Tanda Tangan dan Peluru

5 dibaca

A

“Kamu tidak ingin mencari kekasih?”

Pertanyaan itu meluncur begitu saja, tanpa aba-aba, memecah keheningan ruangan yang selama dua jam terakhir hanya diisi oleh suara pendingin udara dan gesekan kertas. Kala bertanya dengan nada sedatar orang yang menanyakan jam berapa saat ini.

Kirana, yang sedang duduk di balik meja kerja mahoninya yang besar, menghentikan gerakan tangannya. Ujung pulpen berhentik tepat di atas garis tanda tangan sebuah kontrak akuisisi lahan. Dia tahu pertanyaan itu bukan ditujukan kepadanya, namun tetap saja ada sesuatu yang sangat absurd ketika kalimat semacam itu keluar dari mulut Kala —adik bungsunya, pada siang yang terlalu penuh oleh urusan bisnis.

Di seberang ruangan, Wana yang sejak tadi rebahan di sofa kulit dengan satu map menutupi wajahnya, menurunkan map itu pelan-pelan. Wajah Wana kosong selama beberapa detik. Matanya mengerjap, menatap langit-langit sejenak sebelum menoleh ke arah adiknya.

“Aku?” tanya Wana. Suaranya serak, sisa dari empat puluh delapan jam tanpa tidur karena harus membersihkan rute logistik Wana Ekspor-Impor dari parasit-parasit kecil yang mencoba mencari celah.

Kala menatapnya datar dari kursi di sudut ruangan. Kaki kanannya disilangkan dengan santai. “Iya. Siapa lagi?”

Wana duduk tegak. Sofa berderit di bawah berat badannya. Naluri bertarungnya yang tak pernah benar-benar tidur kini berdesir, bukan karena ada ancaman fisik, melainkan karena kebingungan. “Kamu bertanya padaku?”

“Kirana sudah punya Genta.” Kala menjawab tanpa beban, melempar nama Nagasastra seolah ia sedang menyebut nama tetangga sebelah rumah.

“Jangan bawa-bawa aku dalam masalah kalian,” sergah Kirana cepat, lalu kembali menunduk ke berkasnya. Dia mencoba menulis lagi, memfokuskan matanya pada deretan pasal legal, tetapi pulpennya tidak langsung bergerak. Ada tawa yang mati-matian ia tahan di ujung tenggorokan.

Kala menyandarkan punggung ke kursinya dan meletakkan map di tangannya ke meja kaca di sebelahnya. “Yang waras di sini cuma kamu, Ki.”

Kirana meliriknya tajam. “Itu bukan pujian kalau keluar dari mulutmu, Kal.”

Wana masih belum selesai memproses. Dia menatap Kala lekat-lekat, memindai wajah adiknya seperti sedang memastikan Kala tidak sedang mabuk, tidak sedang berada di bawah pengaruh obat, atau tidak sedang merancang strategi baru untuk memancing amarahnya. Tetapi wajah Kala benar-benar tenang.

“Kamu menyuruhku mencari wanita?” ulang Wana. Nada suaranya mulai naik. “Di mana? Di medan perang?”

Kirana akhirnya tertawa. Tidak keras, tetapi cukup untuk membuat Wana menoleh padanya dengan tatapan tajam. Tawa itu bukan hanya karena kalimat Wana terdengar konyol, melainkan karena kenyataan yang terlalu akurat dan menyedihkan. Hampir seluruh hidup Wana memang habis di lapangan. Kepalanya hanya berisi strategi pertahanan, letak titik buta, rute evakuasi, dan memastikan tubuh-tubuh musuh tidak pernah bisa mendekati rumah utama Ludira.

Kala mendengus pelan. “Benar juga. Aku lupa kamu bahkan bukan manusia.”

Wana berdiri. Gerakannya tidak mendadak, tidak ada gebrakan meja atau teriakan, tetapi cukup membuat udara di ruangan seketika berubah. Kirana tidak mengangkat wajahnya, dia hanya memindahkan berkas penting di depannya sedikit menjauh dari tepi meja, menjauh dari zona bahaya. Dia sudah terlalu sering melihat dua laki-laki dewasa ini berubah dari saudara yang saling melempar lelucon menjadi bencana rumah tangga dalam hitungan detik.

“Kamu mau mati, Kal?” desis Wana. Tubuhnya merendah, titik berat tubuhnya bersiap untuk melontarkan serangan.

Kala mendongak, menatap mata kakaknya dengan tenang. Terlalu tenang untuk seseorang yang baru saja membuat Wana bergerak. “Hanya mengingatkan kemyataan,” jawab Kala ringan.

Kirana memukul meja dengan ujung pulpennya, sebuah ketukan keras. “Jangan bertengkar di ruanganku.”

Pintu terbuka bersamaan dengan kalimat Kirana. Bayu masuk dengan langkah tanpa terburu-buru, membawa satu map hitam tipis. Wajahnya sudah terlalu terbiasa menemukan potensi kekacauan mematikan di ruangan mana pun yang berisi Wana dan Kala. Dia tidak tampak terkejut melihat Wana yang bersiap menerkam.

“Sudah ada yang patah tulang?” tanya Bayu santai, tanpa berhenti melangkah menuju meja Kirana. “Apakah perlu kutelepon unit gawat darurat Garda?”

Wana tidak bergerak dari posisinya. Kala juga masih duduk bersandar. Kirana menatap Bayu dengan ekspresi lega campur lelah, menyuruhnya untuk langsung ke pokok perkara sebelum ruangannya benar-benar menjadi tempat kejadian perkara.

Bayu meletakkan map hitam itu tepat di atas tumpukan berkas Kirana. “Ki, aku butuh kamu mengevaluasi Garda Medika. Sekarang.”

Perubahan nada suara Bayu yang menjadi serius seketika menghilangkan ketegangan antara Wana dan Kala. Jika Bayu membawa urusan ini ke ruang rapat, artinya ada masalah serius.

Kirana membuka map itu. Matanya menyapu deretan angka dan nama perusahaan vendor. “Kenapa mendadak? Laporan audit internal bulan lalu semuanya bersih.”

“Karena hal-hal yang fatal selalu datang sambil pura-pura menjadi masalah administratif kecil,” kata Bayu.

Kala berdiri perlahan. Dia merapikan kemeja hitamnya, lalu mengambil map yang tadi ia letakkan di meja kaca, menutupnya dengan rapi. Tatapannya kembali menjadi mata seorang penguasa klan. “Laporan properti dan logistik sudah aku cek. Semuanya sesuai target. Ada beberapa catatan kaki untuk Andika dan Wana terkait penyesuaian rute teknis, sudah kutulis di sana.”

Kirana menatap adiknya dengan kernyitan di dahi. “Kamu mau ke mana?”

Kala sudah sampai di ambang pintu. Tangan kirinya memegang gagang kuningan. Dia berhenti sejenak, tanpa menoleh. “Menjadi manusia.”

Kalimat itu tidak membutuhkan penjelasan logis, namun cukup membuat isi ruangan terdiam. Kirana, Wana, dan Bayu sama-sama tertegun selama sepersekian detik. Lalu, seolah digerakkan oleh refleks yang dilatih oleh tahun-tahun yang dipenuhi pembunuhan dan pengkhianatan, ketiganya bergumam nyaris bersamaan.

“Hati-hati.”

Kala tertawa pelan. Suara tawa itu menggema sebentar di koridor sebelum pintu tertutup. Ada ironi yang sangat miris di dalam ruangan itu. Mereka baru saja mengucapkan ‘hati-hati’ kepada laki-laki yang bahkan di saat tidurnya pun bisa mematahkan leher seseorang. Mereka memperingatkan sosok yang bagi dunia bawah dianggap sebagai malaikat maut, seolah-olah dunia luar jauh lebih berbahaya daripada iblis yang bersarang di balik tulang rusuk Kala sendiri.

Setelah pintu tertutup rapat, Wana menghembuskan napas kasar dan kembali duduk di sofa. Bukan karena dia sudah merasa tenang. Lebih karena pertanyaan Kala tadi tertinggal di ruangan ini seperti serpihan kaca tajam yang tidak sengaja terinjak di atas karpet. Kekasih. Wanita. Hidup yang bukan hanya sekadar menjalankan misi.

Bayu memperhatikan Wana dari sudut matanya. Laki-laki paruh baya itu memberi isyarat kecil pada Kirana, menunjuk Wana dengan dagunya sambil menaikkan sebelah alis.

Kirana melipat satu lembar berkas dengan rapi, berpura-pura santai. “Dia sedang terguncang karena disuruh mencari kekasih oleh Kala.”

Bayu terdiam. Dia memandang Wana seperti sedang menatap fenomena alam yang sangat ganjil. Tawa tertahan di dada Bayu, hampir saja meledak, tetapi terhenti seketika ketika Wana mengangkat wajahnya dengan kilat membunuh yang kembali menyala. Bayu tahu itu bukan ancaman kosong.

Wana berdiri dengan cepat, melayangkan satu pukulan lurus ke arah kepala Bayu. Bayu menepis pukulan itu dengan gerak melingkar yang ringan, membiarkan kesempatan Wana lewat begitu saja seolah ia sudah mengira serangan itu akan datang sejak detik pertama ia masuk.

“Kamu juga harus mulai mencari pasangan, Pak Tua,” geram Wana dengan suara rendah, menarik tangannya kembali.

Bayu menepuk-nepuk lengan jasnya yang tidak berdebu. “Aku, Dewi, dan Andika sepertinya sudah menikah dengan Ludira lebih lama dari umur kalian. Kami sudah mengorbankan masa muda kami untuk memastikan kalian tetap hidup. Jangan menasihati kami soal asmara.”

Wana menatap Bayu sebentar, tak bisa membantah kebenaran dalam kalimat itu. Ia berbalik dan berjalan keluar ruangan tanpa pamit. Ada perubahan yang tak kasatmata. Sesuatu di dalam diri Wana sedang bergejolak, dan di rumah utama ini, gejolak emosi sering kali berujung pada pertumpahan darah.

Wana menyusuri lorong panjang. Dia tidak membalas sapaan beberapa staf keamanan yang menunduk hormat saat ia lewat. Langkahnya membawanya turun, melewati dua pintu keamanan berlapis baja, menuju bunker bawah tanah—gudang senjata klan Ludira.

Aroma logam, minyak pelumas, bubuk mesiu, dan kayu tua menyambutnya seperti pelukan kawan lama. Bau ini terasa jauh lebih jujur dan menenangkan daripada aroma kopi premium di ruang kerja Kirana. Di ruangan ini, segalanya memiliki fungsi yang jelas. Pisau diciptakan untuk memotong daging dan nadi. Peluru dirancang untuk menembus tulang dan menghentikan jantung. Senjata ada untuk membunuh atau melindungi. Tidak ada kerancuan emosi. Tidak ada yang menuntutnya untuk menjadi manusia yang lebih lunak.

“Wanita?” gumam Wana pada dirinya sendiri, suaranya tenggelam di antara rak-rak senapan serbu.

Kalau itu adalah pukulan, dia tahu cara menghindar. Kalau itu adalah hujan peluru, dia tahu sudut yang tepat untuk membalas tembakan. Tetapi perempuan? Kasih sayang? Itu adalah medan perang yang tak pernah ia pelajari petanya. Benda asing yang tidak memiliki tempat di tubuhnya yang penuh luka ini.

Di mana dia bisa menemukan seseorang yang tidak akan gemetar ketakutan saat melihatnya? Seseorang yang tidak menundukkan pandangan hanya karena ia berdiri terlalu dekat? Seseorang yang tidak menganggap pistol di pinggangnya, keluarganya yang mematikan, dan nama besar Ludira sebagai alasan mutlak untuk lari menjauh?

Wana menarik sebuah pisau tempur Karambit dari sarungnya, memandangi bilah melengkungnya yang berkilat ditimpa lampu neon. Kirana sudah menautkan hatinya pada Genta. Nagasastra. Musuh bebuyutan mereka. Keluarga yang namanya dulu selalu diucapkan dengan ludah dan darah. Dan entah bagaimana keajaibannya, laki-laki itu bisa masuk ke dalam kehidupan adiknya tanpa membuat Kirana kehilangan taringnya. Mereka saling mengimbangi dalam diam yang berbahaya.

Kala pernah kehilangan seluruh kewarasannya karena cinta. Sam. Nama itu adalah ruangan gelap yang tak pernah dibuka pintunya oleh siapa pun di rumah utama. Kematian Sam membuat Kala menghilang lima tahun, menjelma menjadi hantu yang membantai puluhan orang hanya untuk menumpulkan rasa sakitnya. Wana menahan diri untuk tidak menyeret adiknya pulang saat itu, karena ia tahu ada jenis luka yang tak bisa disembuhkan dengan paksaan. Dan itu yang Kala sebut cinta.

Wana meletakkan Karambit itu kembali. Apakah ia harus mengalami hal yang sama? Atau sesuatu yang lebih buruk? Dia tak ingin membayangkan variabel yang tak bisa dikendalikan oleh tangannya. Lebih baik ia tetap menjadi monster pelindung. Itu sudah cukup.

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Komentarnya bisa dibaca siapa saja, tapi menulis butuh akun.

Masuk