4 - Sosok di Kafe Seberang [KOLonisasi ❤︎]

1 dibaca

A

“Kamu masih diemin Bagas? Mau sampai kapan Mut?” tanya Ratih yang sibuk menyiapkan sarapan.

Gadis itu melirik ke arah sang ibu dengan takut-takut. Ia tahu sejak kemarin mulutnya terkunci dari masuk mobil hingga sampai rumah.

“Kenapa lagi mereka?” tanya Fariq lembut sembari melirik ke arah anaknya.

Ratih meletakkan piring berisi sarapan di depan Muti. “Mama minta maaf kalau kemarin keterlaluan menggoda kalian,” kata wanita itu sembari duduk di sebelah Muti.

“Oh, masih soal itu,” gumam Fariq sembari mengumpulkan nasi di sendoknya. Ratih mengangguk lembut menanggapi komentar sang suami.

Muti mengangguk lembut. “Muti yang minta maaf, harusnya nggak memberikan respon seperti kemarin,” ucap gadis itu dengan suara lirih.

Sang ibu tersenyum sambil membelai kepala Muti. “Kamu masih mau diemin Bagas?”

Gadis itu menggeleng lirih.

“Maunya sih enggak, tapi aku nggak tahu cara mulainya. Sepertinya kemarin sudah bikin dia sakit hati. Aku terlalu kasar,” terang Muti.

Fariq menyipitkan mata begitu Muti selesai bicara. Matanya langsung menatap sang istri yang menatap anak gadisnya penuh tanya.

“Sejak kapan kamu jadi ragu-ragu gini, Mut?” tanya Ratih yang kini memiringkan kepalanya.

“Nggak tahu,” jawab gadis itu cepat. Ia tidak menyendok sarapan, tapi menggigit jempol kirinya.

Arrgh, kenapa aku begini sih? Apa yang salah sama otakku!!! Teriak gadis itu dalam hati. Frustrasi memikirkan sikap yang ia ambil sendiri.

Ratih kenal benar sikap Muti, kalau dia terus mendesak, gadis itu akan emosional. Sekarang saja ia bisa melihat Muti gugup dan telinganya mulai memerah.

“Hmm,” gumam Ratih yang menggeser arah duduknya agar tidak lagi terkesan mengawasi Muti. “Kalau sudah tenang, segera kamu hubungi Bagas saja. Dia pasti menunggu kamu menghubungi dia.”

“Kalau dia nggak balas?” tanya Muti lirih.

Fariq tidak tahan, ia menutupi wajahnya dengan tangan yang ia sandarkan di meja. Matanya masih menyipit sambil menggelengkan kepala. Bibirnya berusaha kuat tidak tersenyum.

“Belum pernah kan dia nggak balas?” Ratih balik bertanya. “Jadi nggak usah mikir yang tidak pernah terjadi gitu.”

“Tapi ingat ya, kita ada undangan makan malam di rumah Bagas nanti malam,” ucap Fariq yang membuat kepala Muti semakin menunduk.

Gadis itu tidak berani menghubungi Bagas. Nyalinya tiba-tiba ciut. Padahal biasanya dia akan ringan meneror Bagas. Pun di sisi sana, Bagas dibuat gusar dengan langkah Muti.

Mereka baru bertemu lagi saat acara makan malam yang diadakan orang tua Bagas. Muti terlihat sangat pendiam dan banyak menunduk.

“Masih belum baikan?” tanya Eva lirih di samping Ratih.

“Belum,” jawab Ratih berbisik. “Biarkan aja mereka, nanti juga baik-baik saja.”

“Kasihan anakku nggak tenang,” gumam Candra.

“Hmmm,” Fariq hanya bisa bergumam menanggapi bisik-bisik di dapur. “Kapan ya bisa jujur aja gitu. Gemas aku.”

Para orang tua tersenyum canggung. Merekalah yang berinisiatif menyiapkan meja makan dan meminta dua anak itu menunggu. Empat pasang mata masih berkala mengawasi Muti dan Bagas yang duduk berjarak di ruang keluarga.

“Bagas,” sapa Muti pelan. Mereka duduk berdekatan di sofa, tapi tidak bersampingan.

“Ya?” sahut Bagas yang girang disapa duluan. Matanya berbinar dan semua perhatiannya sudah bergeser ke Muti.

“Maaf,” ucap gadis itu masih dengan suara pelan. Pandangannya menunduk dan tertuju pada tangan sahabatnya.

Aku pengen menggenggam tanganmu, tapi aku gengsi. Iya aku gengsi! Gerutu Muti dalam hati.

“Untuk?”

“Soal sikapku malam itu.”

“Yang mana, ya?”

Muti memberanikan diri menatap Bagas. Sahabat satu-satunya itu menatap Muti penuh perhatian seperti biasanya.

“Waktu jemput Mama.”

Pria itu memiringkan kepalanya. “Seingatku, aku bilang aku ngerti deh, Mut.”

Jujur, Gas, aku nggak mau kamu semudah itu mengerti! Seru gadis itu dalam hati.

“Oh,” celetuk Muti yang kini mulai menggigit jarinya.

Bagaslah yang pertama menggenggam tangan Muti. Genggaman yang sama, tapi membuat bulu kuduk gadis itu meremang. Bahkan badannya langsung terasa membeku. Isi kepala Muti langsung kosong.

“Tenang, aku nggak marah, kok,” ucap Bagas sembari meremas lembut tangan Muti. Pria itu mempertaruhkan segala hal untuk melakukan itu.

“Kenapa? Kenapa nggak marah?” Gadis itu menatap sedih ke arah Bagas. Pria itu mengulas senyum yang dirindukan Muti. Jangan senyum, please, batin Muti. “Padahal, kan, kalimatku kasar banget. Kamu..”

“Buat apa aku marah?” sela Bagas yang sungguh tidak ingin melihat raut sedih sahabatnya.

“Tapi aku kan..”

“Kamu nggak ngapa-ngapain, Muti,” tekan Bagas. “Yang penting kan aku nggak marah. Ya kan?”

Muti mengangguk terpaksa. “Iya,” jawabnya. Tapi kegundahan masih belum reda di hatinya.

Bagas menatap genggaman tangannya. Ia tak ingin melepaskan, tapi tidak baik jika berlama-lama. “Ayo makan, Ibu sudah bikin makanan kesukaan kamu,” ucap pria itu sembari melepas tangan dengan penuh keterpaksaan.

Muti diam, matanya melirik ke arah tangan. Ada rasa kecewa membebat hatinya. Rasanya pedih hingga membuatnya ingin menghilang dari tempat itu.

Bagas yang berdiri dan melangkah melewatinya dengan santai. Entah kenapa setiap langkah membuat Muti nelangsa. Tapi mulutnya benar-benar terkunci sendiri.

Pria itu sadar kalau Muti masih bergeming di tempat duduk. Pandangannya bahkan terus tertunduk. Siksaan baru untuk Bagas kalau Muti yang biasanya tidak segera datang. Ia berbalik dan duduk berjongkok di depan Muti. Otaknya pun kaget dengan gerakannya sendiri.

“Muti,” sapa Bagas lembut. Ia memastikan menatap lekat-lekat sang sahabat yang matanya kini sedang sendu.

Gadis itu membeku melihat Bagas tiba-tiba ada di depannya. Tepat saat air matanya mau jatuh. Napasnya tersendat dan lupa ke mana jalur keluar.

“Aku nggak marah sama kamu,” ujar Bagas lembut seraya mengusap bibit air mata di ujung mata Muti. “Dan aku nggak tersinggung dengan kata-katamu juga.”

Bibir Muti otomatis melengkung. Ia mati-matian bertahan. Kehadiran Bagas di depannya langsung melepaskan beberapa kunci gengsinya.

“Mau sampai kapan kamu mendiamkan aku?” tambah Bagas masih dengan nada lembut yang sering didengar gadis itu.

“Maaf,” ucap Muti dengan suara parau. “Aku maunya juga nggak diemin kamu. Tapi…”

“Sssst,” potong Bagas sembari menggenggam kedua tangan Muti. “Aku senang kamu masih mau ngobrol sama aku. Kamu nggak perlu khawatir ya. Aku masih ada di sini, untukmu.”

Cukup, Gas, aku nggak mau berharap dari kata-kata manismu, ucap gadis itu lirih dalam hatinya.

“Yuk makan,” ajak pria itu. Ia kini berdiri dan menuntun tangan Muti untuk mengikutinya.

Dua pasang orang tua yang menunggu di meja makan terlihat lega saat Muti dan Bagas berjalan masuk. Mereka tahu kalau dua orang itu sudah saling baikan. Meja makan malam ini akan kembali hangat.

Muti pun mulai melepas gengsinya, ia tak lagi menutup mulutnya. Semudah itu dirinya kembali ceria. Sampai di titik matanya melihat pop up pesan dengan nama Yola.

Yola lagi, batin Muti sedikit menggerutu tapi tak bisa ia ungkapkan.

Bagas sendiri tiba-tiba merasa canggung. “Maaf, mau angkat telepon sebentar,” ujar pria itu sembari meraih cepat ponselnya. Lalu berlalu pergi ke luar rumah.

Telepon? Tadi aku lihat nggak ada telepon, muti makin menggerutu. Oh mau menelepon, kali.

“Muti, kerjaanmu gimana?” tanya Candra mencoba mencari basa-basi. Ia menyadari mata Muti mengekor terus ke mana Bagas berjalan.

“Oh, lagi sibuk-sibuknya, Om,” sahut Muti mencoba sesopan mungkin. “Ada banyak campaign yang harus dibuat. Lima kali ada. Rasanya otakku sampai bingung dan udah setengah linglung.”

“Nggak bisa ditolak?” tanya Candra yang tahu benar industri kreatif tempat Muti bekerja.

“Nggak sempat nolak aja udah numpuk. Setiap hari aku berharap nggak salah baca brief.”

“Sayang ya kita nggak bisa bantu,” celetuk Fariq.

“Jangan, jangan, jangan ngide deh Ayah,” protes Muti sembari menggelengkan kepalanya kuat-kuat.

Bagas kembali dengan wajah cerah dan senyum yang terus berkembang. Ekspresi itu membuat Muti sangat curiga. Ada rasa kecewa dan hancur yang diam-diam memasakkan diri dalam hati Muti.

Tapi gadis itu harus menjaga sebaik mungkin wajahnya. Ia tak bisa menghancurkan makan malam keluarga kali ini dengan mood yang sedang terjun bebas.

.

Walau malam itu berhasil dilewati Muti dengan tenang. Tapi saat kembali ke kamar, pikiran tentang Yola dan wajah sumringah Bagas menghantuinya.

Berhari-hari Muti tak bisa menepis pertanyaan tentang Yola dan sikap Bagas. Hanya pekerjaan yang mampu mengalihkan pikiran gadis itu. Ia benar-benar bagaikan robot mengerjakan semua tugas dengan sangat rajin.

“Mutiari,” tegur Amar, bos besar tempat Muti bekerja.

Muti yang sedang melamun langsung menengok. Ekspresinya lesu sampai membuat Amar khawatir melihat anak buahnya.

“Kamu kenapa?” tanya Amar sedikit perhatian.

“Gimana, Pak?” Muti merasa pertanyaan atasannya agak membingungkan.

“Kenapa nggak makan? Makanannya nggak enak?” Pria itu menunjuk pada piring Muti yang masih rapi.

Muti memandang ke bawah dan menemukan piringnya masih utuh. “Oh ya, saya harus makan,” ucap Muti datar. “Lupa.”

“Makan dulu, Mut, kamu dah banyak kerja. Habis ini kita bisa napas dikit kok. Ya, kan, Pak Amar?” timpal Rahmat, kawan satu tim Muti yang paham bagaimana gadis itu tak bernyawa akhir-akhir ini.

“Iya,” sahut Amar masih dengan khawatir. “Jangan sampai sakit, masih ada lagi habis ini, Mutiari.”

“Pak, saya mau napas dulu,” protes Muti sambil menggeleng. Ia sudah sadar dan segera menghabiskan makanan yang dipesan.

Sore ini satu tim desain mengadakan acara makan-makan di salah satu restoran di mall. Sebagai hadiah dari padatnya kerjaan beberapa bulan belakangan. Terkesan remeh tapi lumayan mengisi jiwa-jiwa yang mulai kosong.

[ Bagas, lagi di mana? ]

Sebuah pesan dikirimkan Muti pada sahabatnya dari tadi ternyata masih belum dibalas. Hari itu ia ingin menawari makanan dari mall untuk Bagas.

[ Masih ada jadwal meeting dengan klien, nih. ]

Pesan balasan dari Bagas akhirnya tiba saat Muti memikirkan hendak mengirim pesan lanjutan. Tapi gadis itu tahu diri, ia tak akan mengganggu Bagas kalau sedang ada jadwal rapat.

Muti yang kekenyangan, mencoba menikmati suasana saat rombongan sudah mulai beringsut pulang. Sayangnya mata gadis itu menemukan sesuatu yang ganjil. Hal yang tidak ingin ia lihat.

Bagas, sedang melambaikan tangan kepada seorang perempuan yang sudah menunggu di dalam cafe. Wajah temannya tampak sangat sumringah. Ekspresi yang sama seperti saat makan malam itu.

Ada banyak mall di kota ini, kenapa kita bisa berada di lokasi yang sama? Tanya Muti dalam hati.

Dua orang itu terlihat sedang bercengkrama dan sangat akrab. Wanita itu bahkan menatap Bagas begitu intens dan penuh senyum. Dua orang itu saling tertawa lepas, gestur tubuhnya pun tak canggung dan saling mendekat. Bahkan lengan mereka saling bersentuhan saking dekatnya.

Terlalu akrab untuk rekan meeting, Gas. Itu siapa kamu? Batin muti begitu resah.

Saat kepalanya masih sibuk bertanya-tanya. Bagas dan perempuan itu tampak semakin dekat. Perempuan itu menepuk lembut bahu Bagas dan mencondongkan kepalanya untuk berbicara lebih dekat lagi.

Ini sih bukan meeting, ini kencan! Batin Muti. Kepalanya sudah sigap menyimpulkan dari setiap detil yang ia lihat. Kenapa kamu harus bohong, Gas?

Hati Muti berasa kena bogem mentah seketika. Ia tak tahu harus bagaimana. Langkah kaki Muti hanya mengikuti ke mana rombongan rekan kerjanya bergerak. Sialnya, mereka mendekati cafe tempat Bagas berada.

Muti bisa semakin jelas melihat kedekatan Bagas dengan perempuan itu. Perempuan yang sangat cantik. Siapa pun pasti akan terpesona dengannya, tak terkecuali Bagas.

Kenapa kamu terlihat begitu bahagia, Gas? Batin Muti.

“Oh Yola!” seru Amar sang ketua rombongan sembari melambaikan tangan kepada wanita di samping Bagas. “Kalian bisa bubar duluan, aku mau ketemuan sama kolega dan klien dulu.”

Yola? Itu YOLA?! Seru Muti dalam hati saat tahu nama sosok wanita itu. Ah, pantas Bagas pasti kepincut.

Wanita bernama Yola itu menyadari keberadaan Amar. Dengan riang melambaikan tangan dan berdiri untuk mendekati Amar. Senyum Yola terlihat sangat menarik dan memikat menyambut atasannya.

Tidak hanya senyum, wajah dan penampilan Yola pun langsung memikat mata yang melihat. Wanita itu memberi kesan seorang yang begitu memperhatikan penampilan. Terlihat sangat feminim dengan rambut panjang yang beriak saat ia bergerak.

Aku nggak ada apa-apanya dari Yola, bisik Muti dalam hatinya lirih. Ia sangat sulit mengakui kenyataan yang terasa pahit ini.

Kaki Muti mundur bertahap, ia berusaha menyembunyikan diri di antara kerumunan. Meski dirinya sangat yakin baik Yola atau Bagas menyadari keberadaannya tadi.

“Kamu nggak papa, Mut?” tanya Rahmat yang tampak khawatir dengan perubahan sikap Muti.

“Iya, aku baik-baik aja,” jawab Muti tanpa berpikir.

“Tapi mukamu pucat,” protes Rahmat.

“Aku kayaknya butuh ke belakang,” balas Muti.

“Langsung mules?” tanya Sani, rekan lain yang ada di dekat Muti.

“He-em,” gadis itu memaksakan senyum canggung yang membuat semua orang percaya dia butuh ke WC. “Gimana dong?”

“Oke, kita anter deh,” ucap Rahmat. “Pak, kami duluan ya. Mau ngejar diskon!” seru pria itu.

Sementara Sani sudah mengamit lengan Muti dan menyeretnya menjauh. Tiga orang itu langsung ngeloyor dan tidak berbasa-basi dengan kolega yang ditemui Amar.

“Makasih ya, tapi kalian bisa melepasku di sini. Aman,” ujar Muti ketika sudah sampai di depan WC.

“Tapi kabari ya, kalau-kalau kamu…” Sani sangat khawatir dengan wajah pucat Muti yang tidak biasa itu.

“Aku cuma mau buang hajat,” potong Muti. “Ini mumpung masih sore, kalian bisa pulang duluan. Lagian ini di mall. Aman banget ninggal aku di sini,” ucap gadis itu seraya melambaikan tangan dan berjalan masuk kamar mandi.

Sudah sampai ujung

Bab terakhir

← Bab sebelumnya

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Komentarnya bisa dibaca siapa saja, tapi menulis butuh akun.

Masuk