PENGKHIANATAN TERAKHIR
“Segelmu harus dibuka.”
Suara itu keluar dari sosok yang menyerupai ayah Anto.
Anto berdiri di depan pintu batu.
Di belakang sosok tersebut, Sang Pamomong Peteng perlahan melangkah keluar.
Setiap langkahnya membuat lantai bergetar.
Tanah dan akar yang membentuk tubuhnya berguguran.
Namun bagian yang jatuh segera menyatu kembali.
Dua mata merahnya tidak pernah lepas dari Anto.
“Buka segelmu...”
Anto menatap dadanya.
Rasa panas semakin menyakitkan.
Namun ia tidak bergerak.
“Kalau segel ini dibuka, apa yang terjadi?”
Sosok ayahnya menjawab:
“Kau akan bebas.”
Mbah Reksadana langsung berteriak.
“Jangan percaya!”
Anto menoleh.
“Lalu apa yang terjadi kalau tidak dibuka?”
Mbah Reksadana terdiam.
“Jawab!”
“Segelmu akan terus menahan pintu.”
“Dan?”
“Semakin lama... semakin besar beban yang harus kau tanggung.”
Anto menatapnya.
“Jadi selama ini aku yang menahan semuanya?”
“Tanpa kau sadari.”
Sang Pamomong Peteng tertawa.
“Manusia selalu takut pada sesuatu yang tidak mereka mengerti.”
Anita berdiri.
“Diam!”
Ia mengangkat tangannya.
“Ajian Guntur Saketi!”
Petir menghantam tubuh makhluk itu.
BRAKKK!
Tubuh Sang Pamomong Peteng terbelah.
Namun beberapa detik kemudian, tanah dan akar kembali menyatu.
Makhluk itu menatap Anita.
“Kekuatanmu tidak cukup.”
Anita menggertakkan gigi.
“Aku tidak perlu cukup kuat untuk mengalahkanmu.”
Ia berdiri di depan Anto.
“Aku hanya perlu memberi Anto waktu.”
Makhluk itu menggeram.
Kemudian tangannya bergerak.
Akar hitam melesat.
Anto menarik Anita.
Akar tersebut menghantam dinding.
BRAK!
Batu pecah.
Rehan berteriak.
“Kita harus pergi!”
Mbah Reksadana mengangkat keris.
“Tidak ada jalan keluar.”
“Kenapa?”
“Pintu sudah terbuka.”
Anto menatapnya.
“Kalau begitu kita tutup.”
Mbah Reksadana menggeleng.
“Tidak semudah itu.”
“Caranya?”
Mbah Reksadana memandang cincin tua di tangan Anto.
“Kita harus mengembalikan perjanjian.”
Anto mengerutkan kening.
“Perjanjian?”
“Ya.”
“Perjanjian yang mana?”
Mbah Reksadana menjawab:
“Perjanjian pertama.”
Sang Pamomong Peteng melangkah semakin dekat.
Lantai retak di bawah kakinya.
Dinding bergetar.
Ratusan akar merayap ke seluruh ruangan.
Anto melihat cincin di tangannya.
“Bagaimana caranya?”
Mbah Reksadana menunjuk batu hitam di tengah ruangan.
“Letakkan cincin itu di sana.”
Anto hendak bergerak.
Namun sosok yang menyerupai ayahnya tiba-tiba berdiri di hadapannya.
“Jangan.”
Anto berhenti.
“Ayah?”
Sosok itu menatapnya.
“Itu akan membunuhmu.”
Mbah Reksadana langsung berkata:
“Dia berbohong.”
Sosok itu tersenyum.
“Benarkah?”
Kemudian wajahnya berubah.
Kulitnya menghitam.
Matanya menjadi merah.
Mulutnya terbuka.
“Kalau kau mengembalikan perjanjian, seluruh dosa yang diwariskan kepadamu akan masuk ke tubuhmu.”
Anto terdiam.
“Dosa?”
Makhluk itu tertawa.
“Darah keluargamu.”
Mbah Reksadana mengangkat keris.
“Anto, jangan dengarkan!”
Makhluk itu melanjutkan.
“Buka segelmu.”
“Jangan!”
“Buka.”
“Anto!”
“Buka...”
Suara-suara itu bercampur.
Anto memejamkan mata.
Ia mencoba menenangkan pikirannya.
Kemudian ia teringat ibunya.
Wajahnya.
Tangisnya.
Tangan yang menempel di dada Anto ketika masih bayi.
“Lebih baik dia membenciku daripada menjadi milik mereka.”
Anto membuka mata.
“Aku mengerti sekarang.”
Mbah Reksadana menatapnya.
“Apa?”
“Ibu tidak meninggalkanku.”
Ia menggenggam cincin.
“Ibu menyelamatkanku.”
Sang Pamomong Peteng menggeram.
Anto berjalan menuju batu hitam.
“Anto!”
Makhluk itu menyerang.
Akar hitam melesat.
Anita berdiri di depan Anto.
“Ajian Guntur Saketi!”
Petir menghantam seluruh akar.
Anita terdorong mundur.
“Pergi!”
Rehan membantu Anita berdiri.
“Ayo!”
Anto terus berjalan.
Mbah Reksadana mengikuti dari belakang.
Namun tiba-tiba Mbah Reksadana berhenti.
Anto menoleh.
“Mbah?”
Mbah Reksadana menatap keris di tangannya.
Kemudian ia melihat Sang Pamomong Peteng.
“Aku tahu siapa yang pertama kali membuat perjanjian.”
Anto terdiam.
“Siapa?”
Mbah Reksadana menatapnya.
“Leluhur keluarga Jatmoko.”
Anto mengangguk.
“Itu sudah kita tahu.”
“Bukan.”
Mbah Reksadana menggeleng.
“Dia bukan orang pertama.”
Anto membeku.
“Lalu siapa?”
Mbah Reksadana menarik napas panjang.
“Orang pertama adalah orang yang menemukan tempat ini.”
“Siapa?”
Mbah Reksadana menatap Anto.
“Namanya... Reksadana.”
Anto terdiam.
Rehan menatapnya.
“Maksudnya?”
Mbah Reksadana menundukkan kepala.
“Namaku diwariskan turun-temurun.”
Anto menatap lelaki tua itu.
“Jadi leluhur panjenengan?”
“Ya.”
“Dia yang pertama membuat perjanjian?”
Mbah Reksadana mengangguk.
“Dia menemukan tempat ini ketika masih muda.”
“Kenapa?”
“Karena dia ingin menyembuhkan keluarganya.”
Anto diam.
Mbah Reksadana melanjutkan:
“Anaknya sakit parah. Ia tidak mau menerima kenyataan bahwa anaknya akan mati.”
“Lalu dia membuat perjanjian.”
“Ya.”
“Dengan Sang Pamomong Peteng?”
“Awalnya ia tidak tahu dengan siapa ia berhadapan.”
Mbah Reksadana menatap makhluk tersebut.
“Yang ia tahu hanya satu.”
“Uang?”
“Bukan.”
Mbah Reksadana menjawab:
“Kehidupan.”
Anto terdiam.
“Dia meminta anaknya hidup.”
“Dan sebagai gantinya?”
“Darah.”
Mbah Reksadana menatap bunga-bunga yang tumbuh di celah lantai.
“Setiap kehidupan yang diselamatkan harus dibayar dengan kehidupan lain.”
Anto memahami semuanya.
“Jadi pesugihan itu bukan dimulai untuk kekayaan.”
“Tidak.”
“Dimulai karena seseorang takut kehilangan keluarganya.”
Mbah Reksadana mengangguk.
“Kesalahan pertama selalu dimulai dari alasan yang terlihat benar.”
Sang Pamomong Peteng tertawa.
“Manusia selalu sama.”
Anto menatap makhluk itu.
“Lalu bagaimana perjanjian itu berubah menjadi pesugihan?”
Mbah Reksadana menjawab:
“Generasi berikutnya mengetahui bahwa perjanjian itu bisa digunakan untuk mendapatkan lebih banyak.”
“Dan mereka menggunakannya.”
“Ya.”
“Termasuk keluarga Jatmoko.”
“Ya.”
Anto menggenggam cincin.
“Lalu kenapa keluargaku terlibat?”
Mbah Reksadana diam.
Anto menatapnya.
“Jawab.”
“Karena ayahmu adalah orang pertama yang mencoba mengakhiri perjanjian.”
“Dan ibu?”
“Ibumu membantu.”
“Kenapa aku diberi segel?”
Mbah Reksadana menatap Anto.
“Karena mereka menemukan satu-satunya cara.”
“Apa?”
“Menutup pintu tanpa membunuh semua orang yang masih terikat dengan perjanjian.”
Anto terdiam.
Mbah Reksadana berkata:
“Segel itu mengikat pintu kepada satu kehidupan.”
Anto menatap dadanya.
“Padaku.”
“Ya.”
“Jadi selama aku hidup...”
“Pintu tidak bisa terbuka sepenuhnya.”
Sang Pamomong Peteng menggeram.
“Dan karena itu... kau harus mati.”
Anto terdiam.
Rehan langsung berdiri.
“Tidak.”
Anita menatap Anto.
“Jangan dengarkan dia.”
Namun Sang Pamomong Peteng berkata:
“Jika kau mati, segel akan hilang.”
Anto memandang makhluk itu.
“Dan kau bebas.”
“Ya.”
Anto tersenyum tipis.
“Sayangnya... aku tidak berencana mati hari ini.”
Ia meletakkan cincin di atas batu hitam.
Cahaya putih langsung muncul.
Sang Pamomong Peteng menjerit.
“JANGAN!”
Seluruh ruangan berguncang.
Batu hitam retak.
Mbah Reksadana berteriak:
“Sekarang!”
Anto menekan telapak tangannya ke batu.
Darah mengalir.
Segel di dadanya menyala.
Kemudian suara ibunya terdengar.
“Anto...”
Anto memejamkan mata.
“Ibu.”
“Jangan takut.”
“Aku tidak takut.”
“Kau harus memaafkan ayahmu.”
Anto membuka mata.
“Kenapa?”
“Karena dia tidak pernah meninggalkanmu.”
Air mata Anto jatuh.
“Dia selalu menjagamu.”
Tiba-tiba bayangan seorang laki-laki muncul di belakang Anto.
Ayahnya.
Kali ini bukan ilusi.
Wajahnya terlihat tenang.
Ia berdiri di samping Anto.
“Anakku.”
Anto menoleh.
“Ayah...”
“Aku bangga padamu.”
Sang Pamomong Peteng menjerit.
“Tidak!”
Ayah Anto menatap makhluk itu.
“Sudah cukup.”
Ia mengangkat tangannya.
Cahaya putih muncul.
Mbah Reksadana menatapnya.
“Sekarang aku mengerti.”
Anto menatap ayahnya.
“Apa yang harus kulakukan?”
Ayahnya tersenyum.
“Jangan buka segelmu.”
“Lalu?”
“Percayalah pada dirimu sendiri.”
Kemudian sosok ayahnya perlahan menghilang.
Anto menangis.
“Ayah!”
Suara terakhirnya terdengar:
“Pulanglah.”
Cahaya putih semakin terang.
Sang Pamomong Peteng mulai terseret menuju pintu.
Akar-akar tubuhnya putus.
Tanah berhamburan.
Ia berteriak:
“PERJANJIAN BELUM SELESAI!”
Anto menjawab:
“Memang belum.”
Ia menekan tangannya semakin kuat.
“Tapi aku akan mengakhirinya.”
BRAAAAAK!
Cahaya memenuhi seluruh ruangan.
Pintu batu mulai tertutup.
Namun sebelum tertutup sepenuhnya—
Sang Pamomong Peteng menatap Anto.
“Kalau kau menutupku...”
Ia tersenyum.
“...semua yang pernah membuat perjanjian akan ikut terkubur.”
Anto terdiam.
Mbah Reksadana memandangnya.
“Jangan dengarkan.”
Anto menggeleng.
“Tidak.”
Ia menatap makhluk itu.
“Bukan dikubur.”
Anto menggenggam cincin.
“Dibebaskan.”
Pintu menutup.
DUARRR!
Ledakan besar mengguncang seluruh padepokan.
Anita berteriak:
“Anto!”
Cahaya putih menyelimuti mereka.
Kemudian semuanya menjadi gelap.
Beberapa saat kemudian...
Anto membuka mata.
Ia terbaring di tanah.
Padepokan sudah hancur sebagian.
Batu-batu berserakan.
Bunga Kembang Mayit di halaman mulai layu satu per satu.
Anita duduk tidak jauh darinya.
Rehan sedang membantu Mbah Reksadana berdiri.
“Anto!”
Anita berlari mendekat.
“Kamu sadar?”
Anto mengangguk.
“Aku masih hidup.”
Rehan tertawa lega.
“Syukurlah.”
Anto menyentuh dadanya.
Segelnya masih ada.
Tetapi retakannya sudah hilang.
Mbah Reksadana melihatnya.
“Berhasil.”
Anto menatapnya.
“Belum.”
Mbah Reksadana mengerutkan kening.
Anto menunjuk padepokan.
“Perjanjian sudah dihentikan.”
“Ya.”
“Tapi masih ada satu hal.”
“Apa?”
Anto menatap cincin yang kini berubah menjadi abu.
“Kita harus memastikan tidak ada lagi orang yang mengulanginya.”
Mbah Reksadana mengangguk.
“Dan itu dimulai dengan menghancurkan semua catatan.”
Anto berdiri.
Mereka berempat menatap padepokan.
Namun di antara puing-puing...
satu bunga Kembang Mayit masih berdiri.
Tidak layu.
Tidak terbakar.
Bunga itu perlahan membuka kelopaknya.
Di dalamnya tidak ada wajah.
Hanya sebuah titik hitam.
Kemudian terdengar suara yang sangat pelan.
“Belum selesai...”














Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!