Lift Barang

1 dibaca

A

Dewi melangkah keluar dari area parkir khusus manajemen menuju lobi utama Garda Medika. Di belakangnya, Kala mengekor dengan langkah malas, kedua tangan tersimpan rapat di dalam saku jaket gelapnya. Sepanjang pagi tadi, Kala membuat Kirana nyaris melempar asbak ke arahnya karena rentetan pertanyaan acak yang terus dilontarkannya saat kakaknya itu sedang fokus meninjau pembaruan kontrak vendor. Ujung-ujungnya, Kirana mengusirnya dari ruang kerja rumah utama, dan Dewi yang kebetulan akan berangkat rapat langsung menyeret Kala agar keluar dari sana.

“Rapatku agak lama. Evaluasi pihak vendor,” kata Dewi tanpa menoleh ke belakang saat mereka mendekati akses khusus. Dia berhenti tepat di depan deretan lift manajemen, lalu berbalik menatap Kala. “Tetap berada di sekitar rumah sakit.”

Tidak ada penekanan nada atau ancaman, tetapi tatapan mata Dewi sudah cukup membuat Kala mengangguk pasrah. Begitu pintu lift manajemen terbuka, Kala berbalik. Dia mengedarkan pandangannya ke lobi utama Garda yang sibuk oleh lalu-lalang pasien dan staf medis. Matanya bergerak cepat, memindai tata letak ruangan secara otomatis. Dia tidak mencari kursi di pojok untuk bersandar santai. Dia mencari titik yang memiliki sudut pandang paling luas, menghitung jumlah kamera pengawas, dan memastikan jalur akses tangga darurat.

“Berjalan-jalanlah, Kal. Garda itu luas. Sayang kalau kamu cuma berdiri seperti patung di sana,” suara Andika mendadak terdengar dari earpiece kecil yang terpasang di telinga kiri Kala.

“Diam,” geram Kala lirih.

Daripada duduk di lobi dan menjadi pusat perhatian, Kala memilih berjalan. Dia menyusuri lorong demi lorong, meninggalkan area ramai yang berbau kuat cairan antiseptik. Dia turun ke lantai basement, melewati area parkir staf operasional yang lengang dan berbau beton lembap, hingga akhirnya langkah kakinya berhenti di depan lift barang.

“Kamu mau inspeksi gudang logistik?” Andika bertanya lagi. Terdengar samar suara seruputan kopi dari seberang saluran komunikasi.

Kala tidak menjawab. Pintu logam lift barang itu bergeser terbuka. Kala melangkah masuk ke dalam ruang lift yang kosong, menatap deretan panel angka, lalu menekan satu tombol secara acak tanpa tujuan spesifik.

“Tunggu!” Seseorang berteriak dari ujung lorong basement. Otak Kala bekerja merespons suara itu. Dia mengenali suara tersebut. Kala seharusnya membiarkan pintu itu tertutup rapat dan mengabaikan siapa pun yang berteriak. Namun, karena suara itu, tangannya refleks bergerak maju, menahan pintu lift tepat sebelum panel karetnya bersentuhan. Pintu kembali bergeser terbuka lebar.

Seorang perempuan berlari masuk dengan napas memburu, sepatu ketsnya berdecit di lantai lift. Kedua tangannya memeluk setumpuk map rekam medis.

Hati Kala terkesiap sekilas. Perempuan toko roti. Kala berdiri diam di sudut lift, kedua tangannya kembali masuk ke dalam saku. Dia menunggu ada sesuatu yang terjadi. Perempuan itu menoleh ke arahnya, dan Kala menunggu respons wajar dari seseorang yang kembali bertemu. Dia menunggu perempuan itu mengenalinya, memundurkan langkah, atau setidaknya memunculkan tanda-tanda kepanikan karena terjebak di ruang sempit bersama orang asing yang pernah bergesekan dengannya. Namun, sama sekali tidak ada tanda-tanda bahwa dia mengingat Kala.

Perempuan itu hanya menghembuskan napasnya lega karena berhasil mengejar lift barang tersebut. Dia beringsut mendekati panel, memencet tombol lantai yang dia tuju, lalu bersandar sedikit ke dinding logam lift untuk mengatur ritme napasnya. Dia melirik ke arah Kala, mengamati pakaian Kala yang sama sekali tidak mencerminkan staf rumah sakit. Dahinya berkerut samar. Kala bergeming, membiarkan perempuan itu melihatnya.

“Karyawan baru?” tanya perempuan itu memecah keheningan.

Kala menoleh perlahan. Matanya sedikit melebar merespons pertanyaan itu. Perempuan itu balas menatapnya dengan raut wajah polos dan rasa ingin tahu.

“Iya,” akhirnya Kala bersuara. Jawabannya terdengar sedikit ragu, bahkan di telinganya sendiri.

Perempuan itu memindahkan tumpukan map ke lengan kirinya. “Bagian apa?” tanyanya lagi, kali ini pandangannya beralih menatap angka lantai di atas pintu lift.

Otak Kala, yang biasanya tidak membutuhkan waktu untuk merancang skenario pelarian, mendadak berhenti bekerja. Dia mencari jawaban yang paling masuk akal, posisi pekerjaan yang tidak mengharuskannya memakai seragam khusus atau sering berinteraksi dengan pasien di area publik.

“IT,” jawab Kala. Dia sedikit menengadah, menatap sudut langit-langit lift tempat kamera keamanan terpasang. Dia menunggu reaksi dari seseorang yang dia tahu pasti ikut mendengar dan melihat pembicaraan ini dari jauh.

Dan benar saja. Tawa Andika langsung meledak memenuhi telinganya. Earpiece kecil itu sempat berdenging nyaring efek dari kencangnya tawa Andika di ruang server.

“IT, Kal? Yang benar saja!” Andika masih tertawa terbahak-bahak. “Untuk update sistem operasi laptop saja kamu memintaku yang melakukannya!”

Rahang Kala menegang. Jika Andika berada di depannya saat ini, Kala bersumpah akan meninju perut laki-laki itu sekeras mungkin agar dia diam dan berhenti menertawakannya. Kala menarik napas pelan, berusaha keras mengabaikan suara tawa yang berlanjut di saluran komunikasi.

“Wah, keren,” respons perempuan itu. Dia menoleh ke arah Kala dengan senyum yang sangat lebar. “Kenalkan, aku Senara, dari Rekam Medis.”

“Kala,” jawabnya singkat setelah berhasil mengendalikan kekesalannya pada Andika.

Lift berhenti. Pintu terbuka di lantai tujuan Senara. Senara melangkah keluar dari lift.

“Semoga betah kerja di Garda, Kala,” ucapnya dengan nada riang. Dia berbalik ke arah Kala sejenak, mempertahankan senyumnya, dan kemudian berbalik pergi meninggalkannya menyusuri lorong bangsal.

Pintu lift kembali tertutup, naik menuju lantai acak yang sejak awal ditekan Kala.

“Kamu mengenalnya, Kal?” Andika bertanya. Tawanya sudah hilang, digantikan oleh nada interogasi yang serius. Andika tahu pasti kebiasaan Kala. Dia sangat jarang membiarkan seseorang yang tidak berkepentingan berbicara padanya, apalagi sampai repot-repot membalas menyebutkan nama aslinya.

“Toko roti.” Jawaban singkat Kala langsung membuat Andika memahami situasinya.

Di ruang server rumah utama, layar monitor Andika menyala terang. Dia membuka lagi file kejadian yang dilaporkan oleh orang lapangannya, staf baru yang saat itu ditegur Kala di trotoar. Tangan Andika bergerak di atas keyboard. Dia membuka database HRD Garda Medika dan mencari riwayat karyawan bernama Senara. Dalam hitungan detik, dia mengunduh foto wajah Senara dari database rumah sakit dan mengirimkan pesannya ke staf lapangan tersebut. Validasi terjadi, Senara adalah perempuan yang sama dengan insiden toko roti.

“Menarik,” gumam Andika dari seberang komunikasi. “Dia tidak mengingatmu, Kal.”

Kala hanya mendesah tidak jelas sebagai jawaban, menyandarkan punggungnya ke dinding lift.

Di depan monitornya, tangan Andika tidak berhenti. Dia mulai memetakan semua hal tentang Senara. Silsilah keluarga, riwayat perbankan, riwayat alamat tempat tinggal, latar belakang pendidikan, dan semua jejak digital yang bisa dia tarik. Andika tidak melakukan pencarian ini untuk menjadikan data Senara sebagai senjata. Namun, trauma masa lalunya saat dia salah membaca profil Sam, membuat Andika memiliki lapisan proteksi yang ekstrem. Kejadian itu membuatnya protektif terhadap Kala melebihi Wana dan Kirana.

“Jangan mencari apapun,” desis Kala memperingatkan. Dia sangat hafal suara ketukan keyboard Andika yang bergerak terlalu cepat.

“Aku hanya melihat,” jawab Andika santai, sambil membuat sebuah folder terenkripsi baru di jaringan internal mereka.

Melihat, dalam konteks Andika, berarti mencari data dan membedah profil seseorang hingga ke akarnya. Kala tahu itu dengan sangat baik. Tapi Kala membiarkannya memproses data tersebut. “Jangan terlalu dalam,” kata Kala memberikan batas akhirnya.

“Hanya permukaan,” Andika menjawab setengah berbohong, sementara layar monitornya terus menarik ribuan baris data pribadi tentang Senara yang akan dia simpan rapat-rapat.

Sudah sampai ujung

Bab terakhir

← Bab sebelumnya

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Komentarnya bisa dibaca siapa saja, tapi menulis butuh akun.

Masuk