Bab 3

2 dibaca

A

Kalau ada satu hal yang bisa diandalkan dari Mirel, itu adalah kemampuannya menitipkan pesan yang tidak pernah benar-benar tentang apa yang ia titipkan.

Ok, Dek. Biasanya Kajur datang jam delapanan. Beliau excited banget pengin ketemu besok.

Elvina membaca kembali isi chat dari senior masa SMA-nya itu untuk ketiga kalinya pagi ini.

Matanya beralih ke jam di pojok kanan layar ponsel. Masih ada satu jam sebelum waktu janji yang ditentukan.

Dia menatap bayangannya di cermin.

Rambutnya diikat rendah, blus satin dipadukan dengan celana high-waist warna gelap. Sudah cukup rapi untuk pergi ke kampus dan membicarakan seminar yang rencananya akan dia hadiri sebagai pembicara minggu depan. Map berisi berkas administrasi dan tas kerja krem sudah siap di atas meja.

Elvina mengambil jam tangan dari laci meja, lalu melingkarkan di pergelangan tangan kirinya. Dia menghela napas pendek. “Proyek pertama setelah pulang,” katanya pada dirinya sendiri.

Dia keluar dari kamar, kemudian mencari ibunya di taman samping. Mirel sedang duduk bersila di atas karpet yoga. Speaker portabel menghitung tak jauh darinya.

“Bu, Elvina pergi dulu. Taksi onlinenya udah di depan jalan,” katanya dari ambang pintu. “Mau nitip sesuatu?”

Mirel menggeleng tanpa membuka mata. “Ibu nitip pilihanmu antara Raga Andes atau Raga Atlas.”

Elvina memutar mata.

Ponsel Mirel berbunyi. Wanita itu mengintip dengan sebelah matanya. “Salam Ibu untuk yang lagi nunggu di depan.”

“Siapa? Mas Sayur?”

“Mungkin.”

Elvina mendengus, kemudian melangkah pergi setelah mengucap salam sekali lagi.

Sambil membuka pintu depan, Elvina kembali melirik ponselnya. Jarak taksi online pesanannya tinggal lima puluh meter lagi. Tapi suara seseorang membuat dia hampir melompat.

“Eh, my calon bini udah siap.”

Mata Elvina membelalak. Andes bersandar di sebuah sedan hitam yang entah sejak kapan terparkir di sana. Tampilannya semi-formal, kemeja gelap yang digulung sampai siku, dipadukan dengan celana abu tua dan sneakers putih yang tampak sudah sering dipakai. Rambutnya baru disisir sekali, kalau memang sempat disisir sama sekali.

“Kak Andes?” Elvina spontan menoleh ke arah pagar rumah, seolah memastikan pria itu benar-benar muncul dari sana. “Kok di sini?”

Andes mengangkat ponselnya yang sedari tadi dia mainkan sewaktu menunggu. “Tante Mirel minta tolong untuk anterin kamu. Ta’aruf katanya.”

“Elvina tunggu taksi onlinenya dulu. Kasihan, sudah di depan jalan.”

Andes mengangguk pelan.

“Berarti saya kalah sama yang di depan jalan, dong.”

Elvina menghela napas pasrah.

•••

Alunan musik terdengar dari stereo mobil. Andes bersenandung sambil mengendalikan setir dengan santai. Elvina duduk di sebelahnya, memperhatikan kota yang sudah delapan tahun dia tinggalkan untuk menimba ilmu di luar negeri. Banyak yang berubah, dan Elvina termasuk di dalamnya.

Deretan ruko yang dulu hanya dua lantai kini tertutup papan iklan digital. Di lampu merah, suara knalpot brong memantul di antara bangunan yang terasa semakin rapat, salah satu suara yang paling tak disukai Elvina. Panas sudah menempel sejak pagi, membuat Elvina sadar betapa kontrasnya tempat ini dengan tempat tinggalnya hingga minggu lalu.

“Ke kampus ngapain, El? Kan bukan lulusan sana.” Andes memecah keheningan.

Elvina memperbaiki posisi duduknya sambil menahan map berisi berkas di pangkuannya. “Ada seminar tentang kuliah di luar negeri. Elvina diminta jadi salah satu narasumber.”

“Oh, berarti bakal ngajarin anak-anak buat daftar kuliah luar negeri dong? CV, motivation letter, yang gitu-gitu?”

“Kurang lebih. Sekalian sharing soal beasiswa dan riset juga. Kalau lancar, mulai semester depan Elvina bakal masuk sebagai dosen muda Biologi Molekuler di sana. Makanya hari ini sekalian ngurus berkas dan administrasi kampus.”

“Wih, berarti musti dibiasain tuh.” Andes berdeham. “Bu El, apakah Ibu bersedia menjadi pembimbing penelitian saya?” Dia nyengir sendiri.

Elvina meliriknya. “Topik penelitiannya apa?”

Andes berpikir pura-pura serius. “Pengaruh ketampanan terhadap IPK.”

“Eliminasi variabelnya dulu.”

Andes tertawa. “Sepertinya saya gagal sebelum sidang proposal.”

Elvina mengangkat bahu. Sudut bibirnya nyaris terangkat sebelum kembali menatap jalan.

Andes berbelok di pertigaan. Di pinggir jalan, pagar kampus mulai terlihat.

“Dah lama ga ke sini. Lulus sarjana, saya langsung terbang ke Pontianak.”

Elvina mengangguk. Dari sudut matanya, dia menangkap tatapan Andes yang berubah jadi sendu.

“Waktu baru kerja, susah banget dapat cuti. Pas udah naik jabatan dan jatah cuti lebih banyak, eh COVID datang. WFH enak sih, tapi kena pembatasan dan ga bisa pulang ke sini, itu yang ga enak.” Andes kembali tertawa, tapi terdengar seperti dipaksakan.

Elvina ingat masa itu dari sisinya sendiri—apartemen dingin di Rusia, larangan keluar, dan sebuah pesan pendek dari ayahnya yang datang tanpa basa-basi.

Tante Emi meninggal, Nak.

Dia hanya sempat membalas belasungkawa lewat layar, kuliah dari kamar yang sama selama berbulan-bulan.

Mungkin kalau Tante Emi masih ada, Om Garen tidak akan seburu-buru ini mencari pasangan untuk kedua putranya. Itu dugaan Elvina.

Dia menghela napas, dan membiarkan topik itu berlalu begitu saja.

Mobil Andes masuk ke gerbang kampus. Pepohonan menggantikan jejeran ruko dan lampu jalan. Elvina melihat para mahasiswa berlalu lalang. Tangan memegang buku, punggung menggendong tas, masa lalu yang sudah dijalaninya selama bertahun-tahun.

Andes mengikuti arahan Elvina menuju gedung Fakultas MIPA. Seorang wanita berkerudung berdiri di depan fakultas. Kepalanya menoleh kanan-kiri tampak mencari sesuatu.

“Itu senior Elvina.” Dia merapikan lipatan pada blusnya.

Andes menghela napas lega tanpa sadar.

“Kenapa, Kak?”

“Enggak.” Suaranya terdengar lebih pelan daripada yang seharusnya. “Syukur bukan cowok.”

Kening Elvina mengerut.

Menghentikan kendaraannya tepat di hadapan wanita itu, Andes berkata lagi, “El.”

Jeda. Tangan Elvina berhenti di atas knop pintu.

“Pinjam ponsel bentar.”

Elvina menyerahkan ponselnya tanpa bertanya. Andes mengetikkan sesuatu. Tak lama, ponselnya sendiri berbunyi.

“Kalau urusannya udah selesai, telepon ya. Saya tunggu dekat sini.” Dia tersenyum simpul.

Elvina menerima ponselnya kembali sambil mengangguk. Dia meraih map dan tas kerjanya sebelum keluar dan menutup pintu mobil tanpa berkomentar lagi.

Sudah sampai ujung

Bab terakhir

← Bab sebelumnya

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Komentarnya bisa dibaca siapa saja, tapi menulis butuh akun.

Masuk