura yang berdiri mengawasi kepergiannya.

“Ayo,” bisiknya pada kudanya.

Kuda hitam itu meringkik, mengentakkan kuku, lalu berderap keluar dari gerbang, menembus jalan ibukota yang mulai ramai oleh pedagang dan pejalan kaki. Debu mengepul di belakang mereka. Dalam waktu singkat, sosok pemuda berpedang hitam itu lenyap di ujung jalan, menuju arah barat, menuju desa terpencil bernama Kras yang berjarak seribu kilometer dari segala keramaian.

Di tempat lain, jauh di sebuah dunia yang tak terlihat oleh mata manusia biasa, roda takdir sudah mulai berputar. Rav belum tahu bahwa perjalanannya akan mempertemukannya dengan kebenaran yang jauh lebih pahit dari yang ia bayangkan.

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Komentarnya bisa dibaca siapa saja, tapi menulis butuh akun.

Masuk