3 - Bayangan Masa SMA [KOLonisasi ❤︎]

1 dibaca

A

“Kamu yang namanya Mutiari?” sebuah suara tidak ramah tiba-tiba mencegat langkah Muti.

Mata Muti mendapati seorang gadis yang cukup familiar. Fira, cewek 1 sekolah yang belakangan terlihat aktif berinteraksi dengan Bagas. Ini bukan kali pertama Muti merasa tatapan Fira setidak suka itu padanya.

Namun, baru kali ini gadis itu mengkonfrontasi dirinya, tepat setelah dia keluar dari kamar mandi. Mata Fira menatap kesal ke arah Muti, tatapan yang terasa mengintimidasi. Tangan lentik Fira sedari tadi masih menunjuk hidung Muti.

“Iya, bisa lihat di badge nama,” jawab Muti santai sambil menunjuk label nama di baju.

“Kamu siapanya Bagas?” desak Fira lebih cepat, seolah tak peduli jawaban Muti.

“Bagas?”

“Bagas Pramudya,” terang Fira. “Nggak usah pura-pura bego, deh. Kita tahu siapa Bagas yang sedang dibicarakan,” cibir gadis cantik dan jadi salah satu sosok populer seantero SMA.

“Temennya.”

“Kalian, kan, nggak sekelas,” balas Fira.

“So?”

“Ngapain deket-deket Bagas mulu?” desak Fira sembari melangkah maju tanpa takut.

“Hei! Kesannya aku sengaja deketin orang aja,” protes Muti. Ia bukan tipe penakut berkelahi, tapi Muti tahu kalau Fira bukan lawan yang seimbang.

“Iya emang!” Fira membentak. “Kamu ngapain selalu ada di dekat Bagas mulu, sih?!”

“Lah, dia sahabatku. Kita tuh udah temenan lama juga. Jadi wajar kalo kita dekat.”

“Sahabat?” Fira mendekus. Wajah cantik itu terlihat menghina jawaban Muti. “Kamu suka, kan, sama Bagas?”

“Enggak, kita sahabatan.” Muti tak kalah cepat membalas. “Apaan sih?!” Gadis itu mulai merasa tidak nyaman dengan Fira.

“Eh, kamu jangan pura-pura bego, ya!” ucap Fira sembari mendorong lembut pundak Muti. “Kamu tuh terlalu nempelin Bagas. Kalo kamu emang sahabatnya, harusnya tahu diri dikit dong!”

“Masalahnya apa sih? Kenapa kamu tiba-tiba nyolot gini?!” protes Muti. “Kamu mau aku aduin ke Bagas? Berani-beraninya ngelabrak gini.”

Fira membeku, karena gadis itu benar. Dirinya tidak bisa gegabah, ia harus jaga image. Tapi, sesaat emosinya sudah memuncak dan ingin menghajar karena Mutiari ternyata bisa melawan.

Untuk Fira tersadar kalau kali ini dirinya harus tampil lebih elegan dan dewasa. Image baru yang ingin ia bangun. Juga, karena dengar-dengar Bagas tidak suka cewek emosian.

Muti dapat mendengar suara tarikan dan hembusan napas Fira. Sikap tenang itu membuat Muti sedikit ketakutan dalam hati. Bisa saja gadis di depannya ini tiba-tiba mengamuk. Seingat Muti, Fira itu sering melabrak dan main fisik.

“Kamu nggak sadar kalau selama ini jadi penghalang cewek-cewek mendekati Bagas?” ucap Fira dengan nada sangat rendah seolah sedang menekan emosinya. “Dan salah satunya adalah a-ku!” Nada bicara Fira langsung naik.

“Hah?” celetuk Muti. “Kamu salah paham, deh. Aku nggak pernah menghalangi kalau ada yang deketin Bagas. Bebas aja kok kalau mau deket. Banyak juga yang deketin, kan?”

“Tapi kamunya nempel mulu, bikin semua orang salah paham!” balas Fira masih dengan bersungut-sungut. Gadis itu yakin nada bicaranya sudah lebih kalem daripada labrakan biasanya.

“Salah paham gimana, sih?” Otak Muti benar-benar terasa diperas untuk memahami omongan Fira.

“Kamu tuh nggak sadar diri banget,” sindir Fira tajam. “Inget nggak, setiap kali aku lagi asyik deket Bagas, kamu selalu manggil-manggil dia. Selalu minta ditemenin, lah, atau nanya ini itu lah. Dan itu ganggu momen. Kamu selalu…”

“Bentar,” sergah Muti. “Bagas PDKT sama kamu atau kamu yang PDKT sama Bagas?”

“Persetan siapa yang lagi PDKT!” balas Fira. “Yang jelas eksistensimu itu ganggu banget. Denger ya,” gadis itu semakin maju mendekat, “karena aku tahu rumornya kalian temenan, makanya aku mau memperjelas posisi.”

“Posisi?” Muti hanya bisa membeo karena ia tidak siap didesak manusia yang terlihat berbahaya ini.

“Gini, ya, kalau kamu itu beneran temennya Bagas… jujur aku nggak mau bikin masalah sama kamu, Mutiari. Aku nggak mau hubungan kami nanti bikin kalian bermasalah. Tapi plis tahu diri.”

“Hah? Hubungan kalian?”

“Ya iya, apa lagi?” sergah Fira cepat. “Aku dan Bagas.”

Muti memutar ulang di kepala setiap momen bersama Bagas di mana ada Fira. Pantas saja gadis itu selalu melemparkan lirikan kesal. Bahkan sebelum Muti menyapa pun, Fira tampak tidak ramah.

“Kalau kamu tuh sahabat sejati,” tambah Fira dengan rasa bangga karena melihat Muti yang sedikit ciut nyalinya. “Kamu harusnya tahu cara bersikap. Kamu harus kasih dia ruang. Jangan egois terus.”

Kata-kata Fira benar-benar menusuk hati Muti. Seolah selama ini ia tidak becus sebagai teman. Muti pikir ia sudah bersikap sangat adil, tapi nyatanya dipandang egois oleh orang lain.

“Egois?” ucap Muti yang memaksakan diri tersenyum. Ujung bibirnya bergetar.

“Iya, egois.” Fira memvalidasi pertanyaan Muti. “Kamu, kan, seharusnya mendukung Bagas. Minimal tahu kapan harus mundur nggak nempel-nempel dan bikin cewek lain salah paham. Kita tuh mikir kalo kamu sama Bagas ada hubungan spesial.”

Sekali lagi, kalimat Fira membungkam bahkan batin Muti. Untuk kali pertama ia tak bisa berpikir selain menyalahkan diri sendiri.

“O-Ok,” jawab Muti terbata usai diam yang cukup lama. “A-Aku pasti akan mendukung hubungan Bagas. A-aku janji akan mundur me-menjauh kalau ada yang de-deketin dia. Aku janji.”

Fira tersenyum puas. “Aku pegang, ya kata-katamu itu!” Kalimat itu terasa penuh tekanan. “Makasih, ya, kamu sahabat yang baik.”

Tangan Fira memberikan tanda perpisahan terakhir dengan menepuk halus lengan Muti. Lalu pergi meninggalkan gadis itu sendirian. Hatinya puas sudah bisa menyingkirkan satu penghalang tanpa perlu marah-marah brutal seperti biasanya.

Muti berdiri di sana, merasakan untuk pertama kali senyuman yang ia lempar barusan terasa begitu pahit di hati.

Sebuah pesan dari Bagas masuk ke ponselnya.

[ Mut, ntar jadi nyobain seblak keju kan? ]

Gadis itu menatap layar ponsel dengan hati yang terasa berat. Ia tidak tahu kalau selama ini sikapnya menghalangi jodoh Bagas.

Bisa-bisanya aku percaya diri bilang kami sahabatan kalau nggak tahu hal kaya gini. Kamu jahat Mut, batin Muti yang kini sibuk menulis pesan.

[ Nggak jadi, aku ada les. ]

[ Sejak kapan kamu ada les? ]

[ Sekarang. Sorry. ]

Gadis itu kembali melangkah menuju kelas dengan prinsip barunya. Kalau Bagas punya gebetan, aku wajib menjauh. Aku nggak boleh jadi penghalang kebahagiaan Bagas!

Tanpa tahu jika dari tadi Fira berbohong. Bahwa Bagas tidak pernah PDKT dengan siapa pun. Bahwa gadis itu selalu dihindari Bagas. Bukan karena Muti, tapi karena ada Bagas ingin mendukung temannya yang naksir Fira.

.

Sejak hari itu, Bagas merasakan perubahan sikap Muti. Temannya mulai terasa menjauhinya. Gadis itu memang masih menyapanya. Tapi sering mencari alasan untuk menghindari kebersamaan dengannya.

Hatinya tidak tenang diberikan sikap dingin seperti itu oleh Muti. Entah sejak kapan mulainya, tapi Bagas tidak menyukai situasi ini. Setiap hari ia memikirkan cara mendekati Muti, tapi gadis itu bagai belut yang tak mudah didapatkan.

Bagas tidak paham dia salah apa. Tapi yang ia pahami, ada banyak lelaki yang siap mendekati Muti. Apalagi kalau ia tidak terlihat bersama gadis itu.

Sore itu, Bagas masih dalam misi mencari keberadaan Muti setelah tante Ratih menelepon dirinya. Hampir semua sudut sekolah sudah ia coba susuri.

Akhirnya Bagas bisa melihat lagi sosok Muti yang berdiri di sudut bangunan sekolah. Langkah Bagas terasa ringan dan senyumnya terus terkembang. Sampai ia melihat sosok lain di depan Muti.

Orin.

Cowok sekelas Muti yang terang-terangan masuk daftar orang dengan niat mendekati teman Bagas.

Sial! Gerutu Bagas dalam hati.

Kaki Bagas bergerak semakin cepat. Hatinya sangat ingin segera mendekati dua orang itu. Tapi, kedua kaki Bagas tiba-tiba kaku dan terhenti begitu saja.

Di depannya, Orin terlihat mulai mendekatkan diri. Tidak hanya itu, ia terus maju dan mencondongkan wajahnya ke arah Muti. Wajah dua insan itu kini hanya berjarak beberapa senti saja.

Dari jauh pun semua orang bisa tahu niat Orin yang hendak mencium Muti.

Baru kali ini Bagas merasa tubuhnya berubah jadi patung dan menolak bergerak. Darahnya terasa berhenti mengalir. Bahkan dadanya terasa begitu sesak. Seketika tangannya mengepal.

“Jangan,” bisik Bagas begitu lirih.

Kumohon jangan! Kali ini ia berteriak dalam hatinya. Lari Mut!

Bagas adalah orang yang ingin berlari ke sana. Ingin menarik Orin. Ingin berteriak membabi buta. Tapi dirinya tidak bisa bergerak. Kakinya terpaku di tempat, seolah sedang diberi hukuman berat oleh tuhan.

Muti berdiri menatap Orin, teman sekelasnya yang tiba-tiba mengajak bicara empat mata. Pembicaraan yang penuh basa-basi dan berujung pernyataan suka Orin padanya.

Mata gadis itu masih mengerjap cepat saat wajah Orin mulai mendekat dan semakin dekat. Muti sadar niatan Orin yang hendak menciumnya. Ia hanya tidak percaya secepat itu pergerakan Orin, bahkan dirinya saja belum menjawab.

Setelah sejenak mereka bergeming, tanpa aba-aba tangan Muti sudah mendorong lembut dada Orin. Pria itu menjauh dengan wajah kecewa.

“Maaf, Orin,” kata Muti dengan suara sedikit tegas. “Aku nggak bisa.”

Orin sudah memprediksi ini. Kedekatan mereka masih seujung kuku dan kehadirannya kurang berkesan untuk Muti.

“Tapi, Mut…”

“Maaf.” Kali ini Muti melangkah mundur sedikit. “Maaf banget, aku… aku nggak bisa.”

Orin dengan tatapan sedih itu ikut maju mengikuti langkah Muti. “Karena Bagas, ya?” tanya Orin ketika jarak mereka sudah kembali dekat.

Gadis itu terdiam. Kakinya tak lagi bergerak.

Dari jarak itu, Bagas bisa mendengar lamat-lamat percakapan mereka. Jantungnya berdegup kencang tak terkendali.

Karena aku? Apa maksud Orin? Mut kenapa diam aja? Gerutu Bagas dalam hati.

Orin menghela napas yang terasa bagai melepaskan letupan udara bagi Muti. “Sudah aku duga,” ucap Orin yang menangkap diamnya gadis di depannya.

“Orin..” suara Muti terlalu lembut untuk bisa didengar oleh orang lain.

Kali ini Orin mendekati Muti, tubuhnya terasa lemas karena kalah sebelum perang dimulai. Kepala pria itu tertunduk lalu bersandar di bahu Muti.

Langkah Orin membuat Muti tambah membeku. Ia mengutuk diri kenapa tidak bisa bertindak apapun di situasi seperti ini.

“Orin…”

“Bentar aja, Mut,” balas Orin. “Biarkan aku meratapi kekalahanku dulu.”

Di sisi lain, tindakan Orin jelas membuat Bagas meradang. Tapi ia terlalu pengecut untuk melarang lelaki itu atau sekedar mengganggu momen mereka.

“Nggak papa, Mut,” ucap Orin lemah. “Aku sudah tahu dari dulu. Caramu melihat dia, aku tahu.”

“Kamu salah paham,” sergah Muti.

“Jadi aku masih punya kesempatan?” tanya Orin seraya memiringkan kepala. Ia bisa melirik wajah Muti yang beku. “Nggak, ya.”

“Kamu datang di waktu yang kurang tepat,” ujar Muti lirih.

“Hmm?”

Muti balik menghela napas. “Aku lagi kacau. Ini bukan saat yang tepat untuk aku bahagia,” ujar gadis itu lirih.

Orin menegakkan kepalanya dan menyejajarkan dengan mata Muti. Dua kali Orin mencoba sedekat itu dengan Muti, tapi baru kali ini ia melihat gadis itu juga menatapnya dengan sedih.

“Maksudnya gimana, Mut?”

“Aw, gimana ya jelasinnya. Ada masalah keluarga dan itu jadi ganjalan besar akhir-akhir ini. Aku nggak mau kamu, bahkan mungkin Bagas ikut campur.”

“Bagas nggak tahu?” tanya Orin tak kalah lirihnya dari suara Muti.

“Belum.” Gadis itu menjawab setegar mungkin.

Ada rasa bangga terselip di hati Orin. Baru kali ini dia satu langkah dari Bagas, cowok yang selalu bilang dirinya sahabat Muti.

“Kalau boleh tahu…”

“Nenekku sakit,” jawab Muti lirih. “Dan itu jadi pukulan berat kami. Tapi.. aku nggak mau kamu memaksakan diri hadir jadi penyelamat… ini urusan personal. Maaf.”

Orin kecewa, strateginya dibaca dengan mudah oleh Muti.

“Mut…” Orin masih ingin mencoba.

“Nggak, aku nggak bisa. Maaf banget.” Gadis itu masih mencoba bicara setenang mungkin. “Maaf banget, kamu datang di saat yang tidak tepat. Maaf banget Orin, aku…”

“Aku tetap nggak punya kesempatan, kan?” potong Orin lembut.

“Hmm?”

“Di matamu, aku nggak pernah ada kesempatan untuk mendekat, kan?”

“Maaf,” ujar Muti begitu luwes. Hatinya pun mempertanyakan kenapa ia mengamini pertanyaan itu.

Orin mencoba mengulum sakit di hatinya dalam senyum yang ia paksa. Tangannya membelai rambut panjang Muti, seolah benda itu begitu rapuh. Ia kembali mencondongkan diri, kali ini bibirnya berada tepat di samping telinga Muti.

“Aku paham, Mut,” bisik Orin. “Terima kasih sudah memberitahuku. Membuatku jadi orang yang pertama tahu soal masalahmu. Walau aku tidak bisa membantu. Karena kamu menolakku.”

Gadis itu masih berdiri diam di sana. Tidak tahu harus berbuat apa.

Ini orang udah dikasih tahu masih salah paham juga, argh! Gerutu Muti dalam hati sembari memutar bola matanya.

Sedari tadi, Bagas berusaha keras mendorong tubuhnya untuk bergerak. Ia tidak tahan melihat kedekatan Muti dan Orin. Dadanya terasa sakit, tangannya mulai gemetar menahan emosi.

Entah apa pun yang sedang mereka bicarakan di sana, ia harus segera menghentikan. Karena sekarang ini Bagas merasa ia akan kehilangan sesuatu yang tidak pernah ia miliki.

“Muti!” seru Bagas yang akhirnya bisa mengeluarkan suara dari mulutnya. Pria itu berdiri menegang dengan pandangan nanar ke arah dua orang itu.

Orin dan Muti menatap ke arah Bagas berdiri. Mereka tidak tahu sejak kapan Bagas ada di sana. Ada rasa canggung yang menggantung di mata mereka.

“Sorry ganggu,” lanjut Bagas yang merasa kata itu terasa janggal dan perih. “Dicari Mamamu, katanya udah mau sampai di depan.”

“Oh! Mama?” celetuk Muti yang lalu menatap Orin.

“Biar aku temenin,” sambung Orin.

Muti menggeleng cepat. “Maaf, Orin..”

“Tapi kalau Bagas bisa?”

“Iya,” sahut Muti lirih. Tatapannya tidak lagi seterang tadi.

Orin berdiri di sana bagai prajurit yang kalah perang, hatinya terhempas berkali-kali. Walau ia tahu lebih dahulu, tapi ia tetap merasa kalah dari Bagas.

“Oke,” sahut Orin dengan senyum yang banyak dipuji anak perempuan sekolah ini. “Hati-hati ya.”

Tanpa banyak kata, Muti berjalan menjauh. Ia menyambar tangan Bagas dan menyeret anak itu berjalan menemaninya.

Hari itu, hati bagas juga sama luluh lantahnya. Tapi rasa takut kehilangan Muti terasa begitu bulat di depan mata. Ia membungkam mulut untuk bertanya tentang apa yang mereka bicarakan. Hingga puluhan tahun pun rasa takut itu masih membayangi.

Bagas kembali memposisikan diri sebagai sahabat Muti yang bertugas memindahkan kol. Dan hari itu ia setia menemani Mutiari menghadapi kehilangan sang nenek yang jadi pukulan terberat gadis itu.

Sudah sampai ujung

Bab terakhir

← Bab sebelumnya

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Komentarnya bisa dibaca siapa saja, tapi menulis butuh akun.

Masuk