Bab 4 Hari-Hari Bersama Karla

1 dibaca

A

Pagi pertama setelah malam itu, Jaru terbangun dengan perasaan yang asing.

Cahaya matahari menyelinap lewat celah jendela kecil kamarnya, jatuh membentuk garis pucat di atas lantai semen yang retak. Debu-debu halus menari di dalam garis cahaya itu, naik turun pelan-pelan seperti kunang-kunang kecil yang enggan tidur. Untuk beberapa saat, Jaru hanya berbaring menatap langit-langit, mencoba memahami mengapa dadanya terasa ringan.

Lalu ia mengingatnya. Bisikan lembut di telinganya. Pelukan dingin yang tak melepaskan. Suara perempuan yang berkata bahwa ia tidak akan pergi.

Ia menoleh dengan cepat. Di sisi ranjangnya yang sempit, di atas sebuah kursi plastik yang catnya mengelupas, Karla duduk sambil memeluk lutut, memandangi Jaru dengan mata hitam yang teduh. Rambut panjangnya menjuntai hingga menyentuh lantai, dan daster putihnya tampak hampir tembus cahaya di bawah sinar pagi.

“Kau masih di sini,” ucap Jaru pelan, seperti takut kalimat itu akan memecahkan sesuatu.

“Aku sudah berjanji.” Karla tersenyum kecil, senyum yang canggung, seolah ia sudah terlalu lama tidak memakai otot-otot wajahnya untuk itu. “Kau tidur nyenyak sekali. Aku tidak berani bergerak, takut membangunkanmu.”

Jaru bangkit dan duduk di tepi ranjang. Ia menggaruk kepalanya yang berantakan, lalu tertawa kecil, tawa yang sudah bertahun-tahun tidak keluar dari mulutnya. “Kau tahu, ini pertama kalinya aku bangun dan ada seseorang yang menungguku.”

Karla menunduk, pipinya yang pucat seperti sedikit merona, meski mungkin itu hanya bayangan cahaya. “Aku juga,” bisiknya. “Pertama kalinya aku menunggu seseorang bangun.”

Keheningan yang lembut merambat di antara mereka. Di luar, burung-burung pipit berkicau di dahan pohon mangga, dan suara motor lewat di gang jauh. Kost itu masih kosong. Para penghuni yang kabur semalam belum ada satu pun yang berani kembali, dan pintu-pintu kamar di lantai atas masih terbuka lebar, tirainya melambai-lambai ditiup angin.

“Kau lapar?” tanya Karla akhirnya.

“Sedikit.” Jaru melirik ke arah kardus kecil di sudut kamar yang dulu berisi persediaan mi instan. Kardus itu kosong. “Sebenarnya tidak ada makanan sama sekali. Aku harus belanja.”

“Kalau begitu, ayo belanja.”

Jaru terdiam. Sudah bertahun-tahun ia berbelanja sendirian, di jam-jam sepi ketika toko hampir tutup, menghindari tatapan orang-orang yang sudah hafal wajahnya sebagai pemuda aneh dari kost bekas pembantaian. Gagasan pergi ke suatu tempat bersama seseorang, siapa pun itu, terasa seperti sesuatu yang hanya terjadi pada orang lain.

“Baiklah,” katanya akhirnya, dan senyum tipis muncul di wajahnya. “Ayo.”


Supermarket terbesar di distrik Gyari berdiri di sudut jalan raya, sebuah bangunan bertingkat dua berdinding kaca dengan papan nama merah menyala. Siang itu, tempat itu ramai oleh ibu-ibu yang mendorong troli, anak-anak yang berlarian di lorong, dan para karyawan berseragam biru yang sibuk menata dagangan. Musik lembut mengalun dari pengeras suara di langit-langit, bercampur dengan denting mesin kasir dan bunyi roda troli yang berdecit.

Jaru masuk melalui pintu otomatis dengan keranjang belanja di tangan. Kaus lusuhnya sudah diganti dengan kemeja bersih, walau kusut, dan rambut gondrongnya diikat sekenanya. Beberapa orang menoleh, lalu buru-buru memalingkan muka dan mundur menjauh. Ia terbiasa dengan itu. Tetapi kali ini, ada sesuatu yang berbeda.

Karla berjalan di sampingnya, melayang setengah langkah di atas lantai, memandangi seisi supermarket dengan mata membulat penuh takjub.

“Ini semua makanan?” bisiknya. “Sebanyak ini?”

“Ini supermarket,” jawab Jaru pelan sambil menahan tawa. Ia berusaha bicara tanpa menggerakkan bibir terlalu banyak agar tidak dikira gila. “Kau belum pernah ke sini?”

“Aku hanya mengintip dari luar.” Karla menoleh ke kanan dan kiri, menatap tumpukan kaleng sarden, deretan botol saus, dan menara-menara mi instan berwarna-warni. “Aku dulu tidak pernah boleh masuk.”

Sesuatu di dada Jaru mengencang mendengar itu. Ia meraih sebungkus mi kuah dari rak bawah, lalu berjalan menyusuri lorong.

Mereka berhenti di lorong bumbu dapur. Jaru mendongak ke rak paling atas, tempat toples-toples kecil berisi bumbu instan tersusun rapi. Ia bertubuh kurus, tetapi tidak cukup tinggi, dan barang yang ia butuhkan terletak di ujung jangkauan tangannya. Ia menjinjit, mengulurkan lengannya, jemarinya nyaris menyentuh.

“Biar aku,” kata Karla.

Tangannya yang pucat terulur, dan sebelum Jaru sempat menoleh, toples itu sudah terangkat sendiri dari rak, melayang pelan di udara, lalu mendarat di dalam keranjang belanja Jaru dengan bunyi tuk yang lembut.

Jaru tertawa tertahan. “Terima kasih.”

Namun di ujung lorong, seorang ibu berdaster hijau yang sedang memilih kecap membeku di tempat. Ia menatap toples yang baru saja terbang, lalu menatap Jaru, lalu menatap toples itu lagi. Mulutnya terbuka, kecap di tangannya jatuh ke lantai dan pecah.

“Astaga!”

Ia berlari meninggalkan troli begitu saja, dan jeritannya menggema di seluruh lorong.

Jaru menegang, tetapi Karla justru terkikik, tawa kecil yang jernih dan sedikit nakal. “Aduh, aku lupa mereka tidak bisa melihatku.”

“Karla,” desis Jaru, meski sudut bibirnya bergetar menahan senyum.

“Tenang saja. Aku akan lebih hati-hati.”

Tetapi rasa gembira yang begitu lama terpendam membuat Karla tidak benar-benar berhati-hati. Di lorong berikutnya, ketika Jaru menunjuk sebungkus roti tawar di rak atas, roti itu terbang sendiri. Ketika ia menyebut sabun cuci piring, botolnya melayang dari rak dan mendarat di keranjang. Ketika ia bergumam tentang kopi, dua bungkus kopi meluncur bergantian seperti burung kecil.

Orang-orang di supermarket mulai gempar. Seorang bapak mundur dengan wajah pucat sambil memegangi dada. Dua remaja berseragam sekolah menjerit dan berlarian, sementara seorang karyawan yang sedang menata susu kotak menjatuhkan seluruh tumpukannya hingga berhamburan ke lantai.

“Barang-barangnya terbang sendiri!”

“Ada hantu!”

“Panggil satpam! Panggil satpam!”

Jaru, dengan wajah setenang air, mendorong keranjang belanjanya yang sudah penuh menuju kasir. Ia tidak menoleh, tidak mempercepat langkah, tidak menunjukkan sedikit pun tanda kepanikan. Di dalam kepalanya, ia hanya berpikir satu hal: betapa lucunya semua ini.

Di belakangnya, Karla melayang riang, tangannya sesekali bergerak menunjuk rak-rak yang membuat barangnya berpindah tempat sesuka hati. Wajah pucatnya berseri, dan untuk pertama kalinya, ia tampak seperti gadis biasa yang sedang menikmati hari.

Kasir di gerai paling ujung, seorang perempuan muda berkuncir dua, menatap Jaru dengan mata bulat dan tangan gemetar. Ia memindai satu per satu barang dengan lambat, seolah tak berani menyentuh sesuatu yang mungkin akan bergerak sendiri.

“Semuanya seratus dua puluh lima ribu, Mas,” katanya dengan suara nyaris berbisik.

“Terima kasih.” Jaru menyerahkan uang, menerima kantong belanjaan, dan mengangguk sopan. Sebelum pergi, ia menoleh dan tersenyum tipis. “Maaf kalau ada kegaduhan.”

Kasir itu hanya bisa mengangguk kaku, wajahnya sepucat kertas.

Begitu mereka melangkah keluar dan pintu otomatis tertutup di belakang, Jaru tak lagi bisa menahan diri. Ia tertawa terbahak-bahak di trotoar, membungkuk sambil memegangi perutnya, air mata mengalir di sudut matanya. Karla ikut tertawa, tawanya melengking dan jernih, dan untuk sesaat, dua makhluk yang sama-sama kesepian itu berdiri di pinggir jalan raya, tertawa seperti anak-anak yang baru saja berhasil membuat kekacauan.

Itu adalah tawa paling lepas yang pernah Jaru rasakan sejak ibunya wafat.


Sore harinya, mereka berjalan menuju sebuah taman bermain kecil di ujung distrik.

Taman itu sederhana. Ada seluncuran berkarat, ayunan yang rantainya berderit, jungkat-jungkit berwarna kusam, dan beberapa bangku kayu di bawah pohon flamboyan yang bunganya berguguran menutupi tanah dengan warna merah menyala. Anak-anak berlarian di sekitarnya, mengejar layang-layang dan bola plastik, sementara para ibu duduk mengobrol di bangku sambil mengawasi.

Jaru duduk di salah satu bangku, meletakkan kantong belanjaan di sampingnya, dan menatap langit sore yang perlahan berubah menjadi jingga keemasan. Angin bertiup lembut, membawa aroma tanah dan bunga.

“Indah, ya,” gumam Karla, duduk di sebelahnya. Ia menyandarkan kepala di bahu Jaru, dan rambut hitamnya tergerai menutupi lengan pemuda itu. “Sudah lama aku tidak melihat langit seperti ini.”

“Dulu kau tinggal di mana?”

“Di sebuah aula tua yang gelap.” Suara Karla merendah. “Aku sendirian di sana. Sangat lama. Tak ada yang datang selain orang-orang yang ingin kabur dariku.”

Jaru tidak menjawab. Ia hanya mengangkat tangannya, ragu sejenak, lalu menggenggam tangan dingin Karla dan menautkan jari-jari mereka. Karla terkejut, tetapi ia tidak menarik diri. Ia membiarkan telapak tangan hangat itu menyelimuti tangannya yang beku, dan untuk pertama kalinya dalam waktu yang begitu lama, ia merasa hangat.

Beberapa saat kemudian, Jaru bangkit dan berdiri di depan bangku. Ia membentangkan kedua lengannya, dan Karla, tanpa perlu diminta, berdiri dan melangkah masuk ke dalam pelukannya. Ia mendekap tubuh dingin itu erat-erat, membenamkan wajahnya di puncak kepalanya, sementara Karla menutup mata dan melingkarkan lengannya di pinggang pemuda itu.

Di mata orang-orang di taman, pemandangan itu sungguh ganjil. Mereka hanya melihat seorang pemuda kurus berambut gondrong yang berdiri sendirian di bawah pohon flamboyan, memeluk udara kosong dengan mata terpejam dan wajah yang tampak begitu damai.

Seorang ibu menarik anaknya menjauh. “Jangan lihat, Nak. Itu orang aneh.”

“Kenapa dia peluk angin, Bu?”

“Sudah, jangan tanya.”

Bisik-bisik menyebar dari bangku ke bangku, dari satu kelompok ibu ke kelompok lain. Beberapa orang menggelengkan kepala, beberapa menunjuk dari kejauhan sambil tertawa mencibir. Seorang anak laki-laki melemparkan kerikil kecil ke arah Jaru, tetapi kerikil itu berbelok di udara dan jatuh ke tanah, entah kenapa.

Jaru mendengar semua itu. Ia bahkan melihat tatapan-tatapan sinis yang menusuk dari kejauhan. Tetapi untuk pertama kalinya dalam hidupnya, hal-hal itu tidak lagi terasa menyakitkan. Ia punya sesuatu yang tidak dimiliki orang-orang itu. Ia punya seseorang yang menerimanya apa adanya.

“Biar saja mereka,” bisiknya ke rambut Karla.

“Aku tidak peduli,” sahut Karla, pelan. “Selama kau di sini.”

Dan hari-hari pun berlalu dengan pola yang sama.

Jaru menjalani rutinitasnya: berbelanja bersama Karla, duduk di taman, berjalan-jalan di sepanjang sungai kecil di belakang distrik, menonton bintang dari atap kost yang kosong. Karla membantunya membereskan kamar, mengangkat barang-barang berat, menyusun buku-bukunya yang berserakan, dan menyalakan lampu ketika ia terlalu lelah untuk bangkit. Sebaliknya, Jaru menceritakan segalanya pada Karla, tentang ibunya, tentang mimpi-mimpinya yang telah lama ia kubur, tentang lukisan-lukisan yang dulu ia gambar saat remaja. Karla mendengarkan tanpa pernah menyela, seolah setiap kata adalah harta karun.

Kost itu pun perlahan-lahan menjadi milik mereka berdua. Beberapa penghuni akhirnya kembali untuk mengambil barang, tetapi tak ada yang berani menginap lagi. Pemilik kost, seorang bapak tua yang baik hati, sempat bertanya pada Jaru mengapa ia tidak ikut pergi. Jaru hanya menjawab bahwa ia sudah terbiasa, dan si pemilik akhirnya membiarkannya membayar sewa separuh harga.

Tak seorang pun menyadari betapa bahagia pemuda itu sekarang.

Dan tak seorang pun menyadari bahwa energi yang menguar dari kamar nomor tiga, dari cinta dua makhluk yang saling membutuhkan itu, sedang menarik sesuatu yang lain dari kegelapan.


Malam demi malam, ketika Jaru sudah terlelap dan Karla duduk menjaganya, sesosok tinggi berjubah putih berdiri di halaman kost, di bawah pohon mangga, menatap jendela kamar nomor tiga.

Anggaro tidak pernah mengganggu mereka. Ia hanya mengawasi dari kejauhan, wajah pucatnya tak berekspresi, rambut hitam panjangnya terurai menyentuh tanah seperti bayangan malam yang menolak pergi.

Namun pada suatu malam yang sunyi, ketika bulan purnama menggantung rendah di atas atap kost, seringai perlahan-lahan merekah di wajahnya. Matanya, yang sejak awal sudah hitam sepenuhnya, seakan menjadi semakin dalam, menyerap seluruh cahaya bulan. Taring-taring panjangnya menyembul dari balik bibir, berkilau seperti tulang.

“Berhasil,” bisiknya, dan suaranya nyaris menyerupai desis angin di antara dedaunan. “Kau benar-benar berhasil kuhasut, Karla.”

Ia menoleh ke arah barat laut, ke arah bangunan tua peninggalan Krod di kejauhan, dan seringainya melebar.

Karla tak pernah tahu. Ia tak pernah bertanya mengapa Anggaro, makhluk yang dulu mengubahnya, tiba-tiba begitu peduli. Ia tak pernah bertanya mengapa Anggaro menunjuk kota Krod dan pemuda bernama Jaru. Ia tidak menyadari bahwa Anggaro bukan sekadar Unseen biasa, melainkan pemimpin para Unseen tingkat tinggi yang telah lama menguasai Krod jauh sebelum ia datang, penguasa segel yang membuat pasukan Krura tak mampu menembus batas kabupaten.

Dan yang lebih penting lagi, Karla tak tahu bahwa Anggaro telah mengikat perjanjian dengan seorang laki-laki bernama Niniv.

“Segalanya berjalan sesuai rencana,” ujar Anggaro pelan, kepada malam. “Kekuatan cinta mereka akan menambah kekuatan segel. Semakin banyak Unseen yang berkumpul, semakin kuat Krod. Dan ketika waktunya tiba...”

Ia tidak menyelesaikan kalimatnya. Ia hanya tersenyum, lalu perlahan-lahan larut ke dalam bayangan pohon mangga, meninggalkan halaman kost yang sunyi dan jendela kecil yang masih memancarkan cahaya kuning lembut, tempat seorang pemuda kurus tidur nyenyak dalam pelukan makhluk yang tak pernah ia curigai.


Jauh di barat, seribu kilometer dari Tauph, senja turun perlahan di atas sebuah desa terpencil bernama Kras.

Desa itu terletak di lembah sempit yang diapit dua deretan bukit berbatu. Rumah-rumahnya sedikit, terbuat dari kayu dan anyaman bambu beratap ijuk, tersebar di sepanjang jalan tanah yang berliku menuju hutan. Kabut tipis menggantung rendah di sela-sela pepohonan, dan dari kejauhan terdengar gemericik air dari sungai kecil yang mengalir jernih di bawah jembatan bambu.

Rav memasuki desa itu setelah perjalanan hampir dua minggu penuh. Kuda hitamnya sudah kurus dan berdebu, dan wajahnya sendiri lusuh, janggut tipis mulai tumbuh di rahangnya, mata merah karena kurang tidur. Namun ada cahaya kecil di balik kelelahan itu, cahaya seseorang yang akhirnya hampir tiba di tujuan.

Ia bertanya kepada seorang petani yang sedang memanggul cangkul. Petani itu menunjuk ke arah bukit di ujung desa, di mana sebuah rumah kayu sederhana berdiri sendirian di bawah pohon-pohon tua.

“Rumah Kakek Karuna,” katanya. “Beliau jarang menerima tamu, tetapi kalau Anda dari ibukota, mungkin akan diterima.”

Rav mengucapkan terima kasih dan menuntun kudanya menaiki jalan setapak yang menanjak. Semakin tinggi ia mendaki, semakin dingin udaranya, dan semakin harum aroma dupa yang samar-samar tercium. Di kejauhan, seorang laki-laki tua sedang duduk di teras rumahnya, memangku sebilah pedang tua dan mengelapnya dengan kain lusuh.

Ia berjenggot putih panjang, berbadan tegap meski dimakan usia, dan mengenakan pakaian sederhana dari kain kasar berwarna cokelat. Kedua matanya, meski sudah dikelilingi keriput, masih setajam elang. Ia tidak menoleh ketika Rav mendekat, tetapi jemarinya berhenti menggosok bilah pedang.

“Kau datang lebih lambat dari perkiraanku,” ucapnya tanpa mengangkat wajah.

Rav menghentikan langkahnya, lalu berlutut dengan satu kaki di tanah. “Guru Karuna. Terima kasih sudah menerima saya.”

“Berdiri.” Karuna akhirnya mengangkat pandangan, dan senyum tipis menghiasi wajah tuanya. “Aku belum sepikun itu sampai lupa siapa muridku yang paling keras kepala. Sudah berapa tahun, Rav? Sepuluh? Dua belas?”

“Sebelas tahun, Guru.”

“Sebelas tahun.” Karuna meletakkan pedangnya, lalu menepuk-nepuk bangku kayu di sampingnya. “Duduklah. Kau pasti lapar. Dan tampaknya kau membawa kabar yang tidak menyenangkan.”

Rav duduk. Ia menyandarkan punggungnya yang pegal, dan seketika seluruh kelelahan perjalanan menghantamnya sekaligus. Namun ia menahan diri, lalu menceritakan segalanya dengan runtut: perintah Krura, penyerbuan ke Greg, Dayu si raksasa, kematian Harya, dan yang terpenting, Krod yang tak bisa ditembus, dengan udara mencekik yang melumpuhkan pasukan mana pun yang mencoba masuk.

Karuna mendengarkan tanpa menyela, jemarinya mengelus jenggot putih. Ketika Rav menyebut Harya, wajah tuanya berubah sedikit muram, dan ia mengangguk pelan. Ketika Rav menyebut Krod, sorot matanya mendadak tajam.

“Krod,” gumamnya. “Jadi akhirnya sampai juga ke sana.”

“Guru tahu sesuatu?”

“Aku tahu Krod pernah menjadi kerajaan yang megah dan mengerikan sekaligus.” Karuna memandang jauh ke arah lembah yang mulai gelap. “Dan aku tahu bahwa para leluhur mereka membuat perjanjian dengan hal-hal yang seharusnya tidak pernah disentuh manusia. Segel yang menghalangi pasukan Krura bukan sembarang segel. Itu dibangun oleh Unseen tingkat tinggi dan dijaga oleh keturunan raja-raja itu sendiri.”

“Air suci,” ucap Rav. “Guru pernah menyebutnya dulu.”

“Ya.” Karuna menatapnya lekat-lekat. “Dan kau ingin aku mengajarkannya.”

“Saya ingin sekali, Guru. Jika Krod bisa dibebaskan, ratusan nyawa lain tidak akan hilang seperti Harya.”

Karuna terdiam cukup lama. Angin senja bertiup pelan, menerbangkan dedaunan kering di teras. Kemudian ia mengangguk, sekali, dan bangkit berdiri dengan gerakan yang mengejutkan gesit untuk usianya.

“Kalau begitu, ayo kita mulai. Waktu kita tidak banyak.”


Pelatihan itu dimulai keesokan paginya, sebelum fajar.

Karuna membangunkan Rav dengan memercikkan air dingin ke wajahnya, lalu menyuruhnya berdiri di halaman belakang rumah, sebuah lahan luas berumput yang dikelilingi pohon-pohon tua. Kabut masih menggantung, dan udara begitu dingin hingga napas mereka mengepul putih.

“Hari pertama,” kata Karuna sambil mengangkat pedang kayu, “kau akan belajar melupakan semua yang kau kira sudah kau ketahui.”

“Melupakan?”

“Pedangmu kuat, Rav. Kau cepat, kau lincah, dan kau berani. Tetapi kau bertarung dengan kemarahan. Kemarahan membuat gerakanmu berat, dan Unseen tingkat tinggi menyukai kemarahan. Mereka memakannya.”

Ia menyerang tanpa aba-aba. Pedang kayunya menghantam bahu Rav dengan bunyi keras, membuat pemuda itu terhuyung. Rav bangkit dan menyerang balik, tetapi Karuna menepis semua serangannya dengan mudah, membalasnya dengan pukulan-pukulan ringan yang tepat sasaran di pinggang, paha, dan punggung.

“Lagi!” bentak Karuna.

Rav menyerang lagi. Dan lagi. Dan lagi. Setiap kali ia gagal, Karuna menghantamnya, memerintahkannya bangkit, dan memaksanya mengulang.

Sepanjang hari itu, tubuh Rav dipenuhi memar. Namun ia tidak mengeluh sekali pun.

Hari-hari berikutnya, pelatihan berubah. Karuna membawanya ke sungai di kaki bukit dan menyuruhnya berdiri di tengah arus deras selama berjam-jam sambil mengayunkan pedang, agar otot-ototnya belajar mengalir bersama tekanan, bukan melawannya. Ia memaksanya berlatih dengan mata tertutup, mengandalkan hanya pendengaran dan rasa. Ia membuatnya berlari mendaki bukit berbatu dengan batu besar di punggung, lalu menuruni lereng dengan mata dibalut kain.

Dan di malam hari, setelah tubuhnya remuk dan perutnya kenyang oleh bubur sederhana yang dimasak Karuna, tibalah bagian yang paling penting: pelajaran tentang ayat suci.

Karuna membawanya ke sebuah mata air kecil yang tersembunyi di balik semak belukar di belakang bukit. Air di sana jernih sekali, mengalir dari celah batu dan berkumpul di dalam kolam mungil yang dikelilingi lumut hijau lembut. Cahaya bulan memantul di permukaannya seperti perak cair.

“Ini adalah mata air pertama,” jelas Karuna sambil berlutut di tepi kolam. “Bukan sembarang air. Air ini mengalir dari inti bumi, tidak pernah tercemar oleh tangan manusia atau kaki makhluk mana pun. Hanya dari sumber seperti inilah air suci bisa dibuat.”

Ia mengambil segenggam air dengan telapak tangannya, mengangkatnya ke atas, dan memejamkan mata. Bibirnya bergerak perlahan, melafalkan rangkaian ayat yang panjang dengan nada rendah dan mengalun. Kata-katanya bukan bahasa yang Rav kenal, tetapi getarannya terasa menembus dada dan tulang.

Ketika Karuna meniupkan napas ke telapak tangannya, air di dalamnya berpendar samar, memancarkan cahaya putih kebiruan yang lembut lalu meredup.

“Ayat ini memiliki tiga bagian,” katanya kemudian. “Bagian pertama untuk menenangkan hati sang pembaca. Bagian kedua untuk memanggil kekuatan air. Bagian ketiga, yang paling sulit, untuk mengikat kekuatan itu ke dalam bilah pedang.”

Ia menatap Rav dengan serius. “Tetapi ingat, ayat ini hanya bekerja bila pembacanya benar-benar bersih hati. Bila di dalam dirimu masih ada dendam yang membara, ayat ini akan berbalik dan membakarmu.”

“Dendam,” gumam Rav. Ia terdiam, memikirkan keluarganya, Harya, dan seluruh alasan ia berdiri di sini.

“Bukan berarti kau harus melupakan alasanmu bertarung,” kata Karuna lembut, seolah bisa membaca isi pikirannya. “Hanya saja kau harus menjadikannya tekad, bukan kebencian. Kebencian mengaburkan pandangan. Tekad menajamkannya.”

Rav menarik napas dalam-dalam. Ia berlutut di tepi kolam, mengulurkan tangan, dan mulai menirukan lafal yang diajarkan gurunya. Kata-kata itu terasa asing dan berat di lidahnya, dan pada percobaan pertama, air di tangannya bahkan tidak bergerak. Pada percobaan kedua, air itu hanya bergetar sedikit. Pada percobaan ketiga, keempat, kelima, ia hanya mendapat kegagalan demi kegagalan.

“Lagi,” kata Karuna. “Lagi.”

Malam demi malam, minggu demi minggu, Rav berlatih dengan tekun. Siang hari ia mengasah ilmu pedang tingkat tinggi, malam hari ia mengasah ayat suci. Tubuhnya kian kokoh dan geraknya kian mengalir. Kekuatannya bukan lagi sekadar tenaga otot, melainkan sesuatu yang lebih dalam, lebih tenang, dan lebih terkendali.

Pada akhir minggu ketiga, ketika ia mengucapkan bagian pertama ayat itu dengan hati yang benar-benar lapang, air di telapak tangannya berpendar untuk pertama kalinya. Karuna, yang menyaksikan dari belakang, tersenyum puas.

Pada minggu keenam, ia berhasil melafalkan bagian kedua dan ketiga sekaligus, dan ketika ia meniupkan napasnya pada air yang dioleskan ke bilah pedang hitamnya, seluruh bilah itu menyala redup dalam cahaya biru pucat yang berdenyut seperti napas.

“Cukup,” ujar Karuna pelan, matanya berkaca-kaca. “Kau sudah sampai.”

Dan ketika pekan kedelapan hampir berakhir, ia memanggil Rav ke teras rumah pada suatu petang yang cerah.


“Kau akan pergi besok,” kata Karuna. Ia duduk di bangku kayu yang sama, memandangi matahari yang perlahan tenggelam di balik bukit. Di pangkuannya terbaring sebuah botol kecil dari kaca tebal, dan di dalamnya, air jernih dari mata air pertama berputar pelan seolah hidup.

Rav duduk di sampingnya, tubuhnya yang sudah pulih terlihat jauh lebih tegap dan kokoh dari dua bulan lalu. Otot-ototnya menguat, dan sorot matanya lebih tenang dan dalam. “Ya, Guru.”

“Bawalah ini.” Karuna menyerahkan botol itu. “Persediaan air dari mata air pertama. Cukup untuk beberapa kali pemakaian. Bila habis, kau bisa membuatnya kembali dengan ayat yang telah kuajarkan, asal kau menemukan sumber air murni.”

Rav menerima botol itu dengan kedua tangan, seperti menerima sesuatu yang sakral. Ia menatap air di dalamnya, lalu menatap gurunya. Tenggorokannya tercekat.

“Saya tidak tahu bagaimana harus membalas budi Guru.”

“Balaslah dengan kembali hidup-hidup.” Karuna menepuk bahunya. “Dan satu hal lagi, Rav. Krod bukan hanya soal Unseen. Ada manusia-manusia di balik segel itu. Manusia yang memilih berdampingan dengan kegelapan. Kau harus berhati-hati membedakan mana yang harus ditebas dan mana yang harus diselamatkan.”

“Saya tidak akan melukai manusia.”

“Bagus. Tetapi bersiaplah, karena orang-orang itu tidak selalu tampak seperti yang kau kira.” Karuna tersenyum getir. “Aku pernah kehilangan banyak orang karena keliru menilai.”

Rav mengangguk pelan. Ia tidak sepenuhnya memahami maksud kata-kata itu, tetapi ia menyimpannya baik-baik di dalam hati.

Fajar berikutnya, ketika kabut masih tebal dan ayam jantan baru berkokok, Rav sudah berdiri di halaman dengan kuda hitamnya. Pedang hitam besar tersandang di punggung, botol air suci terselip di sabuk, masker gas anti Unseen terlipat di dalam tas pelana. Ia membungkuk dalam-dalam di hadapan Karuna, dahinya nyaris menyentuh tanah.

“Terima kasih atas segalanya, Guru.”

“Pergilah, Nak.” Karuna berdiri di teras, jenggot putihnya berkibar ditiup angin pagi. “Dan jangan biarkan kebencianmu menuntunmu.”

Rav menaiki pelana, menggenggam tali kekang, dan menoleh sekali lagi. Lalu ia menggebrak sisi kuda dengan tumitnya, dan kuda hitam itu meringkik keras, berderap menuruni jalan setapak, meninggalkan desa Kras yang perlahan lenyap di balik kabut.

Di teras rumahnya, Karuna berdiri lama memandangi jalan yang kini kosong. Ada sesuatu yang berat di wajahnya, seolah ia menyembunyikan lebih banyak hal daripada yang ia katakan. Ia menghela napas panjang, lalu bergumam pada dirinya sendiri, nyaris tak terdengar:

“Semoga kau tidak menemukan kebenarannya terlalu cepat, Rav.”

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Komentarnya bisa dibaca siapa saja, tapi menulis butuh akun.

Masuk