Di dapur, selalu ada hal-hal yang tinggal. Yang sementara seperti wangi seduhan kopi pagi; atau jejak kunyit yang menetap pada lubang-lubang jarum di cobek batu—yang selamanya ada kecuali cobek itu pensiun kalau pecah jadi lima.
“Udah lama gak kelihatan sampeyan mampir ke sini, Mbak.”
Tetangga belakang rumah, tukang yang diupah kakakmu buat merenovasi dapur, sedang istirahat saat kaumampir.
Iya, mampir. Bukan pulang.
Pada akhirnya, seperti yang lain kau pun hengkang dari rumah induk. Hari ini kaubertandang lantaran Bulik sebelah rumah mantu. Kalian kakak-beradik berkumpul untuk itu.
“Nggih, Cak. Kalau mampir ndak sekalian agak lama nanggung di jalan,” jelasmu.
Kau menyapu pandang ke sepenjuru dapur yang sedang disusun ulang. Oh, pintu belakang kini dicat merah bata. Pintu itu, saat masih cokelat tua engselnya pernah menggigit kelingkingmu. Sampai berdarah-darah lantaran kukumu jatuh.
Berjalan dari pintu belakang, lurus lalu belok dua langkah ke kanan. Meja makan terlihat sepi, kosong melompong. Tanpa sadar kau menghela napas pelan.
Ah, sayang tidak ada yang bisa dicicip.
“Ayo, sudah mau mulai walimah.”
Tanpa ada mukaddimah tambahan, kakakmu serta-merta memindahtangankan dandang nasi besar. Paham tak bisa dan tak akan diizinkan menolak, kau auto menerimanya begitu saja. Memeluk perkakas yang bisa muat dijadikan tempat sembunyi seorang keponakan balitamu itu di depan perut. Sementara dia sendiri menenteng beberapa pisau. Katanya di sebelah butuh.
Sebelum benar-benar berbalik dan hengkang, matamu sempat menangkap mug beling yang terduduk di rak. Mug bergambar bunga bakung. Mug yang pernah menjadi primadona dan jadi rebutan antara kau dan keponakanmu. Mug yang sudah rompal sedikit ujungnya, tetapi bersikeras tidak mau pecah.
Kau terkekeh pelan.
Kakakmu menaikkan satu alis. Kenapa?
Kau hanya menggeleng lalu mengekor kakakmu berjalan pergi.
Lihatlah, bahkan ketika ruang itu sedang berganti rupanya, masih ada saja satu-dua ingatan yang bisa kauicip kembali. Barangkali memang, di dapur itu kenangan akan selalu dihangatkan dan dihidangkan ulang. Lagi dan lagi.














Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!