Suara ketukan pintu kos Hana mengakhiri keheningan malam yang sempat menggantung. Hana duduk bersimpuh di depan tas ransel terbuka dengan tumpukan kaus katun di tangannya. Ia berdiri, berjalan ke arah pintu.
Pintu kamar kos terbuka, Reza berdiri paling depan, tangannya menenteng kantong plastik hitam berisi kaleng minuman soda dan bungkusan nasi goreng pinggir jalan yang masih mengepulkan uap tipis. Di belakangnya, Naya, Dito, Siska, dan Evan berjejalan di lorong sempit kos.
“Lo beneran pulang malam ini?” Reza melangkah masuk. Ia meletakkan kantong plastiknya di atas meja belajar Hana yang penuh tumpukan kertas.
Hana mengerjap, menatap satu per satu temannya yang mulai memenuhi sudut ruangan kamar kosnya. Siska melangkah masuk paling terakhir, menutup pintu rapat-rapat, lalu berjongkok di samping Hana, membantu merapikan pakaian yang berserakan di lantai.
“Besok pagi,” jawab Hana singkat. “Gue berangkat besok pag.”
“Nah, bagus. Berarti kita punya waktu buat nongkrong dan nemenin lo beres-beres.” Reza menarik kursi belajar Hana, lalu duduk dengan posisi terbalik, dadanya menempel di sandaran kursi. “Santai aja. Kita nggak bakal ganggu.”
“Lo barusan bilang mau nongkrong,” sahut Naya dari belakang.
“Itu beda. Nongkrong bukan ganggu.”
Dito mengangkat alis. “Menurut lo.”
Reza menoleh. “Lo jangan ikut-ikutan.”
“Kalian... ke sini malam-malam gini cuma buat nemenin gue?” Hana menatap Siska yang kini melipat jaketnya dengan telaten.
“Kita cuma mau mastiin lo nggak sendirian ngadepin kamar sekecil ini setelah dapet kabar duka,” kata Siska lembut.
“Nggak. Jujur aja, selain itu kita juga lapar.” Reza merobek karet gelang bungkusan nasi goreng.
Naya meletakkan tas laptopnya di sudut kasur busa, Dito duduk bersandar di dinding dekat jendela. Evan berdiri paling belakang, tatapannya menyapu permukaan lantai kos, sela-sela meja, hingga tumpukan buku di rak tanpa menatap langsung ke arah Hana.
Reza menyodorkan bungkus nasi goreng ke Hana. “Lo makan.”
“Gue belum lapar.”
“Justru itu. Makan dulu sebelum nanti masuk kereta terus baru bilang lapar.”
Hana menerima bungkus itu tanpa membantah.
Siska melirik Reza. “Tumben perhatian.”
“Gue cuma nggak mau dia pingsan terus kita yang repot.”
“Ya, kan perhatian.”
Reza mengangkat bahu dan kembali mengambil sendok plastiknya.
Bungkusan nasi goreng itu berpindah tangan di antara mereka dalam diam selama beberapa menit. Aroma bawang goreng dan kecap manis memenuhi ruangan berukuran tiga kali tiga meter tersebut.
Naya merapatkan duduknya di lantai, memeluk lututnya sendiri, lalu menatap Hana. “Bokap lo tadi bilang penyebab pastinya apa?”
Hana menghentikan gerakannya yang sedang melilit kabel charger ponsel. “Jantung. Katanya kambuh mendadak pas dia lagi di gudang belakang rumah.”
Reza mengangguk, menatap kaleng sodanya. “Berarti mendadak banget?”
Hana mengangguk. “Kata bokap gue begitu.”
Dito mengetukkan kuku jarinya pada kaleng soda kosong di pangkuannya. “Secara medis masuk akal. Orang kelihatan sehat, aktif kerja, terus tiba-tiba pembuluh darahnya nyerah. Apalagi kalau usianya lewat paruh baya.”
“Tapi ini bukan yang pertama, kan,” sanggah Naya cepat. “Lo ingat cerita Hana minggu lalu soal Om dari jalur bapaknya yang di Solo meninggal mendadak tahun lalu? Terus bibinya yang di Bandung jatuh di kamar mandi dua tahun sebelumnya?”
Dito terdiam, menarik napas pendek melalui hidung. “Bisa aja faktor genetik. Riwayat bawaan.”
“Kalau satu atau dua orang, iya,” Naya menggeleng. “Tapi kalau polanya berulang di garis keturunan yang sama dengan jarak waktu pendek, itu bukan lagi sekadar kebetulan medis. Itu data yang berulang.”
Siska mendesis pelan, merapatkan jaketnya. “Nay, udah. Jangan mulai analisis forensik pas temen kita lagi berduka.”
“Gue nggak berasumsi, Sis. Gue cuma nyebutin data yang Hana bilang sendiri minggu lalu,” balas Naya datar.
Evan, yang sejak tadi duduk paling diam di sudut kasur, mengangkat wajahnya. “Umurnya berapa?”
“Om gue yang semalam meninggal?” Hana melirik Evan. “Belum enam puluh.”
“Ada riwayat medis sebelumnya?”
“Nggak ada yang serius. Paling darah tinggi biasa,” jawab Hana.
Reza mendengus di balik kaleng sodanya, lalu mengangkat tangan kanannya. “Atau mungkin... keluarga lo korban pesugihan.”
Siska melempar gulungan tisu ke arah kepala Reza. “Mulut lo ya! Orang lagi berduka malah dibawa ke mistis.”
“Gue cuma nyumbang teori alternatif,” bela Reza. “Dari pada pusing mikirin genetik sama serangan jantung, kan lebih seru kalau ada unsur gaibnya.”
“Seru buat lo, sial buat yang ngalami.”
Naya menatap Reza. “Teori alternatif dari mana?”
“Pengalaman.”
“Pengalaman nonton?”
Reza terdiam sesaat. “Itu juga pengalaman.”
Dito terkekeh kecil.
“Tapi kan polanya masuk,” lanjut Reza. “Keluarga besar Hana dulu kaya banget, punya tanah berhektar-hektar. Terus perlahan bangkrut, satu per satu keluarganya mati. Coba lu pikir.”
Hana menatap Reza tajam. “Lo serius ngomong gitu, Za?”
Reza melambaikan tangan, senyumnya meluntur. “Eh, nggak lah, Han. Sumpah, gue cuma becanda.”
Dito membuka tas laptopnya, mengeluarkan selembar kertas jadwal kuliah mingguan, lalu menatap tanggal merah di ponselnya sebelum beralih ke Hana. “Eh, ngomong-ngomong soal pulang... tugas observasi lapangan sosiologi pedesaan kita yang mangkrak itu gimana?”
Reza melotot. “Temen kita lagi berduka, lo malah bahas tugas kelompok?”
“Bukan gitu,” bela Dito. “Maksud gue, kalau Hana mau pulang ke kampungnya, wilayah sana pas banget buat objek observasi perubahan struktur sosial ekonomi.”
Naya menegakkan punggungnya. “Benar juga sih. Daerah asal Hana itu dulunya pusat perkebunan kolonial, terus berubah jadi kawasan transisi. Datanya valid banget buat laporan akhir.”
Hana menatap teman-temannya bergantian. “Kalian... mau ngapain?”
“Ikut,” jawab Reza. “Kita ikut ke kampung lo.”
“Nggak usah. Gue pulang bukan buat liburan. Situasinya lagi berduka. Keluarga besar ngumpul.”
“Kita nggak bakal ikut campur urusan keluarga lo.” Siska memegang lengan Hana. “Kita cari kos atau penginapan di sana, kerjain tugas observasi Naya sama Dito, dan kita cuma ada di ring luar buat nemenin lo.”
“Iya. Deadline tugas itu minggu depan,” timpal Naya. “Daripada kita pusing nyari objek riset di kota, mending kita analisis pergeseran ekonomi di kampung lo. Sambil selancar data sejarah keluarga lo juga.”
“Lo mau ngerjain tugas sambil neliti kematian keluarga gue, Nay?”
“Bukan neliti kematiannya, Han, tapi nyari tau kenapa struktur keluarga dengan ekonomi kuat bisa ambruk separah itu. Lo nggak penasaran?”
Hana menoleh ke arah Dito, lalu ke Reza, dan berhenti pada Siska. Pandangannya berhenti menatap Evan di sudut ruangan.
“Lo juga mau ikut, Van?”
“Kalau mereka ikut... gue ikut,” jawab Evan datar.
Hana menunduk, memandangi tas ranselnya. “Terserah kalian. Tapi kalau nanti di sana suasananya nggak enak, jangan salahin gue kalau kalian disuruh pulang duluan.”
“Deal.” Reza mengangkat ponselnya. “Gue cek tiket sekarang.”
“Jangan beli dulu,” kata Naya. “Kita cek jadwalnya bareng.”
“Kalau gue nunggu lo, besok kita masih di sini.”
“Makanya jangan sok jadi ketua.”
Dito mengulurkan tangan. “Sini.”
Reza menyerahkan ponselnya. Hana menggeleng melihat mereka.
Waktu bergeser larut. Suara kendaraan di luar kos mereda. Satu per satu, teman-teman Hana mulai merapikan barang bawaan mereka sendiri di sudut ruangan.
“Besok kita kumpul di stasiun jam enam pagi. Jangan ada yang ngaret, terutama lo.” Naya menunjuk wajah Reza.
“Aman. Jam lima pagi gue udah nongkrong di peron,” jawab Reza.
Mereka berpamitan tidak lama setelah itu, keluar satu per satu, meninggalkan sisa aroma bungkusan nasi goreng dan udara kamar yang mengepul.
Hana berdiri sendirian di tengah ruangan. Ia melangkah ke meja belajar, mematikan layar laptop, lalu merapikan tumpukan buku terakhir ke dalam tas ransel. Ponselnya kembali bergetar di atas meja. Ia membaca satu pesan masuk dari ayahnya.
Jangan lupa kabari kalau sudah di stasiun besok, ya, Nak.
Hana menatap layar itu beberapa detik. Ia meraih saklar lampu dinding, lalu menekannya turun.














Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!