JANJI DI BAWAH TANAH
Suara tawa dari dalam pabrik semakin menggema.
Hahahaha...
Bunga-bunga putih yang bermekaran di halaman PT Jatmoko Keramik bergoyang tertiup angin. Namun, angin itu hanya berembus di sekitar bunga. Pepohonan di luar pagar tetap diam, seolah-olah seluruh udara di tempat tersebut telah dikuasai oleh sesuatu yang tidak kasatmata.
Para pekerja berlarian meninggalkan halaman pabrik.
Sebagian berteriak meminta tolong. Sebagian lainnya hanya mampu memanjatkan doa sambil menoleh berkali-kali ke belakang.
Tidak ada seorang pun yang berani mendekati bunga-bunga tersebut.
Kecuali tiga orang yang masih berdiri di depan gerbang.
Anto, Anita, dan Rehan.
Anto menatap halaman pabrik dengan wajah tegang. Mata batinnya belum sepenuhnya tertutup. Di balik dunia yang terlihat oleh manusia biasa, ia menyaksikan kabut hitam berputar di atas tanah.
Kabut itu bergerak seperti makhluk hidup.
Sesekali, dari dalamnya muncul wajah-wajah pucat yang kemudian menghilang bersama suara tangisan.
“Anto...” bisik Anita.
Anto tidak menjawab.
Ia sedang melihat sesuatu yang jauh lebih mengerikan.
Di tengah halaman pabrik, di antara puluhan Kembang Mayit, berdiri seorang perempuan mengenakan kain putih. Rambutnya panjang dan menutupi wajah. Kedua tangannya menggenggam bunga yang telah berlumuran cairan merah.
Perempuan itu tidak bergerak.
Namun, Anto merasakan tatapannya.
Kemudian, perlahan, kepala sosok tersebut terangkat.
“Anto...”
Suara itu terdengar langsung di dalam pikirannya.
Anto terkejut.
Bagaimana dia tahu namaku?
Sosok perempuan itu mengangkat satu tangannya dan menunjuk ke arah gedung produksi.
Di balik dinding beton, Anto melihat bayangan seorang laki-laki yang sedang berlutut.
Pak Jatmoko.
Pengusaha itu tampak berada di sebuah ruangan gelap. Di hadapannya terdapat sebuah lubang besar yang dipenuhi akar hitam. Dari dalam lubang, sesuatu sedang bergerak.
Anto memejamkan mata.
Ketika membukanya kembali, penglihatan itu lenyap.
Ia menarik napas panjang.
“Anita, kita harus masuk.”
Rehan langsung menoleh.
“Masuk ke mana?”
“Ke dalam pabrik.”
“Gila, ya? Kamu lihat sendiri tadi. Semua orang lari ketakutan. Polisi juga sedang mengamankan tempat ini!”
Anto menatapnya.
“Kalau kita pergi sekarang, mungkin akan ada korban berikutnya.”
Rehan terdiam.
Ia memandang bunga-bunga yang tumbuh di halaman.
“Memangnya kita bisa apa?”
Anita melangkah mendekat.
“Kita cari tahu apa yang sebenarnya terjadi.”
Rehan mengusap wajahnya.
“Kenapa setiap kali ikut kalian, hidupku selalu jadi rumit?”
Anto hampir tersenyum, tetapi ekspresinya kembali serius ketika terdengar suara jeritan dari dalam gedung.
“Jatmoko!”
Jeritan itu mengguncang udara.
Pak Jatmoko berteriak dari dalam pabrik.
“Tolong! Tolong aku!”
Anto segera berlari menuju pintu masuk.
Anita mengikutinya.
Rehan menghela napas panjang, lalu berlari menyusul.
“Kalau aku mati, kalian yang menjelaskan kepada keluargaku!”
### Bayangan di Lorong Produksi
Pintu gedung produksi terbuka lebar.
Di dalamnya, keadaan jauh lebih buruk daripada halaman pabrik.
Rak-rak keramik berjatuhan. Pecahan ubin berserakan di lantai. Beberapa lampu berkedip-kedip, sementara mesin produksi mengeluarkan suara berderit meskipun sebagian besar telah dimatikan.
Bau tanah basah dan kemenyan semakin kuat.
Anto berjalan paling depan.
Ia mengarahkan senter ke lorong yang membentang di antara mesin-mesin besar.
“Pak Jatmoko!” teriaknya.
Tidak ada jawaban.
Hanya suara tetesan air dari pipa yang bocor.
Tik... tik... tik...
Rehan berjalan di belakang Anita. Matanya terus bergerak ke kanan dan kiri.
“Anto, kamu yakin suara tadi dari sini?”
“Ya.”
“Kalau ternyata bukan Pak Jatmoko?”
“Jangan banyak bicara dulu.”
Rehan menggerutu pelan.
“Enak saja bilang jangan banyak bicara. Aku yang paling tidak punya ilmu di antara kalian.”
Anita menoleh sebentar.
“Tenang, Rehan. Selama kita bersama, kamu tidak sendirian.”
Rehan memandang Anita.
“Kalau ada yang menyerang, kamu lindungi aku, ya?”
Anita mengangguk singkat.
“Kalau kamu tidak lari meninggalkan kami.”
“Lho, kok begitu?”
Anto mengangkat tangannya, memberi isyarat agar mereka berhenti.
Di depan mereka terdapat sebuah pintu besi.
Pintu itu berbeda dari pintu ruangan lainnya. Permukaannya penuh goresan panjang, seolah-olah ada sesuatu yang berusaha keluar dari dalam.
Di bagian tengahnya terdapat ukiran aneh menyerupai bunga dengan kelopak yang menghitam.
Anto mendekat.
Mata batinnya kembali terbuka.
Ukiran itu berubah menjadi garis-garis merah yang berdenyut.
Di balik pintu, ia melihat kegelapan yang sangat pekat. Ada suara napas berat, diselingi bisikan banyak orang.
Buka...
Buka...
Anto segera menutup mata batinnya.
“Di balik pintu ini ada sesuatu.”
Anita mengamati ukiran tersebut.
“Ini bukan sekadar pintu gudang.”
Rehan menyorotkan senter ke bagian bawah pintu.
Dari celahnya, tampak cairan hitam merembes keluar.
Ia mundur.
“Itu darah?”
Anita berjongkok dan mengamati cairan tersebut tanpa menyentuhnya.
“Bukan darah manusia biasa. Aku tidak tahu pasti apa ini, tetapi ada hawa gaib yang sangat kuat.”
Tiba-tiba, terdengar ketukan dari dalam.
Tang... tang... tang...
Rehan langsung berdiri.
“Suara itu lagi!”
Ketukan tersebut berhenti.
Kemudian terdengar suara Pak Jatmoko.
“Anto... tolong aku...”
Anto menatap pintu.
“Pak Jatmoko, Bapak ada di dalam?”
“Ya... cepat buka!”
Rehan maju hendak memegang gagang pintu.
Namun, Anto menahan lengannya.
“Tunggu.”
“Kenapa?”
Anto menatap celah pintu.
“Suara itu tidak datang dari satu tempat.”
Rehan mengerutkan kening.
“Maksudnya?”
Anto tidak menjawab.
Ia mendengar suara Pak Jatmoko dari balik pintu, tetapi bersamaan dengan itu, suara yang sama juga terdengar dari arah lorong belakang mereka.
“Anto... tolong aku...”
Rehan perlahan menoleh.
Di ujung lorong, berdiri sosok laki-laki dengan pakaian putih.
Wajahnya tidak terlihat jelas.
“Pak Jatmoko?” gumam Rehan.
Sosok itu tidak bergerak.
Anita segera berdiri.
“Jangan dekati!”
Sosok tersebut mengangkat kepalanya.
Dari balik rambut yang menutupi wajah, terdengar suara tawa perempuan.
Hehehehe...
Kemudian tubuhnya berbalik dan berjalan menjauh.
Langkahnya tidak menimbulkan suara.
Anto mengamati sosok itu dengan mata batin.
Ia melihat bahwa kaki sosok tersebut tidak menyentuh lantai.
“Bukan manusia,” kata Anto.
Rehan menelan ludah.
“Terus, kita harus bagaimana?”
Anto kembali memandang pintu besi.
“Pak Jatmoko benar-benar ada di balik pintu itu. Tapi ada sesuatu yang meniru suaranya.”
Anita mengangkat tangannya.
“Kalau begitu, kita buka pintunya dengan hati-hati.”
Ia menarik napas dan memusatkan tenaga. Hawa panas mulai menyelimuti telapak tangannya.
Rehan melangkah mundur.
“Jangan sampai gedungnya roboh.”
Anita menatap gagang pintu.
“Buka pintunya, Anto.”
Anto memegang gagang tersebut.
Dingin yang menusuk langsung menjalar ke telapak tangannya.
Ia memutar gagang perlahan.
Kreeeek...
Pintu besi terbuka.
Dan dari baliknya, terdengar suara seseorang menangis.
### Ruang yang Tidak Tercatat
Di balik pintu terdapat sebuah ruangan sempit dengan tangga menurun ke bawah tanah.
Tidak ada lampu.
Dindingnya terbuat dari batu bata tua, berbeda dari konstruksi pabrik yang modern. Beberapa bagian dinding dipenuhi lumut hitam, sementara akar-akar kecil merambat dari sela-sela batu.
Anto mengarahkan senter ke tangga.
“Ini tidak ada dalam denah pabrik,” katanya.
Rehan menatap ke bawah.
“Bagaimana kamu tahu?”
“Waktu pertama kali datang, aku melihat denah bangunan di kantor mandor. Bagian ini tidak tercatat.”
Anita menyentuh dinding dengan ujung jarinya, tetapi segera menarik tangannya.
“Tanah di sini menyimpan hawa kematian.”
Rehan memandang tangga itu dengan cemas.
“Kalau tidak tercatat, berarti tempat ini sengaja disembunyikan?”
Anto mengangguk.
“Sepertinya begitu.”
Dari bawah terdengar suara Pak Jatmoko.
“Tolong... aku masih hidup...”
Rehan menoleh kepada Anto.
“Kita harus menolongnya.”
Anto mengarahkan senter ke tangga.
“Turun perlahan. Jangan menyentuh apa pun.”
Mereka mulai menuruni tangga.
Setiap langkah menimbulkan gema panjang.
Tok... tok... tok...
Semakin dalam mereka turun, udara semakin dingin. Bau kemenyan semakin kuat, bercampur dengan aroma tanah basah dan sesuatu yang busuk.
Di dinding sebelah kiri, terdapat bekas telapak tangan.
Bukan satu atau dua.
Puluhan.
Sebagian berukuran kecil seperti tangan anak-anak. Sebagian lainnya tampak panjang dan kurus, dengan bekas kuku yang dalam.
Rehan menyorotkan senter.
“Siapa yang membuat semua ini?”
Anita menjawab dengan suara pelan.
“Mungkin mereka yang pernah berada di sini.”
“Pernah berada di sini sebagai apa?”
Anita terdiam.
Anto tiba-tiba berhenti.
Di anak tangga paling bawah, terdapat sebuah kain putih yang tergeletak.
Kain itu basah dan mengeluarkan bau busuk.
Di atasnya terdapat bunga putih yang kelopaknya telah menghitam.
Anto berjongkok.
Mata batinnya terbuka.
Seketika, ia melihat bayangan seorang perempuan sedang berlari di tangga tersebut. Perempuan itu mengenakan pakaian pekerja pabrik. Wajahnya penuh ketakutan.
Di belakangnya, beberapa laki-laki menyeret tubuh seseorang.
“Jangan! Tolong, jangan lakukan ini!”
Perempuan itu berusaha melawan.
Namun, seorang laki-laki memukul kepalanya.
Tubuhnya jatuh di anak tangga.
Penglihatan itu berubah.
Anto melihat ruangan besar di bawah tanah. Di tengah ruangan terdapat sebuah lubang yang dikelilingi lilin. Beberapa orang berdiri mengelilinginya.
Di antara mereka, seorang pria muda berlutut sambil menundukkan kepala.
Pak Jatmoko.
Wajahnya jauh lebih muda.
Di hadapannya berdiri seorang lelaki tua berjubah gelap.
Mbah Reksadana.
“Apakah kau siap menerima kekayaan?” tanya lelaki tua itu.
Pak Jatmoko mengangguk.
“Aku siap.”
“Ketahuilah, sekali perjanjian dibuat, tidak ada jalan untuk kembali.”
“Aku tidak peduli.”
Lelaki tua itu tersenyum.
“Kalau begitu, serahkan persembahan pertamamu.”
Penglihatan tersebut terputus.
Anto membuka mata dan terengah-engah.
Anita segera memegang bahunya.
“Kamu melihat apa?”
Anto menatap kain putih di tangga.
“Tempat ini sudah digunakan sejak sebelum pabrik berdiri.”
Rehan mengamati wajah Anto.
“Dan Pak Jatmoko terlibat?”
Anto mengangguk.
“Dia membuat perjanjian dengan sesuatu.”
Dari bawah tanah terdengar suara benturan keras.
Duum!
Mereka bertiga terkejut.
Kemudian terdengar teriakan Pak Jatmoko.
“Jangan! Aku sudah memenuhi semuanya!”
Anita mengepalkan tangan.
“Kita harus cepat.”
Mereka melanjutkan perjalanan.
### Pengakuan Pak Jatmoko
Tangga itu berakhir di sebuah ruangan bawah tanah yang luas.
Atapnya rendah dan disangga oleh tiang-tiang batu tua. Dindingnya dipenuhi ukiran bunga yang bentuknya mirip Kembang Mayit. Beberapa lilin menyala di atas meja batu, meskipun tidak ada seorang pun yang menyalakannya.
Di tengah ruangan, terdapat lubang besar.
Lubang itu dikelilingi akar hitam yang bergerak perlahan.
Di tepi lubang, Pak Jatmoko berlutut.
Kemejanya kotor. Wajahnya penuh keringat, dan kedua tangannya terikat oleh akar yang melilit pergelangan.
“Pak Jatmoko!” teriak Rehan.
Pengusaha itu menoleh.
“Anto! Tolong aku!”
Anto melangkah maju.
“Siapa yang melakukan ini?”
Pak Jatmoko menatap lubang di belakangnya.
“Aku... aku tidak tahu...”
Anita mengamati akar yang membelit tubuhnya.
“Bapak tahu.”
Pak Jatmoko terdiam.
Anto menatapnya tajam.
“Bunga-bunga itu muncul karena perjanjian yang Bapak buat, bukan?”
Wajah Pak Jatmoko berubah.
Ia mencoba menarik tangannya, tetapi akar-akar tersebut semakin erat.
“Jangan bicara sembarangan!”
“Bapak sudah mengorbankan banyak orang untuk kekayaan ini?”
“Tidak!”
Suara Pak Jatmoko menggema.
Namun, dari dalam lubang, terdengar suara perempuan tertawa.
Hahahaha...
Tawa itu membuat wajahnya pucat.
Anto melanjutkan.
“Kalau Bapak tidak bersalah, mengapa mereka memanggil nama Bapak?”
Pak Jatmoko menunduk.
Untuk beberapa saat, ia tidak berkata apa-apa.
Kemudian, suaranya terdengar lirih.
“Dulu... aku hanya ingin menyelamatkan usahaku.”
Rehan menatapnya dengan marah.
“Jadi benar? Bapak melakukan pesugihan?”
Pak Jatmoko memejamkan mata.
“Aku tidak pernah menyangka akan seperti ini.”
Anita melangkah mendekat.
“Ceritakan semuanya.”
Pak Jatmoko menggeleng.
“Kalian tidak akan mengerti.”
“Coba jelaskan dulu,” kata Anto.
Pengusaha itu menarik napas panjang.
“Dua puluh tahun lalu, pabrik ini belum berdiri. Tanah ini dulunya milik keluargaku. Usahaku bangkrut. Aku terlilit utang, dan tidak ada seorang pun yang mau membantuku.”
Ia memandang lubang di belakangnya.
“Lalu, aku bertemu Mbah Reksadana.”
Anto terdiam.
“Siapa dia?”
“Orang yang mengetahui jalan menuju kekayaan. Ia mengatakan bahwa di bawah tanah ini ada kekuatan yang bisa membuat usahaku berkembang.”
Rehan menatap sekeliling ruangan.
“Dan Bapak percaya begitu saja?”
Pak Jatmoko tersenyum pahit.
“Aku terlalu serakah untuk berpikir.”
Ia melanjutkan ceritanya.
“Mbah Reksadana mengajakku melakukan ritual. Ia mengatakan bahwa kekuatan itu membutuhkan persembahan. Pada awalnya, hanya benda-benda tertentu. Kemudian...”
Pak Jatmoko berhenti.
Anita menatapnya tajam.
“Kemudian apa?”
“Persembahan itu berubah.”
“Menjadi apa?” tanya Rehan.
Pak Jatmoko menunduk semakin dalam.
“Nyawa.”
Ruangan mendadak sunyi.
Hanya suara akar yang bergerak di dalam lubang.
Rehan menggeleng perlahan.
“Tidak mungkin.”
Pak Jatmoko menatapnya.
“Setelah ritual pertama, usahaku mulai berkembang. Pesanan datang dari berbagai kota. Uang mengalir. Aku bisa membangun pabrik besar.”
Anto memandang dinding ruangan.
“Lalu, siapa yang menjadi korban?”
Pak Jatmoko tidak menjawab.
Dari lubang terdengar suara perempuan menangis.
Hiks... hiks...
Anita melangkah maju.
“Bapak harus mengatakan yang sebenarnya.”
Pak Jatmoko menatap akar yang membelit tangannya.
“Ada beberapa pekerja yang meninggal secara tidak wajar. Ada yang jatuh ke dalam tungku. Ada yang hilang. Ada pula yang ditemukan tewas di sekitar pabrik.”
Rehan mengepalkan tangan.
“Dan Bapak menutup semuanya?”
Pak Jatmoko terdiam.
Jawaban itu sudah cukup.
Anto menatapnya dengan kecewa.
“Bapak membiarkan orang-orang tidak bersalah menjadi korban demi kekayaan?”
“Aku tidak membunuh mereka!”
“Tapi Bapak tahu apa yang terjadi dan tetap melanjutkan perjanjian!”
Pak Jatmoko mulai gemetar.
“Aku sudah mencoba berhenti!”
“Sejak kapan?”
“Bertahun-tahun lalu!”
Ia menoleh ke arah lubang.
“Setiap kali aku berhenti memberikan persembahan, kejadian buruk menimpa keluargaku. Tanaman mengering. Pabrik terbakar. Orang-orang yang dekat denganku jatuh sakit.”
Pak Jatmoko menunduk.
“Aku takut.”
Anita mengamati wajahnya.
“Takut kehilangan kekayaan?”
Pak Jatmoko tidak menjawab.
“Bapak takut kehilangan semua yang Bapak miliki,” lanjut Anita. “Bukan takut atas nyawa orang-orang yang menjadi korban.”
Pengusaha itu mengangkat wajah.
“Jangan menghakimiku!”
“Kalau begitu, buktikan bahwa Bapak masih punya keberanian untuk menghentikannya.”
Tiba-tiba, akar yang melilit tangan Pak Jatmoko bergerak semakin kuat.
“Aaargh!”
Ia menjerit kesakitan.
Dari dalam lubang, muncul suara berat.
“Janji... belum selesai...”
Pak Jatmoko meronta.
“Tidak! Aku sudah memberikan semuanya!”
Suara itu terdengar kembali.
“Belum...”
Akar hitam menjulur ke arah kakinya.
Anto melangkah maju.
“Lepaskan dia!”
Namun, sebelum ia sempat mendekat, seluruh lilin di ruangan padam.
### Sosok dari Dalam Lubang
Kegelapan menelan ruangan.
Rehan langsung menyalakan senter, tetapi cahaya itu berkedip-kedip.
“Anto, ada sesuatu di belakangmu!”
Anto berbalik.
Di ujung ruangan, berdiri sosok perempuan tanpa wajah.
Kain putihnya menjuntai hingga menyentuh lantai. Rambutnya bergerak sendiri, seolah-olah tertiup angin dari dunia lain.
Di tangannya terdapat setangkai Kembang Mayit.
Anita berdiri di depan Rehan.
“Jangan bergerak.”
Sosok itu mengangkat bunga.
Dari dalam lubang, akar-akar hitam mulai merambat ke seluruh lantai.
Pak Jatmoko berteriak.
“Jangan biarkan dia mendekat!”
Anto menatap sosok tersebut.
“Siapa kamu?”
Perempuan itu tidak menjawab.
Ia hanya mengangkat tangan kirinya.
Di permukaan dinding, muncul bayangan-bayangan manusia.
Satu per satu.
Seorang pekerja laki-laki.
Seorang perempuan.
Seorang anak muda.
Mereka berdiri dalam keadaan mengenaskan. Wajah-wajah mereka tampak pucat, dan tubuh mereka dipenuhi bekas luka.
Rehan mundur.
“Ya Tuhan...”
Anto melihat bayangan tersebut dengan mata batin.
Ia menyadari bahwa mereka bukan sekadar penampakan.
Mereka adalah arwah yang terikat pada tempat itu.
Perempuan tanpa wajah melangkah mendekat.
“Jatmoko...”
Pak Jatmoko menggeleng kuat-kuat.
“Tidak! Aku tidak mengenalmu!”
Sosok itu berhenti.
Kemudian, dari balik rambutnya, terdengar suara lirih.
“Dua puluh tahun lalu... kau berjanji...”
Pak Jatmoko menutup telinga.
“Aku tidak tahu siapa kamu!”
“Namaku... Sari.”
Seketika, Anto melihat penglihatan lain.
Seorang perempuan muda mengenakan seragam pekerja pabrik berdiri di sebuah ruangan. Ia sedang berbicara dengan Pak Jatmoko yang lebih muda.
“Pak, saya mau mengundurkan diri. Saya sudah tidak nyaman bekerja malam-malam di ruang pembakaran.”
Pak Jatmoko menatapnya dingin.
“Kalau tidak mau bekerja, silakan pergi.”
Perempuan itu menunduk.
“Saya mendengar suara-suara aneh di bawah pabrik. Saya juga melihat orang-orang membawa sesuatu ke sana.”
Pak Jatmoko mendekat.
“Jangan ikut campur urusan perusahaan.”
Sari menggeleng.
“Saya takut, Pak.”
Penglihatan berubah.
Sari berada di ruangan bawah tanah. Ia berusaha melarikan diri, tetapi dua orang laki-laki menahannya.
Pak Jatmoko berdiri di dekat lubang.
“Persembahan ini akan membuat semuanya kembali tenang.”
Sari menangis.
“Pak, saya tidak melakukan kesalahan apa pun!”
Kemudian, penglihatan itu terputus.
Anto tersentak.
“Pak Jatmoko... Sari adalah pekerja Bapak?”
Pak Jatmoko tidak menjawab.
“Sari dibawa ke sini dua puluh tahun lalu?”
Pengusaha itu menunduk.
Sosok perempuan tanpa wajah mengeluarkan suara tangis.
“Kenapa... kau membiarkan aku mati?”
Pak Jatmoko mulai menangis.
“Aku tidak bermaksud...”
“Kenapa kau membiarkan mereka menguburku di bawah pabrik?”
Rehan menatap Pak Jatmoko dengan marah.
“Bapak mengubur orang hidup-hidup?”
“Tidak!” teriak Pak Jatmoko. “Aku tidak membunuhnya!”
Sari menjerit.
“Pembohong!”
Akar-akar hitam menghantam lantai.
BRAK!
Ruangan bergetar hebat.
Debu berjatuhan dari langit-langit.
Anita mengangkat kedua tangannya.
“Anto, Rehan, mundur!”
Ia mengumpulkan tenaga dalam tubuhnya. Hawa panas mengelilingi kedua lengannya, disertai suara gemuruh samar.
Anto memandang Anita.
“Jangan menyerang dulu!”
“Kalau tidak, dia akan membunuh kita semua!”
“Dia bukan satu-satunya yang ada di sini!”
Anto menatap lubang besar di tengah ruangan.
Dari dalamnya, perlahan muncul sesuatu.
Sebuah kepala.
Bukan kepala manusia.
Permukaannya menyerupai tanah liat basah. Tidak memiliki mata, tetapi terdapat celah panjang di bagian wajah yang terbuka seperti mulut.
Tubuhnya sangat besar.
Akar-akar hitam menjulur dari punggungnya, menyatu dengan dinding dan lantai.
Rehan mematung.
“Itu... apa?”
Anto menjawab dengan suara rendah.
“Penunggu perjanjian.”
Sosok itu mengangkat tubuhnya dari dalam lubang.
Seluruh ruangan dipenuhi hawa panas dan bau busuk.
Kemudian, suara beratnya menggema.
“Persembahan... harus dibayar...”
Pak Jatmoko berteriak.
“Ambil aku saja! Jangan ganggu mereka!”
Sosok itu menoleh kepadanya.
“Sudah terlambat...”
### Ajian Guntur Saketi
Akar hitam bergerak cepat menuju Anto, Anita, dan Rehan.
Anita segera melangkah ke depan.
Ia merapatkan kedua telapak tangan, lalu menarik napas dalam-dalam.
Hawa panas memancar dari tubuhnya.
“Anto, bawa Rehan menjauh!”
Anto menarik lengan Rehan.
“Ayo!”
Mereka bergerak ke sisi ruangan.
Akar pertama menghantam lantai tempat mereka berdiri.
Duum!
Pecahan batu beterbangan.
Anita berdiri tegak.
Matanya menatap makhluk yang keluar dari lubang.
“Dengan kekuatan yang diwariskan kepadaku...”
Suara gemuruh mulai terdengar di dalam ruangan.
“Ajian Guntur Saketi!”
Kilat putih kebiruan menyambar dari telapak tangannya.
BRAKKK!
Cahaya memenuhi ruangan.
Sambaran itu menghantam akar hitam yang melaju ke arahnya. Akar tersebut terbakar dan mengeluarkan asap pekat.
Makhluk tanah liat itu mengeluarkan suara geraman.
“Manusia... berani menentang...”
Anita tetap berdiri.
“Selama masih ada manusia yang harus dilindungi, aku tidak akan membiarkanmu mengambil nyawa mereka!”
Makhluk itu mengangkat lengannya.
Akar-akar baru muncul dari lubang.
Jumlahnya semakin banyak.
Anto menatap sekeliling.
“Anita, kekuatanmu tidak akan cukup jika terus menyerang akar-akar itu!”
“Lalu apa yang harus kulakukan?”
Anto mengarahkan mata batinnya ke seluruh ruangan.
Ia melihat benang-benang energi hitam menghubungkan makhluk tersebut dengan beberapa benda di sekeliling lubang.
Ada tiga benda utama.
Sebuah wadah tanah liat.
Sebuah kain merah tua.
Dan sebuah batu hitam yang dipenuhi ukiran bunga.
Anto menunjuk ke arah meja batu.
“Di sana! Ada sesuatu yang mengikat makhluk itu!”
Anita menoleh.
“Benda apa?”
“Aku belum tahu. Tapi energi dari makhluk itu mengalir melalui benda-benda tersebut!”
Rehan melihat meja batu yang dimaksud.
“Kalau begitu, kita hancurkan!”
Anto menggeleng.
“Jangan sembarangan. Kita harus tahu mana yang menjadi sumber ikatannya.”
Makhluk tersebut kembali menggeram.
Kemudian, seluruh ruangan berguncang.
Pak Jatmoko menjerit ketika akar yang membelit tubuhnya mulai menariknya menuju lubang.
“Tolong! Tolong aku!”
Rehan berlari ke arahnya.
“Pak!”
Anto berusaha menahan Rehan.
“Jangan mendekat!”
Namun, Rehan telah mengambil sebuah batang besi yang tergeletak di lantai. Ia menghantam akar yang membelit kaki Pak Jatmoko.
Tang!
Akar itu tidak putus.
Rehan menghantamnya lagi.
“Lepaskan dia!”
Makhluk itu menoleh.
Dari celah wajahnya keluar suara berat.
“Manusia lemah...”
Sebuah akar melesat menuju Rehan.
Anto segera membuka mata batinnya.
Ia melihat gerakan akar tersebut sebelum menyentuh mereka.
“Rehan, ke kiri!”
Rehan melompat ke samping.
Akar itu menghantam lantai.
BRAK!
Anita mengangkat tangan dan melepaskan kilatan Ajian Guntur Saketi.
Sambaran tersebut menghantam akar yang menyerang Rehan hingga terlempar.
“Rehan, mundur!” teriak Anita.
Rehan terengah-engah.
“Aku cuma mau menolong!”
Anto menatapnya.
“Kalau ingin menolong, jangan bertindak tanpa berpikir!”
Rehan terdiam.
Untuk pertama kalinya, ia benar-benar menyadari bahwa dirinya tidak sedang menghadapi manusia biasa.
Ia sedang berada di tempat yang dikuasai kekuatan gelap.
### Harga Sebuah Keserakahan
Pak Jatmoko masih berusaha melepaskan diri.
Akar hitam telah melilit tubuhnya hingga ke bagian dada.
Ia menatap Anto dengan mata penuh ketakutan.
“Tolong aku... Aku akan menceritakan semuanya!”
Anto mendekat, tetapi tetap menjaga jarak dari lubang.
“Bapak harus mengatakan semuanya sekarang!”
Pak Jatmoko mengangguk cepat.
“Perjanjian itu tidak hanya membutuhkan persembahan. Ada syarat lain.”
Anita menatapnya.
“Apa?”
Pak Jatmoko menelan ludah.
“Setiap kali pabrik mendapatkan keuntungan besar, aku harus mengadakan ritual di bawah tanah ini. Aku harus memberikan sesuatu yang dianggap berharga oleh penunggu tempat ini.”
“Dan jika tidak?” tanya Anto.
“Pabrik akan mengalami bencana. Orang-orang akan meninggal. Kekayaan yang telah kudapatkan akan lenyap.”
Rehan menatapnya tajam.
“Jadi, Bapak terus melakukan semua itu demi mempertahankan uang?”
Pak Jatmoko memejamkan mata.
“Aku terjebak.”
Anto menggeleng.
“Bapak bukan hanya terjebak. Bapak memilih untuk terus melanjutkan.”
Sosok Sari berdiri di dekat lubang.
Bunga putih di tangannya mulai layu.
“Dia berjanji... akan membebaskan kami...”
Anto menoleh.
“Janji apa?”
Pak Jatmoko menatap Sari.
Wajahnya dipenuhi air mata.
“Setelah ritual terakhir, aku berjanji akan menghentikan semuanya. Aku akan membongkar ruang ini dan memutus perjanjian.”
Sari mengangkat kepalanya.
“Tapi kau tidak melakukannya.”
“Aku takut!”
“Kau membangun gudang baru di atas makam kami.”
Pak Jatmoko menunduk.
“Aku ingin melupakan semuanya.”
Suara Sari berubah menjadi jeritan.
“KAU TIDAK AKAN PERNAH BISA MELUPAKAN KAMI!”
Bunga-bunga putih di sepanjang dinding bermekaran serentak.
Pssst...
Dari setiap bunga, muncul kabut hitam.
Kabut itu membentuk bayangan orang-orang yang telah meninggal.
Mereka mengelilingi Pak Jatmoko.
Pengusaha itu menjerit.
“Jangan! Jangan mendekat!”
Anto melihat arwah-arwah tersebut.
Mereka tidak langsung menyerang.
Mereka hanya menatap Pak Jatmoko.
Menunggu sesuatu.
Anto memahami satu hal.
Mereka bukan sekadar ingin membalas dendam.
Mereka ingin kebenaran.
“Pak Jatmoko!” teriak Anto. “Kalau Bapak ingin selamat, katakan siapa yang melakukan ritual itu bersama Bapak!”
Pak Jatmoko menatap Anto.
“Tidak...”
“Siapa yang membantu Bapak?”
“Dia sudah meninggal.”
“Siapa?”
Pak Jatmoko terdiam cukup lama.
Makhluk tanah liat di dalam lubang kembali bergerak.
Akar yang melilit tubuh Pak Jatmoko semakin erat.
“Jawab!” teriak Anto.
Pak Jatmoko akhirnya berteriak.
“MBah Reksadana!”
Ruangan seketika menjadi sunyi.
Anita mengerutkan kening.
“Mbah Reksadana?”
Pak Jatmoko mengangguk dengan tubuh gemetar.
“Dia yang mengajarkan ritual itu. Dia yang memperkenalkan aku kepada penunggu ini. Dia yang mengatakan bahwa semua korban akan menjadi bagian dari kekuatan pesugihan.”
Anto menatap lubang.
“Di mana dia sekarang?”
Pak Jatmoko menggeleng.
“Aku tidak tahu. Bertahun-tahun lalu, dia menghilang.”
Tiba-tiba, makhluk tanah liat itu mengangkat kepalanya.
Dari dalam lubang terdengar suara lain.
Suara laki-laki tua.
“Jatmoko...”
Pak Jatmoko membeku.
“Itu... tidak mungkin.”
Suara itu terdengar semakin jelas.
“Jangan pernah menyebut namaku jika kau belum siap membayar utangmu.”
Anita menatap sekeliling.
“Suara itu bukan berasal dari makhluk tersebut.”
Anto membuka mata batinnya.
Di balik dinding ruangan, ia melihat bayangan seorang lelaki tua berdiri dengan tongkat kayu.
Mbah Reksadana.
Namun, bayangan itu tidak tampak seperti manusia biasa.
Tubuhnya samar, seolah-olah berada di tempat yang sangat jauh.
Anto menatapnya.
“Mbah Reksadana masih hidup.”
Pak Jatmoko menggeleng keras.
“Tidak! Dia sudah meninggal!”
Bayangan lelaki tua itu tersenyum.
“Belum waktunya, Jatmoko.”
Kemudian bayangan tersebut menghilang.
### Bunga yang Menunjukkan Jalan
Makhluk tanah liat kembali mengangkat tangannya.
Akar-akar hitam menjulur menuju meja batu.
Salah satu akar menghantam wadah tanah liat hingga terjatuh.
Prang!
Wadah itu pecah.
Dari dalamnya keluar asap hitam yang berputar-putar.
Anto melihat benang energi yang menghubungkan wadah tersebut dengan lubang.
“Anita! Hancurkan batu hitam di atas meja!”
Anita segera bergerak.
Namun, sebelum ia mencapai meja, sosok Sari berdiri di hadapannya.
Anita berhenti.
Sari mengangkat bunga putih.
“Jangan...”
Anita menatapnya.
“Kenapa?”
Sari menunjuk ke arah batu hitam.
Anto membuka mata batinnya.
Ia melihat bahwa batu tersebut bukan sumber kekuatan. Batu itu justru menjadi pengikat arwah-arwah yang terperangkap.
Jika batu dihancurkan sembarangan, seluruh energi yang terkumpul dapat menyebar ke mana-mana.
“Bukan batunya!” teriak Anto. “Jangan hancurkan!”
Anita menghentikan gerakannya.
“Lalu apa?”
Anto mengarahkan pandangan ke arah lantai di bawah lubang.
“Di bawah makhluk itu ada sesuatu yang lebih besar!”
Ia melihat sebuah pola lingkaran yang tersembunyi di bawah tanah. Pola tersebut terdiri dari ukiran bunga, garis merah, dan simbol-simbol yang menyerupai tulisan kuno.
Di tengah lingkaran, terdapat sebuah benda kecil.
Sebuah cincin besi.
Anto terkejut.
“Cincin itu!”
Pak Jatmoko menoleh.
“Cincin apa?”
“Benda yang digunakan untuk mengikat perjanjian!”
Pak Jatmoko memandang lubang dengan mata melebar.
“Aku tidak pernah melihatnya.”
Anita mengangkat tangannya.
“Kalau begitu, kita harus mengeluarkannya.”
Makhluk tanah liat meraung.
“JANGAN!”
Suara itu begitu keras hingga dinding ruangan bergetar.
Akar-akar hitam menyerang mereka dari berbagai arah.
Anita segera melepaskan Ajian Guntur Saketi.
Kilat menyambar bertubi-tubi.
BRAK! BRAK! BRAK!
Beberapa akar terbakar, tetapi yang lainnya terus bergerak.
Anto berlari menuju sisi lubang.
Ia membuka mata batin dan melihat jalur energi yang menuju cincin besi tersebut.
“Rehan!” teriaknya. “Aku membutuhkan bantuanmu!”
Rehan menatap Anto.
“Apa yang harus kulakukan?”
“Ambil batang besi itu. Di sisi kiri lubang ada celah batu. Pukul tanah di sana!”
Rehan melihat celah yang dimaksud.
“Kalau salah?”
“Pukul saja!”
Rehan menggenggam batang besi dan berlari.
Salah satu akar melesat ke arahnya.
Anita segera menghalau dengan kilatan ajian.
“Cepat, Rehan!”
Rehan menghantam celah batu.
Tang!
Tanah bergetar.
Ia menghantam lagi.
Tang! Tang!
Celah itu mulai retak.
Dari dalamnya muncul cahaya merah.
Anto berteriak.
“Teruskan!”
Makhluk tanah liat menggeram dan mengangkat lengannya.
Akar besar meluncur ke arah Rehan.
Anita mengerahkan seluruh tenaganya.
“Ajian Guntur Saketi!”
Kilat besar menyambar akar tersebut.
DUARRR!
Ledakan mengguncang ruangan.
Rehan terlempar ke lantai, tetapi masih menggenggam batang besi.
“Anto! Aku tidak kuat lagi!”
“Sedikit lagi!”
Anto berlari mendekat.
Dengan mata batinnya, ia melihat cincin besi mulai muncul dari bawah tanah.
Namun, di sekelilingnya terdapat bayangan tangan yang berusaha menahannya.
Tangan-tangan para arwah.
Sari berdiri di dekat Anto.
Untuk pertama kalinya, ia mengangkat wajah tanpa rambut yang menutupi seluruhnya.
Anto melihat bahwa wajahnya penuh luka.
Namun, di balik luka itu, masih tampak wajah seorang perempuan muda.
Sari menatap Anto.
“Bantu kami...”
Anto mengangguk.
“Aku akan mencoba.”
Ia mengulurkan tangan ke arah cincin tersebut.
Saat jarinya menyentuh benda itu, hawa dingin yang sangat kuat menjalar ke seluruh tubuhnya.
Seketika, ia melihat masa lalu.
Pak Jatmoko berdiri di ruangan bawah tanah bersama Mbah Reksadana. Di antara mereka terdapat sebuah lingkaran ritual.
Mbah Reksadana mengangkat cincin besi.
“Selama cincin ini berada di tempatnya, perjanjian tidak akan terputus.”
Pak Jatmoko bertanya.
“Dan jika aku ingin berhenti?”
“Tidak ada yang berhenti tanpa membayar harga.”
Mbah Reksadana memasukkan cincin tersebut ke dalam tanah.
“Suatu hari nanti, ketika persembahan tidak lagi mencukupi, penunggu akan mencari jalan keluar.”
Penglihatan itu berubah.
Sari berdiri di dalam lingkaran ritual.
Ia menangis.
Pak Jatmoko membuang muka.
Mbah Reksadana mengucapkan mantra.
Kemudian, tanah di bawah Sari terbuka.
Anto tersentak dan menarik tangannya.
“Tidak!”
Ia membuka mata.
Cincin besi itu masih berada di dalam tanah.
Sosok makhluk tanah liat mendekat.
“Perjanjian... tidak boleh diputus...”
Anto menatapnya.
“Perjanjian yang dibuat dengan mengorbankan manusia tidak akan selamanya mengikat mereka.”
Makhluk itu mengangkat lengannya.
Akar besar menghantam ke arah Anto.
Sari bergerak lebih cepat.
Ia berdiri di depan Anto.
Akar tersebut menembus tubuh bayangannya.
Sari menjerit.
Namun, ia tidak bergeser.
Anto menatapnya.
“Sari!”
Sosok perempuan itu menoleh.
“Sekarang...”
Ia menunjuk cincin besi.
“Putuskan...”
Anto menggenggam batang besi yang terjatuh di dekatnya.
Ia mengangkatnya dengan kedua tangan.
Lalu menghantam tanah tepat di atas cincin tersebut.
DUUM!
Retakan besar membelah lantai.
Cincin besi terlempar keluar.
Pada saat yang sama, seluruh Kembang Mayit di ruangan bawah tanah layu.
Makhluk tanah liat mengeluarkan jeritan yang mengguncang seluruh pabrik.
“AAAAAAARRRGH!”
### Perjanjian yang Belum Berakhir
Ledakan energi hitam menyebar dari lubang.
Anto terlempar ke belakang.
Rehan jatuh di dekat dinding.
Anita berusaha bertahan dengan menancapkan satu kakinya ke lantai.
Pak Jatmoko menjerit ketika akar-akar yang membelit tubuhnya terlepas secara tiba-tiba.
Makhluk tanah liat mulai retak.
Garis-garis merah menjalar dari kepalanya hingga ke seluruh tubuh.
Dari dalam retakan itu keluar cahaya hitam pekat.
Sari berdiri di tengah ruangan.
Tubuhnya perlahan menjadi transparan.
Arwah-arwah lain yang mengelilingi Pak Jatmoko mulai menghilang satu per satu.
Sebelum lenyap, mereka menatap Anto.
Seolah-olah mengucapkan terima kasih.
Namun, Sari masih berdiri.
Ia menatap Pak Jatmoko.
“Jangan pernah lupakan kami.”
Pak Jatmoko berlutut.
Air matanya jatuh ke lantai.
“Aku minta maaf...”
Sari tidak menjawab.
Ia memandang Anto.
“Belum selesai...”
Anto mengerutkan kening.
“Apa maksudmu?”
Sari mengangkat tangannya.
Di telapak tangannya terdapat sebuah bunga putih kecil.
Bunga itu kemudian berubah menjadi abu.
“Yang mengikat kami... bukan hanya cincin.”
Anto menatapnya.
“Lalu apa?”
Sari menunjuk ke arah Pak Jatmoko.
“Janji yang masih hidup.”
Setelah mengatakan itu, tubuhnya menghilang.
Makhluk tanah liat mengeluarkan suara geraman terakhir.
Kemudian, tubuhnya runtuh ke dalam lubang.
GRAAAK!
Tanah di sekitar lubang amblas.
Seluruh ruangan bergetar hebat.
Anita berteriak.
“Kita harus keluar sekarang!”
Anto segera menarik Rehan.
“Bangun!”
Rehan memegang kepalanya.
“Aku masih hidup?”
“Kalau masih bisa bertanya, berarti masih hidup. Ayo!”
Mereka berlari menuju tangga.
Pak Jatmoko berusaha berdiri, tetapi kakinya gemetar.
Anto berhenti sejenak.
“Bapak bisa berjalan?”
Pak Jatmoko mengangguk.
“Aku... bisa.”
Anita menatap lubang yang terus runtuh.
“Cepat!”
Mereka menaiki tangga.
Di belakang mereka, terdengar suara batu-batu berjatuhan.
Brak! Brak! Brak!
Ketika mencapai pintu besi, Anto menoleh untuk terakhir kalinya.
Di dalam ruangan yang mulai dipenuhi debu, ia melihat sesuatu berdiri di antara asap hitam.
Bukan makhluk tanah liat.
Bukan Sari.
Melainkan seorang lelaki tua dengan tongkat kayu.
Mbah Reksadana.
Lelaki itu tersenyum.
“Anto...”
Anto membeku.
Bayangan tersebut mengangkat tangannya.
Di telapak tangannya terdapat cincin besi yang sama.
“Perjanjian belum berakhir.”
Kemudian, bayangan itu lenyap.
Pintu besi tertutup dengan sendirinya.
BRAK!
Anto mundur.
Rehan menatapnya.
“Apa yang kamu lihat?”
Anto tidak langsung menjawab.
Ia memandang pintu yang kini dipenuhi retakan.
“Orang yang membuat perjanjian itu... masih hidup.”
Anita mengerutkan kening.
“Mbah Reksadana?”
Anto mengangguk.
“Dan dia tahu tentang kita.”
### Bunga di Atas Makam
Mereka berhasil keluar dari gedung produksi tepat sebelum bagian belakang pabrik mengalami keruntuhan kecil.
Para petugas segera berlari mendekat.
Pak Jatmoko dibawa ke tempat aman. Wajahnya pucat, dan ia terus menatap gedung produksi tanpa berkata apa-apa.
Polisi berusaha menanyakan apa yang terjadi.
Namun, Pak Jatmoko hanya memberikan jawaban singkat.
“Terjadi kerusakan bangunan.”
Anto menatapnya dengan kecewa.
“Bapak masih mau berbohong?”
Pak Jatmoko memalingkan wajah.
Ia tidak menjawab.
Di halaman pabrik, bunga-bunga putih yang sebelumnya bermekaran mulai menghitam. Beberapa di antaranya layu, sementara yang lain perlahan tenggelam ke dalam tanah.
Rehan mengamati keadaan tersebut.
“Berarti semuanya sudah selesai?”
Anita menggeleng.
“Belum tentu.”
Anto menatap tanah di dekat gerbang.
Di sana, sebuah Kembang Mayit masih berdiri tegak.
Bunga itu berbeda dari yang lain.
Kelopaknya tidak layu.
Justru semakin putih.
Anto mendekat.
Mata batinnya terbuka.
Di dalam bunga itu, ia melihat bayangan sebuah desa yang belum pernah ia kunjungi.
Desa yang dikelilingi hutan lebat.
Di tengah desa berdiri sebuah rumah tua.
Di depan rumah tersebut, Mbah Reksadana sedang menanam bunga putih di atas tanah.
Di belakangnya, terdapat sebuah batu nisan.
Nama yang tertulis di sana membuat Anto terkejut.
SARI.
Anto menutup mata batinnya.
Napasnya memburu.
Anita segera mendekat.
“Apa yang kamu lihat?”
Anto menatap bunga tersebut.
“Mbah Reksadana masih melakukan ritual.”
Rehan menggeleng.
“Di mana?”
Anto menatap arah timur.
“Di sebuah tempat yang belum pernah kita datangi.”
Pak Jatmoko, yang mendengar percakapan itu, tiba-tiba menoleh.
“Jangan cari dia.”
Anto memandangnya.
“Kenapa?”
Pak Jatmoko berjalan mendekat dengan langkah lemah.
“Kalau kalian menemukannya, kalian tidak akan bisa kembali.”
Anita menatapnya tajam.
“Bapak tahu di mana dia?”
Pak Jatmoko terdiam.
Anto melangkah maju.
“Jawab, Pak.”
Pengusaha itu menunduk.
“Namanya... Desa Karangwungu.”
Angin mendadak berembus di halaman pabrik.
Kembang Mayit di dekat kaki Anto bergoyang.
Dari dalam bunga tersebut terdengar bisikan yang sangat lirih.
“Jangan percaya Jatmoko...”
Anto menatap Pak Jatmoko.
Sementara itu, di kejauhan, suara petir menggelegar meskipun langit masih cerah.
Guruh...
Anita memandang ke arah timur.
“Sepertinya perjalanan kita baru saja dimulai.”
Rehan menghela napas panjang.
“Kenapa rasanya masalah ini semakin besar?”
Anto tidak menjawab.
Ia menatap bunga putih yang perlahan berubah menjadi merah.
Di dalam benaknya, suara Mbah Reksadana kembali terdengar.
“Perjanjian belum berakhir...”
Dan jauh di dalam tanah Desa Karangwungu, sebuah bunga putih mulai tumbuh di atas makam tua.














Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!