Bab 3 Bangunan Tua Peninggalan Greg

1 dibaca

A

Di bagian paling tersembunyi kabupaten Krod, jauh dari jalan raya dan pasar yang ramai, berdiri sebuah bangunan tua yang oleh penduduk setempat dianggap angker dan tak layak didekati.

Bangunan itu adalah sisa-sisa kejayaan masa lalu. Dindingnya terbuat dari batu hitam berlumut, setebal dua lengan orang dewasa, dan di beberapa bagian masih terlihat ukiran-ukiran kuno berbentuk sulur, burung, dan wajah-wajah raja yang matanya telah terkikis hujan berabad-abad. Atapnya sebagian sudah runtuh, dan dari celah-celahnya, akar pohon beringin menjulur turun seperti jari-jari raksasa yang mencari sesuatu di dalam gelap. Di halaman depannya, rumput liar tumbuh setinggi pinggang, dan sebuah kolam batu berbentuk bulat, yang dulu digunakan untuk menampung air upacara, kini hanya berisi genangan hijau pekat yang berbau lumut.

Namun bagi mereka yang tahu, tempat ini bukanlah reruntuhan. Ini adalah jantung dari sesuatu yang belum sepenuhnya mati.

Di ruang tengahnya, di bawah sisa kubah yang bolong, belasan lilin menyala di atas lantai batu, membentuk lingkaran besar. Asap dupa mengepul dari sebuah tungku perunggu, membawa aroma kemenyan dan bunga tujuh rupa yang menusuk hidung. Di tengah lingkaran itu, di atas sebuah tikar anyaman yang sudah pudar, duduk bersila seorang laki-laki paruh baya berwajah teduh.

Dialah Niniv.

Usianya mungkin sekitar lima puluh tahun, berbadan sedang, dengan rambut yang mulai memutih di bagian pelipis dan janggut tipis yang dipangkas rapi. Ia mengenakan kain batik cokelat tua dan ikat kepala hitam, dan di pangkuannya terbaring sebilah keris berlekuk sembilan yang sarungnya berukir halus. Pada pandangan pertama, ia tampak seperti seorang bijak yang penuh welas asih, seseorang yang akan dimintai nasihat oleh semua orang di desa.

Tetapi bila seseorang menatap matanya lama-lama, ia akan menemukan sesuatu yang dingin dan dalam di sana, sesuatu yang telah lama menunggu.

“Kalian sudah datang,” ucap Niniv tanpa membuka mata.

Dari pintu bangunan yang berderit, lima orang melangkah masuk. Mereka mengenakan pakaian gelap yang kotor dan lusuh, dan di punggung masing-masing tersandang tas besar berat yang berdenting saat mereka berjalan, seperti isinya adalah ratusan benda kaca yang saling beradu. Wajah-wajah mereka pucat, kantung matanya hitam, tetapi sorot pandangan mereka tajam dan lapar.

Yang paling depan adalah seorang pemuda berusia sekitar dua puluh lima tahun, berbadan tegap, berambut cepak, dengan bekas cakaran panjang di sepanjang lehernya. Ia berjalan dengan langkah percaya diri seseorang yang tidak takut pada apa pun.

“Ben,” sapa Niniv akhirnya, membuka matanya perlahan-lahan. “Tepat waktu seperti biasa.”

“Kami tidak pernah terlambat kalau menyangkut Unseen, Tetua,” sahut Ben sambil menyeringai. Ia menurunkan tas besarnya ke lantai dengan bunyi gedebuk. Empat orang di belakangnya mengikuti, dan mereka duduk melingkar di hadapan Niniv tanpa dipersilakan.

Kelima orang itu dikenal dengan sebutan yang membuat para devil slayer meludah setiap kali mendengarnya: Unseen Kolektor.


Kisah mereka bermula dari kepedihan yang sama.

Ben, Saki, Joy, Mar, dan Khot tumbuh di tempat yang berbeda-beda, tetapi masing-masing mengalami hal yang serupa sejak kecil. Mereka adalah anak-anak yang sejak dini diganggu Unseen. Ada yang ditarik kakinya di malam hari, ada yang mendengar bisikan di bawah ranjang, ada yang terbangun di tengah malam dengan tubuh kaku dan sesosok bayangan duduk di atas dadanya. Orang-orang dewasa di sekitar mereka menganggap itu mimpi buruk, atau lebih buruk lagi, kegilaan.

Namun ada sesuatu yang berbeda pada mereka. Alih-alih hancur, mereka tumbuh menjadi kebal. Semakin sering diganggu, semakin tebal kulit batin mereka. Energi negatif yang membuat orang biasa muntah dan pingsan hanya terasa seperti angin dingin bagi kelima orang itu. Dan ketika mereka dewasa, ketakutan berubah menjadi rasa penasaran, lalu rasa penasaran berubah menjadi obsesi.

Mereka mulai mengumpulkan Unseen.

Cara mereka sederhana namun mengerikan. Dengan botol-botol plastik khusus yang sudah dirajah dan diisi ramuan tertentu, mereka menjebak makhluk-makhluk halus itu, menutup tutupnya rapat-rapat, lalu membawanya pulang. Di rumah masing-masing, botol-botol itu disimpan seperti koleksi kupu-kupu: ada yang dipajang di rak kayu, ada yang dikubur di halaman belakang, ada yang digantung di langit-langit kamar. Mereka memberi makan Unseen itu, berbicara dengannya, dan menganggapnya sebagai peliharaan.

Para devil slayer membenci mereka. Bagi pasukan pembunuh iblis, berkelompok dengan Unseen sama saja dengan berkhianat pada manusia. Tidak ada bedanya antara para Kolektor dan orang-orang keturunan Krod yang diam-diam menyembah makhluk-makhluk itu. Keduanya dianggap noda, dan keduanya akan diburu apabila ketahuan.

“Bagaimana hasil kalian bulan ini?” tanya Niniv sambil membelai sarung kerisnya.

Ben membuka tasnya. Dari dalamnya ia mengeluarkan sebuah botol plastik bening seukuran kepalan tangan, tutupnya dilingkari benang merah berjimat. Di dalamnya, sesuatu bergerak-gerak, bayangan kelabu sebesar tikus, berputar-putar dengan panik seperti asap yang terperangkap.

“Tiga hari lalu, di pemakaman tua di perbatasan Shena,” kata Ben bangga. “Unseen kecil, tapi lincah. Sekarang sudah jinak.”

“Aku punya yang lebih besar,” sela Saki, seorang perempuan bertubuh kurus berambut ikal, seraya mengangkat sebuah botol berisi kabut hitam yang menggeliat marah. “Dari sumur kering di desa Vorta. Ia berusaha keluar tiga kali, tapi jimatku terlalu kuat.”

Joy, pemuda gemuk berambut gondrong, tertawa serak. Mar, seorang pemuda pendiam berbadan jangkung, hanya mengangguk sambil menunjukkan dua botol miliknya. Dan Khot, yang paling tua di antara mereka, seorang laki-laki botak bertubuh pendek dengan tato di sekujur lengannya, mengusap-usap tas besarnya dengan penuh kasih sayang seolah isinya adalah bayi.

Niniv tersenyum. Senyum yang tidak sampai ke matanya.

“Bagus sekali. Tetapi botol-botol kalian itu hanyalah makanan pembuka.” Ia mencondongkan tubuhnya ke depan, dan cahaya lilin memantul di wajahnya, membuatnya terlihat seperti topeng. “Yang kuinginkan dari kalian adalah sesuatu yang jauh lebih besar.”

“Krod,” ucap Ben, dan matanya berbinar.

“Ya, Krod.” Niniv menyandarkan punggungnya kembali. “Kabupaten ini sudah lama menjadi tempat berkumpulnya Unseen dari seluruh penjuru. Kalian tahu sebabnya, bukan?”

“Ritual cuci pusaka,” jawab Saki.

“Betul. Setiap tahun, aku dan para trah keturunan Krod menggelar upacara itu. Kami membersihkan pusaka-pusaka leluhur dengan air kembang dan mantra kuno. Bagi orang awam, itu hanyalah tradisi. Tetapi bagi makhluk-makhluk yang tak terlihat, itu adalah undangan.” Niniv mengangkat keris di pangkuannya, memandangi kilau logamnya. “Semakin sering kami memanggil, semakin banyak yang datang. Dan mereka yang datang tidak sekadar bertamu. Mereka menetap, memasang segel, dan menjadikan Krod rumah mereka.”

“Termasuk yang tingkat tinggi?” tanya Khot.

Niniv tidak menjawab langsung. Ia hanya menatap lilin di hadapannya, dan untuk sesaat, nyala lilin itu bergetar seakan ada sesuatu yang berbisik di dekatnya.

“Termasuk yang tingkat tinggi,” katanya akhirnya. “Tetapi jangan pernah menyentuh mereka. Ada yang bukan untuk dikoleksi. Ada yang sudah memiliki perjanjian.”

Ben mengerutkan kening. “Perjanjian? Dengan siapa?”

“Itu bukan urusanmu.” Nada suara Niniv mendadak berubah, tajam dan dingin seperti pisau yang dicabut dari sarungnya. Ia lalu melunak lagi dengan cepat, seakan tidak terjadi apa-apa. “Yang perlu kalian tahu hanyalah ini: aku menyediakan tempat dan informasi. Kalian menyediakan tenaga dan botol-botol itu. Buruan kalian adalah para Unseen lemah di jalan-jalan dan pekarangan warga, yang mengganggu penduduk. Dengan begitu, aku memperoleh nama baik, dan kalian memperoleh koleksi.”

“Dan para devil slayer?” tanya Joy.

“Mereka tidak bisa masuk ke Krod. Segel kami terlalu kuat.” Niniv tersenyum tipis. “Itulah sebabnya kita aman.”

Ben mengangguk, tetapi sudut matanya memperhatikan gerak-gerik Niniv dengan sedikit rasa curiga yang ia simpan dalam-dalam. Ia bukan orang bodoh. Ia tahu ada banyak hal yang belum dikatakan tetua itu. Namun ia juga tahu, kesepakatan ini terlalu menguntungkan untuk dilepaskan.

“Baiklah,” katanya sambil bangkit berdiri, menepuk-nepuk debu di celananya. “Malam ini kami berburu.”


Di sebuah rumah kecil di pinggiran distrik selatan, seorang perempuan tua duduk di tepi ranjang sambil memegangi dadanya.

Ibu Ben, Bu Mirna, adalah perempuan berusia enam puluhan yang sudah kehilangan suaminya sejak Ben kecil. Ia membesarkan anak semata wayangnya seorang diri, bekerja sebagai penjahit sampai punggungnya bungkuk. Ia sayang pada Ben dengan seluruh hatinya, dan karena itulah, sejak beberapa tahun terakhir, ia selalu merasa cemas.

Setiap kali ia berdiri di depan kamar Ben, ia merasakan sesuatu yang tidak beres.

Jendela kamar itu selalu terbuka lebar. Tirainya tersingkap, dan angin sore berhembus bebas keluar masuk. Namun anehnya, udara di dalam ruangan itu terasa pengap dan sesak, seperti ruangan yang sudah berbulan-bulan tertutup rapat. Napas Bu Mirna selalu berat saat berada di sana. Dadanya terasa ditindih, seolah oksigen dihisap habis oleh sesuatu yang tak terlihat.

Sore itu, ia sekali lagi memberanikan diri melangkah masuk ke kamar anaknya, hendak membersihkan debu dan menyapu lantai. Namun begitu kakinya melewati ambang pintu, ia terbatuk-batuk hebat. Lehernya seperti dicekik. Pandangannya berkunang-kunang.

“Astaga,” desisnya sambil bertumpu pada kusen pintu. “Kenapa kamarmu selalu begini, Nak?”

Ia memandang berkeliling. Di rak-rak kayu di sepanjang dinding, tersusun rapi botol-botol plastik bening berukuran beragam. Bu Mirna selalu mengira itu koleksi Ben yang aneh, mungkin hobi barunya. Ia tidak pernah menyentuhnya karena Ben pernah membentaknya dengan keras saat ia mencoba memindahkan salah satunya.

Kali ini, di sela batuknya, Bu Mirna melihat sesuatu yang membuat darahnya berdesir. Di dalam salah satu botol, di sudut rak yang paling gelap, sepasang mata kecil berwarna kuning balas menatapnya. Sepasang mata itu berkedip perlahan.

Ia mundur tergesa-gesa, menabrak lemari, lalu berlari keluar dan menutup pintu rapat-rapat. Dadanya naik turun. Tangannya gemetar.

“Ya Tuhan,” bisiknya. “Ben, apa yang sedang kau lakukan?”

Tetapi Ben tidak ada di rumah untuk menjawab.


Malam itu, bulan bersembunyi di balik awan tebal, dan Krod tenggelam dalam kegelapan yang pekat.

Ben dan keempat rekannya menyelinap melewati gang-gang sempit kota, bergerak cepat dan nyaris tanpa suara. Tas-tas besar mereka berdenting pelan setiap kali mereka melompati pagar atau menuruni tangga. Mereka tidak menggunakan senter. Mereka tidak membutuhkannya. Bertahun-tahun bergaul dengan kegelapan telah membuat mata mereka terbiasa.

“Rasakan ini,” bisik Ben sambil berhenti di sudut sebuah bangunan tua. Ia meletakkan telapak tangannya di dinding dan memejamkan mata. “Udara di kota ini penuh sekali. Seperti pasar.”

“Aku merasakannya juga,” sahut Saki, menggosok-gosok lengannya. “Ada begitu banyak. Di atas atap, di bawah jembatan, di dalam gorong-gorong.”

“Kita bagi tugas,” kata Ben. “Saki dan Joy, sisir sisi timur, dekat pasar. Mar dan Khot, sisi barat, dekat sungai. Aku akan menyusuri jalan tengah.”

“Sendirian?” tanya Khot.

“Aku bisa mengurus diriku sendiri.” Ben menyeringai, memperlihatkan gigi-giginya yang putih. “Ingat, hindari yang besar dan tua. Kalau kalian merasa dada kalian mulai sakit atau kepala kalian berdenyut, mundur segera. Itu tanda kalian berhadapan dengan yang bukan tingkat rendah.”

Kelompok itu berpencar, dan Ben melanjutkan perjalanannya seorang diri, menyusuri jalan-jalan Krod yang lengang. Dari waktu ke waktu ia berhenti, mengeluarkan sebuah botol dari tasnya, membuka tutup dengan hati-hati, lalu mengangkat botol itu di depan sebuah sudut atau celah sempit.

Seringkali tak ada yang terjadi. Namun kadang, dari kegelapan, muncul bayangan kelabu yang tertarik oleh aroma ramuan di dalam botol. Bayangan itu mendekat, mengendus, lalu ditarik masuk seperti air yang tersedot ke dalam saluran. Ben dengan cekatan menutup tutupnya, melilitkan benang merah, dan memasukkan botol itu kembali ke dalam tas sambil terkekeh puas.

Satu. Dua. Tiga. Empat.

Dalam satu jam, tas Ben sudah berdenting penuh oleh botol-botol berisi makhluk yang meronta-ronta. Ia berjalan dengan langkah ringan, bersiul pelan, seolah sedang menikmati jalan-jalan malam.

Tetapi semakin dalam ia menyusuri Krod, semakin ia merasakan sesuatu yang berbeda. Udara menjadi lebih berat. Bulu kuduknya berdiri satu per satu. Ada sesuatu di depan sana, sesuatu yang jauh lebih besar dari yang ia temui sebelumnya, dan meski ia kebal terhadap energi Unseen, Ben merasakan getaran samar di ujung jari-jarinya.

Ia berhenti di persimpangan jalan, mengangkat wajahnya ke arah timur laut, ke arah distrik Gyari.

“Menarik,” gumamnya. “Ada sesuatu yang sedang datang.”

Ia tidak tahu bahwa yang sedang datang adalah dua makhluk yang baru saja menembus dimensi lewat sebuah portal, dan bahwa pertemuannya dengan mereka akan mengubah banyak hal.


Distrik Gyari adalah kawasan padat penduduk di sisi timur Krod. Rumah-rumah petak berdempetan, gang-gangnya sempit dan berkelok-kelok, kabel listrik menjuntai semrawut di antara tiang-tiang miring. Di salah satu sudutnya, terselip sebuah bangunan kost bertingkat dua yang catnya sudah mengelupas dan atapnya berlumut.

Kost itu terdiri dari sepuluh kamar: lima di lantai bawah dan lima di lantai atas, berjajar mengelilingi sebuah halaman kecil berlantai semen retak. Di tengah halaman tumbuh sebatang pohon mangga tua yang daunnya rimbun dan cabangnya menjulur hingga menutupi separuh langit. Lampu neon di teras berkedip-kedip lemah, menjatuhkan cahaya kuning pucat yang membuat bayangan-bayangan di sekitarnya bergoyang seperti hidup.

Para penghuni sudah tidur, atau setidaknya berusaha tidur. Ada mahasiswa yang menatap layar ponsel dengan mata setengah terpejam, ada pekerja pabrik yang mendengkur, ada pasangan muda yang berbisik-bisik di balik selimut. Dan di kamar nomor tiga, di lantai bawah, ada seorang pemuda yang tidak tidur sama sekali.

Kamar nomor tiga. Konon kabarnya, lima tahun lalu, di kamar itulah terjadi pembantaian. Seorang devil slayer, menurut cerita yang beredar dari mulut ke mulut, menghabisi sekawanan Unseen yang bersarang di sana dalam satu malam berdarah. Suara jeritan terdengar sampai ke gang sebelah, dan pada pagi harinya, dinding kamar itu ditemukan penuh noda hitam yang tak bisa dihapus meski dicat berkali-kali. Sejak saat itu, tidak ada penghuni yang bertahan lama di sana. Hanya satu yang berani menyewanya dengan harga murah.

Jaru.

Ia duduk bersandar di dinding, menatap kosong ke langit-langit yang penuh bercak lembap. Tubuhnya kurus, tulang selangkanya menonjol di balik kaus lusuh, dan rambutnya yang gondrong terurai sampai bahu, kusut dan tak terurus. Matanya besar, sayu, dan berkantung tebal, seperti mata seseorang yang sudah terlalu lama tidak benar-benar tidur. Di lantai di sampingnya berserakan bungkus mi instan, gelas plastik, dan beberapa lembar kertas yang penuh coretan.

Jaru adalah pemuda yang suka melamun. Kadang, ketika ia melamun terlalu dalam, ada sesuatu yang masuk ke tubuhnya. Ia akan kehilangan kesadaran beberapa menit, dan ketika kembali, orang-orang di sekitarnya sudah menjauh dengan wajah ketakutan. Mereka bilang ia kemasukan Unseen. Mereka bilang ia membawa sial. Perlahan-lahan, satu per satu teman dan kenalannya menghilang, hingga tinggal kesunyian yang menemaninya.

“Sepi sekali,” gumamnya pada dirinya sendiri. Ia sudah terbiasa berbicara sendirian. “Kadang aku bertanya-tanya, kalau aku menghilang besok, apakah ada yang sadar.”

Tak ada yang menjawab.

Tetapi di luar kamar, di halaman kost, sesuatu sedang terjadi.


Angin tiba-tiba berhenti. Kemudian, dari udara kosong di dinding sisi utara kost, sebuah garis vertikal berpendar ungu kehitaman muncul dan melebar, membentuk lubang bundar yang berputar pelan.

Dari dalam portal itu melangkah keluar dua sosok. Yang pertama, berjubah putih, bertubuh sangat tinggi dengan rambut hitam sepanjang lima meter yang menyeret di tanah. Yang kedua, seorang perempuan berdaster putih dengan rambut hitam panjang terurai, wajahnya pucat, matanya masih agak sembap namun berbinar dengan harap yang belum pernah ia rasakan selama bertahun-tahun.

“Ini tempatnya?” bisik Karla, memandang bangunan kost itu dengan mata membesar.

“Ya,” jawab Anggaro. Ia mengangkat dagunya ke arah kamar nomor tiga. “Yang itu. Ia belum tidur. Ia hampir tidak pernah tidur.”

Karla menelan ludah. Jantungnya, jika masih bisa disebut jantung, berdebar-debar. Ia menyentuh dadanya, lalu menatap tangannya sendiri. “Bagaimana kalau ia takut padaku?”

“Bukankah kau ingin dicintai?” Anggaro tersenyum, memperlihatkan barisan gigi runcingnya. “Maka kau harus terlebih dahulu membuatnya melihatmu. Dan untuk itu, kau harus menyingkirkan yang lain dulu.”

“Menyingkirkan?”

“Penghuni lain. Mereka hanya akan mengganggu.” Anggaro menyingkir ke samping, membiarkan Karla berdiri sendirian di tengah halaman. “Tunjukkan kekuatanmu.”

Karla ragu. Ia teringat kekalahannya di aula, teringat Lucy dan Ray yang lepas dari genggamannya. Tetapi ia juga teringat rasa sepinya, dan tekad yang telah ia bawa melintasi dimensi.

Ia menyeringai, dan seringai itu berubah menjadi sesuatu yang sinis dan mengerikan.

Angin bertiup kencang, datang entah dari mana, menerbangkan daun-daun mangga dan sampah plastik di halaman. Langit yang tadinya hanya berawan mendadak menggelap, dan petir menyambar, membelah malam menjadi dua. Dentumannya menggetarkan kaca-kaca jendela di seluruh kost.

Tubuh Karla mulai memanjang. Kakinya menekuk ke belakang, lehernya menjulur, lengannya melengkung seperti tali yang ditarik. Tinggi tubuhnya melampaui pohon mangga, melampaui atap kost, dan terus naik hingga wajah pucatnya berada di puncak bangunan, menatap ke bawah dengan mata hitam legam. Rambutnya berkibar seperti bendera hitam, dan dari mulutnya keluar desis panjang yang membuat gendang telinga sakit.

“Aaaaaaaaaaah!”

Jeritan pertama terdengar dari lantai atas. Sebuah pintu terbuka dengan keras, dan seorang mahasiswa berlari keluar dengan wajah pias, hanya mengenakan kaus dan celana pendek. Ia melihat sosok setinggi lima meter di halaman dan terhuyung mundur, kakinya lemas.

“Setan! Ada setan!”

Pintu-pintu lain membuka satu demi satu. Pekerja pabrik berlari sambil menenteng sepatu. Pasangan muda saling berpegangan, menangis ketakutan. Seorang ibu menggendong anaknya, menjerit, lalu menerobos keluar dari gerbang tanpa menoleh. Penghuni lantai atas berhamburan menuruni tangga besi yang berderak, sebagian terjatuh, bangkit, dan lari lagi. Suara jeritan, tangisan, dan sumpah serapah bercampur dalam kekacauan.

Dalam hitungan menit, kost yang tadinya penuh kini nyaris kosong. Pintu-pintu terbuka lebar, lampu-lampu menyala, barang-barang berserakan di halaman. Yang terdengar hanyalah bunyi angin dan sisa petir yang menggerutu di kejauhan.

Karla menyusut kembali ke ukuran normal. Ia berdiri di tengah halaman yang sepi, agak terengah, lalu menoleh kepada Anggaro.

“Selesai,” katanya.

“Belum.” Anggaro menunjuk ke kamar nomor tiga. “Lihat.”

Pintu kamar itu tetap tertutup. Lampunya masih menyala redup. Dari balik jendela kecil di sampingnya, siluet seorang pemuda tampak duduk diam, tidak bergerak, tidak lari, tidak menjerit.

Karla terpana. “Ia tidak kabur?”

“Ia tidak takut,” jawab Anggaro pelan. “Atau mungkin, ia sudah terlalu lelah untuk takut.”


Karla melangkah menyeberangi halaman. Kakinya tidak menyentuh tanah, melayang beberapa jari di atas semen. Ia berhenti di depan dinding kamar nomor tiga, menatapnya sejenak, lalu menembusnya begitu saja seperti melewati kabut tipis.

Di dalam, udara terasa dingin dan lembap. Bau mi instan bercampur bau debu memenuhi ruangan sempit itu. Jaru masih duduk bersandar di dinding, matanya menatap kosong ke arah pintu, seolah tidak menyadari apa pun. Karla berdiri di belakangnya, di sudut yang tak terjangkau cahaya lampu, dan untuk beberapa saat ia hanya memandangi punggung kurus itu.

Ada sesuatu yang membuat dadanya sakit. Punggung itu tampak begitu sepi. Begitu mirip dengan punggung yang selama ini ia lihat setiap kali menatap cermin.

Perlahan-lahan, ia mendekat dan melingkarkan kedua lengannya di leher Jaru, memeluknya dari belakang.

Jaru tersentak. Tubuhnya menegang, lalu ia melompat menjauh dengan refleks yang mengejutkan untuk seseorang yang tampak begitu lemah. Ia membalikkan badan dan dalam sekejap sebilah pisau dapur sudah teracung di tangannya, ujungnya bergetar menghadap Karla.

“Jangan mendekat!” suaranya serak. “Siapa kau? Keluar dari sini!”

Karla mengangkat kedua tangannya pelan-pelan, menunjukkan bahwa ia tidak membawa apa pun. Ia berdiri diam, menahan diri untuk tidak melangkah maju, meski jaraknya hanya dua langkah dari ujung pisau.

“Jangan takut,” ucapnya lembut. Suaranya lirih dan bergetar. “Aku tidak akan menyakitimu.”

“Kau yang di luar tadi.” Napas Jaru memburu. Matanya membelalak, memperhatikan wajah pucat dan rambut panjang perempuan itu. “Yang membuat semua orang lari. Kau Unseen.”

“Ya.” Karla tidak berusaha berbohong. “Aku Unseen. Namaku Karla.”

Jaru tidak menurunkan pisaunya. Tetapi ia juga tidak menusuk. Ia berdiri kaku, tenggorokannya naik turun, menunggu.

“Aku tidak datang untuk menakutimu,” lanjut Karla. Air mata mulai mengalir di pipinya, satu demi satu, jatuh ke lantai tanpa suara. “Aku datang karena aku tahu kau kesepian. Sama sepertiku.”

Ruangan itu hening. Di luar, angin bertiup pelan, menggoyang pohon mangga.

“Orang-orang di sekitarmu selalu pergi, bukan?” kata Karla. “Mereka menjauhimu. Mereka menganggapmu aneh. Mereka meninggalkanmu sendirian, berkali-kali, sampai kau berhenti berharap ada yang mau tinggal.”

Jaru mengerjap. Jemarinya yang menggenggam gagang pisau mulai mengendur.

“Aku tidak seperti mereka,” ucap Karla, dan suaranya pecah. “Aku menerimu. Aku mencintaimu, dengan tulus. Aku tidak peduli kau kurus, kau gondrong, kau suka melamun. Aku tahu kau laki-laki yang tulus mencintai. Aku tahu itu dari caramu menatap dinding kosong ini setiap malam, mencari seseorang yang tidak pernah datang.”

Pisau itu jatuh ke lantai dengan bunyi nyaring.

Jaru terdiam. Ia menunduk, memandangi tangannya yang kini kosong dan gemetar. Ingatan-ingatan berkelebat di benaknya: ibunya yang meninggal saat ia remaja, kawan-kawan sekolah yang perlahan menjauh, kekasih pertamanya yang pergi setelah menyaksikannya kesurupan, atasan yang memecatnya tanpa penjelasan, dan malam-malam panjang yang ia habiskan di kamar ini, menatap langit-langit, bertanya-tanya untuk apa ia hidup.

Belum pernah ada yang mengatakan kalimat itu kepadanya. Belum pernah ada yang mengatakan bahwa ia diterima.

Bibirnya bergetar. Matanya memanas. Tanpa sadar, ia melangkah maju, setengah membungkuk, dan meraih Karla ke dalam pelukannya.

Tubuh perempuan itu dingin sekali, sedingin es yang baru diambil dari peti. Tetapi Jaru tidak melepaskannya. Ia mendekap erat, membenamkan wajahnya di bahu Karla, dan tangisnya pecah, tangis yang sudah terlalu lama ia tahan.

“Aku butuh seseorang,” bisiknya di antara isak. “Aku benar-benar butuh seseorang yang tulus mencintaiku.”

Karla ikut menangis. Ia memeluk balik dengan seluruh kekuatannya, seolah takut jika ia melepaskan, pemuda itu akan menghilang seperti yang lain. “Aku di sini,” bisiknya. “Aku di sini, Jaru. Aku tidak akan pergi.”

Di luar kamar, di bawah bayangan pohon mangga, Anggaro berdiri diam mengawasi jendela kecil itu. Bibir pucatnya membentuk senyum yang tenang dan puas, dan matanya yang hitam legam berkilat sekilas seperti obsidian yang tersapu cahaya.

Rencananya berjalan sempurna.


Tak jauh dari kost itu, di ujung sebuah gang gelap, Ben berdiri diam di balik tiang listrik.

Ia telah melihat portal itu terbuka. Ia telah menyaksikan sosok perempuan itu memanjang, menakuti para penghuni kost hingga berhamburan. Dan ia telah merasakan gelombang energi yang begitu besar hingga bulu kuduknya berdiri, meski ia kebal terhadap hampir semuanya.

Di punggungnya, tas penuh botol berdenting pelan, seakan makhluk-makhluk di dalamnya ikut merasakan ketakutan yang sama.

“Dua Unseen tingkat tinggi,” bisik Ben, bibirnya melengkung. “Satu sangat tinggi, berjubah putih, dengan rambut yang panjangnya tidak masuk akal. Satu lagi perempuan, penuh amarah dan kesedihan.”

Matanya berbinar penuh nafsu memiliki. Sekilas terlintas dalam benaknya peringatan Niniv agar jangan menyentuh yang sudah terikat perjanjian. Tetapi Ben adalah seorang kolektor, dan tidak ada kolektor yang tahan melihat harta karun yang berjalan sendiri di hadapannya.

“Kita lihat saja,” gumamnya, dan ia mundur perlahan-lahan ke dalam bayangan, menghilang dari pandangan, sementara di kejauhan, petir sekali lagi menyambar langit Krod.

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Komentarnya bisa dibaca siapa saja, tapi menulis butuh akun.

Masuk