Bab 01

Kain Lap

2 dibaca

A

Banyak hal dihangatkan di dapur. Termasuk beberapa kenangan lama yang kian dingin dikipasi berlalunya waktu.

“Ibumu dulu sering begitu.”

Aku terdiam di tempatku berdiri. Masih dengan tangan yang sibuk mengeringkan pantat wadah penanak nasi yang basah dengan ujung daster yang kupakai. Sebab tidak kutemukan barang sehelai kain lap. Terkadang, di dapur, lap sudah macam teman musiman yang saat dibutuhkan tiba-tiba lenyap.

Tugas masak nasi tertunda setengah menit tak apalah. Aku pasang kuping menanti lanjutannya.

“Kami sering ngobrol. Ya begini ini.” Ia duduk di kursi lantas menyelonjorkan kaki. “Ibumu berdiri sambil ngelap sesuatu pakai dasternya. Persis sepertimu sekarang.”

Tawanya berderai seperti hujan di luar, dan tempiasnya menular kepadaku. Aku turut tersenyum. Sekelebat ingatan lain tahu-tahu terpantik; perihal keusilan seorang kakak yang pernah menggoda, seperti kelakuan banyak saudara lain di seluruh dunia.

“Asal tahu, kau anak buangan yang ditemukan di kebun pisang sebelah rumah.”

Wah, dulu aku jelas mutung, gondok setengah mati. Tapi sekarang, dengan fakta yang kupikir bisa menggantikan selembar hasil tes DNA, rasanya ingin kupatahkan tipuannya dan menyanggah di depan wajah kakakku itu.

“Lihat! Lihat! Cukup dengan sepotong daster kumal dan sebuah wadah penanak nasi bisa kubuktikan aku anak ibu. Bulik saksi hidupnya!”

Lalu barangkali setelahnya aku akan membumbui dengan sejumput seringai pongah atau sepotong juluran lidah.

Sudah sampai ujung

Bab terakhir

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Komentarnya bisa dibaca siapa saja, tapi menulis butuh akun.

Masuk