Kebanyakan Cabai

0 dibaca

A

Banyak hal kausadari selagi menanti proses di dapur selesai; entah di antara membilas cucian piring, di sela menanti nasi tanak, atau sementara menunggu gorengan ikan masak.

Misalnya, bahwa bisa jadi nyaris dua puluh tahun silam tanpa sadar kau telah melukai hati ibumu. Saat ia menyapa di ambang pintu dan kau hanya membalasnya dengan senyum rikuh. Bahkan kau lantas menerobos masuk buru-buru.

Lantaran kau telah berbalik lebih dulu, bisa jadi kau luput menangkap senyumnya yang luruh perlahan terbilas perasaan bersalah. Sebab berminggu-minggu meninggalkanmu di rumah; karena dia kembali pulang dengan masih menenteng infus di tangan kanannya selagi berjalan dipapah.

Sebab rentang waktunya mencari kesembuhan terlalu lama hingga putri kecilnya lupa padanya. Tak ada yang bisa disalahkan. Dijangkiti penyakit pastilah bukan harapan yang dia semogakan.

Kau hanya masih belum matang saat itu. Ada setitik takut yang menyelip. Saat untuk pertama kali jumpa lagi setelah sekian minggu hidup terpisah. Melihat keadannya yang demikian, bahkan kau yang belum paham apa penyakitnya, kau tahu dia tidak baik-baik saja.

Entah kenapa ada perasaan asing yang merayapimu tiba-tiba. Kau takut melihatnya.

Kelak, kini, kau dihinggapi perasaan berdosa.

Sebagaimana kau yang akhirnya bisa membedakan mana kari mana gulai ketika masakan itu matang, saat kau matang pula kau bisa melihat hal-hal yang telah lewat dengan lebih terang.

Misalnya, bahwa ketika dia akhirnya ‘pulang’ setelah perjuangan panjang—dan rumahmu kehilangan dua tiang utamanya—kakak-kakakmu yang kala itu baru setengah tanak mau tak mau ambil peran.

Tentu, kau dulu takkan memikirkan bagaimana mereka bertahan dari hari ke hari. Dengan peran barunya sebagai orang tua bagi adik kecil yang belum genap berusia lima. Bagaimana dapur tetap mengepul sementara terkadang kiriman dari saudara lain di seberang terlambat tiba?

Ah, kenangan memang selalu licin menyusupi waktu-waktu jeda; entah di sela menanti nasi tanak atau sementara menunggu gorengan ikan masak.

“Mengulek sambal saja kok mbeler segitunya?”

 “Perih tahu, cabainya kebanyakan.”

Saat kau semakin matang, banyak hal di dapur bisa kau jadikan alasan. Lumatan cabai sebagai penyebab beringusnya hidung dan berairnya matamu sekarang, misalnya.

Sudah sampai ujung

Bab terakhir

← Bab sebelumnya

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Komentarnya bisa dibaca siapa saja, tapi menulis butuh akun.

Masuk