Bab 01

1 - Piring Tanpa Kubis [KOLonisasi ❤︎]

3 dibaca

A

“Hiiih, ada kolnya!” suara rengekan Muti hadir disertai ekspresi jijik seperti melihat sesuatu yang hina.

Sudut bibir gadis itu perlahan bergetar menahan penolakan. Keningnya turut berkerut melihat nanar isi piring yang dilimpahi kol. Semakin lama melihat kol membuat tubuhnya bergidik sendiri.

Padahal itu hanya potongan-potongan kol, si sayur murah, biasa, dan tidak bersalah. Meski gadis itu sudah memprotes lewat lirikan ke pedagang, tapi tampaknya percuma.

Sebenarnya, itu bukan masalah utama yang membuatnya resah.

Masalahnya, setiap kali kol muncul di piringnya, Muti selalu memperhatikan tangan Bagas. Tangan sahabatnya sudah lebih dulu cekatan mulai memindahkan kol.

Itulah masalah besarnya.

Muti kini tidak tahu, apakah kini ia murni membenci kol. Atau mulai terganggu saat Bagas melakukannya dengan terlalu sempurna. Tanpa diminta. Tanpa ragu. Seolah itu sudah menjadi takdirnya.

“Aku udah bilang kuah aja,” tambah gadis itu lirih sembari memonyongkan bibirnya.

Bagas menjawab dengan anggukan lembut. Pria itu fokus melanjutkan kegiatannya. Satu persatu, dengan gerakan yang sudah hafal di luar kepala. Seperti ritual sakral yang telah ia lakukan ribuan kali. Seperti doa yang dipanjatkan dalam diam.

Ini kali ke-1.247 aku melakukannya, batin Bagas dan tangannya masih sibuk bergerak. Sejak pertama melihat kamu hampir menangis karena ada kol, tanganku sudah otomatis memindahkannya ke piringku. 

Muti mengawasi dengan serius. Matanya mengikuti setiap gerakan sendok Bagas memindahkan cobaan makanan itu.

Dia memperhatikan bagaimana ujung jari Bagas menekan piring dengan lembut; bagaimana bibir pria itu sedikit mengerucut saat berkonsentrasi penuh; dan bagaimana alisnya naik turun saat memastikan tak ada kol tersisa.

Kenapa dia serius banget, sih? Ini cuma kol, Bagas. Bukan operasi jantung. Batin Muti dalam heningnya.

Tentu saja, Muti tidak berani bertanya. Sebab jika dia bertanya, Bagas mungkin akan menjawab dengan jujur dan ia belum siap mendengar apapun jawaban itu.

“Sudah bersih,” ucap Bagas setelah selesai memastikan tak ada sepotong kol tersisa. Suaranya lembut, seperti sedang menenangkan anak kecil.

Muti menghela napas lega. Di mata gadis itu, kini piringnya berkilau terbebas dari kol.

“Aaakh! Makasih Bagas! Kamu memang penyelamatku,” ucap gadis sambil memberikan tepuk tangan kecil dan senyap. Bibirnya mengulas senyum syukur ke arah sahabatnya.

Kenapa, ya, setiap kali dia melakukan ini, aku merasakan sesuatu yang lain? Kenapa akhir-akhir ini jantungku berdegup kencang, seperti baru saja diselamatkan dari bahaya?, batin Muti begitu lantang.

Gadis itu tak punya jawabannya.

“Dengan senang hati,” balas Bagas.

Ah, senyum itu, bisik Bagas dalam hati. Senyum yang sama, yang membuatku ingin terus memindahkan kol dari piringmu. Seumur hidupku pun aku rela, Mut.

Bagas menyunggingkan senyum sebelum mulai menggerakkan sendok. “Buat orang yang nggak suka kol, kamu tuh selalu ketiban jatah kol paling banyak tiap kali pesan makanan.”

Muti mengangguk setuju. “Aku percaya itu kutukan!” celetuk gadis penuh semangat. “Apa dulu leluhurku pernah berbuat jahat sama kol, ya? Sampai-sampai aku kena imbasnya gini?”

Bagas tertawa renyah menanggapi celotehan Muti yang sering lepas kendali. Tapi matanya tidak lepas dari Muti. Seperti biasa.

“Hmm bisa jadi, ya,” sahut pria itu. “Atau kamu dulu petani kol yang gagal panen? Atau kamu pernah bikin sakit hati kol di masa lampau, jadiin sajen mungkin?”

“Oh! Oh! Atau mungkin akulah si kol itu. Jadi aku tidak sudi memakan saudaraku sendiri,” sergah Muti penuh semangat.

Bagas hampir tersedak mendengar itu “Jadi, jadi, jadi maksudmu…. kamu sejenis kol? Satu genus Brassica, gitu?”

Muti diam sejenak, matanya membelalak. “Mu-mungkin?”

Bagas menekankan kepalan tangan ke arah hidung dan mulut demi menjaga ekspresi wajahnya.

“Brasicca mutiari?”

“Jangan dijadiin candaan, dong!” protes Muti. Wajahnya mengkerut kesal. Tapi Muti merasa lega.

Candaan sahabatnya membuat Muti lupa sejenak pada pertanyaan lebih besar yang dari tadi ada di kepala.

Kenapa Bagas selalu melakukannya? Kenapa dia tidak pernah berhenti? Dan kenapa aku selalu membiarkannya?

“Maaf, maaf. Tapi, kamu kok serius banget perihal kubis ini?” Bagas kini bersusah payah menelan makanan di mulutnya. “Emang salah apa kol-kol ini sama kamu sih, Mut?”

Air muka Muti berubah jadi sedih. Perlahan ia menundukkan pandangannya ke piring. Mulutnya masih sibuk mengunyah rendang. Keheningan yang membuat Bagas diselimuti rasa bersalah.

Ah, sial, kenapa aku pakai nanya, sih? pikir Bagas. Aku tahu dia sensitif soal ini.

“Entahlah, aku juga bingung,” ucap Muti memecah diam. “Seingatku ya, aku tuh sudah nggak suka sama kol sejak kecil. Dulu, waktu masih piyik, aku bisa ketakutan cuma karena melihat bentukan kol saja. Ya, walau sampai sekarang masih agak merinding tipis kalau lihat segelinding kubis.”

Bagas memasang telinga dan perhatian penuh. Ini pertama kalinya ia mendengar sejarah kol dan Muti. Tentu, ia akan simpan baik-baik dalam ingatannya, seperti menyimpan harta karun.

“Oh, ya? Aku baru tahu.”

“Hmm, iya. Aku emang agak males bahas ini sih, Gas.” Muti yang mendekatkan wajah ke arah piring. “Di kepalaku tuh rasanya… rasanya kaya mereka mengintimidasiku.”

Gadis itu perlahan menyendok nasi yang tersiram kuah gulai. Ia memastikan tidak ada lagi jejak potongan kol di sana sebelum masuk mulut.

“Mengintimidasi?” Bagas mengangkat satu alisnya.

“He-em,” sahut gadis lembut. “Kayak makanan itu bilang, ‘Hei sini, sini, sini pengecut coba cicipin aku kalau berani! Akan kubuat kamu menyesal.’”

Bagas menatap gadis di hadapannya dengan tatapan perhatian yang sangat Muti kenal. Tatapan yang seolah ingin bicara, “Kamu terlalu berharga untuk merasa seperti itu.”

Kenapa kamu selalu melihatku seperti itu, Bagas? Seolah aku adalah sesuatu yang berharga. Padahal aku cuma gadis yang nggak suka kol. Batin Muti setiap kali melihat tatapan Bagas yang itu.

Muti benci tatapan itu, bukan karena tidak suka, tapi karena dia mulai goyah.

“Aku tuh sudah pernah mencobanya dan lidahku tidak menyukainya. Rasanya aneh banget,” tambah Muti seraya menjulurkan lidah.

“Seenggak suka itu ya kamu,” ujar Bagas penuh iba.

Bagas sudah lama tahu sahabatnya itu tidak suka dengan kol. Satu sekolah, mungkin Mutiari Zuri jadi satu-satunya manusia yang tidak suka kubis. Tapi dia menyukainya, karena itu jadi alasan untuk bisa terus dekat dengan Muti.

“Iya!” celetuk Muti, matanya kembali hidup. “Kamu kenapa bisa santai makan kol? Maksudku …anu, kamu suka kol?”

“Iya, aku suka kol.”

“Good for you.” Muti menatap tak percaya. “Apa, apa yang kamu sukai dari kol? Apa enaknya?”

“Rasanya enak, kok. Ada manis-manisnya,” jawab Bagas yang sibuk mengisi sendoknya.

“Manis?” ulang Muti, matanya membelalak. “Manis dari mana?!”

Bagas menyodorkan sendok makannya yang sudah berisi masakan kol. “Nih cobain aja sendiri, manis kok.”

Tubuh Muti otomatis mundur menjauh. Dia menggigit mulutnya dan menggelengkan cepat.

“Oh, okay,” ujar Bagas yang lantas menyuapkan makanan ke mulut dengan lahap.

Tapi dalam hati, Bagas tersenyum. Bukan karena kolnya yang enak. Tetapi, karena melihat reaksi Muti yang selalu membuatnya ingin melindungi gadis itu.

“Kamu sesuka itu sama kubis?” tanya Muti ragu.

“Bukan makanan yang favorit banget, sih.” Bagas mengangkat bahu. “Tapi bisalah aku makan dan nikmati.”

“Oh,” celetuk Muti lirih. Wajahnya tampak sangsi.

Muti ingat jelas. Setelah steak, Bagas sangat suka sup ayam dengan potongan kubis yang melimpah. Baru setelah itu kopi dan jeruk.

Tapi Muti tak mau mengorek lebih. Gadis itu takut kalau Bagas punya alasan lain selain rasa kol yang mungkin bisa membuat Muti bakal mati di tempat.

“Kalau begitu,” pria itu berkata perlahan, dengan nada bariton menyela lamunan dan membuat Muti bergidik. “Kamu tenang saja kalau ketemu sama kubis. Aku akan pindahkan kol dari piringmu, seumur hidup.”

Waktu di dunia Muti seolah terhenti.

Gadis itu menatap sahabat di depannya dengan serius. Seandainya rambut panjang Muti tidak digerai, Bagas bisa melihat telinga gadis itu memerah perlahan karena malu.

Seumur hidup?! Pekik Muti dalam hati. Dia sadar nggak sih apa yang dia omongin? Seumur hidup katanya. Yang ada bakalan menyesal.

Muti terbatuk untuk menjalankan kembali waktu di kepalanya. Tenggorokannya tiba-tiba terasa begitu gatal. Terlalu banyak hal yang membuatnya tidak siap di meja warung ini.

Pria itu terus memandang Muti, menikmati setiap perubahan ekspresinya. Ia menahan sekuat tenaga untuk tidak tersenyum.

“Bagas! Jangan sembarangan ngomong, deh!” tegur Muti, berpura-pura sibuk dengan daging rendang di piringnya. Hanya demi menutupi hatinya yang tersipu karena omongan pria itu.

“Aku serius!” Bagas mencondongkan tubuh, seolah ingin membuat Muti semakin yakin.

“Aku tahu kamu serius,” balas Muti cepat. “Tapi …ah sudahlah, ayo fokus makan. Kita harus segera menjemput ibu-ibu kita setelah ini.”

Tolonglah, Bagas, rengek Muti dalam hati. Jangan buat aku berpikir lebih atau salah paham. Karena aku mungkin akan percaya. Kalau aku percaya, aku bisa jatuh hati. Dan kalau itu terjadi, aku akan kehilangan kamu.

Melihat ekspresi Muti yang terang-terangan menghindar. Bagas tidak berani mengganggunya lagi.

Sementara Muti, sibuk dengan isi kepalanya sendiri. Membayangkan bagaimana manisnya situasi kalau Bagas terus memindahkan kol dari piringnya seumur hidup. Seperti celotehan sahabatnya tadi.

“Hari ini agendamu apa lagi selain menjemput ibumu?” Bagas berusaha mencari topik obrolan lain. Ia benci jika saling diam dan menghindar seperti tadi.

“Nggak ada sih,” sahut gadis itu. “Emangnya bisa ya punya agenda lagi kalau sudah dapat sabda menjemput mereka?”

Bagas menggeleng cepat. Senyumnya mengembang, saat mulai merasakan mood temannya mulai kembali membaik.

“Kenapa ya, ibu-ibu itu doyan banget reuni?” gerutu Muti di sela kunyahannya. “Padahal minggu lalu udah ketemuan. Minggu ini ada lagi.”

“Minggu depannya lagi pasti ketemuan lagi juga,” tambah Bagas.

“Kan!” seru Muti. “Dikira kita ini selow banget hidupnya nggak ada kerjaan, apa?”

“Kamu sibuk? Biar aku aja yang jemput,” tawar Bagas.

“Nggak, nggak,” ucap Muti sembari melambaikan tangan ke depan Bagas. “Aku malah nggak enak ngerepotin kamu.”

“Ngerepotin dari mana?”

“Ya kan kamu harus jemput ibuku, terus masih antar juga ke rumahku,” terang Muti. “Ah, apa kamu cuma anter aja ke lokasi itu. Biar aku sama ibu balik sendiri.”

Bagas tersenyum. Senyum yang menurut Muti sangat manis. Gadis itu menyempatkan sejenak waktunya untuk mengagumi wajah Bagas.

“Kan kalau dari lokasi pertemuan, rumah kita searah,” terang Bagas masih dengan nada lembut.

“Iya searah, tapi rumahku setelah rumahmu.”

“Lalu? Masalahnya di mana?”

Mulut Muti sesaat terasa kelu. “Tapi kamu juga sibuk, akan makan waktumu kalau pakai nganterin kami,” jawab Muti hati-hati.

“Nggak sih, habis ini aku free kok, Mut,” sahut Bagas. “Lagi pula, apa kata ibuku kalau nggak sekalian ngantar temannya?”

Muti menghela lagi napas karena pasrah. Dia tidak berani membantah perkataan Bagas. Apa yang temannya ucapkan itu benar adanya. Ibunya juga akan ngomel panjang kalau dipisahkan begitu saja dan pulang sendiri-sendiri.

Sedetik kemudian ibu jari Bagas sudah berada di sudut bibir Muti. Jemari pria itu mengusap lembut sudut pertama lalu bergerak ke titik lain.

Muti sedikit kaget dengan gerakan Bagas. Detak jantungnya terasa makin kencang. Tetapi tubuhnya tidak menolak atau menghindar. Matanya malah sibuk mengamati pria di depannya yang punya tatapan lembut itu.

Kali ini, di warung padang ini, tatapan itu hanya milik Muti saja.

“Belepotan makannya,” komentar Bagas begitu sadar tangannya sudah mulai tidak menuruti otak.

“Tapi, kan aku masih belum selesai makannya,” protes Muti lirih. Gadis itu menatap piring Bagas dengan penuh keheranan. “Cepet banget sih makanmu? Udah tinggal setengah aja!”

Bagas hanya bisa tersenyum. “Gimana, ya, habis gulai kolnya enak.”

“Ah, kol,” gumam Muti setengah tidak terima.

“Pelan-pelan aja makannya, kita nggak keburu-buru. Kayaknya jalanan masih macet juga,” ujar Bagas yang menoleh melihat keramaian jalan sore itu.

Di bawah meja, kaki Bagas tanpa sengaja menyentuh kaki Muti. Gadis yang masih sibuk dengan isi kepalanya itu tidak menarik kembali kakinya. Bagas pun ikut tidak menggeser kaki, ia menikmati setiap sentuhan, sekecil apa pun itu.

Kenapa dia tidak menarik kakinya? Pikir Bagas. Apa ini berarti sesuatu? Atau aku yang terlalu berharap?

Belasan tahun berteman. Belasan tahun memindahkan kol. Belasan tahun menahan perasaan.

Tapi Bagas masih tidak bisa mengatakannya. Karena takut Muti akan pergi. Takut akan kehilangan satu-satunya orang yang membuatnya ingin terus memindahkan kol. Bukan karena dia suka kol, tapi karena Muti.

“Bagas,” panggil Muti, memecah lamunan pria itu.

“Hmm?” sahut Bagas, lembut penuh perhatian pada gadis hadapannya.

“Siapa Yola?”

Bagas membeku.

Muti menatapnya dengan tajam. “Itu ponselmu dari tadi ada notifikasi dari Yola. Sekarang bahkan dia nelpon.”

Bagas terdiam sejenak. Lalu tersenyum. Senyum yang terlalu cepat dan terlalu lebar.

“Temen kerja,” sahut Bagas seraya mengambil ponselnya mendekat.

“Oh.” Muti mengangguk pelan. Tapi matanya masih penuh tanya dan hatinya ciut.

“Wait, bentar,” sela Bagas. “Ya, Yola? … Oh, iya? … Baik, besok aku cek … Iya, makasih ya.”

Pria itu menatap Muti selama percakapan singkat itu. Tapi nada suara Bagas yang lembut dan penuh perhatian membuat muti bertanya-tanya.

Siapa Yola? Batin Muti. Kenapa Bagas tersenyum seperti itu? Apa sudah ini pertanda aku harus mundur lagi? Apa dia..?

Sudah sampai ujung

Bab terakhir

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Komentarnya bisa dibaca siapa saja, tapi menulis butuh akun.

Masuk