HANA ANNISA

1 dibaca

A

Gema knalpot motor berderu berat menuruni aspal halaman fakultas, memecah pagi yang baru saja merayap naik dari celah-celah dedauan pohon ketapang. Hana melangkah terburu-buru di atas paving block. Layar ponsel di tangan kirinya menyala terang, pesan dari grup angkatan menunjukkan tautan jurnal penelitian yang baru saja dikirim dosen penanggung jawab mata kuliah metodologi.

Langkah kakinya hampir menghantam bahu seorang mahasiswa berjaket oranye yang keluar mendadak dari balik pilar gedung utama.

“Eh, maaf,” ralat Hana tanpa menghentikan ayunan kakinya, kepalanya menunduk sekilas sebelum kembali fokus pada layar ponsel.

Lorong fakultas mulai dipenuhi bau khas kertas fotokopian, aroma kopi instan dari kantin seberang, dan suara sepatu yang bergesekan dengan lantai keramik. Hana berbelok ke arah koridor ruang kuliah lantai dua.

“Han!” Suara nyaring dari arah belakang memanggil namanya.

Hana terus berjalan, jemarinya mulai menggulir layar ponsel, membaca abstrak jurnal.

“Hana!

“ANNISA!”

Langkah Hana berhenti lalu mendengus pelan sebelum memutar tubuhnya ke belakang. Reza sudah berdiri sepuluh meter darinya, berjalan setengah berlari sambil menenteng helm di tangan kiri.

“Apa?” sahut Hana datar.

Reza berhenti tepat di hadapannya, mengatur napasnya yang sedikit memburu. “Dari tadi gue panggil.”

“Gue dengar.”

“Terus kenapa nggak nengok?”

“Males.”

Reza mendengus, menyeka keringat tipis di dahinya dengan lengan jaket. “Jahat banget. Padahal gue mau nanya soal tugas etika riset. Lo udah kelar?”

“Udah.”

“Serius?”

“Belum.”

“Terus kenapa bilang udah?” Sebelah alis Reza terangkat.

“Secara spiritual, udah.”

Hana mendahului langkah Reza, berjalan santai menyusuri lorong menuju kelas.

Reza tertawa kecil, menyusul langkah Hana. “Logika macam apa itu. Kalau dosen nanya, emang gue disuruh jawab pakai zikir?”

Mereka berbelok memasuki ruang kelas yang sudah terisi separuh. Di sudut barisan ketiga, Naya sudah duduk rapi, laptop terbuka dan kotak pensil tersusun simetris di atas meja. Dito duduk di sebelah kirinya, sibuk mengetik tanpa mempedulikan sekitar, sementara Siska melambaikan tangan dari bangku tengah. Evan duduk di dekat jendela, kepalanya menengadah menatap langit luar melalui kaca buram sebelum menoleh ke Hana dan Reza.

“Eh, tugas kemarin formatnya pakai margin berapa? Jangan bilang tiga senti lagi, jari gue keriting,” keluh Reza ke Naya. Ia duduk di kursi kosong sebelah Siska.

“Empat-tiga-tiga-tiga. Sesuai panduan akademik. Kalau lo baca pedoman dari awal, lo nggak bakal nanya hal yang sama tiga kali sehari, Reza,” jawab Naya tanpa menoleh.

“Panduan itu diciptakan untuk dilanggar demi efisiensi psikologis mahasiswa,” balas Reza cepat.

“Kalau lo nulisnya pakai ukuran font enam belas, empat senti juga bakal kelihatan kaya selebaran donasi,” sela Dito tanpa mengalihkan pandangannya dari baris kode di layar hitam laptopnya.

“Gue nggak minta pendapat teknis dari manusia mesin, Dit,” tukas Reza mendengus.

Siska menggeser tasnya, memberi ruang duduk bagi Hana, lalu menatap cangkir kertas berisi es kopi susu yang diletakkan Hana di atas meja. “Lo belum makan apa-apa dari pagi, Han?”

“Nanti,” jawab Hana singkat.

“Dari kemarin bilang nanti terus.” Siska menatap cairan hitam pekat di dalam cangkir. “Itu es kopi.”

Hana diam, membuka tutup botol minumnya sendiri.

Reza melirik dari sudut matanya. “Kopi bukan makanan, Han. Itu racun penenang buat orang stres.”

“Gue tahu,” sahut Hana tenang.

“Terus kenapa diminum?”

“Karena gue suka.”

Di sudut meja, Evan menutup tutup pulpennya, menatap Reza. “Menurut lo, apa alasan orang minum kopi?”

Reza menoleh cepat. “Nah, Van. Bantu gue jelasin ke anak ini kalau es kopi pagi-pagi itu pintu gerbang ke lambung bocor.”

Evan menelan ludahnya. “Menurut gue lo tolol.”

Reza tertegun. “Gue nanya pendapat soal kopi, bukan penghinaan personal.”

“Itu pendapat gue,” balas Evan datar.

Hana tertawa kecil, Naya menggeleng pelan.

Percakapan mereka terputus ketika dosen masuk ke depan kelas. Reza membuka laptopnya, sesekali masih melirik gelas kopi di meja Evan.

Waktu berlalu hingga dosen menutup laptopnya setelah menyampaikan tugas terakhir. Beberapa mahasiswa langsung memasukkan buku ke dalam tas bahkan sebelum ia selesai mengucapkan salam.

Dosen menutup laptopnya setelah menyampaikan tugas terakhir. Beberapa mahasiswa langsung memasukkan buku ke dalam tas bahkan sebelum ia selesai mengucapkan salam.

Reza berdiri paling cepat. “Perut gue udah demo.”

Naya masih merapikan kertas di mejanya. “Tadi siapa yang bilang mau puasa sampai siang?”

“Itu gue sebelum sadar manusia butuh makan.”

Dito menutup laptopnya. “Logis.”

Reza menoleh. “Tumben lo dukung gue.”

“Gue cuma bilang logis.”

Siska sudah lebih dulu berdiri sambil meraih tasnya. “Kalian mau makan atau mau debat sampai kantin tutup?”

Hana memasukkan pulpen ke dalam tempatnya, lalu berdiri. “Ya udah. Kantin.”

Mereka keluar bersama arus mahasiswa yang memenuhi lorong.

Kantin pusat kampus berubah menjadi lautan kepala dan suara bising sendok beradu dengan piring melamin. Kelompok Hana menguasai satu meja panjang di bagian tengah, tempat tas, jaket, dan buku berdesakan dengan piring mi ayam dan gelas es teh.

“Gue sumpahin dosen kita pensiun minggu depan,” Reza mendengus, melempar sendoknya ke atas mangkuk kosong. “Tugas dua halaman itu bentuk penjajahan gaya baru.”

“Cuma dua halaman,” sahut Naya tanpa mengalihkan pandangan dari catatan kecilnya. “Jangan dramatis.”

“Dua halaman buat lo yang hobi nulis tesis mungkin gampang. Buat gue, dua halaman itu setara kaya naik gunung tanpa oksigen.”

Dito menepuk pelan bantalan touchpad laptopnya. “Kalau tulisan lo gede, jadinya tiga halaman.”

“Gue nggak minta perhitungan matematika dari lo.”

Siska mendorong piring siomay ke hadapan Hana. “Makan dulu. Sumpah, muka lo pucat dari tadi pagi.”

Hana menatap siomay itu, lalu menggeleng pelan. “Gue nggak selera, Sis.”

“Bukan masalah selera, Hana Annisa. Nanti sore lo tumbang, kita lagi yang repot ngangkat ke klinik.”

Di seberang meja, Evan memesan sebotol air mineral dan roti panggang yang belum habis separuh. Ia mengamati perdebatan Reza dan Naya, menatap bayangan gelas plastik yang memantulkan cahaya matahari, debu tipis yang bergeser di atas lantai, hingga tarikan napas Hana yang sedikit lebih dalam dari biasanya.

“Weekend ini pada pulang?” tanya Siska memecah obrolan.

Reza menggeleng. “Emoh. Mau di kos aja, maraton series.”

“Naya?”

“Gue di perpus kota. Ada arsip lama yang harus gue scan,” jawab Naya.

Siska menoleh ke arah Hana. “Kalau lo, Han?”

Hana terdiam sejenak, mengaduk sedotan di dalam es kopi susunya yang sudah mencair. “Belum tahu.”

“Kenapa?”

“Bokap belum ngabarin.”

Cahaya jingga pudar bersinar di atas rumput taman kampus. Aktivitas mahasiswa mulai melandai, sebagian besar sudah meninggalkan area gedung kuliah, menyisakan deru kendaraan jalan raya di luar pagar.

Mereka duduk bersandar di bangku beton panjang di bawah naungan pohon trembesi. Siska merapikan tali sepatunya, sementara Xavier yang kebetulan bergabung dari fakultas sebelah ikut berdiri di dekat mereka sambil merokok batangan terakhir.

“Lo pulang kapan, Van?” Hana menoleh ke arah Evan yang duduk di ujung bangku.

Evan menoleh. “Sabtu atau Minggu.”

“Naik apa?”

“Kereta.”

Reza melirik notifikasi tajuk berita debat capres di layar ponsel “Eh, nanti malam debat capres lagi.”

Evan melirik sekilas. “Terus?”

“Ya nonton.”

“Buat apa?”

Reza menoleh. “Buat tahu siapa yang bakal jadi presiden.”

Evan terkekeh. “Emang kalau yang kepilih siapa pun, hidup kita langsung berubah?”

Reza mengernyit. “Ya nggak langsung.”

“Ya berarti sama aja.”

Hana yang duduk di sebelah Naya ikut menyahut. “Yang harus diganti bukan cuma orangnya.”

Evan menoleh. “Terus?”

“Sistemnya.”

Naya mengangguk. “Sama polanya.”

Reza mengangkat alis. “Pola?”

“Cara kerja,” jawab Naya. “Kalau orangnya ganti tapi cara mainnya masih sama, ya hasilnya juga nggak bakal jauh beda.”

Evan menunjuk mereka berdua dengan ponselnya. “Nah. Itu yang gue maksud.”

Reza bersandar di kursinya. “Jadi menurut kalian nggak penting siapa yang menang?”

“Penting,” kata Hana. “Tapi bukan satu-satunya hal yang penting.”

“Kalau gue malah nggak tahu harus ngapain,” timpal Siska.

Dito menoleh. “Ngapain apanya?”

“Ya... kalau memang sistemnya yang harus diubah, kita bisa ngapain?”

“Demo,” sahut Dito.

Siska menatapnya. “Serius?”

“Enggak.”

Evan tertawa.

Dito memasukkan gorengan ke mulutnya. “Gue juga bingung. Gue bilang demo karena kedengarannya paling revolusioner.”

“Dasar,” kata Naya.

“Daripada gue bilang tidur, kan?”

Reza terkekeh.

Hana menggeleng. “Ya minimal mulai dari diri sendiri.”

Dito berhenti mengunyah. “Wah, kalimat paling berbahaya.”

“Kenapa?”

“Kalau mulai dari diri sendiri, berarti nggak bisa nyalahin orang lain.”

Siska tersenyum kecil. “Nah, itu baru masuk akal.”

Evan kembali melihat ponsel. “Pada akhirnya tetap aja. Mau petahana, mau yang udah tiga kali ikut Pilpres dan selalu gagal, kalau sistemnya nggak berubah, ya percuma.”

Reza menatap layar sebentar. “Berarti malam ini kita nonton buat lihat siapa yang paling banyak janji.”

“Bukan,” kata Dito.

“Terus?”

“Lihat siapa yang paling sedikit bohong.”

“Berarti kita nggak akan selesai nonton sampai besok pagi,” sahur Naya.

Mereka tertawa.

Hana memerhatikan kelima temannya itu dalam diam.

“Woi! Lo berdua ngapain malah bengong kayak orang linglung?” seru Reza menyadari Hana dan Evan tidak ikut tertawa.

Hana mengerjap. “Nggak ngapa-ngapain.”

“Curiga gue. Jangan-jangan kalian berdua dari tadi telepati ngomongin kejelekan gue ya?”

Hana meraup segenggam kecil kerikil rumput, lalu melempar pelan ke arah dada Reza.

“Besok ketemu di kelas pagi!” teriak Reza sambil melambaikan tangan, memacu motor bebeknya membelah kemacetan sore.

Kelompok itu pecah satu per satu. Dari enam orang, Hana berjalan sendirian menyusuri gang sempit menuju pintu gerbang kos-kosannya.

Kamar kos Hana berukuran tiga kali tiga meter, satu meja belajar kayu, kasur busa tipis di sudut, dan kipas angin gantung yang berputar lambat. Tas kuliah diletakkan di lantai. Layar laptop di atas meja menyala memancarkan cahaya putih kebiruan di dinding kamar yang polos.

Hana membersihkan wajah, mengganti pakaian dengan kaos longgar, lalu duduk di kursi, melanjutkan tugas esai sejarah kolonial yang tertunda.

Ponselnya bergetar di atas meja. Sebuah pesan dari grup WhatsApp kelas masuk. Reza mengirim meme tidak penting tentang dosen killer. Hana tersenyum tipis, mengetik balasan singkat berupa stiker kucing mengangguk, lalu meletakkan kembali ponselnya menghadap ke bawah. Sunyi mulai merayap masuk menggantikan bising jalanan luar.

Dering ponsel berbunyi nyaring, memecah suara putaran baling-baling kipas angin yang mengisi kekosongan ruangan. Nama Ayah tertera di layar ponselnya.

Hana meraih ponsel, menggeser tombol hijau, dan menempelkannya ke telinga.

“Halo, Yah.”

“Udah makan, Han?” suara bariton ayahnya terdengar di seberang sambungan, sedikit teredam oleh suara angin dari latar belakang.

“Udah. Baru aja selesai.”

“Kuliah lancar?”

“Lancar. Biasa, tugas numpuk.” Hana tersenyum kecil, memutar-mutar tutup bolpoin di tangannya. “Ayah udah di rumah?”

Di ujung sambungan, suara napas ayahnya ditarik panjang, berat, dan tertahan. Hana menurunkan bolpoinnya dari tangan.

“Yah?” panggil Hana, alisnya mulai merapat.

“Han...” suara ayahnya terdengar pecah, kehilangan wibawa yang biasa ia tunjukkan.

“Iya? Ada apa, Yah?”

Satu helaan napas bergetar di ujung speaker.

“Pamanmu... meninggal.”

Hana tertegun. Jarinya yang memegang ponsel mengendur sekadar sepersekian detik. Layar laptop di hadapannya masih menyala terang, kursor hitam berkedip-kedip teratur di ujung kalimat yang belum selesai ia ketik.

“Lagi, Yah?”

Suara kipas angin gantung masih berputar konstan, mendengung datar di atas kepalanya.

“Kapan...” Tenggorokan Hana kering. “...kapan kejadiannya, Yah?”

“Sore tadi. Jantungnya... mendadak kambuh waktu dia di gudang belakang rumah. Keluarga udah kumpul semua di sana.” Ayahnya menarik napas gemetar. “Kamu... harus pulang malam ini atau besok pagi paling lambat. Kereta atau bis apa pun yang bisa kamu dapatkan.”

“Iya, Yah... nanti Hana urus tiketnya.”

Sambungan telepon terputus.

Hana tetap duduk terpaku di kursi beberapa menit. Layar laptop masih berkedip. Kertas tugas masih terbuka setengah jalan. Ia bangkit perlahan, berdiri dari kursi, lalu melangkah ke arah lemari pakaian di sudut kamar. Tangannya membuka pintu lemari, meraih satu jaket tebal dan beberapa helai baju ganti, lalu memasukkannya ke dalam tas ransel dengan gerakan lambat.

Ponselnya di atas meja kembali bergetar.

Sebuah pesan singkat dari Reza muncul di layar.

Reza

Woi, besok jadi nebeng ke perpus nggak?

Hana menatap layar. Jemarinya menyentuh papan ketik virtual, merangkai balasan pendek tanpa penjelasan panjang lebar.

Hana

Gue pulang ke kampung besok.

Reza

Kenapa?

Hana berhenti mengetik, menatap titik-titik kecil yang bergerak di bawah nama Reza. Ia menarik napas dalam-dalam, lalu mengetik satu kalimat terakhir.

Hana

Paman gue meninggal.

Hana meletakkan ponselnya menghadap ke bawah, menenggelamkannya dalam keheningan malam


Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Komentarnya bisa dibaca siapa saja, tapi menulis butuh akun.

Masuk