Sebenarnya, urusan kontainer bernomor seri belakang 402 itu bisa Wana serahkan pada staf lapangan divisi logistik. Bayu memiliki lusinan anak buah yang digaji khusus untuk berpanas-panasan mengurus administrasi pelabuhan, mengantre di loket, dan berdebat dengan makelar kargo. Pagi tadi, dokumen pengambilan barang itu sudah tergeletak di atas meja ruang makan, menunggu salah satu kurir internal membawanya pergi.
Tapi Wana justru meraih map itu. Dia melangkah keluar dari rumah utama tanpa memberikan penjelasan kepada siapa pun, melempar map tersebut ke jok penumpang Jeep-nya, dan mengemudi menembus kemacetan kota menuju pelabuhan.
Otaknya bekerja keras mencari alasan paling masuk akal untuk menjejakkan kaki di dermaga hari ini. Dia meyakinkan dirinya bahwa dia hanya ingin memastikan segel kontainernya tidak dirusak oleh pihak luar, bahwa kargo suku cadang itu terlalu penting untuk diserahkan pengawasannya pada staf biasa. Sebuah kebohongan yang terlalu transparan. Jauh di dalam kepalanya, Wana tahu persis alasan sebenarnya. Dia masih terganggu oleh kejadian di depan loket kaca kemarin.
Wana kesal. Dia tidak terbiasa diabaikan, apalagi diceramahi soal aturan dan kepatuhan dokumen. Dia datang ke pelabuhan ini untuk mencari satu celah. Satu cacat profesional dari petugas bea cukai itu. Dia ingin melihat perempuan itu melanggar aturannya sendiri, berkompromi dengan kotornya sistem pelabuhan, agar Wana bisa membuktikan bahwa ketegasan Mavira kemarin hanyalah gertakan birokrasi murahan. Dengan begitu, egonya akan kembali utuh. Dia bisa meremehkannya dan menyingkirkan wajah itu dari pikirannya begitu saja.
Dan di sinilah dia pada akhirnya.
Pelabuhan sedang berada di titik tersibuknya menjelang siang. Truk trailer keluar masuk dengan deru mesin yang memekakkan telinga, debu beterbangan ditiup angin laut yang lengket membawa aroma garam dan solar, serta suara decit rantai crane yang beradu memenuhi udara. Wana tidak mendekat ke area kantor utama. Dia memarkir Jeep-nya agak jauh dari blok pemeriksaan, berjalan kaki, lalu berhenti di balik tumpukan palet kayu kosong yang ditumpuk tinggi.
Dari jarak lima belas meter, Wana berdiri diam. Pandangannya lurus, mengawasi titik di mana Mavira sedang melakukan audit lapangan kargo.
Perempuan itu terlihat berbeda dari penampilannya di balik loket kaca yang rapi. Mavira mengenakan rompi reflektif berwarna oranye terang yang membungkus kemeja kerjanya, dipadukan dengan helm proyek putih yang talinya terpasang rapat di bawah dagu. Sepatu bot lapangannya tampak kusam tertutup debu aspal kering. Dia memegang sebuah papan dada berlapis plastik keras, mencatat sesuatu dengan cepat.
Di depannya, berdiri seorang pria paruh baya bertubuh tambun yang mengenakan kemeja yang dikeluarkan asal-asalan. Pria itu tampak gelisah, terus berbicara sambil menggerakkan tangannya ke udara, sementara Mavira mendengarkan tanpa mengubah postur tubuhnya. Jarak lima belas meter tidak menghalangi pendengaran Wana yang sudah terlatih menyaring suara di lapangan terbuka. Dia bisa membaca bahasa tubuh pria itu—seorang pemilik barang atau agen forwarder yang sedang mencoba mencari jalan pintas dari kerumitan sistem.
Wana menyipitkan matanya, menunggu. Ini momen yang dia cari.
Pria bernama Iwan itu menoleh ke kanan dan kiri, memastikan tidak ada petugas keamanan pelabuhan atau staf administrasi lain yang sedang berjalan mendekat. Setelah merasa radius sekitarnya aman, tangannya bergerak cepat masuk ke saku dalam jaketnya, menarik sebuah amplop cokelat tebal yang terlihat padat. Dia mencondongkan tubuhnya ke depan, menyodorkan amplop itu tepat di bawah lengan Mavira, berusaha menyembunyikannya dari pandangan umum, memaksa agar Mavira segera menerimanya dan menutup urusan mereka.
Wana menahan napasnya. Otot rahangnya menegang. Dia bersiap melihat Mavira menerima amplop itu. Dia menunggu perempuan itu tersenyum maklum, atau setidaknya memutar bola mata pura-pura menolak sebelum memasukkan suap itu ke dalam saku rompinya. Uang adalah bahasa universal untuk melicinkan segala kendala operasional. Semua orang punya harga, dan Wana ingin tahu berapa harga seorang Mavira.
Tapi Mavira tidak mengulurkan tangan. Perempuan itu mundur satu langkah penuh, membiarkan tangan Iwan menggantung kaku di udara dengan amplop cokelatnya. Mavira menatap amplop itu sejenak, lalu mengangkat wajahnya. Matanya menatap Iwan dengan ketajaman yang membuat gerak tubuh Iwan langsung kaku. Itu tatapan yang sama persis saat Mavira menghadapi Wana kemarin, hanya saja kali ini ditambah dengan penolakan keras yang tidak ditutupi.
“Bawa pulang uang Anda, Pak,” suara Mavira membelah kebisingan mesin kontainer. Nadanya tidak berteriak tinggi, tapi ketegasannya memotong udara dengan jelas. “Saya bisa membawa masalah ini ke jalur hukum dengan pasal penyuapan detik ini juga.”
Iwan gelagapan. Wajahnya langsung memerah padam. Tangannya buru-buru menarik amplop itu dan menjejalkannya kembali ke dalam jaket dengan gerakan panik. “Mbak ini kaku amat,” ucapnya dengan suara bergetar, mencoba tertawa canggung untuk meredakan ketegangan yang dia buat sendiri. “Cuma buat beli es teh, Mbak. Biar lancar semuanya, cuaca juga lagi panas. Jangan terlalu serius begitu.”
“Es teh apa semahal itu?” Mata Mavira memicing. Ujung bolpoinnya ia ketukkan keras ke papan dadanya. “Manifes lengkap saya tunggu dua kali dua puluh empat jam di meja saya. Jika tidak ada, kontainer Anda tertahan di jalur merah. Dan jangan pernah berharap bisa menyuap saya untuk memotong prosedur.”
Iwan akhirnya mengerti bahwa dia sedang berhadapan dengan petugas bersih yang menolak diajak bernegosiasi. Tidak ada ruang untuk tawar-menawar di luar aturan. Dengan langkah terburu-buru dan napas terengah karena menahan cemas, pria itu berbalik dan pergi meninggalkan Mavira, menjauh dari area audit secepat kakinya bisa melangkah.
Wana masih berdiri mematung di balik palet kayu. Tangannya yang semula bersedekap kini turun perlahan ke sisi tubuh. Celah yang dia cari dengan susah payah sejak pagi tidak pernah dia temukan. Justru sebaliknya. Di area pelabuhan yang keras ini, menolak uang pelicin dari forwarder secara terang-terangan adalah tindakan yang sering kali memancing masalah nyata, entah dari jaringan preman lokal atau pihak lain yang dirugikan. Tapi Mavira berdiri di sana, sendirian di tengah lapangan beton terbuka, mempertahankan integritasnya tanpa menyembunyikan senjata atau membawa pasukan di belakangnya.
Mavira mencatat satu baris kalimat terakhir di kertasnya, lalu menghela napas panjang meredakan kekesalannya. Dia berbalik, berniat kembali menuju gedung kantor operasional. Saat tubuhnya berputar, pandangan Mavira menyapu area sekitarnya. Dan saat itulah, matanya melihat sosok Wana yang masih berdiri dalam jarak pandangnya.
Mavira menghentikan langkahnya seketika. Dahinya berkerut dalam. Jarak lima belas meter lebih dari cukup untuk membuatnya mengenali wajah laki-laki yang kemarin memojokkannya di loket. Wana tidak memakai rompi pelabuhan, tidak memegang berkas, dan posisinya yang mematung di balik tumpukan kayu jelas-jelas menunjukkan bahwa dia sedang mengawasi lapangan dari jauh.
Mavira memiringkan kepalanya sedikit, tatapannya memicing curiga dan menyiratkan satu pertanyaan yang menuntut penjelasan tanpa perlu disuarakan: Apa yang kamu lakukan di sana?
Wana tertangkap basah. Di sepanjang hidupnya, dia tidak pernah merasa panik saat moncong senjata diarahkan tepat ke wajahnya. Dia tidak pernah mundur walau seinci saat disergap di wilayah musuh. Tapi hari ini, ditatap oleh perempuan berhelm proyek karena ketahuan mengamati secara diam-diam? Sistem saraf Wana mengalami reaksi tak terduga. Tubuhnya bergerak jauh lebih cepat dari otaknya yang sedang buntu.
Dengan gerakan kaku yang sama sekali tidak mencerminkan keseimbangannya sebagai petarung, Wana memutar tubuhnya. Dia tidak mengangguk, tidak membalas tatapan curiga itu lebih lama, dan tidak menyiapkan satu pun kebohongan untuk membela diri. Dia membuang muka, berbalik cepat, dan berjalan menjauh menuju tempat Jeep-nya terparkir. Langkahnya panjang-panjang, lebar, terburu-buru, dan terlihat persis seperti orang yang sedang melarikan diri.
Sial, umpat Wana dalam hati saat tangannya menarik gagang pintu mobil dengan kasar.
Dia masuk ke ruang kemudi, membanting pintu, dan menghidupkan mesin. Dia mencengkeram setir berbahan kulit itu dengan kuat hingga urat di lengannya bermunculan. Rencananya untuk menemukan kesalahan Mavira gagal berantakan. Justru, melihat secara langsung bagaimana perempuan itu menghadapi laki-laki tadi tanpa sedikit pun rasa gentar, kekesalan Wana perlahan bergeser bentuk.
Dia menolak keras menyebut pergeseran itu sebagai rasa hormat. Dia lebih benci lagi jika otaknya mulai mengklasifikasikan hal itu sebagai rasa tertarik. Tapi saat dia menginjak pedal gas dan Jeep hitamnya berakselerasi meninggalkan gerbang pelabuhan, Wana sadar bahwa dinding tebal yang menutupi egonya sejak kemarin baru saja retak oleh sesuatu yang sama sekali tidak bisa dia hancurkan dengan pukulan.














Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!