Banyak hal dihangatkan di dapur. Termasuk beberapa wejangan yang tak sempat ditanak ibu tapi kau racikkan ulang buatku.
“Kenapa saban ada rutinan di masjid se-la-lu kasih suguhan?” tanyaku sambil lalu.
Bukan aku pelit makanan, ya. Demi tanaman tomat di belakang yang baru berbuah satu itu, bukan.
Namun, sungguh, menghidangkan setandan pisang bakal jauh lebih mudah dibanding mencetak sendiri sebutir demi sebutir bakso.
“Kata ibu,” kau menggelindingkan bakso kesekian, “jika tak ada uang yang bisa diselipkan ke kotak, hidangkan lebihan yang ada di dapur.”
Hari Raya Besar lewat tiga hari. Di kulkas daging sapi masih menggunung tinggi. Beramal tak perlu menanti punya uang banyak, imbuhmu, disadur dari perkataan ibu.
“Bisa gak aku merajang daun bawang aja?”
Aku merengek buat kesejuta kali. Sumpah ya! Bagaimana bisa bakso dari tanganku bentuknya tak masuk dalam klasifikasi bentuk mana pun begini? Seberapa lama pun usahaku membuatnya tampak sedap dipandang mata, makanan ini tak berbentuk. Meskipun aku haqqul yakin rasanya enak, sih.
Hmm, kupikir dapur dan seisinya memang begitu mencintaimu sementara mereka akan kompak bersekongkol menggagalkan segala usahaku. Menjajal membuat gedhang goreng tempo hari saja, pisang dan tepungnya berpisah. Payahnya ngepayah banget. Tangan terampil ibu memanglah sempurna diwariskan padamu.
“Mana bisa, dan lekas selesaikan bagianmu. Aku selesai,” ejekmu tanpa belas kasih.
Ibu peri, mana ibu peri? Lihat ini ada kakak kandung rasa bawang bombai! Aku terzalimi, ayo kabulkan permintaanku dapat duit dua milyar.
“Omong-omong, kenapa gak pernah protes aku pakai celana?”
“Ibu dulu juga tidak pernah melarang, selama bajunya menutupi pantat.”
Oalah, begitu.
Eeh, baksonya mencelat keluar panci! Tentu saja tanpa sepengetahuanmu diam-diam kupungut lagi. Aturan lima detik berlaku.
“Aku bisa ngerjakan yang lain gak? Beli masako rasa daging, mungkin?”
Taktik pengalihan: aktif ...
Kau blas tidak peduli dan ngeluyur pergi.
... hasil: gagal.














Aku suka bakso yang gak bulat-bulat amat😋
Juga yang gak halus-halus amat?
Lagi dan lagi, membaca tulisanmu tiada bosan-bosannya. (aku lupa terkahir kali baca, 6 tahun lalu?) Kali ini, tentu saja, dengan menyadur kata terakhir itu, aku "gagal" untuk tak membacanya.
Maka terima kasih masih berkenan membacanya lagi.