Gadis Werewolf

0 dibaca

A

Di tengah hutan belantara yang rimbun, tempat pepohonan menjulang tinggi hingga menutupi sebagian langit, terselip sebuah desa yang damai bernama Ciromed. Udara di sini selalu sejuk, berbau tanah lembap dan dedaunan segar. Rumah-rumah warga dibangun dari kayu kokoh dan jerami kering, tersusun rapi mengelilingi lapangan luas tempat warga berkumpul. Namun kedamaian itu sering retak, tergantikan ketakutan yang menyelimuti setiap malam. Desa ini kerap diserang sekumpulan makhluk mengerikan, manusia serigala, atau yang warga sebut werewolf. Tubuh mereka tegap berbulu lebat, mata menyala merah di kegelapan, gerakan mereka lincah dan cepat. Mereka datang di malam hari, merusak pintu dan jendela rumah, mencuri daging hasil buruan, mengacak-acak perapian, dan yang paling memilukan, membawa pergi gadis-gadis desa yang tak pernah kembali.

Kepala desa Ciromed adalah Sarni, pria paruh baya yang bertubuh tegap, berwajah tegas namun matanya lembut. Ia dicintai warga karena selalu berjuang melindungi mereka, meski setiap kali serangan terjadi, ia pun merasa takut dan tidak berdaya sepenuhnya.

Suatu pagi yang cerah, Sarni berjalan menyusuri tepian sungai yang jernih, berniat mengambil air untuk keperluan desa. Di sana, di antara bebatuan besar, ia melihat sebuah perahu bercadik yang terhanyut dan tersangkut akar pohon. Di dalamnya, seorang gadis cantik terjerat erat oleh tali tebal yang melilit kakinya. Rambutnya yang hitam panjang berantakan, wajahnya pucat namun matanya memancarkan ketegasan yang luar biasa.

“Hei, kau siapa?” panggil Sarni mendekat, “Jangan takut, aku akan menolongmu.”

Gadis itu mendongak, napasnya terengah-engah. “Namaku Santi...” suaranya lemah namun jernih, “Aku sedang mencari ikan di sungai, tiba-tiba tersangkut tali perahu ini... aku tidak bisa melepaskan diri.”

Sarni segera naik ke perahu, melepaskan ikatan tali yang melilit kaki Santi. “Aku Sarni, kepala desa di sana. Ikutlah bersamaku, kau butuh istirahat.”

Santi mengangguk, menerima uluran tangan Sarni. Ia berjalan tertatih-tatih di samping pria itu, menatap hutan lebat di sekelilingnya dengan pandangan yang sulit diartikan. Sesampainya di desa, warga berkumpul, menatap Santi dengan curiga.

“Siapa dia, Pak Sarni?” tanya seorang ibu, menarik anaknya ke belakang, “Jangan-jangan dia dari kelompok mereka...”

“Dia hanya gadis yang terjebak di sungai,” jawab Sarni tenang namun tegas, “Kita tidak bisa membiarkan orang lembut sendirian di hutan. Bukankah ajaran kita adalah menolong sesama?”

Beberapa warga masih berbisik ragu, namun perlahan mereka mengerti. Sarni menyediakan rumahnya untuk Santi tinggal, sementara ia sendiri tidur di pos ronda dekat pintu masuk desa, berjaga setiap malam.

“Kau istirahatlah di sini,” kata Sarni sambil menutup pintu, “Jika ada apa-apa, ketuk dinding ini. Aku tidak jauh.”

“Terima kasih, Sarni,” ucap Santi tersenyum tulus, “Kebaikanmu tidak akan kulupakan.”

Malam-malam berlalu dengan cemas. Sarni selalu memegang kentongan di tangan, matanya tak lepas dari kegelapan hutan. Hingga suatu malam, angin berhembus kencang, membawa bau busuk yang menyengat. Suara geraman buas terdengar mendekat.

“Mereka datang!” teriak Sarni memukul kentongan berkali-kali, “Warga, bersiap!”

Para werewolf melesat masuk ke desa, melompati pagar kayu, mengamuk seketika. Mereka merobek tirai jendela, menjatuhkan panci berisi makanan, meraung mengerikan. Sarni dan para lelaki desa menyambut mereka dengan tombak kayu dan belati, namun makhluk-makhluk itu terlalu lincah, mereka menghindar dengan cepat, mencakar tangan warga, dan melompat menjauh sebelum serangan balasan datang. Di tengah kekacauan, salah satu werewolf menerobos masuk ke rumah Sarni.

“Tidak!” teriak Sarni berlari mengejar, namun terlambat.

Santi didorong keluar, digendong di bahu makhluk itu. Ia menoleh ke arah Sarni, matanya memancarkan ketakutan yang sungguh-sungguh. “Sarni! Tolong aku!”

“Santi!” Sarni mencoba mengejar, namun werewolf lain menghadangnya, mencekal lengannya kuat. Makhluk itu tertawa serak sebelum melompat pergi menyusul kawan-kawannya.

Desa kembali hening, namun kesedihan menggantikan ketakutan. Gadis lain hilang lagi. Sarni berdiri di tengah halaman rumahnya yang berantakan, menunduk berat. Namun ia tidak membiarkan keputusasaan menguasainya.

“Dengar, warga!” serunya lantang, mengumpulkan mereka di lapangan, “Kita tidak bisa terus begini. Kita harus melindungi desa dengan benteng yang kokoh. Kita bangun tembok tinggi mengelilingi Ciromed, dan setiap malam lumuri dinding luarnya dengan minyak goreng agar mereka tidak bisa memanjat masuk.”

Warga saling berpandangan, lalu satu per satu mengangguk setuju. “Benar, Pak Sarni! Kita bangun sekarang juga!”

Seluruh desa bekerja sama. Pria memotong kayu dan menyusun batu, wanita menyiapkan makanan dan minyak, anak-anak membantu mengangkut bahan-bahan. Dalam beberapa hari, benteng kokoh berdiri mengelilingi Ciromed, dengan pintu kayu berat yang dikunci rapat setiap malam. Sarni menghela napas lega, namun hatinya masih tertuju pada Santi dan gadis-gadis yang hilang.

Sementara itu, jauh di jantung hutan belantara, di sebuah gua luas yang suram dan berbau anyir, Santi terkurung di balik jeruji bambu yang kokoh. Ia duduk tenang, namun matanya tajam mengamati sekeliling. Di hadapannya, berdiri Shad, ketua para werewolf, tubuhnya paling besar, bulunya paling tebal, taringnya paling panjang. Ia menghirup udara, lalu menyeringai curiga.

“Aku mencium bau yang sama...” gumam Shad, menatap Santi lekat-lekat, “Bau kita. Kau bukan sekadar manusia biasa, kan?”

Santi tidak menjawab, hanya tersenyum tipis, lalu menyeringai, taringnya terlihat sedikit, matanya menyala samar. Para werewolf pasukan Shad tertawa sinis, menunjuk ke arah jeruji, namun Santi berdiri perlahan.

“Kau benar, Shad,” suaranya berubah berat, bergema di dinding gua, “Aku memang salah dari kalian. Tapi aku bukan seperti kalian.”

Tubuh Santi membesar, bulu hitam lebat tumbuh seketika, kuku-kukunya memanjang tajam, matanya berubah merah menyala. Ia merobek jeruji bambu itu seakan hanya kain tipis, lalu melompat keluar.

“Tangkap dia!” bentak Shad.

Para werewolf menyerbu maju satu per satu. Yang pertama melompat menerkam, namun Santi berputar cepat, mencakar wajahnya hingga makhluk itu meraung kesakitan dan jatuh terguling. Yang kedua menyerang dari samping, Santi menangkis dengan lengan kuat, lalu menendangnya hingga terpelanting menabrak dinding gua. Ketiga, keempat, kelima, mereka datang dengan berani, namun Santi lebih cepat, lebih kuat, dan lebih lincah. Setiap serangannya telak, setiap tangkisan kokoh. Ia tidak membunuh mereka, hanya melumpuhkan agar tidak bisa mengganggu lagi. Tak lama kemudian, hanya Shad yang tersisa berdiri tegak di hadapannya.

“Kau membangkang!” geram Shad, matanya menyala murka, “Aku akan mengajarkanmu tempatmu!”

Shad melompat tinggi, menyerang dengan kekuatan penuh. Santi menangkis, namun kekuatan Shad luar biasa besar,  ia terdorong mundur, cakar Shad menyayat bahunya hingga darah segar menetes. Santi mencoba menyerang balik, namun Shad lebih tangguh, ia mengelak lalu mencakar punggung Santi. Gadis itu meraung kesakitan, lututnya hampir menyentuh tanah. Darah mengalir dari luka di lengan, bahu, dan rusuknya. Shad tidak memberi kesempatan, terus menyerang tanpa henti, mendesak Santi ke sudut gua.

“Menyerahlah!” bentak Shad, “Tidak ada yang bisa mengalahkanku!”

Santi mengangkat kepalanya, napasnya memburu namun matanya tidak menyerah. Ia melihat celah, saat Shad melompat untuk serangan terakhir, kakinya sedikit melesat ke depan sebelum mendarat kuat. Saat Shad meluncur ke arahnya, Santi tidak menangkis, melainkan merunduk tajam, membiarkan Shad melesat di atasnya. Dengan sisa tenaga yang ada, Santi melompat ke punggung Shad, mencengkeram leher makhluk itu kuat-kuat, lalu membantingnya ke tanah dengan dahsyat. Shad mengerang, tubuhnya bergetar hebat, lalu diam tak berdaya.

Santi berdiri gemetar, napasnya berat, darah masih menetes dari lukanya. Perlahan, bulu di tubuhnya menghilang, kuku memendek, ia kembali menjadi gadis cantik yang ditemukan Sarni di sungai. Ia berjalan menuju penjara bambu tempat gadis-gadis yang diculik dikurung. Mereka menatapnya takut, mundur ke belakang saat Santi membuka pintu jeruji.

“Jangan takut...” ucap Santi lembut, suaranya masih sedikit serak, “Aku tidak akan menyakiti kalian. Kalian sudah bebas.”

Gadis-gadis itu saling berpandangan, lalu satu per satu melangkah keluar. Santi memeluk mereka yang menangis, menenangkan mereka, lalu menuntun mereka keluar dari gua menuju jalan pulang ke Ciromed.

Kabar kedatangan mereka menyebar cepat. Warga berlarian menyambut putri, saudara, dan kekasih mereka yang hilang. Di depan gerbang desa, Sarni berdiri memandang Santi yang berdiri tenang di antara gadis-gadis itu. Seorang pemuda bernama Danang, yang bertugas sebagai mata-mata desa, mendekat kepada Sarni.

“Pak Sarni...” bisik Danang pelan, “Saya melihat apa yang terjadi di hutan... Santi... dia adalah werewolf. Dia yang mengalahkan mereka, tapi dia juga salah satu dari mereka.”

Santi mendengarnya. Ia menunduk, wajahnya sedih namun tenang. “Benar...” ucapnya lantang, “Aku memang berbeda. Aku seharusnya pergi dari sini sekarang.” Ia berbalik hendak melangkah pergi.

“Tunggu!” panggil Sarni mendekat, “Ke mana kau akan pergi?”

“Ke mana pun yang jauh dari sini,” jawab Santi pelan, “Aku tidak ingin mendatangkan bahaya bagi Ciromed.”

Sarni menggeleng, tersenyum lembut namun tegas. “Bukankah justru kau yang menyelamatkan mereka semua? Kau yang mengalahkan Shad, kau yang membebaskan gadis-gadis ini. Siapa pun kau, Santi, kau telah membuktikan hatimu baik. Ciromed menerimamu apa adanya.”

Mata Santi berkaca-kaca. Ia tidak menyangka akan diterima begitu. “Sarni...”

“Kau tidak perlu pergi,” lanjut Sarni, “Tetaplah di sini. Bukan sebagai tamu, melainkan sebagai pelindung bersama-sama denganku.”

Warga bersorak setuju, menepuk tangan, menyambut Santi dengan tulus. Sejak hari itu, tidak ada lagi ketakutan yang menyelimuti Ciromed. Sarni memimpin dengan kebijaksanaannya, dan Santi menjaga desa dengan kekuatannya yang luar biasa. Mereka berdua menjadi pelindung yang tak terpisahkan, satu dengan kehangatan hati, satu dengan keberanian yang tak tergoyahkan, menjaga kedamaian di hutan itu selama bertahun-tahun.

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Komentarnya bisa dibaca siapa saja, tapi menulis butuh akun.

Masuk