Kirana mengetukkan ujung telunjuknya ke atas meja. Irama itu stabil, berulang, dan terdengar jelas di sela-sela perdebatan. Bagi tim legal Nagasastra yang duduk di seberang meja, ketukan itu mungkin hanya kebiasaan kecil. Namun bagi Bayu yang duduk tepat di sebelahnya, ketukan itu adalah hitungan mundur sebelum Kirana kehilangan kesabaran dan melempar asbak kaca ke tengah meja.
Rapat gabungan ini sudah berjalan satu setengah jam. Ruang rapat utama di lantai dasar itu terasa seperti kotak sempit tempat seseorang sengaja memasukkan dua ekor ular berbisa, lalu menunggu siapa yang akan menggigit lebih dulu. Berisiko dan sangat berbahaya.
“Klausul ganti rugi di poin tujuh ini tidak masuk akal,” protes pengacara Nagasastra, seorang pria berkacamata yang sedari tadi terus mendorong kertas ke arah Bayu. “Nagasastra mengambil alih seluruh jalur ekspedisi, yang berarti kami menanggung risiko penyitaan di pelabuhan. Ludira tidak bisa sekadar mencuci tangan jika ada pihak ketiga yang mengintervensi rute.”
Bayu menghela napas panjang, mengusap wajahnya dengan lelah. Dia tahu betul bahwa di hadapannya saat ini adalah musuh bebuyutan keluarga. Walaupun Genta secara lisan sudah menyepakati garis besar kerja sama ini, birokrasi di bawahnya tetaplah ekosistem yang terbiasa saling menikam. Gencatan senjata ini terasa seperti berdiri di tengah lapangan ranjau; salah melangkah, meledak saat itu juga.
“Ludira yang menjamin rute itu bersih dari intervensi forum bawah,” balas Bayu, suaranya ditekan agar tetap terdengar profesional. “Kalian hanya perlu memastikan kontainer sampai tanpa ada orang kalian yang memotong kompas. Risiko penyitaan aparat adalah urusan kalian karena kalian yang memegang manifes. Itu kesepakatannya.”
“Tapi secara legal—“
Kirana berhenti mengetukkan jarinya. Matanya menatap pengacara itu, membuat kalimat pria tersebut terpotong seketika.
Di seberang meja, Genta duduk bersandar di kursi. Secara fisik, dia berada di posisi sebagai pemimpin Nagasastra yang sedang mengawasi negosiasi anak buahnya. Namun, pikirannya sudah tidak ada di ruangan itu sejak empat puluh lima menit yang lalu. Matanya menatap wajah Kirana. Dia memperhatikan bagaimana rahang wanita itu menegang, bagaimana mata Kirana menyipit setiap kali pengacaranya bicara terlalu panjang. Genta sudah muak dengan rapat ini. Dia hanya ingin mengusir semua orang bersetelan rapi di ruangan ini, mengunci pintu, dan membawa Kirana pergi makan siang. Hanya berdua.
“Kita hentikan rapat lima belas menit,” suara Kirana memecah ketegangan. Nadanya tegas, tidak menawarkan ruang untuk interupsi. Bayu langsung menyandarkan punggungnya ke kursi dengan kelegaan yang tidak ditutupi. Kirana berdiri, merapikan berkas di depannya. “Bayu, aku akan ke ruang arsip mencari dokumen vendor pelabuhan lima tahun lalu sebagai pembanding. Biarkan mereka membaca ulang drafnya sampai paham.”
Bayu mengangguk tanpa menoleh dari layar laptopnya. Pengacara Nagasastra saling pandang, tetapi Genta hanya memberi isyarat kecil dengan dagunya agar mereka diam.
Kirana membalikkan badan dan melangkah keluar dari ruang rapat. Dia menuju ke sebuah pintu di ujung lorong sayap kiri. Ruang arsip. Begitu pintu terbuka, udara dingin dan aroma khas kertas tua serta debu langsung menyambutnya. Ruangan ini jarang disentuh jika tidak ada urgensi yang mendesak. Seluruh data operasional Ludira sudah terdigitalisasi di bawah kendali Andika, berlapis-lapis enkripsi. Namun, untuk dokumen-dokumen fisik klien lama, bukti tanda tangan basah, dan jejak vendor masa lalu, tumpukan kertas berdebu ini masih menjadi opsi pencarian yang paling akurat.
Kirana melangkah masuk, menyusuri lorong di antara rak-rak besi tinggi yang berjejer rapat. Ruangan ini temaram, hanya diterangi lampu pendar yang menyala otomatis saat mendeteksi gerakan. Dia hafal tata letak ruang arsip ini sama seperti dia hafal posisi barang di kamar tidurnya sendiri. Matanya menelusuri label tahun di sisi rak.
Terdengar suara pintu berderit pelan di belakangnya, disusul bunyi klik dari kunci yang diputar. Kirana tidak menoleh. Dia tahu persis siapa yang berani mengikuti dan mengunci pintu dari dalam di rumah Ludira. Langkah sepatu itu mendekat, sengaja diredam, tetapi ketegasannya tidak bisa disembunyikan.
“Tidak ada kopi di sini,” kata Kirana datar. Tangannya masih bergerak memilah beberapa binder tebal di rak setinggi dada, menarik satu dokumen dan membuka halamannya.
Genta berhenti tepat di belakang Kirana. Jarak mereka kini tak lebih dari beberapa sentimeter. Udara di lorong sempit antara dua rak besi itu mendadak terasa lebih padat. Panas tubuh Genta menembus kain kemeja Kirana, mengusir hawa dingin dari pendingin ruangan.
“Aku mencarimu,” suara Genta terdengar, lebih rendah dari saat dia memimpin rapat tadi.
Genta mengangkat tangannya, meraih pergelangan tangan kiri Kirana yang sedang memegang sisi rak. Dia menarik tangan itu perlahan, lalu menggenggam jemari Kirana dengan erat. Kasar, posesif, namun menuntut kehadiran.
Kirana menarik napas pendek, tetapi dia menolak memutar tubuhnya. Dia mempertahankan tatapannya pada deretan angka di kertas, meski huruf-huruf itu kini tampak kabur. Tangannya yang bebas masih berpura-pura mencari dokumen lain di rak sebelah.
“Setelah ini kita keluar,” kata Kirana. Nada suaranya diusahakan setenang mungkin. “Biarkan Bayu dan pengacaramu yang mengurus sisanya. Aku sudah muak melihat wajah mereka.”
Genta tidak menjawab. Alih-alih melepaskan genggamannya, dia melangkah lebih dekat. Dadanya kini bersentuhan ringan dengan punggung Kirana. Tangan kanannya yang bebas terangkat, menyingkirkan rambut Kirana yang menutupi leher samping wanita itu.
“Ki,” desis Genta. Satu suku kata itu meruntuhkan semua pertahanan yang Kirana bangun sejak pagi.
Genta memutar tubuh Kirana perlahan. Ruang di antara rak itu terlalu sempit, membuat Kirana harus mundur hingga punggungnya membentur permukaan pinggiran rak besi yang dingin. Tangan Genta beralih, menekan permukaan rak tepat di sebelah kepala Kirana, mengurungnya sepenuhnya.
Kirana mendongak. Matanya bertemu dengan mata Genta. Napas Genta terasa hangat menerpa wajah Kirana. Dadanya naik-turun dengan ritme yang lebih cepat. Di ruang rapat tadi, mereka harus memasang topeng tebal, bermain sebagai dua entitas yang saling mencurigai. Di ruangan berbau debu ini, topeng itu ditarik lepas secara paksa.
“Tim legalmu benar-benar menguji kesabaranku,” bisik Kirana, matanya turun sejenak ke bibir Genta sebelum kembali menatap matanya.
“Pecat mereka kalau kau mau,” balas Genta tanpa ragu. Wajahnya menunduk, hingga ujung hidung mereka nyaris bersentuhan. “Atau suruh Wana mengurus mereka. Aku tidak peduli.”
Kirana mendengus pelan, sebuah tawa yang tertahan. Tangannya terangkat, mencengkeram kerah kemeja Genta. Jantungnya berdetak liar. Adrenalin dari rapat yang tegang kini berubah wujud menjadi sesuatu yang jauh lebih liar. Mereka tahu ada belasan orang di ruangan sebelah yang menunggu mereka. Mereka tahu waktu jeda hanya lima belas menit.
Namun saat Genta memiringkan kepalanya, napas mereka bertabrakan, berat dan menuntut. Tepat saat bibir Genta nyaris menyentuh bibirnya, ponsel di saku jas Genta bergetar panjang, disusul suara ketukan keras dari arah pintu luar ruang arsip.
“Ki! Kau menemukan datanya? Pengacara Nagasastra mulai mengoceh soal yurisdiksi lagi!” Suara Bayu menembus dinding ruangan.
Gerakan Genta terhenti. Dia memejamkan mata erat-erat, mengumpat kasar tanpa suara, lalu menyandarkan dahinya di bahu Kirana. Napasnya masih memburu, mencoba menguasai kembali kendali dirinya yang nyaris lepas. Kirana tersenyum tipis, tangannya mengusap tengkuk Genta dengan lembut untuk menenangkannya.
“Beri aku dua menit, Bayu!” seru Kirana ke arah pintu. Suaranya kembali jernih dan berwibawa, seolah tidak terjadi apa-apa.
Dia menepuk dada Genta pelan. “Kembali ke ruangan, Pemimpin Nagasastra. Rapat belum selesai.”
Genta menarik napas panjang, menegakkan tubuhnya, dan merapikan jasnya. Dia menatap Kirana dengan sorot mata yang menjanjikan bahwa urusan di lorong sempit ini sama sekali belum berakhir, sebelum berbalik dan melangkah membuka pintu.














Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!