Wana tidak pernah mau berurusan dengan birokrasi. Dia tidak akan tahan berhadapan dengan kertas yang harus dia baca dengan seksama, pasal yang harus dia ingat sebelum bertanda tangan. Dia tidak pernah cocok dengan hal-hal yang memerlukan perhitungan otak.
Dia lebih suka berada di lapangan, di bawah terik matahari, menghitung jumlah kontainer atau menghitung jumlah musuh yang harus dia lumpuhkan.
Namun hari ini, Bayu menyuruhnya datang terlebih dahulu ke kantor bea cukai pelabuhan untuk memastikan kontainer mereka yang tertahan masih ada di tempatnya. Wana tahu Bayu hanya mengada-ada. Karena kontainer itu tidak akan bisa bergerak ke mana-mana.
Dan saat ini, Wana sudah berdiri di depan petugas bea cukai yang membawa manifes dan bolpoin yang diketukkan dengan tidak sabar. “Anda siapa?” Pertanyaan yang biasanya membuat Wana akan langsung minimal mematahkan jari orang di depannya itu tertangkap telinganya dengan sangat jelas.
“Pemilik kontainer itu.” Wana bersikukuh.
“Saya butuh manifes, bukan sekedar klaim tanpa bukti.” Perempuan itu bahkan tidak menundukkan kepalanya saat berbicara. Matanya menatap Wana dengan tatapan tegas, tapi tidak mengancam.
“Mavira, maaf, ini manifes yang sudah diperbaharui.” Bayu langsung menyodorkan map ke arah Mavira dan menarik kerah kemeja Wana, menyentaknya ke belakang.
“Oh Pak Bayu, terima kasih.” Mavira menerima map itu dan mulai membacanya, dia terkejut melihat Bayu yang menarik laki-laki di depannya yang dari tadi bersikukuh itu dengan mudah. Dia mengernyitkan dahinya.
“Maafkan dia, dia memang tidak bisa berurusan dengan dokumen.” Bayu tersenyum penuh arti.
“Saya hampir memberinya kuliah singkat tentang kepabean, Pak Bayu. Sepertinya staf Anda butuh coaching manner dan dokumen.” Sesekali Mavira melihat Wana yang masih menatapnya dengan tatapan mengintimidasi. Lalu kembali ke manifes.
Bayu tertawa, lebih tepatnya tertawa mengejek Wana yang mati kutu.
Perbedaan perlakuan itu membuat Wana semakin kesal. Dia melipat kedua tangannya di dada, memperhatikan Bayu dan Mavira yang membahas manifes mereka, menyamakan persepsi.
Mavira menunjuk beberapa kolom dengan ujung bolpoinnya, memastikan kode barang dan tonase. “Selisihnya ada di pos tarif ini, Pak Bayu. Forwarder Anda sebelumnya salah memasukkan kode, makanya sistem kami otomatis menguncinya di jalur merah. Tapi karena revisinya sudah sesuai dengan hasil pindai, saya bisa rilis dokumen persetujuannya hari ini.”
“Terima kasih, Mavira. Saya pastikan forwarder kami tidak melakukan kesalahan amatir seperti ini lagi,” balas Bayu lancar. Dia tahu persis bahasa yang harus digunakan untuk membuat birokrasi bergerak cepat. Sesuatu yang Wana anggap membuang waktu.
Mavira mencetak selembar kertas, membubuhkan stempel di atasnya, lalu menandatanganinya dengan cepat. “Sudah selesai. Kontainernya bisa ditarik siang ini.”
Setelah percakapan selesai dan surat persetujuan pengeluaran barang sudah di tangan, Bayu memasukkan kertas itu ke dalam map. Dia menoleh pada Wana. “Ayo.”
Mavira melihat itu sebagai anomali. Bagaimana mungkin seseorang yang begitu mengintimidasi dengan mudahnya dikuasai oleh seseorang tanpa melawan.
Di area parkir pelabuhan yang panas dan berdebu, Bayu melemparkan kunci mobil, Wana menangkapnya dengan kedua tangannya.
“Kau yang menyetir,” perintah Bayu sambil berjalan santai menuju kursi penumpang Jeep hitam mereka.
Wana masuk ke ruang kemudi, membanting pintu dengan keras. Mesin Jeep menderu kasar saat Wana memutar kunci kontaknya. Alih-alih mengeluarkan mobil dari blok parkir dengan perlahan, Wana menginjak pedal gas, memutar kemudi tajam, dan membuat ban mobil berdecit keras bergesekan dengan aspal panas.
Jeep itu melesat membelah jalanan pelabuhan yang dipenuhi truk-truk kontainer. Wana menyetir ugal-ugalan, menyelip di antara truk raksasa dengan jarak yang hanya menyisakan beberapa sentimeter dari spion. Dia melampiaskan kekesalannya pada pedal gas dan setir mobil.
Bayu yang duduk di sebelah kiri sama sekali tidak terlihat panik. Dia memasang sabuk pengamannya, berpegangan pada tuas di atas pintu, dan menoleh ke arah Wana.
“Egomu tersentil, Wan?” ledek Bayu. Suaranya menembus deru angin dari jendela yang terbuka setengah.
Wana tidak menjawab. Dia memindahkan persneling dengan kasar, menyalip sebuah truk tangki dari sisi kiri.
Bayu tertawa kecil. “Baru kali ini aku melihat ada perempuan yang tidak mundur satu langkah pun saat kau menatapnya seperti mau membunuh. Mavira bahkan tidak berkedip, Wan. Dia malah menyuruhmu belajar sopan santun.”
“Dia hanya petugas loket yang gila hormat,” gerutu Wana tajam. Matanya fokus ke jalanan, tapi genggamannya pada setir mengeras.
“Dia bekerja sesuai aturan legal,” koreksi Bayu tenang. “Dia tidak peduli otot lenganmu sebesar apa atau senjata apa yang kau sembunyikan di balik jaketmu. Bagi Mavira, kau hanya pria menyebalkan yang tidak tahu cara mengisi formulir kepabeanan.”
Wana menginjak rem mendadak saat sebuah truk trailer berbelok memotong jalurnya, membuat Bayu sedikit terdorong ke depan.
“Lain kali, kau saja yang urus kertas sialan itu,” desis Wana kesal.
Bayu menahan tawanya sepanjang jalan keluar dari area pelabuhan. Wana meradang, namun di sudut pikirannya yang paling dalam, dia tidak bisa mengabaikan fakta itu. Ego Wana benar-benar tersentil oleh ketenangan Mavira. Selama bertahun-tahun, dunia luar selalu merespons eksistensinya dengan ketakutan atau penghormatan yang dipaksakan. Tapi perempuan di balik loket tadi sama sekali tak gentar. Kedewasaan dan ketegasan Mavira membuktikan bahwa nama besar Wana tidak laku di wilayah yang diatur oleh hukum dan prosedur resmi. Fakta itu menjengkelkan, namun pada saat yang bersamaan, meninggalkan jejak aneh yang membuat Wana terus memikirkannya tanpa sadar.














Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!