BUNGA DI BALIK PABRIK
Malam telah menyelimuti Desa Weningjati.
Langit tampak gelap tanpa banyak bintang. Awan hitam menggantung rendah di atas pepohonan, sementara angin berembus pelan membawa aroma tanah basah. Di kejauhan, suara jangkrik bersahutan dengan bunyi burung malam yang sesekali terdengar dari balik hutan.
Namun, di sebelah timur desa, suasana malam itu terasa berbeda.
Sebuah pabrik keramik berdiri megah di atas tanah yang luas. Bangunannya menjulang dengan dinding-dinding beton, cerobong asap tinggi, serta gudang besar yang dipenuhi tumpukan keramik siap dikirim ke berbagai kota.
Pabrik itu bernama PT Jatmoko Keramik.
Pemiliknya adalah seorang pengusaha kaya bernama Pak Jatmoko. Berkat usahanya, pabrik tersebut berkembang pesat dan menjadi sumber penghasilan bagi banyak warga desa.
Akan tetapi, tidak semua orang merasa nyaman bekerja di sana.
Ada sesuatu yang tidak pernah dibicarakan oleh para pekerja.
Sesuatu yang disembunyikan di balik tembok pabrik.
Sesuatu yang hanya diketahui oleh pemiliknya.
Dan malam itu, rahasia tersebut mulai menunjukkan tanda-tanda akan terbongkar.
### Suara dari Ruang Pembakaran
Jam dinding di ruang produksi menunjukkan pukul sebelas lewat empat puluh lima menit.
Sebagian besar pekerja telah pulang. Hanya beberapa orang yang masih bertugas untuk mengawasi tungku pembakaran dan memastikan seluruh mesin berjalan dengan baik.
Salah satunya adalah seorang pria bernama Sutrisno, pekerja yang telah mengabdi di pabrik itu selama hampir tujuh tahun.
Malam itu, Sutrisno mendapat tugas memeriksa bagian belakang gedung produksi. Ia membawa senter kecil dan mengenakan jaket lusuh berwarna biru tua.
Langkahnya terdengar menggema di lantai beton.
Tok... tok... tok...
Di dalam pabrik, udara terasa panas meskipun sebagian mesin telah dimatikan. Bau tanah liat, debu keramik, dan asap tungku memenuhi ruangan.
Sutrisno berhenti di depan panel listrik.
Ia memeriksa beberapa sakelar, kemudian mencatat angka pada lembar pemeriksaan.
“Semua normal,” gumamnya.
Baru saja ia hendak berbalik, tiba-tiba terdengar suara dari arah ruang pembakaran.
Tang... tang... tang...
Seperti suara seseorang mengetuk dinding keramik.
Sutrisno mengangkat kepala.
“Siapa itu?”
Tidak ada jawaban.
Ia menunggu beberapa saat.
Kemudian suara itu terdengar lagi.
Tang... tang... tang...
Kali ini lebih jelas.
Sutrisno mengarahkan senter ke lorong gelap yang menuju ruang pembakaran. Cahaya kecil itu hanya mampu menerangi sebagian lantai. Di ujung lorong, pintu besi tampak tertutup rapat.
Ia mengerutkan kening.
“Jangan-jangan ada orang yang belum pulang.”
Sutrisno berjalan mendekat.
Semakin dekat dengan pintu, hawa panas yang keluar dari celahnya semakin terasa. Namun, di antara panas tersebut, ada aroma lain yang membuat hidungnya mengernyit.
Bau kemenyan.
Sutrisno berhenti.
Ia sudah bekerja di pabrik itu selama bertahun-tahun. Bau tanah liat dan bahan bakar sudah biasa baginya. Akan tetapi, aroma kemenyan seperti itu tidak pernah ia cium sebelumnya di ruang pembakaran.
“Bau apa ini?”
Ia memegang gagang pintu.
Dingin.
Padahal, dari balik pintu terdengar suara tungku yang masih menyala.
Sutrisno menarik napas, lalu membuka pintu perlahan.
Kreeeek...
Ruangan itu gelap.
Tungku pembakaran berada di sisi kanan, mengeluarkan cahaya merah samar dari celah-celahnya. Beberapa rak keramik berdiri berjajar, menciptakan bayangan panjang di lantai.
Sutrisno menyapu ruangan dengan senter.
Tidak ada siapa-siapa.
Ia melangkah masuk.
“Kalau ada orang, jangan bercanda. Saya sedang kerja.”
Tiba-tiba, terdengar suara perempuan dari sudut ruangan.
“Panas...”
Sutrisno membeku.
Suara itu terdengar lirih, seperti seseorang sedang menahan rasa sakit.
Ia menoleh ke arah rak keramik.
“Siapa?”
Tidak ada jawaban.
Kemudian suara itu terdengar kembali.
“Panas sekali...”
Sutrisno mundur selangkah.
Senter di tangannya bergetar.
Ia mencoba meyakinkan dirinya bahwa suara tersebut mungkin berasal dari radio, televisi, atau pekerja lain yang sedang bercanda. Namun, ruangan itu tidak memiliki radio, dan ia yakin tidak ada seorang pun di sana.
Lalu, dari balik rak keramik, terdengar suara benda jatuh.
Brak!
Sutrisno tersentak.
Cahaya senter diarahkan ke lantai.
Sebuah keramik berbentuk mangkuk telah pecah. Di belakangnya, terdapat bayangan hitam yang bergerak perlahan.
Sutrisno menahan napas.
“Siapa di sana?”
Bayangan itu berhenti.
Sesaat kemudian, sesuatu merangkak keluar dari balik rak.
Bukan manusia.
Atau setidaknya, bukan sesuatu yang ingin ia kenali sebagai manusia.
Sutrisno melihat sepasang kaki pucat berdiri di atas lantai. Kaki itu kotor oleh tanah hitam, dan ujung-ujung jarinya tampak memerah seperti baru saja keluar dari bara api.
Senter di tangannya mulai berkedip.
Tik... tik... tik...
Sutrisno mundur.
“Ya Allah...”
Dari balik rak, terdengar suara perempuan tertawa pelan.
“Hehehe...”
Sutrisno menjatuhkan senter.
Cahaya senter berputar di lantai, menerangi sosok yang perlahan berdiri.
Perempuan itu mengenakan kain putih kusam. Rambutnya panjang, menjuntai menutupi wajah. Tubuhnya kurus, dan kulitnya terlihat pucat seperti mayat yang telah lama dikubur.
Di tangannya, ia menggenggam setangkai bunga putih.
Bunga itu tampak indah.
Namun, dari kelopaknya menetes cairan merah kehitaman.
Sutrisno tidak mampu bergerak.
Perempuan itu mengangkat kepalanya.
Rambut yang menutupi wajahnya bergeser sedikit.
Tidak ada mata.
Tidak ada hidung.
Tidak ada mulut.
Hanya permukaan wajah pucat yang rata.
Sutrisno ingin berteriak, tetapi suaranya tercekat di tenggorokan.
Perempuan itu mengangkat bunga di tangannya.
“Bunga ini... belum cukup.”
Suara yang keluar terdengar seperti berasal dari banyak orang sekaligus.
Sutrisno berbalik dan berlari menuju pintu.
Namun, baru beberapa langkah, pintu besi di belakangnya tertutup sendiri.
BRAK!
Ia mencoba menarik gagang pintu.
Tidak bergerak.
“Buka! Tolong!”
Dari belakangnya terdengar suara langkah kaki.
Srk... srk... srk...
Seperti seseorang menyeret tubuhnya di atas lantai.
Sutrisno memukul pintu dengan kedua tangannya.
“Tolong! Ada orang?”
Tidak ada jawaban dari luar.
Kemudian aroma bunga yang busuk memenuhi ruangan.
Sutrisno menoleh perlahan.
Perempuan itu sudah berdiri tepat di belakangnya.
Kali ini, wajahnya tampak lebih jelas.
Dari permukaan kulit pucatnya, perlahan muncul garis merah menyerupai retakan.
Retakan itu melebar.
Sebuah mulut terbuka di wajahnya.
“Jatmoko...”
Sutrisno gemetar.
“Pak Jatmoko?”
Perempuan itu tidak menjawab.
Ia hanya mendekatkan bunga putih tersebut ke wajah Sutrisno.
“Dia berjanji...”
Suara perempuan itu berubah menjadi jeritan panjang.
“Dia berjanji akan memberikan lebih banyak!”
Sutrisno menjerit.
Dan pada saat yang sama, seluruh lampu di pabrik padam.
### Pagi yang Membawa Kematian
Ayam jantan berkokok ketika matahari mulai muncul di balik perbukitan.
Desa Weningjati perlahan kembali hidup. Para pedagang mulai membuka warung, anak-anak bersiap berangkat sekolah, dan para pekerja pabrik berjalan menuju tempat kerja masing-masing.
Namun, pagi itu, suasana di PT Jatmoko Keramik mendadak kacau.
Seorang mandor bernama Darto menemukan pintu ruang pembakaran masih terkunci dari dalam.
“Sutrisno!” teriaknya sambil mengetuk pintu. “Sudah selesai pemeriksaan?”
Tidak ada jawaban.
Darto menoleh kepada dua pekerja lain yang berdiri di belakangnya.
“Semalam dia masih bertugas, kan?”
“Iya, Pak. Saya lihat dia masuk ke bagian belakang sekitar jam sebelas,” jawab salah seorang pekerja.
Darto mengerutkan kening.
Ia mencoba membuka pintu, tetapi tidak berhasil.
“Ambil kunci cadangan.”
Seorang pekerja berlari menuju kantor.
Beberapa menit kemudian, pintu besi itu akhirnya terbuka.
Bau busuk langsung menyambut mereka.
Bukan bau bangkai biasa.
Bau itu bercampur dengan aroma tanah basah dan kemenyan yang menusuk hidung.
Darto menutup hidung dengan tangan.
“Bau apa ini?”
Ia menyalakan lampu.
Ruangan pembakaran tampak berantakan. Beberapa rak keramik roboh, dan lantai dipenuhi pecahan barang produksi.
Namun, yang membuat semua orang terdiam adalah apa yang terlihat di dekat tungku.
Sutrisno tergeletak di lantai.
Tubuhnya masih mengenakan jaket biru tua. Wajahnya pucat, kedua matanya terbuka lebar, dan mulutnya menganga seperti sedang berteriak sebelum ajal menjemput.
Di sekeliling tubuhnya terdapat tanah hitam.
Sementara itu, tepat di dekat tangan kanannya, tumbuh setangkai bunga putih dari celah lantai.
Bunga itu tampak segar.
Padahal, lantai tersebut terbuat dari beton.
Darto melangkah mundur.
“Panggil ambulans!”
Salah seorang pekerja segera mengeluarkan telepon.
Namun, sebelum ia sempat menelepon, terdengar suara tangisan dari dalam tungku.
“Jangan... jangan bakar aku...”
Semua orang membeku.
Darto menoleh ke arah tungku.
“Siapa yang bicara?”
Tidak ada jawaban.
Suara itu terdengar lagi.
“Panas...”
Seorang pekerja langsung berlari keluar.
“Pak, saya nggak mau di sini!”
Darto berusaha menenangkan mereka, tetapi dirinya sendiri mulai ketakutan.
Ia tahu bahwa tidak ada seorang pun di dalam tungku.
Ia juga tahu bahwa suara tersebut bukan berasal dari mesin.
Beberapa menit kemudian, Pak Jatmoko datang dengan mobil hitamnya. Ia turun dengan mengenakan kemeja putih dan celana panjang mahal. Wajahnya tampak kesal karena harus datang sepagi itu.
“Ada apa sampai pabrik dibuat ribut?” tanyanya.
Darto segera menghampirinya.
“Pak, Sutrisno ditemukan meninggal di ruang pembakaran.”
Pak Jatmoko berhenti.
“Men meninggal?”
“Iya, Pak. Kami belum tahu penyebabnya.”
“Panggil polisi. Jangan ada yang menyentuh apa pun.”
Nada suara Pak Jatmoko terdengar tegas.
Namun, ketika ia melangkah menuju ruangan tersebut dan melihat bunga putih di dekat tubuh Sutrisno, wajahnya berubah.
Untuk sesaat, ia tidak bergerak.
Matanya terpaku pada bunga itu.
Bunga yang kelopaknya berwarna putih pucat.
Bunga yang tumbuh dari lantai beton.
Bunga yang pernah ia lihat bertahun-tahun lalu.
Pak Jatmoko mengepalkan tangan.
“Tidak mungkin...”
Darto menoleh.
“Bapak kenal bunga itu?”
Pak Jatmoko segera mengalihkan pandangan.
“Jangan banyak bertanya. Bersihkan ruangan ini setelah polisi datang.”
“Tapi, Pak, bunga itu—”
“Saya bilang, jangan banyak bertanya!”
Suara Pak Jatmoko meninggi.
Semua pekerja terdiam.
Ia kemudian berjalan keluar dari ruang pembakaran, tetapi langkahnya tidak lagi setenang tadi.
Di balik wajah kerasnya, sebuah ketakutan lama mulai bangkit.
Ketakutan yang selama ini ia kubur bersama rahasia pabrik tersebut.
### Rahasia di Bawah Tanah
Di dalam kantor pribadinya, Pak Jatmoko menutup semua tirai.
Ia memastikan tidak ada seorang pun yang mengikutinya.
Kemudian ia membuka lemari kayu besar di belakang meja kerja.
Di dalam lemari itu terdapat beberapa dokumen perusahaan, buku rekening, serta sebuah kotak kayu tua yang dibungkus kain hitam.
Pak Jatmoko mengambil kotak tersebut.
Tangannya gemetar.
Ia meletakkannya di atas meja, lalu membuka penguncinya.
Di dalamnya terdapat sebuah benda yang telah berusia puluhan tahun: sebuah wadah tanah liat kecil dengan ukiran yang menyerupai wajah manusia.
Di sampingnya terdapat selembar kain merah tua dan beberapa kuntum bunga putih yang telah mengering.
Pak Jatmoko menatap benda-benda itu dengan wajah pucat.
“Sudah bertahun-tahun...” bisiknya. “Kenapa sekarang?”
Ia teringat kembali masa lalu.
Dahulu, pabrik itu hanyalah sebuah usaha kecil. Ia tidak memiliki banyak uang. Pesanan sedikit, pekerja sering berhenti, dan utang terus menumpuk.
Dalam keadaan terdesak, ia bertemu dengan seorang lelaki tua yang dikenal sebagai Mbah Reksadana.
Lelaki itu tinggal di sebuah rumah tua di pinggir hutan, jauh dari permukiman warga. Orang-orang desa mengatakan bahwa Mbah Reksadana bukan orang biasa.
Ia mengetahui berbagai ilmu gaib.
Ia juga mengetahui rahasia kekayaan yang tidak bisa diperoleh melalui jalan manusia biasa.
Pada suatu malam, Pak Jatmoko datang meminta bantuan.
“Aku ingin usahaku besar,” katanya waktu itu. “Aku ingin kaya. Aku ingin semua orang tunduk kepadaku.”
Mbah Reksadana hanya menatapnya lama.
“Kekayaan bukan sesuatu yang bisa kau minta tanpa membayar.”
“Apa pun syaratnya, akan kupenuhi.”
Lelaki tua itu tersenyum tipis.
“Kalau begitu, jangan pernah mengingkari janji.”
Mbah Reksadana kemudian membawanya ke sebuah tempat yang jauh dari desa. Di sana terdapat tanah kosong dengan sebuah batu besar yang dikelilingi pohon-pohon tua.
Di bawah batu itu, menurut Mbah Reksadana, bersemayam kekuatan gaib yang dapat melipatgandakan rezeki.
Namun, kekuatan itu memiliki syarat.
Syarat yang tidak pernah ditulis dalam dokumen mana pun.
Syarat yang hanya disampaikan melalui bisikan.
Pak Jatmoko masih mengingat kata-kata tersebut.
“Jika ingin pabrikmu berkembang, berikan persembahan. Jangan pernah berhenti. Jika kau berhenti, sesuatu yang telah kau panggil akan menagih.”
Saat itu, Pak Jatmoko tidak peduli.
Ia hanya memikirkan kekayaan.
Setelah ritual dilakukan, usaha kecilnya mulai berkembang. Pesanan berdatangan. Modal bertambah. Pabrik yang dahulu hanya memiliki beberapa pekerja berubah menjadi perusahaan besar.
Ia mendapatkan semua yang diinginkannya.
Namun, bersamaan dengan pertumbuhan pabrik, berbagai kejadian aneh mulai muncul.
Ada pekerja yang mendengar suara tangisan di malam hari.
Ada yang melihat perempuan berdiri di dekat tungku.
Ada pula yang tiba-tiba sakit setelah menemukan bunga putih di sekitar halaman pabrik.
Pak Jatmoko selalu menutup semua kejadian itu.
Ia memberikan uang kepada keluarga korban.
Ia memerintahkan para mandor untuk tidak membicarakannya.
Ia bahkan pernah memindahkan beberapa pekerja ke tempat lain agar tidak ada yang curiga.
Selama bertahun-tahun, semuanya seolah berjalan baik.
Sampai malam ini.
Pak Jatmoko menatap bunga kering di dalam kotak.
“Jangan bilang... persembahannya sudah tidak cukup.”
Tiba-tiba, terdengar suara dari sudut ruangan.
“Jatmoko...”
Pak Jatmoko tersentak.
Ia menoleh.
Tidak ada siapa-siapa.
“Siapa?”
Suara itu terdengar lagi.
“Jatmoko...”
Kali ini, suara tersebut berasal dari bawah meja.
Pak Jatmoko mundur.
Wajahnya memucat.
Dari celah lantai di bawah meja, muncul akar-akar kecil berwarna hitam. Akar tersebut bergerak perlahan, merambat di antara retakan beton.
Kemudian, sebuah bunga putih tumbuh di sana.
Kelopaknya membuka satu per satu.
Bau busuk memenuhi ruangan.
Pak Jatmoko menjatuhkan kotak kayu dari tangannya.
“Tidak...”
Dari dalam bunga itu terdengar bisikan.
“Janji... harus ditepati...”
Pak Jatmoko menutup telinganya.
“Diam!”
Namun, suara tersebut berubah menjadi tawa panjang.
Hahahaha...
Di luar kantor, seorang pekerja yang sedang melewati lorong mendengar suara itu. Ia berhenti dan menoleh ke arah pintu.
“Pak Jatmoko?”
Tidak ada jawaban.
Pekerja itu hendak mengetuk pintu, tetapi tiba-tiba terdengar suara benda pecah dari dalam.
Prang!
Ia langsung berlari.
### Tiga Orang dengan Jalan Berbeda
Sementara itu, di sebuah rumah sederhana di bagian barat Desa Weningjati, seorang pemuda sedang duduk di teras.
Namanya Anto.
Usianya masih muda, tetapi perjalanan hidupnya telah mempertemukannya dengan berbagai kejadian yang tidak bisa dijelaskan oleh akal manusia biasa.
Anto memiliki kemampuan mata batin.
Kemampuan tersebut membuatnya mampu melihat sesuatu yang tersembunyi di balik dunia kasatmata. Tidak semua yang ia lihat dapat dipahami, dan tidak semua yang ia lihat ingin ia saksikan.
Pagi itu, Anto sedang memandangi secangkir kopi ketika tiba-tiba tubuhnya menegang.
Angin di halaman rumah mendadak berhenti.
Suara burung menghilang.
Kemudian, sebuah bayangan melintas di depan pagar.
Anto mengangkat wajah.
Di seberang jalan, berdiri seorang perempuan mengenakan kain putih.
Rambutnya panjang.
Kepalanya tertunduk.
Di tangannya terdapat bunga putih.
Anto berkedip.
Bayangan itu menghilang.
Namun, aroma kemenyan masih terasa di udara.
Anto meletakkan cangkirnya.
“Bunga itu lagi...”
Sudah beberapa malam ia melihat sosok yang sama dalam tidurnya. Sosok perempuan tanpa wajah yang berdiri di dekat bangunan tua.
Setiap kali Anto mencoba mendekat, perempuan itu selalu menghilang.
Akan tetapi, pagi itu, ia melihat sesuatu yang berbeda.
Di belakang perempuan tersebut, tampak bangunan besar dengan cerobong asap.
Pabrik keramik.
Anto berdiri.
“Mungkinkah ada hubungannya dengan kejadian di pabrik?”
Ia belum sempat berpikir lebih jauh ketika telepon genggamnya berdering.
Nama Rehan muncul di layar.
Anto segera mengangkatnya.
“Assalamu’alaikum.”
“Wa’alaikumussalam, To. Kamu sudah dengar kabar pabrik Pak Jatmoko?”
“Belum. Memangnya kenapa?”
“Ada pekerja meninggal tadi malam. Katanya ditemukan di ruang pembakaran.”
Anto terdiam.
“Siapa?”
“Sutrisno. Orang yang sudah lama bekerja di sana.”
Anto memandang halaman rumahnya.
“Penyebabnya?”
“Belum tahu. Tapi orang-orang desa bilang ada bunga aneh tumbuh di dekat tubuhnya.”
Jantung Anto berdegup lebih cepat.
“Bunga putih?”
Rehan terdiam sejenak.
“Kok kamu tahu?”
Anto tidak langsung menjawab.
“Aku perlu melihat tempat itu.”
“Serius? To, jangan macam-macam. Pabriknya sedang ramai. Polisi juga mungkin masih di sana.”
“Aku hanya ingin memastikan sesuatu.”
Rehan menghela napas.
“Baiklah. Aku jemput kamu nanti.”
Sambungan telepon terputus.
Anto masih berdiri di teras.
Ia tahu bahwa kemunculan bunga itu bukan kebetulan.
Ada sesuatu yang memanggilnya.
Dan sesuatu itu berkaitan dengan rahasia yang telah lama disembunyikan di bawah tanah pabrik keramik.
### Ajian yang Mulai Terusik
Di sebuah rumah yang terletak tidak jauh dari jalan utama desa, seorang perempuan sedang duduk bersila di dalam kamar.
Namanya Anita.
Di hadapannya terdapat selembar kain hitam, segelas air putih, dan sebuah benda pusaka yang dibungkus kain merah.
Anita menutup mata.
Ia sedang berusaha menenangkan pikirannya ketika tiba-tiba merasakan hawa panas menyentuh kulitnya.
Bukan panas biasa.
Panas itu datang dari arah timur.
Dari tempat berdirinya pabrik keramik milik Pak Jatmoko.
Anita membuka mata.
Api kecil pada lampu minyak di depannya bergoyang, meskipun jendela kamar tertutup.
Ia mengambil napas dalam-dalam.
“Ada kekuatan yang bergerak...”
Anita dikenal memiliki ilmu kanuragan yang tidak dimiliki sembarang orang. Salah satu ilmu yang diwariskan kepadanya adalah Ajian Guntur Saketi, sebuah ajian yang memiliki kekuatan dahsyat.
Namun, ia tidak pernah menggunakan ilmu itu sembarangan.
Baginya, kekuatan bukanlah alasan untuk menyakiti orang lain.
Kekuatan adalah tanggung jawab.
Tiba-tiba, suara ledakan terdengar dari kejauhan.
Duuum!
Anita berdiri.
Ia menoleh ke arah jendela.
Langit di atas pabrik tampak menghitam, meskipun matahari telah bersinar.
Di antara awan, sesaat terlihat kilatan cahaya merah.
Anita mengerutkan kening.
“Pesugihan?”
Ia merasakan bulu kuduknya meremang.
Ada sesuatu yang tidak wajar di sana.
Sesuatu yang memiliki hawa panas, tetapi juga membawa kesedihan yang dalam.
Anita mengambil kain merah dan membungkus kembali pusaka di hadapannya.
Kemudian ia meraih telepon genggam.
Ia menghubungi Anto.
Namun, sebelum panggilan tersambung, sebuah suara terdengar dari luar rumah.
“Anita...”
Ia berhenti.
Suara itu seperti suara perempuan yang sedang menangis.
Anita menoleh ke arah pintu.
“Siapa?”
Tidak ada jawaban.
Kemudian, dari celah bawah pintu, terlihat bayangan sepasang kaki.
Berdiri diam.
Anita mengambil napas perlahan.
Tangannya mengepal.
“Kalau ingin bertemu, masuklah.”
Bayangan itu tidak bergerak.
Beberapa detik kemudian, terdengar suara bisikan.
“Bunga... harus mekar...”
Lalu bayangan tersebut menghilang.
Anita membuka pintu dengan cepat.
Di teras, tidak ada siapa-siapa.
Hanya terdapat setangkai bunga putih yang tergeletak di atas tanah.
Anita memandang bunga itu dengan wajah serius.
“Jadi, kalian sudah mulai bergerak.”
### Rehan dan Ketakutan Pertamanya
Di sisi lain desa, Rehan sedang mengendarai sepeda motornya menuju rumah Anto.
Ia adalah seorang pemuda biasa.
Tidak memiliki mata batin.
Tidak menguasai ilmu kanuragan.
Dan tidak pernah merasa tertarik dengan urusan dunia gaib.
Baginya, kehidupan cukup sederhana: bekerja, mencari uang, membantu keluarga, dan sesekali berkumpul bersama teman.
Namun, persahabatannya dengan Anto membuatnya beberapa kali terseret ke dalam kejadian aneh.
Meski begitu, Rehan tetap berusaha menganggap semua itu sebagai kebetulan.
Pagi itu, ketika melewati jalan menuju pabrik, ia melihat beberapa warga berkumpul di pinggir jalan.
Mereka berbicara dengan suara pelan.
“Katanya bukan kecelakaan.”
“Wajahnya seperti orang ketakutan.”
“Bunga itu tumbuh dari lantai, lho.”
“Jangan keras-keras. Nanti ada yang dengar.”
Rehan memperlambat kendaraannya.
Ia melihat ke arah gerbang pabrik.
Di balik pagar besi, beberapa petugas sedang berjalan menuju gedung produksi.
Kemudian, matanya menangkap sesuatu di dekat selokan.
Setangkai bunga putih.
Rehan menghentikan sepeda motornya.
Ia turun dan mendekati bunga tersebut.
“Bunga apa ini?”
Ia berjongkok.
Bunga itu tampak bersih, meskipun tumbuh di antara tanah dan sampah. Kelopaknya putih, tetapi bagian tengahnya berwarna merah gelap.
Rehan mengulurkan tangan.
Namun, sebelum jarinya menyentuh bunga tersebut, terdengar suara lirih dari belakangnya.
“Jangan dipetik...”
Rehan menoleh cepat.
Seorang perempuan tua berdiri di pinggir jalan.
Wajahnya tampak cemas.
“Kenapa, Mbah?”
Perempuan itu menunjuk bunga tersebut.
“Jangan disentuh, Nak. Itu bukan bunga biasa.”
Rehan tertawa kecil, berusaha menghilangkan rasa takut.
“Memangnya bunga apa, Mbah?”
Perempuan tua itu menatap gerbang pabrik.
“Kembang Mayit.”
Rehan terdiam.
“Bunga kematian?”
Perempuan itu mengangguk.
“Dulu, sebelum pabrik itu berdiri, tanah di sana pernah menjadi tempat pemakaman tua. Banyak orang tidak tahu. Mereka hanya melihat tanah kosong.”
“Terus, apa hubungannya dengan bunga ini?”
Perempuan tua itu menatap Rehan dengan mata yang dalam.
“Kalau bunga itu sudah mulai tumbuh, berarti ada yang sedang menagih janji.”
Rehan menelan ludah.
“Janji siapa?”
Perempuan itu tidak menjawab.
Ia hanya berbalik dan berjalan menjauh.
Rehan menatap bunga tersebut sekali lagi.
Tiba-tiba, dari arah pabrik, terdengar suara perempuan menangis.
Suara itu sangat pelan.
Namun, Rehan dapat mendengarnya dengan jelas.
Ia segera naik ke sepeda motor.
“Sudahlah. Aku harus menemui Anto.”
### Pertemuan di Gerbang Pabrik
Menjelang siang, Anto dan Rehan tiba di depan PT Jatmoko Keramik.
Anita telah menunggu mereka di sana.
Gerbang pabrik dijaga oleh beberapa petugas. Beberapa kendaraan polisi terparkir di halaman. Para pekerja berkumpul dalam kelompok-kelompok kecil, membicarakan kematian Sutrisno.
Pak Jatmoko tidak terlihat di luar.
Namun, dari lantai dua gedung kantor, seseorang sedang mengamati mereka.
Anto turun dari sepeda motor.
“Anita, kamu juga merasakan sesuatu?”
Anita mengangguk.
“Dari tadi pagi. Hawa di tempat ini tidak wajar.”
Rehan memandang keduanya.
“Kalian jangan mulai bicara yang aneh-aneh. Aku sudah cukup takut setelah mendengar cerita warga.”
Anto menatap gerbang pabrik.
“Rehan, kamu melihat bunga di pinggir jalan tadi?”
Rehan mengangguk.
“Iya. Kata seorang nenek, namanya Kembang Mayit.”
Anita terdiam.
Kemudian ia berkata pelan.
“Nama itu bukan sekadar nama.”
Anto menoleh.
“Maksudmu?”
“Bunga yang tumbuh di tempat tertentu, terutama setelah kematian, kadang dipercaya menjadi tanda adanya sesuatu yang belum selesai. Tetapi bunga yang kita lihat ini... auranya berbeda.”
Rehan mengusap wajah.
“Bisa nggak kita bicara tentang hal lain?”
Anto tidak menjawab.
Ia menatap pintu gerbang.
Kemudian, perlahan, mata batinnya terbuka.
Dunia di sekelilingnya berubah.
Warna-warna halaman pabrik menjadi kusam. Bayangan hitam tampak menggantung di atas gedung. Asap tipis berwarna merah kehitaman keluar dari cerobong, berputar di udara seperti tangan-tangan yang sedang mencari sesuatu.
Di atas atap pabrik, Anto melihat sosok-sosok perempuan berdiri berjajar.
Mereka mengenakan kain putih.
Rambut mereka menutupi wajah.
Masing-masing menggenggam setangkai Kembang Mayit.
Anto menarik napas.
Salah satu sosok itu mengangkat kepalanya.
Meskipun tidak memiliki mata, Anto merasa sosok tersebut sedang menatap langsung kepadanya.
Kemudian, seluruh sosok itu bergerak serentak.
Mereka menoleh ke arah tanah di bawah pabrik.
Anto melihat sesuatu yang lebih mengerikan.
Di bawah lantai gedung, terdapat lubang besar yang dipenuhi akar-akar hitam. Di tengah lubang itu, berdiri sebuah sosok tinggi dengan tubuh seperti tersusun dari tanah liat basah.
Sosok itu mengangkat kedua tangannya.
Dari dalam tanah terdengar suara berbisik.
“Persembahan...”
Anto tersentak.
Mata batinnya tertutup kembali.
Ia hampir kehilangan keseimbangan.
Anita segera memegang lengannya.
“Anto!”
Rehan menatap cemas.
“Kamu kenapa?”
Anto mengatur napas.
“Di bawah pabrik ini... ada sesuatu.”
Anita menatap gedung besar tersebut.
“Apa yang kamu lihat?”
Anto menelan ludah.
“Bukan cuma satu makhluk. Ada banyak arwah di sana. Dan mereka semua terikat pada sesuatu.”
Rehan mundur selangkah.
“Terikat pada apa?”
Anto menatap pintu gerbang.
“Pada janji yang dibuat oleh seseorang.”
Tiba-tiba, seluruh lampu di halaman pabrik padam.
Padahal, matahari masih bersinar terang.
Para pekerja berteriak.
Dari dalam gedung produksi terdengar suara benda-benda jatuh.
Brak! Brak! Brak!
Kemudian, suara perempuan yang sama terdengar dari seluruh penjuru pabrik.
“Jatmoko...”
Anto, Anita, dan Rehan saling berpandangan.
Suara itu berubah menjadi jeritan panjang.
“JANGAN INGKARI JANJIMU!”
Seketika, tanah di dekat gerbang retak.
Dari celah beton, muncul tunas kecil berwarna hitam.
Tunas itu tumbuh dengan cepat.
Daunnya mengembang.
Kelopaknya mulai terbuka.
Satu bunga putih muncul di tengah halaman pabrik.
Lalu bunga kedua.
Ketiga.
Keempat.
Puluhan bunga bermekaran di sepanjang retakan tanah.
Bau busuk menyebar ke udara.
Rehan menutup hidung.
“Ini nggak mungkin...”
Anita mengepalkan tangan.
“Anto, bersiaplah.”
Anto menatap bunga-bunga tersebut.
Di dalam kelopak bunga paling besar, ia melihat bayangan wajah seorang perempuan.
Wajah yang penuh luka.
Wajah yang menangis.
Dan dari dalam bunga itu, terdengar bisikan yang hanya dapat didengar oleh Anto.
“Tolong kami...”
Anto melangkah maju.
Namun, sebelum ia mencapai bunga tersebut, sebuah suara berat terdengar dari arah gedung kantor.
“Jangan sentuh bunga itu!”
Pak Jatmoko berdiri di depan pintu.
Wajahnya pucat.
Keringat membasahi dahinya.
Ia menatap Anto, Anita, dan Rehan dengan sorot mata penuh ketakutan.
Anto menyipitkan mata.
“Pak Jatmoko, apa yang sebenarnya terjadi di pabrik ini?”
Pak Jatmoko tidak menjawab.
Ia hanya memandangi bunga-bunga yang terus bermekaran.
Kemudian, dari balik dinding gedung produksi, terdengar suara ketukan.
Tang... tang... tang...
Pak Jatmoko menutup matanya.
Suara itu semakin keras.
Tang... tang... tang...
Dari bawah lantai pabrik, terdengar bisikan yang menggema.
“Jatmoko...”
Pak Jatmoko mundur.
“Tidak... belum waktunya...”
Anto menatapnya tajam.
“Bapak tahu tentang semua ini?”
Pak Jatmoko membuka mata.
Untuk pertama kalinya, kesombongan yang selama ini melekat pada dirinya lenyap.
Yang tersisa hanyalah ketakutan.
Ketakutan seorang manusia yang menyadari bahwa kekayaan yang ia bangun telah dibayar dengan sesuatu yang tidak akan pernah bisa dikembalikan.
Di tengah halaman pabrik, Kembang Mayit terakhir membuka kelopaknya.
Dari dalam bunga itu, muncul jari-jari pucat yang perlahan mencengkeram tanah.
Rehan berteriak.
“Anto! Lihat itu!”
Anita mengangkat tangannya. Hawa panas mulai berkumpul di sekeliling tubuhnya.
Anto memandang ke arah Pak Jatmoko.
“Kalau Bapak tidak mengatakan yang sebenarnya, semua orang di tempat ini akan menjadi korban.”
Pak Jatmoko tidak mampu menjawab.
Sementara itu, dari bawah tanah, terdengar suara tawa yang semakin keras.
Hahahaha...
Dan pada saat yang sama, seluruh bunga putih di halaman pabrik mekar sempurna.
Kembang Mayit telah bangkit.














Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!