Bab 4

1 dibaca

A

Urusan Elvina di kampus selesai tepat di jam makan siang.

Mobil Andes berhenti di parkiran sebuah warung bakso yang, seperti kebanyakan warung bakso yang bertahan lebih dari sepuluh tahun, tidak pernah repot mengganti banner menu meski harganya sudah naik tiga kali. Elvina keluar, memandangi ruko tiga lantai di seberang jalan, lalu matanya berpindah ke jembatan kembar tak jauh dari sana.

Dulu di situ hanya ada jembatan kecil---penyebab utama kemacetan sepanjang jalan ini selama bertahun-tahun, sumber keluhan warga yang tak pernah benar-benar didengar siapa pun sampai akhirnya ada yang mendengar.

Sekarang jembatan itu sudah diganti, lebih besar dan kokoh, seakan kota ini punya cara sendiri untuk berpura-pura lupa. Elvina tidak tahu apa yang membuat proyek itu akhirnya disetujui setelah bertahun-tahun mangkrak. Untuk sekarang, dia tidak perlu tahu.

Andes, yang menyadari sepupunya diam terlalu lama untuk ukuran orang yang baru turun dari mobil, memanggil pelan. “El.”

Elvina tidak mendengar. Matahari terik di atas kepala, tapi yang membuatnya diam bukan panasnya.

Kemudian sesuatu memayunginya. Lamunan itu bubar seketika. Seorang pria tinggi berdiri tepat di belakangnya, memegang payung dengan ekspresi datar. Wajahnya nyaris kembar dengan milik Andes---setidaknya bagi orang yang belum cukup dekat untuk melihat bedanya.

“Masuk. Panas,” kata Atlas, singkat, matanya lurus pada Elvina.

“Eh, iya. Maaf, Kak.” Elvina menunduk, menunggu Atlas melangkah lebih dulu. Tapi Atlas hanya berhenti setengah langkah di belakangnya, tidak bergerak, seolah menunggu sesuatu yang lain.

Beberapa detik berlalu seperti itu---dua orang yang sama-sama menolak jalan duluan---sampai akhirnya Elvina menyerah dan melangkah. Atlas mengikuti tepat di belakangnya, seperti yang, entah kenapa, sudah bisa ditebak siapa saja yang mengenalnya lebih dari sepuluh menit.

Andes menunggu di depan gerobak bakso, memperhatikan keduanya dengan sudut bibir yang melengkung turun tanpa dia sadari. Dia tidak berkomentar.

Begitu Elvina dan Atlas sampai di teras, senyum Andes kembali seperti biasa. “Yang biasa, Las?”

Atlas mengangguk, menutup payungnya, lalu melirik Elvina---mulutnya baru terbuka ketika Andes lebih dulu menyela. “Kalau El? Bakso atau mie pangsit?”

Mata Elvina singgah pada baliho menu yang sudah pudar warnanya. “Nasi goreng aja.”

Andes memesan. Atlas menyimpan payung ke dalam ransel. Elvina masuk lebih dulu, memilih bangku paling pojok, paling belakang---posisi yang, kalau ditanya, akan dia sebut kebiasaan, bukan insting.

Dia duduk membelakangi jalan, mengamati warung yang cukup ramai untuk jam makan siang. Tidak ada yang aneh di situ. Setidaknya belum.

Salah satu dari si kembar duduk di sebelahnya tak lama kemudian. Baju putih seragam tenaga kesehatan, tas diletakkan di atas meja, ponsel dikeluarkan dari kantong depan. Atlas membuka browser di ponselnya, seolah situasi di meja itu tidak membutuhkan perhatiannya.

Dari jarak sedekat itu, perbedaan kecil di wajah Atlas akhirnya terlihat. Wajah Si Kembar Raga, yang selama ini dia anggap identik, ternyata tidak sepenuhnya begitu. Ada tanda lahir tipis di pelipis Atlas, dekat mata kanan.

Lalu sepasang tangan menyusup ke ketiak Atlas dan mengangkatnya berdiri, tanpa aba-aba, tanpa permisi.

Elvina mendongak. Andes berdiri di belakang Atlas, dahi berkerut. “Pindah lu, Las. Nggak ada yang boleh duduk di samping El.”

Atlas menggerakkan bahunya sekali, cukup untuk melepaskan cengkeraman Andes.

“Duduk sini.” Andes menepuk sisi meja yang menghadap pintu luar. “Sini, kakak sepuluh menitku.” Nada yang sengaja dibuat manis, dan gagal.

Atlas meringis. “Gak. Silau.”

“Tapi lu ga boleh di samping El.”

Atlas menoleh ke Elvina. “Kamu ngelarang?”

“Eh? Enggak masalah, kok.” Mata Elvina berkedip cepat, dua kali.

“Duduk di samping El, lu yang bayar makanannya.” Tepukan Andes mendarat di pundak Atlas, cukup keras untuk terdengar seperti keputusan final.

Atlas menghela napas, pasrah pada logika yang, sejujurnya, tidak logis sama sekali.

Elvina berdiri lebih dulu. “Duduk aja, Kak, biar Elvina yang pindah.” Dia sudah setengah jalan ke bangku seberang—menghadap pintu keluar—sebelum ada yang sempat protes.

Andes hampir mengambil kursi di sebelahnya, sampai satu tepukan mendarat di bahunya sendiri. “Lu—“ Tatapan Atlas tajam, tidak butuh kata kedua. “—di samping gue.”

Andes menciut—kata yang paling tepat, meski dia sendiri tidak akan pernah mengakuinya—lantas duduk di sebelah Atlas.

Elvina menutupi separuh wajahnya dengan tangan, tapi sudut bibirnya sudah keburu terangkat.

Dia teringat acara kumpul keluarga bertahun-tahun lalu, ketika pertengkaran seperti ini adalah hiburan gratis yang tidak pernah dia minta tapi selalu dia tonton sampai habis. Beberapa hal, ternyata, tidak berubah—meski jembatan di seberang jalan itu sudah lain sama sekali.

Ponsel Atlas berdering sekali. Dia membuka pesan, lalu menghela napas, layaknya seseorang yang baru saja menerima tugas tambahan, bukan ajakan makan siang.

Ponsel itu diserahkan pada Andes. Tanpa banyak komentar, Andes membaca pesan itu sebentar sebelum membuka kamera.

“El,” panggil Andes, “pose dulu.” Tangannya terangkat.

Elvina bahkan belum sempat memproses ucapan itu ketika dia hendak mengalihkan pandangan dari jalan di depan warung—

Cekrek.

Elvina mengerjap-ngerjap. “Apa tadi?”

“Laporan.” Andes nyengir sambil mengetik, sementara Atlas memijat batang hidungnya. “Ayah minta foto kita bertiga. Pengen liat Atlas beneran pergi makan bareng sama kita sebelum shift-nya,” jelasnya.

Dia lalu memperlihatkan layar ponsel Atlas pada Elvina. Jendela chat antara Atlas dan Garen, pesan paling baru berupa foto yang baru saja terkirim. Wajah Elvina dari samping, memandang ke jalan. Andes ke arah kamera. Dan Atlas—samar dan tipis—dengan lirikan mata yang, Elvina cukup yakin, bukan tertuju ke dinding.

Balon percakapan baru muncul di jendela itu. Andes menarik kembali ponsel, mengetik sesuatu.

Atlas menyadarinya. “Ngetik apa lagi?”

Ponsel dikembalikan Andes pada Atlas, yang langsung membaca pesan yang diketik oleh saudaranya.

Atlas membaca pesan itu, lantas menatap Andes dengan wajah yang biasanya muncul beberapa detik sebelum dia memutuskan seseorang pantas dicekik pelan-pelan. Yang ditatap malah membuang muka, menahan tawa yang gagal ditahan sepenuhnya---bahunya masih bergetar kecil saat dia pura-pura sibuk dengan menu.

Pesanan tiba.

Andes mencampur kecap, saus, dan sambal ke mie pangsit baksonya dengan takaran yang, kalau dilihat orang awam, lebih pantas disebut eksperimen kimia. Atlas mengisi air ke gelas, meletakkannya di samping piring Elvina. Elvina mendongak, mendapati senyum tipis---sangat tipis, hampir tak ada---di bibir Atlas.

“Untukmu,” katanya pelan.

“Terima kasih.” Elvina mengangguk.

Atlas menuang satu gelas lagi untuk Andes, yang menerimanya tanpa kata dan hanya memperhatikan saudara dan sepupunya dalam diam.​

Sudah sampai ujung

Bab terakhir

← Bab sebelumnya

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Komentarnya bisa dibaca siapa saja, tapi menulis butuh akun.

Masuk