Bab 2

6 dibaca

A

Sebuah salam panjang terdengar dari arah pintu depan, dan perhatian keempat orang di teras teralihkan begitu saja—lebih cepat daripada yang seharusnya dibutuhkan untuk sekadar suara sapaan. Rumah besar itu punya cara sendiri membuat orang menoleh sebelum sempat berpikir kenapa.

Garen bertumpu pada lengan sofa, tertatih sedikit ketika bangkit. Usianya belum cukup tua untuk berjalan seperti itu. Tak seorang pun bertanya.

Di ambang pintu, seorang pria muncul dari balik tembok, lengannya melingkari pinggang Garen dengan gerakan yang lebih terlihat semacam menahan daripada memeluk.

“Siapa itu, Atlas?”

Pria itu menggeleng pelan, suaranya nyaris tenggelam oleh jarak. Elvina hanya menangkap satu kata terakhir.

“... Andes.”

Pandangan Atlas kembali padanya, dan sekali lagi dia hanya menganggukkan kepala sebagai salam—kebiasaan yang mulai terasa bukan sebagai kesopanan, melainkan satu-satunya bahasa yang dia punya.

Elvina mengernyit, belum paham kenapa kakak sepupunya ini menyapa lewat gerakan kepala dan tak sekali pun lewat suara. Untuk sekarang, dia hanya menambahkannya ke daftar hal-hal aneh di rumah ini yang sudah terlalu panjang untuk hari pertama.

Suara roda beradu dengan lantai terdengar dari ruang depan—seret, berhenti, seret lagi, layaknya seseorang menyeret koper yang lebih berat dari yang bisa ditanganinya sendiri. Tubuh Garen menegak. Kedua tangannya terentang, siap menyambut, dan untuk sesaat dia terlihat bak versi dirinya sepuluh tahun lebih muda.

Seorang pria dengan wajah dan tinggi badan persis seperti Atlas berdiri di ambang pintu, membawa senyum paling lebar yang pernah dilihat Elvina hari itu—mungkin tahun itu—terpasang di wajah yang seharusnya identik dengan wajah yang baru saja menyapanya tanpa sepatah kata pun. Dua wajah yang sama, dua cara yang bertolak belakang untuk memakainya.

Andes meletakkan kopernya di dekat tangga sebelum memeluk ayahnya, matanya menangkap Elvina yang masih duduk di balik meja kopi.

“Wah, siapa ini?” Dia melepas pelukannya. “Apakah ini my calon bini itu, Ayah?”

Wajah Elvina menekuk, lelah mendengar kalimat yang sama dari wajah yang berbeda-beda sepanjang minggu ini.

Garen tersenyum tanpa berkata apa-apa. Andes mendekat ke sofa, menunduk menyalimi tangan Mirel dan Darel dengan gerakan yang luwes, seolah sudah terlalu sering melakukannya untuk perlu dipikirkan lagi.

Darel menoleh pada Garen. “Mumpung mereka bertiga berkumpul, suruh ta’aruf dulu gimana?”

Garen terkekeh. “Ide bagus.”

•••

Elvina masih tidak paham bagaimana dia bisa berakhir duduk di beton pemecah ombak sambil memandangi laut pasang, kaki menggantung di atas air yang menggebu-gebu menghantam tetrapod di bawahnya.

Di sebelahnya, Si Kembar Raga sibuk dengan ponsel masing-masing, seolah laut di depan mereka cuma latar belakang.

“Kiri, Las. Tengah biar gue yang urus.” Kening Andes mengerut, bibirnya maju setengah senti.

Atlas tak menjawab. Rautnya saja sudah cukup untuk menunjukkan dia sama seriusnya dengan sang adik soal apa pun permainan itu.

Elvina menghela napas panjang, lalu memperhatikan kapal yang baru berangkat dari pelabuhan, klaksonnya menggetarkan udara sore. Sudah lama dia tidak menikmati pemandangan seperti ini di kampung halaman sendiri. Mungkin tidak ada salahnya mengabari itu ke kawan-kawannya lewat sebuah unggahan.

Dia menuruni tetrapod, hati-hati melangkah dari satu beton ke beton lain, mencari sudut terbaik untuk kameranya. Pijakannya licin. Tubuhnya oleng. Refleks tangannya terangkat menjaga keseimbangan—dan tepat saat sepatunya kembali menemukan pijakan—

Byur.

Elvina berkedip. Dia tidak jatuh. Tapi seseorang jatuh di sebelahnya.

Hening, hanya sepersekian detik, tapi cukup lama untuk terasa salah.

Elvina menoleh ke puncak pemecah ombak. Salah satu Kembar Raga menatap ke bawah tanpa ekspresi. Jaketnya menandakan itu Atlas.

Berarti yang jatuh Andes.

Sebuah kepala muncul dari laut. “Fuwah!” Andes menyapu wajahnya, air laut sampai ke dada.

“Kubilang juga apa,” Atlas berujar dari atas, ponsel sudah diletakkan di sisinya.

“Kapan?”

“Di kepala.”

Andes terkekeh. “Lain kali pakai mulut.”

“Kak Andes ngapain?” Elvina menimpali.

Andes nyengir. “Kirain my calon bini mau jatuh tadi.”

Elvina memutar mata. Panggilan itu sudah mulai terasa seperti kebiasaan buruk Andes.

Atlas ikut menuruni beton, sepatunya sudah dilepas, mengulurkan tangan pada Andes. Andes balas mengulurkan tangannya untuk menarik Atlas juga---tapi belum sempat tersentuh, Atlas menarik tangannya lagi.

“Naik sendiri,” katanya, singkat seperti biasa.

Andes tertawa di bawah sana, lalu memanjat naik sendirian. Kaosnya yang kuyup menempel di tubuhnya. Tanpa aba-aba dia membukanya dan memerasnya begitu saja di depan semua orang, seolah privasi adalah konsep yang tidak berlaku untuknya.

Elvina memalingkan wajah, merasa tidak nyaman terus menatap orang yang sedang berganti pakaian di depan umum.

“Kenapa, El?” tanya Andes.

“Enggak.”

Dia mengikuti arah pandang Elvina yang sengaja menghadap laut. “Oh...” Bibir Andes melengkung jahil.

“Sayang banget. Udah bayar mahal di gym...” Dia menekuk sebelah lengan, memamerkan bisepnya. “... Tapi ga ada yang apresiasi.”

Andes menyenggol pelan lengan Elvina.

“Enggak, ih! Siapa juga yang mau apresiasi?”

Andes tertawa, sementara Atlas melemparkan jaket ke wajah saudaranya.

Plak.

“Pakai,” kata Atlas, mengambil posisi duduk di sebelah Andes.

Mereka bertiga duduk di tetrapod bagian bawah, kaki menjulur ke laut. Kapal yang tadi meninggalkan pelabuhan kini tinggal titik kecil di kejauhan.

Matahari turun perlahan, udara mulai dingin.

Tak ada satu pun dari mereka yang berniat beranjak.

Malam itu, topik tentang Atlas dan Andes rupanya belum selesai hanya karena matahari sudah tenggelam.

wkwkwk tiap andes ngomong rasanya pengen tak jawab, diem ya anda!

Perlu dikontrol ya mulutnya. Haha

Komentarnya bisa dibaca siapa saja, tapi menulis butuh akun.

Masuk