Siapa sih YOLA ini?! Arrgh! Kepalaku jadi nggak bisa berhenti mikirin si Yola-Yola ini, arrgh! Gerutu Muti dalam hati.
“Mut?” panggil Bagas lembut. “Kamu baik-baik saja?”
Keriuhan di kepala Muti seketika berhenti. Gadis itu perlahan menoleh dan memaksakan senyumnya.
“Ya, kenapa?”
Gas, kenapa tadi kamu tersenyum manis banget pas jawab telepon dari Yola? tanya Muti dalam hati saat melihat sosok sahabatnya.
Gadis itu menelan ludah. Ada rasa yang mengganjal dan sesak di dada. Rasa cemas, takut, dan sesuatu yang lain. Sesuatu yang tidak berani ia beri nama.
Bagas menoleh ke samping. Melihat Muti yang dari tadi hening sepanjang perjalanan ini membuatnya tidak tenang.
“Tumben kamu diem banget,” komentar Bagas. “Biasanya kamu rame banget, lho.”
Karena biasanya tidak ada Yola, sahut Muti dalam hatinya saja.
“Lagi capek saja,” jawab Muti diikuti helaan napas.
Perjalanan mobil mereka masih merangkak di kemacetan jalan. Jawaban singkat dan lirih Muti langsung terpendam suara radio. Hening kembali mengudara.
Bagas mengangguk pelan. Walau batinnya masih tidak tenang dan ingin terus mencecar. Tetapi, sahabatnya ini tidak suka dipaksa.
“Makanannya tadi cukup?” pria itu masih berusaha mencari obrolan lain.
“Iya, makasih.” Muti kembali menatap jendela. “Kamu udah pindahin kolnya.”
Tapi kenapa kamu nggak cerita soal Yola? tambah Muti dalam hatinya.
“Sudah tugas aku,” sahut Bagas disusul senyum tipis di ujung bibir.
Tugas? tanya Muti, masih dalam hati. Sejak kapan jadi tugasmu? Apa aku ini beban?
Tapi semua itu tak berani Muti utarakan, ia memilih tetap diam. Otaknya berusaha menenangkan diri yang kalut dengan pertanyaan tentang Yola.
Mobil berhenti di depan lokasi pertemuan. Sudah terlihat kedua wanita berdiri berdekatan, Ibu Muti, Ratih, dan Ibu Bagas, Eva. Dua wanita itu menyambut kedatangan mobil Bagas dengan senyum lebar dan lambaian tangan penuh semangat.
Muti turun lebih dulu. Dia menarik napas dalam-dalam dan berusaha menengadahkan kepala. Usaha itu diperhatikan baik oleh Bagas, yang hatinya jadi tidak tenang. Tak biasanya Muti begitu.
Fokus, Muti! Jangan sampai mereka notice! Seru Muti dalam hatinya.
Gadis itu berusaha keras menepis pertanyaan tentang Yola, tentang bagas. Dua hal itu bersarang di kepalanya dan tak bisa ia hindari, seperti kol.
“MUTI!” “BAGAS!” seru Ratih dan Eva bersamaan.
Ratih sudah duluan menghampiri. “Duh, kalian berdua bareng lagi? Hihihi, dasar anak muda…”
“Mereka, kan, selalu barengan Rat. Dari SMP udah gitu,” timpal Eva. “Sejak nganter Bagas pulang, lalu tidak terpisahkan.”
Muti memaksakan diri tersenyum. “Cuma kebetulan aja…”
“Hmm, kebetulan apa?” potong Ratih. “Kebetulan selama belasan tahun?”
Muti tak bisa menjawab candaan ibunya. Tatapannya terasa kosong saat menatap Bagas yang mendekatinya.
Kenapa hari ini aku merasa kehilangan sesuatu, Gas? Tanya Muti dalam hati. Aku belum kehilangan kamu, tapi aku sudah takut.
Ratih sudah sibuk kembali dengan tentengannya. Dengan cepat ia menyerahkan kardus kecil yang tak tertutup kepada Muti.
Tangan Muti sudah otomatis terulur, matanya bersirobok dengan isi kardus di tangan ibunya.
“Huaaaaaaa!” seru Muti sembari mengibaskan tangan dan seluruh badannya berbalik cepat.
Bagas yang berada di samping Muti sudah sigap memeluk dan melindungi gadis itu. “Kol?” tanya pria itu setelah melihat isi kardus di tangan Ibu Ratih.
“MAMA!” seru Muti memprotes barang hina itu. “Kenapa ngasih kol ke aku, sih?!”
“Ya ini maksudnya masukin ke mobil,” sahut Ratih menahan tawa karena ia sungguh ingin menggoda anaknya.
“Kenapa harus bawa-bawa kol?!” ucap Muti seraya melotot ke arah kardus.
Ratih memperhatikan Bagas yang tampak menikmati memeluk Muti. Ia melemparkan senyum penuh makna. “Ini buat Bagas.”
“Tadi, mama kamu dapat doorprize kubis,” tambah Eva.
Mulut Muti terbuka begitu saja. “Kenapa? Kenapa kol? Kenapa ngga Mama tolak aja?” protes Muti.
“Oh, ada sayur lain juga tuh,” sahut Ratih sembari menggerakkan kepala ke arah Eva. “Lagian ini buat Bagas, kok. Bagas kan suka kol. Sayang kalo dibuang.”
Muti mencoba mendekatkan kepalanya ke arah kardus. “Ouch, baunya kol banget!” gerutu gadis itu sembari menoleh ke arah lain.
Arah dada Bagas, di mana ia bisa membaui harum parfum yang membuatnya tenang. Biasanya. Hari ini penciuman Muti saja yang tenang, jantungnya tidak.
Dengan sangat lambat Muti menengadah, matanya mengerjap kepada Bagas. Pria itu benar-benar sudah lebih tinggi darinya, bahkan badannya sangat tegap.
Sedari tadi Bagas tersenyum melihat polah Muti. Setiap detik ia nikmati kedekatan mereka.
“Ehem,” dehem Ratih membuyarkan adegan romantis itu. “Berat,” ucapnya lirih.
“Oh, biar Bagas aja yang bawa dan atur di bagasi,” jawab Bagas yang lantas melepas pelukannya. Tangannya sudah berganti membawa kardus itu ke arah bagasi.
Tinggallah Muti sendiri, kecewa pelukan itu berakhir. Tapi detak jantungnya masih bertalu seperti sound horeg.
Apa yang aku pikirkan? Aduh kenapa aku?!! Protes gadis itu dalam hatinya. Tidak henti ia mengutuk diri kenapa menikmati pelukan tadi. Tapi pelukan Bagas terasa nyaman banget.
Gadis itu menggelengkan kepala dengan keras. Seolah itu bisa mengusir isi kepalanya yang liar. Mata Muti mencari hal yang bisa ia lakukan dari pada diam. Seperti, membantu mengangkat barang lain ke bagasi.
“Tunggu, ya,” tegur Bagas saat mengetahui Muti mendekat.
“Kenapa?” Muti berdiri kebingungan di samping Bagas.
“Aku atur dulu biar rapi,” terang pria itu.
“Kita tinggal bentar ya,” pamit Eva meninggalkan dua orang itu.
“Itu apa?” Tangan Muti menunjuk tas hitam yang tidak ia kenal.
“Ini thermal bag,” jawab Bagas yang tangannya masih sibuk mengatur barang di dalam tas tersebut.
“Buat apa?”
“Buat kol.”
“Ha?”
“Kamu nggak suka bau kol, kan?” ucap Bagas yang dijawab anggukan Muti. “Ini buat jaga-jaga aja, siapa tahu setelah dibungkus kresek dan masuk sini, baunya jadi nggak ke dalam mobil.”
Sound horeg jantung Muti kembali berdendang. Gadis itu berdiri kaku menatap sahabatnya. Ia bahkan lupa bagaimana cara bergerak. Matanya sibuk mengamati Bagas.
“Ka-Kamu … nggak … nggak perlu… repot… repot begitu,” kata Muti terbata. Ia sudah berusaha maksimal mengucapkan satu kalimat, tapi bibirnya susah digerakkan.
Bagas menyadari jeda yang tak biasa itu. Perlahan dirinya menoleh ke arah sahabatnya. Muti, dengan mata berbinarnya bak mutiara tengah menatap dirinya. Seulas senyum, khusus Bagas lemparkan sebagai wujud kekagumannya pada Muti.
Senyum yang membuat Muti merasa meriang sebadan malam itu. Bahkan menelan ludahnya saja terasa sulit.
Kenapa Bagas? Jangan senyum gitu! Protes Muti dalam hati.
“Sini.” Bagas mengulurkan tangannya.
“Apa? Siapa yang harus ke situ?” tanya Muti lirih.
“Barang bawaan ibu dan tante,” lanjut Bagas.
“Oh,” sahut Muti seraya menyerahkan tas di tangan dan barang lain yang diletakkan di dekat mobil. Ada rasa kecewa lirih menelusup di hati Muti.
Bukan kamu yang diminta, Mut! Tapi barang, rapal Muti di kepalanya sepanjang memindahkan barang-barang.
“Kapan ya mereka jadian?” tanya Ratih yang matanya tak lepas dari anaknya.
“Tanya saja sendiri,” sahut Eva. “Berani?”
“Nggak, aku takut.”
“Kan bukan kamu, kenapa takut?”
“Aku takut Muti tersinggung.”
“Kenapa? Padahal mereka terlihat saling perhatian. Dan jelas-jelas Bagas itu suka sama Muti.”
“Muti juga suka Bagas,” sahut Ratih lembut.
“Oh, ya?” Eva menoleh seketika. Rasanya tak percaya mendengar itu.
“Muti kalau sama Bagas itu sikapnya beda banget. Beda banget kalau sama cowok lain,” terang Ratih. “Sayangnya, dia terlalu hati-hati sama Bagas.”
“Ah, sama aja kalau gitu. Bagas sama hati-hatinya kalau udah berkaitan sama Muti.”
Dua ibu itu hanya bisa menghela napas bersamaan. Mereka ingin menyatukan, tapi sungguh tak ingin ikut campur dalam prosesnya. Walau hati mereka gemas melihat kedekatan anaknya.
“Mut, bentar,” ujar Bagas menarik lembut tubuh temannya. “Ini apa ini… cardigan-mu melorot gini.” Selain cekatan memindahkan kol, tangan Bagas juga cekatan merawat Muti.
Dengan hati-hati ia menarik bagian cardigan yang turun. Bagas membenarkan posisi agar bagian tubuh Muti tidak sembarangan terekspose lagi. Seperti saat dia sibuk membantunya merapikan barang di bagasi mobil.
“Kenapa?” Gadis itu memberanikan diri bertanya.
“Aku cuma nggak suka badanmu sembarangan terekspos begini,” sahut Bagas lirih.
Kenapa kamu perhatian sama aku? Apa biasanya begini tapi aku nggak sadar? Kenapa sekarang aku jadi susah bernapas dan deg-degan tiap Bagas mendekat? Muti terus bertanya-tanya dalam kepalanya sepanjang perlakuan temannya itu.
“KALIAN KAPAN JADIAN?” tanya Ratih dan Eva bersamaan. Kedua wanita itu memandang anak-anaknya keheranan sambil memiringkan kepala. Mulut mereka tak bisa ditahan meski tadi merasa takut membuat anak-anaknya tersinggung.
Rasanya waktu melambat, Muti merasakan lama sekali prosesnya menoleh ke arah sang ibu. Wajahnya kaku, tapi memerah dengan pasti.
Bagas tadinya sama kaget mengetahui ibunya sudah ada di dekat mereka. Tapi kini tatapannya tertuju pada Muti. Kalimatnya membuat kedua tangan Bagas tak bisa bergerak dan menggantung sembari memegang cardigan Muti.
“Ini siapa, Rat?” tanya salah satu teman reuni Ratih dan Eva yang datang mendekati mobil.
“Yang cewek, anakku, Muti,” jawab Ratih.
“Yang cowok, anakku, Bagas,” tambah Eva penuh senyum.
“Oh. Oh? Pacaran?” tanya teman reuni itu.
Muti menggeleng cepat. “Nggak,” jawab Muti lembut.
“Ya, kan, mereka terlihat cocok jadi pacar, kan?” ucap Eva.
“Semua yang lihat mereka pasti nyangka mereka pacaran,” sambung Ratih.
“Iya sih, kukira mereka pacaran, sedekat itu,” komentar teman reuni itu membuat Muti membeku. “Oke, aku duluan ya!” ucap sosok itu seraya berlalu.
“Jadi, kapan kalian jadian?” Ratih kembali ke topik utamanya sembari menatap Muti.
“Ma!” seru gadis itu menegur ibunya. “Kami cuma teman!”
“Ckckck,” decak Ratih sambil menggelengkan kepala. “Kenapa nggak sekalian sama Bagas aja? Toh kalian itu cocok. Nggak pernah bermasalah, nggak saling membenci, dan saling perhatian.”
Telinga Muti terasa memanas mendengar ucapan sang ibu. Ia tak percaya ibunya blak-blakan seperti itu. Gadis itu cuma menggeleng cepat. Menolak semua kata ibunya.
“Ya ampun Muti.” Ratih mulai gemas sendiri. “Mama tahu ka…”
“Ma!” sergah Muti dengan nada tinggi yang mengagetkan semua orang. “Bagas itu sahabatku! Jangan aneh-aneh, deh.”
“Mama nggak aneh-aneh,” balas Ratih.
“Nggak mungkinlah aku suka sama Bagas,” ucap Muti yang langsung menyesal setelah berucap. “Dia itu sahabat satu-satunya. Kalau tiba-tiba kami jadian, nanti hubungan yang sudah kami bina sekian tahun bakalan hancur. Terus nanti, kami nggak bisa berteman lagi. Aku nggak mau itu. Aku nggak mau kehilangan sahabatku.”
Bukan cuma nada tinggi Muti yang membuat kaget. Tapi, penjelasan panjang yang baru saja ia lontarkan. Ratih langsung melirik ke arah Bagas, anak itu tampak sama terkejutnya dengan dirinya.
Wajah Bagas tampak lebih kaku dibanding saat ditanya jadian. Matanya terus tertuju ke Muti. Ada rasa sedih yang menggantung di mata pria itu.
Setiap kata “sahabat” yang Muti lontarkan terasa menusuk perasaan pria itu. Perih membelit jiwa Bagas dan membuatnya ingin mendapatkan penjelasan lebih.
“Muti,” ucap Bagas pelan, “apa kamu benar-benar nggak…?”
“Nggak,” potong Muti cepat. “Nggak, Gas. Kita nggak bisa.” Gadis itu menoleh dengan lirikan tajam.
Tapi sedetik kemudian, Muti merasa menyesal telah bicara tajam ke Bagas. Muti bisa melihat tatapan Bagas terlihat sedih.
“Aku ngerti,” ucap Bagas disertai beban kecewa dan sedih yang begitu terasa lewat nada bicaranya. Pria itu berusaha tegar sembari mengangguk pelan.
Jangan mengerti, please! Teriak gadis itu dalam hatinya. Muti menggigit gigi-giginya begitu keras demi mengunci mulut dan ekspresi wajahnya.
Gadis itu tak punya kesanggupan menatap lebih lama lagi. Ia memutuskan melarikan diri dan masuk ke mobil.
Semua orang bisa mendengar bantingan pintu bagian penumpang yang keras. Muti tidak lagi duduk di depan seperti biasanya. Ia memilih duduk di belakang, karena tidak sanggup menghadapi Bagas.
Aku ini kenapa? Kenapa aku jadi emosional gini? Batin Muti yang sibuk menutup wajahnya. Mulutku ini kenapa jadi jahat banget sama Bagas. Dia tampak sedih. Aku nggak suka lihat dia sedih.
Sungguh, Muti ingin berteriak. Tapi situasinya tidak memungkinkan. Ia hanya bisa menggigiti jempol kirinya karena panik. Rasa bersalah karena sudah membuat sahabatnya sedih terus menghantui Muti.
“Maaf ya, Nak,” ujar Ratih sembari menepuk bahu Bagas lembut. “Gara-gara Tante kamu jadi dijutekin Muti. Nanti Tante akan minta dia…”
“Nggak papa Tante,” potong Bagas lembut. “Biarkan dulu. Kalau dipaksa, Muti bakalan canggung. Bagas nggak mau itu.”
“Awww,” celetuk Eva. Matanya sedikit berkaca-kaca melihat Bagas. “Anakku udah dewasa rupanya,” puji Eva. “Tapi jangan biarin lama-lama, ya.”
“Apanya, Bu?”
“Muti-nya. Jangan terlalu hati-hati. Kamu harus bisa ambil resiko juga,” ujar Eva mencoba memberi sedikit wejangan.
“Bagas takut,” ucap pria itu dengan kepala tertunduk.
Ratih mengangguk lembut. “Kami paham. Pelan-pelan, kita tunggu dia reda dulu,” sahut wanita itu disela senyum keibuannya. “Tapi habis itu jangan sia-siakan kesempatan, ya.”
“Yuk pulang!” ajak Eva menyudari rundingan di belakang mobil itu.
Sepanjang perjalanan, Muti terus menatap keluar. Tak selembar kata pun keluar dari bibir gadis itu. Matanya terkunci keluar, karena ia merasa canggung. Bahkan untuk bernapas saja, Muti merasa salah.
Apa benar aku nganggep Bagas sahabat? Gadis itu masih terus mengisi kepalanya dengan berbagai pertanyaan. Ia tak menyadari sudah berapa kali menghela napas yang terdengar begitu riuh di mobil.














Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!