Trotoar dan Kantong Kertas

4 dibaca

A

Menjadi manusia, bagi sebagian besar orang, adalah rutinitas yang tak pernah dipikirkan. Namun bagi Kala, itu adalah sebuah misi eksperimental.

Hari itu adalah hari di mana Kala berjalan keluar dari gerbang rumah utama bukan untuk menemui kolega bisnis, bukan untuk duduk di ruang negosiasi yang dingin dengan pistol terselip di balik jas, dan jelas bukan untuk menjalankan misi eksekusi tingkat tinggi. Misi-misi berdarah itu masih ada, disembunyikan rapi di balik meja Wana dan peretasan Andika, menunggu untuk diselesaikan di keheningan malam. Tetapi siang ini, Kala membiarkan dunia gelap itu tertinggal di belakang.

Kala keluar untuk berjalan biasa. Ia menyusuri trotoar kota yang bising, membaur di antara pejalan kaki, pedagang kaki lima, dan deru kendaraan. Ia melangkah masuk ke dalam sebuah toko buku tua yang tenang, membiarkan jarinya menyentuh deretan punggung buku tanpa benar-benar membaca judulnya, lalu membeli satu novel fiksi klasik yang ia pilih semata-mata karena warna sampulnya terlihat tidak mengancam. Setelah itu, ia menyeberang jalan menuju sebuah toko roti kecil yang menguarkan aroma mentega manis, membayar untuk dua buah donat gula, menerima kantong kertas cokelat dari kasir yang tersenyum ramah, lalu kembali ke jalanan.

Kala berjalan pelan. Langkahnya santai, badannya tidak tegang. Tentu saja, ia tidak benar-benar dibiarkan sendirian. Andika, tidak akan pernah membiarkan aset terpenting Ludira berjalan-jalan tanpa bayangan. Bukan karena Andika meragukan kemampuan Kala membunuh sepuluh orang bersenjata dengan tangan kosong, melainkan karena protokol keamanan klan tidak mengenal istilah ‘libur’. Kala tahu ada dua pasang mata yang mengawasinya dari radius jauh. Biasanya, orang-orang bayangan ini cukup terlatih untuk berbaur dengan lingkungan, tahu persis jarak aman agar insting Kala tidak merasa terancam. Sayangnya, hari ini, salah satu dari pengawal itu terlalu muda dan terlalu bodoh untuk memahami perbedaan mendasar antara ‘menjaga’ dan ‘membuntuti’.

Kala sudah menyadari keberadaannya sejak ia melangkah keluar dari toko buku. Langkah di belakangnya terlalu ritmis, terlalu rajin menyesuaikan dengan tempo langkah Kala. Tubuh di belakangnya bergerak dengan kesungguhan kaku yang melelahkan, tipikal anak baru dari kamp pelatihan yang mengira kesetiaan diukur dari seberapa dekat ia menempel pada target penjagaannya.

Kala menahan rasa jengkelnya yang mulai mendidih hingga ia tiba kembali di depan toko roti. Lalu, tanpa peringatan, ia menghentikan langkahnya secara mendadak. Kantong kertas di tangan kirinya bergoyang pelan. Tubuh di belakangnya, yang gagal membaca perubahan ritme yang tiba-tiba, terlambat mengerem. Bahu orang itu menabrak punggung Kala dengan keras.

Kala berpaling perlahan. Pengawal muda itu mundur setengah langkah dengan panik, mendongak menatap wajah Kala sejenak, lalu menundukkan kepalanya dalam-dalam dengan gemetar. “Maaf, Mas,” cicitnya, suaranya nyaris hilang ditelan suara klakson mobil di jalan.

Kala memutar tubuhnya sepenuhnya. Dunia di sekitar mereka tetap bergerak acuh tak acuh. Orang-orang berlalu-lalang, pintu toko terbuka dan tertutup diiringi bunyi lonceng kecil. Tidak ada warga sipil yang menyadari bahwa ada ancaman yang baru saja tumpah di atas trotoar itu. “Berapa lama?” tanya Kala. Suaranya tidak keras, tetapi memiliki berat yang bisa meremukkan nyali.

Pemuda itu menelan ludah dengan susah payah. “Maksudnya, Mas?”

“Berapa lama kamu bergabung di lapangan?”

“Sebulan, Mas.”

Kala menatapnya tanpa berkedip. Sebulan. Terlalu hijau untuk ditempatkan di ring satu, tetapi cukup dewasa untuk membuat kesalahan yang bisa membunuhnya sendiri.

“Siapa yang memberimu izin berdiri di radius ini?” Orang itu semakin menunduk, bahunya menegang kaku. Tangannya refleks hampir bergerak ke arah pistol di pinggangnya, sebelum ia tersadar bahwa gerakan sekecil apa pun akan dianggap Kala sebagai ancaman. “Jawab.”

“Tolong jangan mengintimidasi orang di ruang publik, Mas.” Sebuah suara perempuan memotong interogasi mematikan itu.

Kala menoleh, sesuatu yang jarang ia lakukan saat sedang mengunci target. Perempuan itu berdiri sekitar tiga langkah dari mereka. Wajahnya tidak menunjukkan kemarahan yang meledak-ledak, juga sama sekali tidak menunjukkan ketakutan. Ekspresinya hanya kekesalan seorang warga sipil yang melihat penindasan tidak masuk akal di tempat umum.

Pengawal Andika menegang hebat, wajahnya pucat pasi seolah ia baru saja melihat seorang pejalan kaki dengan santainya berjalan masuk ke tengah ladang ranjau.

“Kalau ada kesalahpahaman,” lanjut perempuan itu dengan nada tegas, mengibaskan tangannya sedikit, “sebisa mungkin diselesaikan baik-baik. Tidak perlu membentak atau menyudutkan orang seperti itu di trotoar. Ini bukan jalan milik Anda.”

Kala tidak berkata apa-apa. Bukan karena ia kehilangan kata-kata. Tapi keadaan ini membuatnya tidak bisa berpikir dengan benar. Dia ditegur oleh orang asing.

Perempuan itu berdiri di sana selama beberapa detik, membalas tatapan Kala, memastikan tidak ada baku hantam yang akan terjadi. Ketika ia merasa situasi sudah aman, ia membalikkan badan dan berjalan pergi. Begitu saja. Ia tidak bertanya siapa Kala. Tidak mencari tahu mengapa pemuda berjas itu begitu ketakutan. Tidak menoleh lagi ke belakang. Ia kembali menjadi bagian dari lautan manusia. Kala mengikuti punggung perempuan itu dengan matanya hingga sosoknya ditelan keramaian.

“Mas,” panggil pengawal itu dengan suara parau, mengira ini adalah akhir dari hidupnya.

Kala mengalihkan pandangannya kembali pada pemuda malang itu. Matanya kini tak lagi membawa kematian. “Menjauh. Radius dua ratus meter. Aku pulang sore.”

Pemuda itu menghembuskan napas yang dengan susah payah ia tahan agar tak terdengar seperti isakan syukur. Ia mundur cepat, membungkuk sekali lagi, lalu menghilang ke arah yang lebih aman sebelum Kala berubah pikiran.

Kala berdiri mematung di depan toko roti. Suara bising kota perlahan kembali memenuhi telinganya. Beberapa detik kemudian, ia tertawa. Itu bukan tawa sinis atau tawa mengejek. Itu adalah tawa yang sungguh-sungguh, pendek namun cukup membuat dua orang pejalan kaki menoleh heran ke arahnya. Ada sesuatu yang sangat ironis dan teramat manusiawi dalam insiden yang baru saja terjadi.

Seseorang telah menegurnya. Menegurnya layaknya pria biasa yang berbuat salah. Bukan menodongkan senjata api ke pelipisnya. Bukan meneriakkan nama Ludira dengan gemetar. Bukan berdiri di hadapannya sebagai representasi klan musuh atau utusan dendam. Hanya seorang perempuan asing, warga sipil biasa yang marah karena ada pria bertubuh besar menindas orang di pinggir jalan. Dan setelah menceramahinya, ia melenggang pergi melanjutkan hidup.

Kala tersadar bahwa selama bertahun-tahun, ia lupa akan bentuk interaksi paling sederhana ini. Tidak semua orang yang menatap matanya menginginkan kematiannya. Tidak semua suara yang menghampirinya adalah deklarasi perang.

Kala melihat ke bawah, pada kantong kertas berisi donat gula di tangannya. Senyum tipis, sangat tipis namun nyata, terukir di sudut bibirnya.

Menjadi manusia, pikirnya sambil melangkah kembali, mungkin bukan berarti harus melepaskan pisau di saku atau menghapus darah dari nama keluarga. Mungkin ini hanya berarti ada satu hari di mana seseorang bisa memarahi tanpa tahu siapa yang ia marahi, dan membiarkan omelan itu meresap tanpa mengubahnya menjadi tragedi.

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Komentarnya bisa dibaca siapa saja, tapi menulis butuh akun.

Masuk