Bau solar sisa pembakaran pelat besi, dan dinginnya sisa hujan malam menyengat hidung saat fajar mulai membelah langit Cilincing. Di dalam bengkel las. Skye meringkuk miring di dalam kabin belakang sedan abu-abu. Kedua lututnya ditarik rapat ke dada, mengapit tas ranselnya yang robek seperti seorang anak yang mempertahankan mainan terakhirnya. Wajahnya kusut, noda hitam menempel di pipinya. Tudung hoodie-nya bergeser, rambut hitamnya mulai mengering.
Baskara duduk di atas kursi plastik dekat pintu dorong besi bengkel lima meter dari mobil. Jaket taktis hitamnya digantung di atas pipa las, kaus lengan panjang ketat menempel di lekuk otot bahunya. Matanya bergerak di celah bawah pintu besi, menatap pantulan genangan air jalanan, roda gerobak pasar yang mulai melintas, dan deru pelan mesin truk kontainer dari arah arteri.
Baskara mengalihkan pandangannya ke arah kaca kabin belakang sedan. Jemari Skye bergerak gelisah, mencengkeram kain ranselnya lebih dalam.
“Jangan...” Skye mengigau. “Jangan format... drive-nya...”
Sudut mata Baskara bergeser memperhatikan kerutan di antara kedua alis Skye.
“Charger gue...” Skye mengerang kecil, tubuhnya berputar mengubah posisi meringkuk menjadi telentang, pelukannya di ransel tetap tidak terlepas.
Baskara menatap langit-langit atap yang bocor, satu tetes air dingin jatuh menghantam punggung tangan kanannya yang dibalut perban medis. “Prioritas hidup lo aneh,” gumam Baskara.
Bzzzz.
Perangkat komunikasi di dalam saku celana bergetar. Kode panggilan digital berkedip di layar antipantul.
Baskara bangkit dari kursi plastik tanpa suara. Ia melangkah ringan, berjalan menuju sudut paling belakang bengkel di dekat meja perkakas pemotong besi, menjauh dari jangkauan pendengaran kabin sedan tua.
Ia menekan tombol sensor taktil di perangkat genggamnya, menempelkan mikrofon di belakang daun telinganya. “Status.”
Desis statis terdengar sejenak sebelum suara manusia menyahut dari seberang sambungan. “Laporan lapangan, Operator.”
“Target primer tidak lagi berada di simpul fisik New Hydra,” Baskara menyapu seluruh sudut bengkel.
“Data?”
“Diambil pihak ketiga sebelum saya tiba di titik koordinat simpul.”
“Identifikasi pihak ketiga.”
Baskara menoleh sedikit, memandang sedan. “Alias digital Skye. Nama sipil dalam database kependudukan Sandra Asih. Target sipil tanpa latar belakang pelatihan taktis.”
“Data dipastikan berada padanya?” suara dari seberang menekan dengan nada lebih rendah.
“Kemungkinan tinggi. Subjek mempertahankan media penyimpanan lokal berkapasitas besar di dalam jangkauan fisiknya sepanjang rute pelarian.”
“Kemungkinan tidak cukup untuk memenuhi parameter operasi tunggal, Operator Baskara.”
“Saya akan memastikan validitas isinya sebelum jendela waktu pelacakan sekunder tertutup,” jawab Baskara.
“Ambil data tersebut dari tangannya.”
Baskara terdiam beberapa detik. Matanya memperhatikan tetesan oli hitam jatuh dari mesin bubut tua di dekat kakinya. “Jika unit interseptor New Hydra memotong jalur kami lebih dulu?”
“Jangan biarkan parameter itu terjadi. Data tersebut tidak boleh jatuh ke jaringan publik.” Suara di speaker telinganya berhenti sejenak. “Jangan terlibat lebih jauh dari kebutuhan operasi lapangan. Subjek adalah variabel organik yang bisa dieliminasi jika mengganggu prioritas pengamanan arsip.”
“Jika target sipil mencoba melakukan penetrasi ulang ke dalam struktur arsitektur data saat berada dalam pengawasan?” tanya Baskara pelan.
“Dia bukan lagi target sipil biasa sejak jarinya menyentuh gerbang luar jaringan New Hydra. Amankan medianya. Selesaikan evaluasimu.”
Baskara menatap lurus ke arah kaca depan sedan tua, bayangan tudung hoodie hitam Skye mulai bergerak naik. “Dimengerti.”
Klik.
Jalur komunikasi terputus. Layar monokrom di perangkat genggam Baskara kembali hitam.
Baskara memasukkan kembali ke dalam saku celananya. Ia berbalik kembali menghadap ke arah mobil, pintu penumpang belakang sedan bergeser terbuka.
Skye melangkah keluar, matanya sembab, menyipit menatap Baskara berdiri di kegelapan sudut meja perkakas. Ia menarik ujung hoodie hitamnya ke bawah, menutupi bagian celana jinsnya yang kotor. Tangan kanannya mencengkeram erat tali ransel di pundak kirinya. Wajahnya kusut, rambutnya mencuat ke segala arah. Ia melangkah menjauhi mobil, menatap Baskara berjalan mendekat.
“Lo ngapain berdiri di situ pagi-pagi?” tanya Skye, suaranya parau.
“Jaga pintu luar.” Baskara berhenti tiga langkah di depan kap mesin sedan.
Skye mendengus, matanya menyapu langit-langit bengkel yang kelabu. “Jaga dari siapa? Jin penunggu bengkel?”
“Dari orang-orang yang mau jantung lo berhenti sebelum jam makan siang.”
Skye memijat pangkal hidungnya. “Gila ya. Pagi-pagi banget lo udah bikin obrolan ringan sehangat pembacaan berita duka cita di televisi.”
“Lo yang nanya posisi gue,” kata Baskara datar.
“Harusnya lo itu jawab Selamat pagi cantik, tidur lo nyenyak? Atau mau teh anget gak? kayak manusia normal yang punya silsilah keluarga, Bas,” Skye melangkah memutari kap mesin, meregangkan otot-otot pinggangnya.
“Tidur lo nggak nyenyak?” Pandangan Baskara mengikuti langkah kaki Skye. “Lo ngigo dua kali.”
Langkah Skye berhenti, ia berbalik menghadap Baskara, matanya melebar. “Lo... lo ngawasin gue tidur sepanjang malam?!”
“Lo tidur di dalam mobil, data itu juga masih ada sama lo. Ya gue perhatiin lah.”
Skye melepaskan tangan kirinya dari tali tas, menunjuk wajah Baskara. “Jawaban lo itu nggak pernah enak. Kayak psikopat yang lolos kualifikasi rumah sakit jiwa.”
Baskara berbalik mengambil jaket taktis hitamnya yang digantung di atas pipa las. Skye terdiam sejenak, matanya menatap kursi plastik kelabu dekat pintu besi, posisinya menghadap langsung ke arah jalanan luar.
“Lo... lo gak tidur di mobil?” Suara Skye melunak.
Baskara menunjuk kursi plastik dengan dagunya. “Gue tidur di sana.”
“Kursi itu bahkan nggak layak buat dipake tidur kucing kurap pasar, Bas,” Skye memalingkan wajahnya ke arah deretan mesin bubut berkarat di sampingnya.
“Cukup buat nahan posisi tubuh,” jawab Baskara pendek.
“Gue masih belum lupa sama apa yang lo omongin semalam,” suara Skye kembali naik. Ia menyandarkan pinggulnya ke kap mesin, melipat kedua tangannya di depan dada.
Baskara merapikan letak kerah jaketnya. “Yang mana?”
“Yang soal pilihan buat ngejual data ini ke pihak luar.” Skye menurunkan tudung hoodie-nya ke belakang. “Gue semalam emang panik, tapi otak gue gak mati total buat ingat kalau lo mendadak berubah dari pahlawan kesiangan jadi broker data gelap dalam hitungan menit.”
“Itu opsi paling logis, Skye.” Baskara bergerak mendekati meja perkakas. “Data yang lo simpan di dalam ransel itu punya nilai tinggi.”
Skye tertawa pendek. “Logis menurut siapa? Menurut sindikat jual beli organ atau menurut standar operasional preman pelabuhan?”
“Menurut orang yang sadar kalo sekarang tiga unit New Hydra lagi nyisir setiap menara BTS di radius dua kilometer dari tempat lo berdiri buat ngambil balik data mereka.” Baskara menatap lurus ke arah mata Skye. “Termasuk melenyapkan setiap saksi yang pernah menyentuh filenya.”
Skye terdiam, jemarinya di balik lipatan lengan hoodie mencengkeram kain kausnya. “Jadi... lo nolongin gue semalam karena lo juga pengen dapet bagian dari hasil penjualan barang ini? Lo mau komisi?”
“Gue udah bawa lo keluar dari kepungan mereka semalam,” kata Baskara. “Harusnya gue dapet bagian karena udah nyelametin nyawa lo.”
Skye menggeleng. “Wow. Keren banget asli. Jadi lo ini bukan pahlawan tanpa tanda jasa yang diutus semesta buat nyelametin nyawa gue, ya? Lo cuma tukang parkir premium buat nyawa orang miskin?”
“Kalo menurut lo kalimat itu sesuai... Iya,” jawab Baskara.
“Gue bener-bener benci sama cara lo yang gak pernah bisa ngerasa tersinggung atau marah waktu dikatain orang.” Skye menggertakkan gigi, memalingkan wajahnya.
“Tersinggung itu bentuk pemborosan energi yang nggak ada gunanya,” sahut Baskara pelan.
Kedua mata Skye menyipit, ia memajukan wajahnya ke arah Baskara. “Terus... kalau gue tetep nggak mau bagi hasil data ini sama lo? Kalau gue milih buat nyimpen semuanya sendiri?”
“Ya, gue kasih tau aja unit New Hydra kalo lo ada disini.” Baskara menatap lurus ke dalam pupil mata Skye. “Apapun yang mereka lakuin ke lo bukan lagi urusan gue.”
Baskara berjalan menuju pintu dorong besi bengkel, menggeser celah bawahnya seukuran telapak tangan, lalu menarik kantong plastik kresek, seseorang menaruhnya beberapa menit lalu. Ia kembali melangkah mendekati mobil, meletakkan kantong plastik di atas kab mesin tanpa suara.
Bau gurih minyak gorengan, bumbu kacang, dan nasi uduk bungkus daun pisang menyeruak keluar dari dalam celah kantong kresek. Skye melirik kantong plastik dari sudut matanya. Perutnya berbunyi keras. Wajahnya memerah, ia memalingkan mukanya ke arah mesin bubut. “Gue gak laper. Gue gak biasa makan makanan yang sumbernya gak jelas jam segini.”
Baskara mengambil satu bungkus nasi uduk terkecil, membukanya perlahan, lalu mulai menyendok isi nasi ke dalam mulutnya menggunakan sendok plastik.
Skye memperhatikan gerakan mengunyah Baskara yang teratur tanpa suara. Ia maju dua langkah, merenggut satu bungkus nasi uduk di dalam kresek, lalu duduk di atas ubin dekat roda depan. Ia menyuapkan sesendok penuh nasi uduk ke dalam mulutnya, mengunyah cepat.
Baskara meihat cara Skye makan dari balik tepian bungkus daun pisangnya.
Skye melirik mata Baskara. Ia berhenti mengunyah sejenak, menelan gumpalan nasi uduk. “Kenapa lo liatin gue kayak gitu? Mau minta bagian lauk gue?!”
“Lo makan terlalu cepat.” Baskara meletakkan bungkus daun pisangnya yang sudah bersih ke dalam plastik kresek. “Pola makan lo bisa bikin kram lambung akut dalam waktu dua puluh menit ke depan.”
“Gue hampir mati kena setrum sama dikejar pistol berperedam semalam!” Skye menyeka sisa sambal di ujung bibirnya dengan lengan hoodie. “Seluruh sel di dalam tubuh gue sekarang lagi teriak minta kalori instan!”
“Makan terlalu cepat juga akan bikin lari lo lambat.”
Skye menghentikan sendok plastiknya. “Kan ada mobil, ngapain harus lari.” Ia kembali menyendok nasi uduk. “Dan juga, bisa gak sih, sekali aja di dalam hidup lo yang kaku ini, ngasih komentar kayak manusia biasa nggak usah pake pelajaran biologi?!”
Baskara memiringkan kepalanya sedikit. “Contohnya?”
“Misalnya... lo nanya, enak gak nasi uduknya, Skye? Atau kurang garem gak sambalnya? Begitu!” Beberapa butir nasi uduk menyembur dari mulutnya.
Baskara melihat ke arah sisa potongan bakwan jagung di dalam bungkus daun pisang Skye, lalu kembali menatap mata Skye. “Bakwannya enak?”
Bola mata Skye berputar. “Sumpah ya. Suara lo barusan pas nanya enak malah kedengaran kayak interogasi kasus pembunuhan berencana bermotif nasi uduk.”
Tangan Baskara bergerak menuju saku jaket, layar perangkat komunikasi genggamnya kembali berkedip, grafik gelombang radio bergetar cepat. Sinyal pencarian digital dari unit pemindai New Hydra mendeteksi adanya aktivitas penggunaan alama peladen sekunder di radius tiga ratus meter dari koordinat gerbang bengkel mereka.
Baskara memasukkan kembali perangkat genggamnya ke dalam saku, matanya beralih ke arah pintu besi bengkel. “Lima menit. lagi kita cabut.”
Skye mendongak, dahinya berkerut. “Kita?”
“Disini udah nggak aman.” Baskara bergerak cepat meraih jaket cadangan di atas kursi plastik lalu memasukkan ke dalam bagasi belakang sedan.
“Gue juga ngerasa gak nggak aman kalau terus-terusan bareng sama orang yang hobi main perintah kayak lo, Bas.” Skye bangkit berdiri, membersihkan remah-remah bakwan yang menempel di celana jinsnya.
Baskara berbalik, mengangguk pelan. “Masuk akal.”
Skye mendengus, bahunya melorot. “Biasanya orang normal bakal ngeluarin kalimat penyangkalan atau sumpah demi tuhan buat bikin targetnya ngerasa tenang.”
“Bikin lo tenang bukan tugas gue. Tugas gue bikin lo aman.”
Skye menarik napas panjang, menunjuk tas ransel di atas jok mobil. “Lo tuh ya... kalau buka jasa agen asuransi jiwa atau brosur investasi masa depan, gue berani jamin perusahaan lo bakal bangkrut total dalam waktu dua hari karena gak ada nasabah yang mau denger pitching lo!”
“Bawel, rapihin barang-barang lo sekarang.” Baskara membuka pintu kemudi sedan.
Skye menarik ritsleting utama tas ranselnya, mengeluarkan laptop hitam, lalu meletakkan di atas kap mesin.
Baskara menghentikan gerakannya di balik pintu kemudi. Ototnya menegang. “Jangan sambungin perangkat itu ke jaringan seluler atau proksi mana pun di sektor ini.”
“Lo kira gue ini anak SMP ingusan yang baru belajar cara phishing akun game online lewat Facebook apa?!” Jemari Skye bergerak cepat menekan tombol daya laptop.
“Lo itu bawel, nggak mikir buat ambil keputusan. Wajar kalo gue antisipasi setiap gerakan lo.” Suara Baskara meninggi, melangkah mendekati kap mesin, mengawasi pergerakan layar komputer Skye.
“Oke, kalimat lo barusan bikin gue percaya kalo lo bukan terminator.” Skye menghadap Baskara, ujung jarinya menekan dadanya.
Baskara melirik jam digital di pergelangan tangannya. “Tiga menit. Itu waktu buat lo.”
“Lo beneran nyebelin banget.” Skye menggigit bibir bawahnya. Layar monitornya mulai menampilkan sistem operasi Linux terenkripsi. “Gue butuh waktu minimal sepuluh menit buat ngejalanin skrip pembongkar enkripsi lokal ini.” Ia menatap lurus baris kode di layar.
“Tiga menit,” ulang Baskara.
“Lima menit! Nego dikit lahh kayak orang Indonesia pada umumnya!”
“Tiga menit.”
Skye menekan keras tombol Spacebar laptopnya, menoleh ke arah wajah datar Baskara. “Lo... lo beneran gak pernah belajar konsep tawar-menawar atau seni kompromi ya di dalam hidup lo yang kaku itu?”
“Nggak, kalo kita lagi diburu,” jawab Baskara pendek. Matanya mengawasi celah udara di atas gerbang besi bengkel.
Tatapan Skye beralih ke baris kode biner yang berjalan lambat di layar tengah laptopnya. Ia menjalankan skrip pembongkar kunci enkripsi lokal. Sistem pelindung di dalam folder JACKPOT_APA_KUBURAN menolak perintah. File itu mengubah struktur penanda heksadesimalnya setiap kali ada upaya pembacaan offline.
Skye membaca eretan folder tanpa nama jelas di balik tumpukan angka-angka biner yang terkunci rapat. Jejak enkripsinya menggunakan protokol berlapis, bukan standar keamanan yang digunakan organisasi mafia atau penyelundup pelabuhan tradisional. Beberapa timestamp di berkas induk menunjukkan angka tahun yang mundur jauh ke belakang, melompati masa kehancuran gudang logistik Muara Angke beberapa bulan lalu, melompati waktu runtuhnya sistem digital pemerintah tahun 2020 sampai ke masa kehancuran organisasi Hydra lama pada tahun 2018.
Baskara menatap perubahan ekspresi wajah Skye. Ia memajukan tubuhnya sedikit di atas kap mesin. “Bisa dibuka?”
Skye melepaskan jemarinya dari papan ketik, menatap kosong layar monitor. “Kalau file ini gampang gue buka, ekspresi muka gue sekarang gak bakal kelihatan semenyedihkan dan sekusut ini!”
“Jadi nggak bisa?” tanya Baskara pelan, tangannya bergerak meraba tepian layar laptop bersiap untuk menutupnya paksa.
“Terima kasih banyak ya atas bantuannya buat menerjemahkan seluruh penderitaan gue ke dalam kalimat verbal yang singkat padat.” Jarinya menahan engsel layar laptop.
“Trus lo dapet apa?” Mata Baskara menyipit, menatap grafik pohon jaringan buntu di layar komputer.
Skye menarik napas pendek, matanya beralih dari baris kode ke arah wajah Baskara. “Cangkang luar. Metadata mati. Struktur proteksi dinamis yang gak masuk akal. Dan satu kesimpulan paling menyebalkan yang bikin bulu kuduk gue meremang dari tadi.”
“Apa?”
Skye menunjuk baris instruksi tua di sudut kiri bawah layar. “Ini... ini jelas bukan jenis data transaksi atau arsip internal New Hydra. Mereka... mereka cuma nyimpen barang ini dari dunia luar.”
Skye menggeser bodi laptopnya, setengah melipat layar monitor. Ia memeluk sudut laptop dengan tangan kanannya, matanya menatap wajah Baskara. “Sekarang giliran gue yang nanya.” Suaranya merendah. “Kenapa orang namanya cuma satu kata kayak lo bisa tahu tentang jalur New Hydra semalam? Kenapa lo bisa muncul tepat waktu di gang belakang kosan gue seolah-olah lo udah punya jadwal rute pelarian gue?”
Baskara tetap berdiri di samping kap mesin mobil, kedua tangannya tergantung santai di sisi celana. “Gue gerak karena kalkulasi sinyal radio yang bocor dari pelabuhan Muara Angke.”
“Bohong,” cetus Skye. “Minimal lo bohongnya pake cerita yang lebih kreatif dikit napa? Biar gue punya ilusi kalau malam ini gue lagi diselamatin sama warga sipil yang baik hati.”
“Kalo gue bohong, mulut lo bakal terus ngoceh sampe dua menit kedepan.”
Skye mendengus keras, tangannya menghantam bodi atas laptop. “Lo sadar gak sih, kalau jenis jawaban pendek lo yang kaku barusan justru bikin jumlah pertanyaan di dalam kepala gue makin banyak?!”
“Iya.”
“Terus? Langkah lo selanjutnya apaan?!”
“Pastiin lo aman.” Baskara kembali melirik jam di pergelangan tangannya.
Skye menatap frustasi wajah Baskara. “Lo... lo pernah dipukul orang gak sih gara-gara punya gaya ngomong yang terlalu datar dan nyebelin kayak begini?”
Baskara melirik memar keunguan di sudut rahang kirinya dari pantulan kaca spion. “Pernah.”
Skye terdiam, mulutnya terbuka sebentar lalu mendengus. “Pantesan ya. Muka lo dari tadi kelihatan kayak orang yang sudah ikhlas lahir batin kalau sewaktu-waktu kepala lo ditembak dari belakang.”














Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!