Darel sudah memutuskan siapa yang akan dinikahkan dengan siapa jauh sebelum keputusan itu diucapkan. Yang belum ia putuskan, dan baru disadarinya sore itu, adalah bahwa keluarga besarnya punya kebiasaan buruk memberi nama yang sama pada dua orang berbeda.
“Bapak rencana nikahin kamu sama Raga.”
Kalimat itu keluar seringan orang memesan kopi. Elvina mengernyitkan dahi. Dia menunggu ada bagian lanjutan yang menjelaskan lelucon jenis apa ini.
Tidak ada.
“Raga siapa?”
“Sepupu tiga kalimu. Anak Om Garen.”
Elvina menelan ludah, mencoba mengulur waktu supaya otaknya sempat menyusun kalimat yang tidak akan membuatnya kena semprot. “Tapi, Pak... anak Om Garen kembar. Dua-duanya Raga.”
Sunyi memenuhi ruangan.
“Ah.”
Pria itu berkedip sekali, seolah kedipan itu cukup untuk memuat ulang seluruh silsilah keluarga di kepalanya.
“Bapak lupa.”
Elvina menatap ayahnya beberapa detik, menunggu ayahnya menarik kembali ucapannya. Tak ada yang berubah. Nasib Elvina memang sudah diputuskan. Hanya calon suaminya yang belum.
Ada yang tidak ditanyakan Elvina sore itu. Sejak kapan keputusan itu sebenarnya dibuat? Atau... siapa yang lebih dulu memutuskannya—ayahnya, atau silsilah keluarga mereka?
Katanya, jodoh tak akan ke mana. Elvina pernah percaya itu. Sampai suatu sore biasa, dia mengerti bahwa jodoh memang tak ke mana-mana. Karena sejak ia masih terlalu kecil untuk protes, namanya sudah lebih dulu ditulis di silsilah keluarga, berdampingan dengan nama yang, sialnya, dimiliki dua orang sekaligus.














Sepupu tiga kali tuh gimana ya maksudnya?
Buyut Elvina-Raga sodaraan.
Wowowow akhirnya ketemu juga cerita ini!
Bentar. Saya malu. 🫣