Angin asin menerpa wajah Elvina lewat jendela mobil yang terbuka, membawa bau garam yang menempel di rambutnya lebih lama daripada yang ia inginkan. Di sepanjang jalan, laut sedang pasang.
“Katanya Andes sudah dapat posisi bagus, ya, di perusahaan tempat dia kerja?”
Suara itu membuyarkan lamunan Elvina, meski lamunan itu sendiri sebenarnya tidak berisi apa-apa selain laut dan keinginan untuk tidur. Ada rasa tak nyaman di dada Elvina sewaktu mendengar nama pria itu.
Mirel, yang duduk di kursi sebelah sambil memperbaiki riasan lewat cermin kecil, melanjutkan tanpa menunggu jawaban. “Kemarin, salah satu pekerja di tokonya Kak Garen ngasih tahu waktu aku singgah.”
“Ah, iya. Aku lupa cerita.” Darel menjawab dari kursi penumpang depan, matanya tetap ke jalan. “Tapi dia bakal resign dalam waktu dekat. Kak Garen mau Si Kembar Raga di kota ini dulu saja.”
“Sepertinya dia kesepian.” Mirel menutup bedaknya dengan bunyi klik kecil. “Gimana pun, rumahnya itu terlalu besar hanya untuk ditinggali dia dan Atlas.” Dia melirik putrinya lewat kaca spion, cara yang sudah ia praktikkan sejak Elvina remaja dan mulai pandai berbohong soal ke mana perginya sepulang sekolah. “Kalau Elvina menikahi salah satu dari mereka, rumah itu bisa lebih ramai nanti.”
Tebakan Elvina benar. Topik ini lagi.
Dia menghela napas.
Sejak kembali ke kota minggu lalu, Elvina terus dicecar pembicaraan yang sama—Raga Atlas atau Raga Andes, mana yang lebih pantas, mana yang lebih dulu tersedia. Dia pulang ke Indonesia bukan untuk masuk daftar tunggu pernikahan siapa pun, tapi rupanya keinginan satu orang jarang cukup kuat untuk mengalahkan keinginan seisi keluarga besar sekaligus.
Elvina memasang earset, memutuskan bahwa tenggelam dalam musik dari ponselnya lebih aman daripada tenggelam dalam percakapan ini.
•••
Rumah-rumah tua punya kebiasaan yang tak pernah benar-benar hilang—mereka mengunci satu ruangan, memupuk satu rahasia, dan membiarkan tamu mengira gerbang besi hanya berfungsi menahan pencuri. Kediaman Maranta bukan pengecualian, walau tak seorang pun di antara penghuninya yang akan mengakui hal itu sambil menyeduh teh sore.
Pagar besi ditarik terbuka oleh seorang pria bertopi kebun, punggungnya membungkuk sedikit ketika sebuah mobil melintas masuk. Sopir membalas dengan satu bunyi klakson—singkat, sekadar basa-basi yang sudah dilatih bertahun-tahun. Pria itu tersenyum sopan sebelum menutup pagar, lalu menatap kembali ke rumput yang baru saja ia potong, seolah rumput itu lebih layak diperhatikan daripada tamu yang baru datang.
Ban berdecit di atas paving blok yang menghiasi halaman kediaman itu. Dari pintu ganda, seorang pria beruban keluar dengan senyum lebar, mengusap janggut tipisnya sebelum membentangkan kedua tangan.
“Darel!”
Pintu mobil terbuka. Pria yang lebih muda, Darel, keluar sembari ikut merentangkan tangan.
“Kak Garen!”
Mereka berpelukan, saling menepuk punggung dengan tenaga yang sedikit berlebihan untuk dua pria di usia mereka—seolah keakraban perlu dibuktikan dengan volume. Elvina, yang keluar dari mobil sedan di belakang, menuntun ibunya turun dari kursi belakang dan berpikir, tidak untuk pertama kali, bahwa keluarganya punya kebiasaan berpelukan seperti sedang berlomba siapa yang lebih rindu.
“Oh, Elvina.” Garen melepaskan pelukannya, melangkah mendekat. “Gimana Rusia?”
Elvina tersenyum tipis. Cengkeramannya pada lengan ibunya mengencang sedikit lebih dari yang diperlukan untuk sekadar menuntun.
“Dingin, Om.”
Sebuah cubitan mendarat di pahanya, cepat dan terlatih, seperti gerakan yang sudah dua puluh tahun dipraktikkan tanpa perlu dipikirkan lagi.
“Ah, Ibu. Sakit.”
Garen terkekeh. “Mirel. Santai saja. Elvina kan memang seperti itu.”
“Kebiasaan nanti, Kak.” Mirel menjawab, nada suaranya jauh lebih tajam daripada yang dibutuhkan sebuah candaan sore hari. “Mentang-mentang sama Om sendiri.”
Tawa kecil menghiasi bibir Garen lagi, dan dia mempersilakan ketiga tamunya masuk—tanpa seorang pun dari mereka menoleh ke jendela lantai dua, tempat sesuatu di baliknya baru saja bergerak menjauh dari kaca.
•••
Elvina duduk di teras samping bersama kedua orang tua dan omnya—saudara sepupu dua kali ayahnya, hubungan darah yang cukup jauh untuk membuat Elvina lupa harus memanggilnya apa setiap hari raya. Para orang tua berbincang tentang harga tanah dan seseorang bernama Pak RT yang baru saja pensiun. Mata Elvina menyapu kediaman yang bertahun-tahun tak ia kunjungi sejak memutuskan kuliah di luar negeri, mencari-cari mana yang berubah dan mana yang sengaja dibiarkan sama.
Kolam ikan membagi teras menjadi dua bagian, memisahkan sofa panjang tempat mereka duduk dari sisi rumah yang lebih teduh. Belasan koi berenang berkelompok di bawah permukaan air, di antara teratai yang masih menguncup rapat meski matahari sudah cukup untuk membuatnya mekar. Sebuah jembatan kayu kecil membelah kolam, jarang dilewati, cukup rapuh untuk menahan satu orang tapi tidak dua.
Di balik salah satu tiang rumah, seseorang mengintip—malu-malu, atau berhati-hati, dua hal yang dari kejauhan terlihat sama persis.
Elvina akan mengingat wajah itu nanti, jauh lebih jelas daripada yang seharusnya bisa diingat seseorang dari sekilas pandang di sudut mata. Untuk sekarang, dia hanya mengerutkan kening sedikit sebelum panggilan Garen mengalihkan fokusnya.
“Gimana, Elvina? Sudah memikirkannya?”
Elvina mengerjap. “Apa, Om?”
Mirel menggeleng, lebih pada dirinya sendiri daripada pada siapa pun. “Title-mu saja yang magister. Lemotnya masih sama.”
“Yang Bapak bicarakan kemarin, El.” Darel meletakkan cangkir teh di atas meja kopi, gerakannya hati-hati, seperti seseorang yang sudah lama belajar tidak membuat suara berisik di rumah orang lain.
Ah. Lagi-lagi obrolan tentang perjodohan.
“Elvina boleh mikirin lagi, Om?”
“Apa yang perlu dipikirkan?” Mirel menjawab lebih dulu, sebelum Garen sempat membuka mulut. “Elvina sisa memilih. Mau sama Atlas atau Andes. Si kembar sudah hampir tiga puluh tahun. Keduanya pasti tak akan menolak Elvina.”
“Tapi Elvina sudah lama tak bertemu mereka.” Suara Elvina mengecil di ujung kalimat, kebiasaan yang selalu muncul setiap kali dia tahu argumennya akan kalah. “Elvina perlu ta’aruf.”
“Ta’arufmu sudah dua puluh enam tahun, Elvina.” Mirel membalas ketus, lelah dengan cara yang hanya bisa dimiliki orang tua yang sudah menunggu terlalu lama untuk hal yang menurut mereka sederhana. “Ibu sama Bapak juga ingin segera menimang cucu.”
Bibir Elvina turun. Tubuhnya menciut ke dalam sofa, seolah berharap bantalan bisa menelannya sedikit demi sedikit.
“Tak apa.” Garen mengangkat satu tangan, isyarat kecil yang cukup untuk menghentikan Mirel melanjutkan. “Elvina bisa pikirkan baik-baik.” Dia berhenti sebentar, terlalu sebentar untuk terlihat seperti jeda yang disengaja. “Nanti Om jadwalkan kalian untuk bertemu. Setuju?”
Elvina mengangguk, meski tak seorang pun bertanya apakah anggukan itu berarti setuju atau sekadar cara tercepat mengakhiri topik.
Kepalanya berputar kembali ke arah kolam koi, ke tiang tempat tadi seseorang berdiri mengintip. Tak ada siapa-siapa di sana sekarang. Hanya bayangan tiang itu sendiri, jatuh miring ke atas air kolam. Dan untuk sepersekian detik, sebelum Elvina berkedip dan meyakinkan dirinya bahwa itu cuma trik cahaya sore, bayangan itu bergerak dengan arah yang berbeda dari tiang yang menciptakannya.
Tidak. Itu bukan bayangan. Seseorang memang ada di sana.
Elvina menyipitkan mata, menajamkan penglihatannya. Seorang pria, beberapa tahun lebih tua darinya, bergerak dari tiang ke sisi lain rumah. Sebelum pria itu melewati pintu, kepalanya berputar sedikit. Pandangannya bertemu dengan Elvina.
Mata Elvina melebar.
Sulit mempercayai bahwa pria yang berdiri di sana adalah salah satu bocah yang dulu gemar terjun ke kolam koi untuk menangkap ikan. Wajahnya masih menyimpan garis-garis yang dikenal Elvina, tetapi sisanya terasa asing.
Pria itu menganggukkan kepala.
Elvina bahkan belum sempat membalas ketika pria itu berlalu. Pikirannya sibuk menyatukan ingatan.
Si Kembar Raga.
Atlas... Atau Andes.














Atlas dong!
Muka sama ini. Beda sifat doang. 🌝
ini kayaknya akan lucu kalau dibuat gambar silsilah nggak sih
Sangat rumit. Beneran deh. Itu balihonya segede dinding. wkwk