PERTARUNGAN TERAKHIR DI PADEPOKAN

0 dibaca

A

PERTARUNGAN TERAKHIR DI PADEPOKAN


Cahaya putih meledak dari tubuh Anto.


BUUMMM!


Seluruh ruang bawah tanah berguncang.


Batu-batu berjatuhan dari langit-langit.


Tanah terangkat seperti diterjang gelombang besar.


Anita segera menarik Rehan menjauh.


“Menjauh!”


Mereka berdua berlindung di balik dinding batu.


Sementara Anto tetap berdiri di tengah ruangan.


Segel di dadanya telah pecah.


Namun bukannya merasa bebas...


Anto justru merasakan sesuatu yang jauh lebih mengerikan.


Seolah-olah ada ribuan suara masuk ke dalam pikirannya.


Tangisan.


Jeritan.


Doa.


Permohonan.


Nama-nama manusia.


Semuanya bercampur menjadi satu.


“Tolooong...”


“Aku belum mau mati...”


“Jangan bunuh aku...”


“Pulanglah...”


“Pulang...”


Anto menutup telinganya.


“Berhenti!”


Namun suara-suara itu semakin keras.


Kemudian...


sebuah suara terdengar paling jelas.


“Anto.”


Anto membuka mata.


Di hadapannya berdiri seorang laki-laki.


Ayahnya.


Wajah yang selama ini hanya ia kenal melalui bayangan dan cerita.


Untuk beberapa detik, Anto hanya diam.


“Ayah...”


Laki-laki itu tersenyum.


Namun tubuhnya hampir transparan.


“Ayah sudah menunggumu.”


Air mata Anto jatuh.


“Kenapa Ayah meninggalkanku?”


Ayahnya menatapnya lama.


“Karena Ayah tidak meninggalkanmu.”


“Lalu kenapa Ayah tidak pulang?”


“Karena ada sesuatu yang harus Ayah jaga.”


Anto menggertakkan gigi.


“Aku membencimu.”


Ayahnya tersenyum sedih.


“Tidak apa-apa.”


“Ayah pantas menerima itu.”


Anto menggeleng.


“Tidak.”


Ia menangis.


“Aku cuma ingin Ayah pulang.”


Ayahnya melangkah mendekat.


Namun sebelum tangannya menyentuh Anto...


Sang Pamomong Peteng mengaum.


“CUKUP!”


BRUUUUM!


Tubuh makhluk itu membesar.


Akar-akar hitam keluar dari punggungnya.


Menembus dinding.


Menembus tanah.


Bahkan menembus lantai padepokan.


Di permukaan, seluruh Kembang Mayit bermekaran secara bersamaan.


Satu.


Dua.


Puluhan.


Ratusan.


Bunga-bunga putih itu berubah menjadi merah kehitaman.


Kelopaknya bergerak seperti mulut.


Kemudian terdengar suara jeritan dari seluruh penjuru hutan.


Rehan melihat ke atas.


“Bunganya...”


Anita menatap dengan ngeri.


“Dia sedang menyerap sesuatu.”


Mbah Reksadana mengangguk.


“Bukan sesuatu.”


Ia menggenggam keris.


“Nyawa.”


Sang Pamomong Peteng mengangkat kedua tangannya.


Akar-akar hitam melesat.


WUSSH!


Anita segera berdiri.


“Ajian Guntur Saketi!”


Kilatan petir menyambar.


BRAK!


Akar pertama hancur.


Kemudian akar kedua.


Ketiga.


Keempat.


Namun jumlahnya semakin banyak.


“Anita!”


Rehan menarik Anita ketika sebuah akar hampir menghantam kepalanya.


Mereka berdua berguling.


BRAKK!


Tanah di belakang mereka pecah.


Anto melihat semuanya.


Ia mengepalkan tangan.


“Aku tidak akan membiarkan ini.”


Ia melangkah maju.


Sang Pamomong Peteng menatapnya.


“Kau sudah membuka pengunci.”


“Sekarang tubuhmu akan menjadi milikku.”


Anto menggeleng.


“Tidak.”


“Tubuh ini bukan milikmu.”


“Tubuh ini milikku.”


Anto berlari.


Makhluk itu mengayunkan lengannya.


BUUM!


Anto terpental dan menghantam dinding.


“ANTO!”


Rehan berteriak.


Anto bangkit perlahan.


Darah mengalir dari sudut bibirnya.


Namun ia kembali berdiri.


Mata batinnya terbuka penuh.


Untuk pertama kalinya, ia melihat seluruh bentuk asli Sang Pamomong Peteng.


Makhluk itu bukan hanya satu tubuh.


Ia adalah kumpulan perjanjian.


Setiap akar adalah satu janji.


Setiap wajah adalah satu korban.


Setiap bunga adalah satu nyawa.


Dan di tengah tubuhnya...


ada sebuah benda kecil.


Sebuah cincin tua.


Anto terkejut.


“Cincin itu...”


Mbah Reksadana melihatnya.


“Jadi itu sumbernya.”


Anto menoleh.


“Mbah tahu?”


Mbah menggeleng.


“Aku hanya tahu cincin itu pernah digunakan dalam perjanjian pertama.”


Ayah Anto tiba-tiba berkata,


“Bukan cincin yang harus dihancurkan.”


Anto menatapnya.


“Lalu apa?”


“Janji.”


Anto terdiam.


Ayahnya melanjutkan.


“Selama masih ada manusia yang mempertahankan perjanjian itu, makhluk tersebut akan selalu memiliki jalan untuk kembali.”


Anto memandang Mbah Reksadana.


Mbah langsung memahami.


“Aku.”


Ia melihat keris di tangannya.


“Akulah yang masih mempertahankan perjanjian ini.”


Sang Pamomong Peteng tertawa.


“Reksadana...”


“Jangan.”


Mbah mengangkat keris.


“Sudah cukup.”


Makhluk itu menggeram.


“Kau milikku.”


Mbah tersenyum pahit.


“Dulu aku memilih kekayaan.”


“Sekarang aku memilih mengakhiri semuanya.”


Ia menusukkan keris ke telapak tangannya.


Darah menetes ke tanah.


Anto terkejut.


“Mbah!”


Mbah menatap Anto.


“Ketika leluhurku membuat perjanjian pertama, dia memberikan darahnya.”


“Karena itu...”


Mbah menarik keris.


“Darah keturunannya juga bisa mengakhiri sumpah itu.”


Sang Pamomong Peteng meraung.


“JANGAN!”


Akar-akar hitam menyerbu Mbah.


Anita mencoba menghentikannya.


Namun Mbah berteriak,


“Jangan lindungi aku!”


“Lakukan apa yang harus kalian lakukan!”


Satu akar menembus bahu Mbah.


Darah mengucur.


Mbah tetap berdiri.


Ia menancapkan keris lebih dalam ke tanah.


“Dengan darah leluhurku...”


Tanah mulai bercahaya.


“Dengan darah para korban...”


Wajah-wajah di tubuh Sang Pamomong Peteng mulai menjerit.


“Dan dengan kesalahanku sendiri...”


Mbah memejamkan mata.


“Perjanjian ini...”


Ia membuka mata.


“AKU CABUT!”


BRAAAAAAM!


Ledakan cahaya memenuhi ruangan.


Sang Pamomong Peteng mundur.


Tubuhnya mulai retak.


Namun bukannya hancur...


makhluk itu justru mengamuk.


“KAU TIDAK BISA!”


Ia mengangkat tangannya.


Akar raksasa muncul dari tanah dan menghantam Mbah.


BUUM!


Tubuh Mbah terpental.


Kerisnya jatuh.


Rehan segera berlari mengambilnya.


“Mbah!”


Mbah terbaring.


Napasnya tersengal.


“Bawa... keris itu...”


Rehan mengambilnya.


“Tapi saya harus bagaimana?”


“Berikan... kepada Anto.”


Rehan berlari.


Namun sebuah akar menghadang.


Anita kembali mengangkat kedua tangannya.


“Ajian Guntur Saketi!”


BRAKKK!


Petir menghantam akar itu.


Rehan berhasil melewati celah.


Ia menyerahkan keris kepada Anto.


“Ini!”


Anto menerimanya.


Keris itu terasa sangat dingin.


Begitu menggenggamnya...


penglihatannya berubah.


Ia melihat seluruh masa lalu.


Leluhur Mbah Reksadana.


Pak Jatmoko.


Para korban.


Sari.


Ayahnya.


Ibunya.


Semua terhubung oleh satu hal.


Satu perjanjian.


Satu kesalahan.


Dan satu keinginan untuk mendapatkan sesuatu yang tidak seharusnya dimiliki manusia.


Anto membuka mata.


“Aku mengerti.”


Sang Pamomong Peteng mendekat.


“Kau tidak bisa menghentikanku.”


Anto menggenggam keris.


“Aku tidak akan menghentikanmu.”


Makhluk itu terdiam.


“Aku akan mengakhiri perjanjianmu.”


Sang Pamomong Peteng mengaum.


Tubuhnya membesar hingga memenuhi ruangan.


Langit-langit padepokan mulai runtuh.


Anita berteriak,


“Anto! Sekarang!”


Anto berlari.


Sang Pamomong Peteng mengayunkan tangan.


Anto melompat.


Satu akar menyambar kakinya.


Ia jatuh.


Namun Rehan menarik tubuhnya.


“Bangun!”


Anto kembali berdiri.


Mereka berlari bersama.


Di belakang mereka, Anita terus menghantam akar dengan Ajian Guntur Saketi.


Satu langkah.


Dua langkah.


Tiga langkah.


Anto akhirnya berada tepat di depan Sang Pamomong Peteng.


Ia mengangkat keris.


Namun makhluk itu tiba-tiba berubah.


Wajahnya menjadi wajah ibu Anto.


“Anto...”


Tangan Anto berhenti.


“Ibu...”


Sosok itu tersenyum.


“Jangan bunuh aku.”


Anto membeku.


Kemudian wajah itu berubah menjadi ayahnya.


“Anto... turunkan kerismu.”


Anto menggertakkan gigi.


“Bukan mereka.”


Wajah itu berubah lagi.


Menjadi Sari.


“Anto...”


Air mata Anto jatuh.


Namun kali ini ia tidak tertipu.


“Kau bukan Sari.”


Makhluk itu menjerit.


“KAU TIDAK BISA MEMBUNUHKU!”


Anto mengangkat keris tinggi-tinggi.


“Aku tidak membunuhmu.”


Ia menatap mata merah makhluk itu.


“Aku mengakhiri janji yang membuatmu hidup.”


Keris dihantamkan ke tanah.


CRAACK!


Cahaya putih menjalar ke seluruh ruangan.


Sang Pamomong Peteng menjerit.


Akar-akar hitam mulai terlepas dari tanah.


Bunga-bunga Kembang Mayit di permukaan mulai layu.


Satu demi satu.


Namun...


tiba-tiba terdengar suara retakan lain.


Bukan dari tubuh makhluk itu.


Melainkan dari dada Anto.


Anto memegang dadanya.


“Kenapa...?”


Ayahnya menatapnya dengan wajah khawatir.


“Anto.”


“Apa?”


“Masih ada satu ikatan.”


Anto melihat ke bawah.


Di lantai terdapat sebuah lingkaran hitam.


Di tengahnya...


ada darah.


Darah Mbah Reksadana.


Mbah yang terbaring di kejauhan tiba-tiba membuka mata.


“Anto...”


Anto menatapnya.


Mbah berkata dengan suara lemah,


“Jangan gunakan kekuatanmu untuk menghancurkannya.”


“Gunakan untuk menutupnya.”


Anto mengerti.


Ia memandang ayahnya.


“Ayah...”


Ayahnya tersenyum.


“Sudah waktunya.”


“Aku akan membantumu.”


Anto menancapkan keris lebih dalam.


Cahaya putih dan hitam bertabrakan.


Sang Pamomong Peteng meraung.


Seluruh padepokan mulai runtuh.


Dan dari permukaan...


suara lonceng tua terdengar tiga kali.


DONG!


DONG!


DONG!


Untuk pertama kalinya dalam puluhan tahun...


Kembang Mayit mulai layu.


Namun di bawah tanah...


pintu batu masih terbuka.


Dan di balik pintu itu...


sesuatu masih menunggu.


Anto menatap kegelapan.


Ia sadar...


pertarungan belum benar-benar selesai.


Karena yang harus ditutup bukan hanya pintunya.


Tetapi seluruh perjanjian.


Malam itu akan menjadi malam terakhir Kembang Mayit.


Atau...


malam terakhir bagi mereka semua.

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Komentarnya bisa dibaca siapa saja, tapi menulis butuh akun.

Masuk