Terjebak Di Zaman Purba

0 dibaca

A

Langit sore di atas kampus universitas berwarna kebiruan yang lembut, disaput awan tipis yang melayang perlahan seakan tak punya tujuan. Di antara deretan gedung yang dibangun dari batu bata merah dan kaca bening, terdapat sebuah bangunan yang sedikit berbeda, lebih tua, dikelilingi tanaman rambat yang hijau lebat, dan di bagian atasnya terpasang papan bertuliskan: Laboratorium Penelitian Waktu & Ruang. Di sinilah tempatnya bekerja seorang ilmuwan yang sudah berkarya puluhan tahun namun kerap dianggap aneh oleh rekan-rekannya, Profesor Alba.

Di ambang pintu laboratorium itu berdiri seorang gadis muda yang wajahnya cerdas dan matanya selalu penuh rasa ingin tahu. Namanya Ratih. Ia mahasiswi tingkat akhircal jurusan Sejarah Purba. Hari ini ia datang bukan untuk menyerahkan tugas atau bertanya soal ujian, melainkan sekadar berkunjung karena ia sangat mengagumi sosok dosennya yang begitu luas wawasannya.

Ratih mengetuk pintu kayu yang kokoh itu pelan. “Permisi, Pak Prof... Bolehkah saya masuk?”

Suara berat namun ramah terdengar dari dalam: “Masuklah, Ratih. Pintu tidak dikunci.”

Ratih melangkah masuk. Ruangan itu penuh rak buku yang menjulang tinggi, peta-peta kuno yang tergulung rapi, dan peralatan elektronik yang berkedip-kedip cahaya samar. Di tengah ruangan berdiri sebuah mesin yang bentuknya tidak seperti alat apa pun yang pernah Ratih lihat, berbentuk melingkar, terbuat dari logam yang berkilauan keperakan, dengan kursi atau altar di bagian tengah yang memancarkan cahaya lembut berwarna kebiruan.

“Wah...” desis Ratih, melangkah mendekat tanpa sadar, “Ini apa, Pak Prof? Sangat indah sekali.”

Profesor Alba tersenyum, menyeka kacamatanya yang sedikit berembun. Rambutnya yang memutih terlihat berkilauan terkena cahaya dari mesin itu. “Ini adalah hasil kerja kerasku selama belasan tahun, Ratih. Namanya Traveler Machine.”

“Mesin... penjelajah waktu?” mata Ratih membelalak, tidak percaya sekaligus takjub, “Sungguh bisa memindahkan seseorang ke zaman mana saja?”

“Teorinya begitu,” jawab Profesor Alba, berjalan mendekati mesin itu sambil menatapnya dengan pandangan penuh kasih sayang, “Bisa ke masa depan, bisa ke masa lalu. Tinggal mengatur koordinat waktunya saja. Tapi sejujurnya... belum ada yang mencobanya. Ini masih tahap uji coba.”

Ratih menelan ludah, jantungnya berdebar kencang. Ia selalu bermimpi bisa melihat langsung kehidupan masa lampau, bukan hanya dari buku atau fosil. “Pak Prof... bolehkah saya mencobanya? Saya sangat ingin tahu bagaimana rasanya.”

Profesor Alba menatapnya cemas. “Itu berisiko, Ratih. Belum diketahui apa yang akan terjadi. Bagaimana jika kau tidak bisa kembali?”

“Saya berjanji akan berhati-hati,” jawab Ratih mantap, matanya berbinar penuh harap, “Lagipula, saya ingin tahu. Saya ingin melihat dunia purba dengan mata kepala sendiri.”

Setelah berpikir sejenak, Profesor Alba menghela napas panjang lalu mengangguk. “Baiklah. Tapi ingat, hanya sebentar. Segera kembali setelah melihat sekeliling.”

Ratih melangkah masuk ke tengah lingkaran bercahaya itu. Cahayanya terasa hangat menyelimuti tubuhnya, seakan berdiri di bawah sinar matahari pagi yang sejuk. Ia duduk di atas permukaan altar yang halus dan lembut, menatap Profesor Alba.

“Siap?” tanya Profesor Alba, jari-jarinya menyentuh deretan tombol di papan kendali.

“Siap,” jawab Ratih tersenyum.

Namun saat Profesor Alba menekan tombol pilihan zaman, terdengar bunyi krek yang nyaring. Jari penunjuk itu berhenti di tempat yang tidak dikehendaki, dan di layar muncul tulisan yang berkedip-kedip: ZAMAN PURBA — PLEISTOSEN.

“Eh, tunggu!” seru Profesor Alba berusaha memperbaikinya, tapi terlambat.

Cahaya kebiruan melonjak tinggi, menyelimuti seluruh tubuh Ratih, menariknya ke dalam pusaran yang berputar cepat. Ratih berteriak tertahan, dunia di sekelilingnya berubah menjadi kabur, warna-warna menyatu, dan ia merasakan tubuhnya melayang jatuh, jatuh, terus jatuh, hingga akhirnya ia mendarat di atas hamparan rumput tebal yang empuk namun sedikit menabraknya.

Ratih terbatuk pelan, mengucek matanya, lalu mendongak. Matanya terbelalak tak percaya.

Langit di atasnya biru pekat, bersih tanpa jejak asap kendaraan. Udara sejuk dan segar sekali, berbau tanah basah dan bunga liar. Di kejauhan, berjalan melintas sekawanan hewan yang tingginya menjulang ke langit, berbentuk seperti gajah, namun tubuhnya lebih besar, rambutnya tebal berwarna cokelat tua, dan gadingnya melengkung panjang keluar dari mulutnya.

Mammoth! batin Ratih berteriak, sungguhan! Bukan fosil, bukan gambar!

Belum sempat ia mengagumi pemandangan itu, terdengar suara teriakan dan langkah kaki berat yang menggetarkan tanah. Dari balik pepohonan raksasa, berlari sekelompok makhluk yang bertubuh tegap, berbadan kekar, rambut menutupi sebagian wajah, memegang alat-alat tajam dari batu. Mereka berlari ketakutan, menoleh ke belakang berkali-kali. Dan di belakang mereka, mengejar dengan langkah raksasa, makhluk-makhluk yang tingginya dua kali lipat manusia biasa, kulit mereka kasar, wajah mereka menyeramkan, dan mereka meraung dengan suara yang menggelegar membelah hutan.

Manusia raksasa!

Ratih tidak berpikir dua kali. Ia bangkit berdiri dan ikut berlari bersama mereka, mengikuti arah lari mereka menuju sebuah gua besar yang tersembunyi di balik semak belukar. Mereka menyusup masuk, dan sesampainya di dalam, mereka menyelimuti mulut gua dengan tumpukan rantai besar agar tidak terlihat.

Suara langkah kaki raksasa terdengar di luar, lalu perlahan menjauh. Ratih menghela napas lega, lalu menatap mereka yang ada di dalam gua.

“Siapa kalian?” tanyanya.

Mereka saling berpandangan, lalu menjawab dengan suara yang dalam dan kasar, bahasa yang sama sekali tidak dimengerti Ratih, bunyi-bunyian yang pendek, tajam, tidak seperti bahasa apa pun yang ia pelajari. Ratih mengerutkan kening, bingung. Tiba-tiba, dinding gua di belakang mereka bercahaya samar, dan muncul tulisan yang menyala-nyala:

BAHASA INDONESIA DIKTIFKAN. KOMUNIKASI DAPAT DILAKUKAN.

Seketika itu juga, suara mereka terdengar berubah menjadi bahasa yang Ratih pahami, meski logatnya masih terdengar aneh dan kuno.

“Aku Dur,” ucap pemuda yang paling tegap di antara mereka, rambutnya panjang, wajahnya tegas namun matanya ramah, “Ini saudara-saudaraku: Man, Har, dan Soar.” Ia menunjuk satu per satu. “Kami hendak memburu mammoth untuk makan malam. Tapi kelompok manusia raksasa itu juga menginginkannya. Mereka mengejar kami seakan kami yang akan dimakan, bukan sebaliknya.”

Ratih mengangguk paham. “Jadi mereka mengambil alih tempat berburu kalian?”

“Benar,” jawab Man, yang badannya paling kecil namun matanya paling lincah, “Mereka kuat dan tinggi. Kami tidak bisa melawan mereka secara langsung.”

Ratih berpikir sejenak, matanya menyapu dinding gua yang tertutup akar-akar panjang yang menjuntai dari atas. “Kalau begitu, kita tidak perlu melawan mereka dengan kekuatan. Kita gunakan akal. Kalian lihat akar-akar yang menjuntai itu? Kita buat tali yang panjang, lalu ujungnya kita ikatkan batu yang runcing. Kita pasang di jalur mereka berjalan, sehingga mereka terjerat dan jatuh.”

Mereka menatapnya takjub. “Apakah bisa begitu?” tanya Har.

“Tentu saja bisa,” jawab Ratih tersenyum yakin, “Aku pernah membacanya di buku. Mari kita buat sekarang.”

Mereka bekerja sama. Ratih mengajari cara memilin akar hingga menjadi tali yang kuat dan lentur. Dur dan Man memotong batu-batu runcing dan mengikatnya kuat-kuat di ujung tali. Saat semuanya siap, mereka bergerak perlahan menuju tempat kawanan raksasa itu berkumpul.

“Berhati-hatilah,” bisik Dur kepada Ratih, matanya menatap gadis itu lekat-lekat, “Jangan menjauh dariku.”

Ratih mengangguk. Mereka menyebar, memasang tali melintang setinggi betis di sepanjang jalan yang biasa dilewati para raksasa. Saat semuanya terpasang, Ratih memberi tanda, dan mereka semua muncul dari persembunyian sambil berteriak mengundang perhatian.

Para raksasa meraung marah, berlari mengejar mereka. Namun belum sempat jauh, kaki mereka tersangkut tali yang dipasang itu. Mereka terhuyung-huyung, lalu jatuh berdebam ke tanah, kepala mereka terbentur batu-batu keras hingga pingsan seketika.

“Sukses!” teriak Soar gembira, melompat kegirang.

Mereka segera mengeroyok seekor mammoth yang terpisah dari kawanan, menancapkan tombak batu yang telah mereka buat hingga hewan raksasa itu jatuh. Dengan tangan yang kasar namun cekatan, mereka menguliti dan memotong dagingnya, lalu memakannya langsung dalam keadaan mentah. Ratih melihatnya merasa sedikit mual, perutnya mual melihat darah segar yang menetes.

“Tunggu!” serunya, “Tidak boleh dimakan begitu saja! Harus dimasak dulu!”

“Maksudmu?” tanya Dur dengan mulut penuh daging.

“Dibakar dengan api sampai matang,” jelas Ratih, “Rasanya lebih enak, lebih aman, dan tidak membuat perut sakit.”

Mereka menatapnya ragu, namun menuruti perkataannya. Ratih mengajari mereka mengumpulkan kayu kering, menggesekkan dua batu hingga memercikkan api, dan menyalakan perapian. Ia juga mengajarkan cara mencari dedaunan beraroma, akar yang gurih, dan buah-buahan yang bisa dijadikan bumbu. Mereka memasak daging itu bersama-sama, dan aroma yang harum menyebar ke seluruh penjuru hutan.

Saat mencicipi daging yang sudah dimasak, mata mereka melebar takjub.

“Enak sekali!” seru Man, mengunyah dengan nikmat, “Rasanya seperti tidak ada makanan lain yang lebih lezat dari ini!”

“Kau ajaib, Ratih,” kata Dur sambil tersenyum, “Siapa yang mengajarkanmu semua ini?”

Ratih hanya tersenyum, tidak menjelaskan lebih lanjut.

Keesokan harinya, Ratih mengajak mereka semua ke sungai. “Kalian harus mandi,” katanya sambil menyingsingkan lengan baju, “Tubuh yang bersih membuat sehat dan nyaman.”

Mereka tertawa canggung, namun akhirnya ikut masuk ke air yang jernih dan sejuk. Ratih membasuh rambut mereka, membersihkan kotoran yang menempel, lalu dengan sebilah batu yang tajam ia memotong rambut dan mencukur brewok mereka yang lebat. Ketika mereka bercermin di permukaan air yang tenang, mereka terlihat berbeda, lebih rapi, lebih muda, dan sungguh-sungguh tampan.

Dur menatap bayangannya di air, lalu menatap Ratih. Wajahnya yang bersih membuatnya terlihat gagah dan mempesona. Jantung Ratih berdebar pelan saat mata mereka bertemu.

“Kau membuatku terlihat seperti orang lain,” kata Dur lembut.

“Orang yang lebih baik,” jawab Ratih tersenyum malu.

Ratih kemudian menguliti kulit hewan pemakan daging yang berbisa tajam, seekor harimau bertaring tajam yang dulu pernah diburu Dur, dan menjahitnya dengan jarum dari tulang hewan hingga menjadi pakaian yang sopan dan indah. Ia membuat kalung dari gigi hewan itu, dan sebilah pedang sederhana namun kuat dari tulang yang ujungnya diasah tajam. Kini ia tampak seperti bagian dari dunia mereka, bukan lagi orang asing yang datang entah dari mana.

Dur mulai mencari perhatian Ratih dengan cara yang sederhana namun tulus. Ia membantu menyiapkan kayu bakar, mengaduk masakan Ratih, dan setiap kali mereka pergi ke hutan, ia selalu menyematkan bunga yang harum di sela rambut Ratih.

“Cantik sekali,” gumamnya saat selesai menata bunga itu.

Ratih menunduk tersipu. “Terima kasih, Dur.”

Mereka saling jatuh cinta, murni dan tulus, di bawah langit purba yang tak pernah kotor oleh asap. Upacara pernikahan mereka dilakukan sesuai adat tempat itu, dengan tarian melingkar di sekitar api unggun, memakan daging yang dimasak bersama, dan berjanji untuk saling menjaga seumur hidup. Man, Har, dan Soar bersorak gembira, memukul-mukul batu dan kayu sebagai tanda syukur.

Namun kebahagiaan itu belum berlangsung lama. Suatu malam, saat api unggun mulai meredup, terdengar suara teriakan dan benturan keras dari mulut gua. Sekelompok manusia purba lain, yang datang dari arah barat, menyerbu masuk. Tubuh mereka lebih besar, kulit mereka lebih gelap, dan wajah mereka lebih buas.

“Keluarkan wanita itu!” bentak pemimpin mereka dengan suara menggelegar, “Ia akan menjadi milik kami!”

“Jangan berani!” teriak Dur berdiri di depan Ratih, “Kalian tidak boleh menyentuhnya!”

Pertarungan pun tak terelakkan. Di dalam gua yang remang-remang, suara benturan batu dan teriakan bergema. Dur dan saudara-saudaranya bertarung dengan gagah berani, memukul dan menangkis serangan dengan segala kemampuan mereka. Namun jumlah musuh terlalu banyak. Man terluka di lengan, Har terdorong ke dinding, dan Soar jatuh terpelanting. Dur berusaha sekuat tenaga melindungi Ratih, namun musuh menariknya ke belakang, dan Ratih ditarik paksa keluar dari gua.

“Dur!” teriaknya memohon.

“Ratih!” Dur berlari mengejar, namun musuh mendorongnya jatuh ke tanah, lalu membawa Ratih pergi menghilang ke dalam kegelapan hutan.

Dur duduk di tanah, menatap arah kepergian Ratih dengan perasaan hancur. Ia tidak menangis, namun matanya memancarkan tekad yang membara. “Aku akan menjemputmu pulang,” ucapnya lantang, “Aku berjanji.”

Saudara-saudaranya mendekat. “Kami ikut bersamamu,” kata Man tegas.

Mereka mengikuti jejak kaki musuh yang tertinggal di tanah yang lembap. Orang-orang dari barat memiliki bau yang khas, bau daun busuk dan daging yang tidak dimasak, sehingga meski jejak kaki hilang, Dur dan saudaranya tetap bisa mencium arah perjalanan mereka. Mereka berjalan sejauh satu kilometer, lalu berhenti beristirahat, memburu seekor mammoth dan memasaknya dengan cara yang diajarkan Ratih, agar tenaga mereka kembali pulih.

Perjalanan itu memakan waktu dua minggu. Mereka melewati hutan lebat, sungai yang deras, dan padang rumput yang luas. Setiap langkah mereka diiringi doa dalam hati agar Ratih baik-baik saja. Hingga akhirnya, di sebuah lembah tersembunyi di balik tebing tinggi, mereka melihat sarang musuh, sebuah gua besar yang dikelilingi pagar dari tulang hewan raksasa. Di sana, Ratih dikurung di balik jeruji tulang yang kokoh.

“Ratih!” bisik Dur tertahan.

Mereka tidak menyerbu masuk saat itu juga. Mereka menunggu hingga malam tiba, saat seluruh penghuni sarang itu tertidur pulas. Dengan batu api yang dipukul-pukul hingga memercikkan api, mereka menyalakan tumpukan kayu kering di sekeliling pagar dan pintu masuk. Api perlahan merambat naik, menciptakan kepulan asap yang tebal.

“Kebakaran! Kebakaran!” teriak penghuni sarang itu bangun ketakutan, berlari ke sana kemari tanpa arah.

Dur dan saudaranya memanfaatkan kekacauan itu. Mereka melompat masuk, memukul siapa saja yang menghalangi jalan mereka, bertarung dengan sengit hingga musuh-musuh itu jatuh pingsan atau lari ketakutan. Dur berlari menuju tempat Ratih dikurung, memecahkan jeruji tulang dengan pukulan berkali-kali, hingga akhirnya pintu itu terbuka.

“Dur!” Ratih berlari memeluknya erat, air matanya menetes di bahu pria itu, “Aku tahu kau akan datang.”

“Aku tidak akan meninggalkanmu,” jawab Dur sambil menatapnya lembut, “Kita pulang.”

Kembali ke gua kediaman mereka, perayaan besar diadakan. Dur dinobatkan menjadi raja, dan Ratih menjadi ratu. Semua orang menghormatinya, mendengarkan nasihatnya, dan hidup mereka menjadi lebih baik, lebih sejahtera.

Namun kebahagiaan itu harus berakhir. Saat upacara penobatan sedang berlangsung, seberkas cahaya hijau terang turun dari langit, menyinari Ratih. Tubuhnya perlahan menjadi tembus pandang, perlahan menghilang.

“Dur...” suaranya terdengar sedih namun lembut, “Aku harus pulang.”

“Tidak... jangan pergi!” Dur meraih tangannya, namun hanya menyentuh cahaya yang lembut.

“Jangan bersedih,” Ratih tersenyum di antara air matanya, “Suatu hari nanti... kita akan bertemu lagi. Aku berjanji.”

Cahaya itu semakin terang, lalu Ratih menghilang sepenuhnya. Dur berdiri terpaku menatap langit, berdoa agar janji itu benar-benar terwujud.

Ratih kembali terlempar ke lantai laboratorium Profesor Alba. Ia terbatuk, lalu mendongak. Profesor Alba berdiri di sampingnya dengan wajah cemas namun lega. Ratih menyadari ia masih mengenakan pakaian dari kulit hewan yang ia buat sendiri.

“Kau kembali,” ucap Profesor Alba tersenyum, “Dan tampaknya kau membawa banyak cerita.”

Ratih menceritakan segalanya, pertemuannya dengan Dur, kehidupan di zaman purba, perjuangan, cinta, dan perpisahan. Profesor Alba mendengarkan dengan saksama, lalu mengangguk pelan.

“Manusia purba bukan makhluk yang buas tanpa hati,” katanya pelan, “Mereka juga mampu mencintai, melindungi, dan berjanji setia. Terima kasih, Ratih, telah membuktikannya.”

Keesokan harinya, Ratih berjalan menyusuri koridor kampus. Pikirannya masih tertinggal di lembah hijau itu, di samping Dur. Tiba-tiba langkahnya terhenti. Di ujung lorong, berdiri seorang pemuda yang sedang memegang buku, menatap ke arahnya sambil tersenyum. Wajahnya... persis seperti Dur, rahangnya tegas, matanya hangat, senyumnya tulus.

Ratih melangkah mendekat, jantungnya berdebar kencang.

“Permisi...” sapa pemuda itu, “Namaku Dwi. Sepertinya... aku pernah melihatmu di suatu tempat, meski aku yakin kita baru pertama kali bertemu.”

Ratih tersenyum, air mata bahagia menggenang di matanya. “Namaku Ratih. Aku juga merasa begitu.”

Mereka berdiri berhadapan, di antara keramaian kampus yang sibuk, namun bagi mereka waktu seakan berhenti. Janji yang diucapkan di zaman purba ternyata tidak akan pernah pudar, melainkan akan terus dijalin kembali, di kehidupan yang berbeda, di tempat yang berbeda, namun dengan hati yang sama.

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Komentarnya bisa dibaca siapa saja, tapi menulis butuh akun.

Masuk