Kay And Everhouse

2 dibaca

A

Angin gunung berhembus kencang menerpa wajah Kay. Rambut hitamnya yang gondrong berkibar liar di udara, menempel di dahi yang basah oleh keringat dan embun pagi. Ia berdiri di tepi hutan Everhouse, menatap ke dalam kegelapan yang menyelimuti pepohonan tua yang menjulang tinggi. Di pundaknya, baju kaos putih yang sudah lusuh bergoyang tertiup angin, kainnya tipis dan penuh noda tanah serta sobekan-sobekan kecil. Celana panjang yang dipakainya terbuat dari kain tebal berwarna cokelat tua, jenis pakaian yang biasa dipakai para pendaki gunung, namun kini sudah kotor dan penuh debu. Di punggungnya, terselip sebilah pedang belati berwarna hitam pekat, gagangnya terbuat dari kayu keras yang sudah halus karena sering digenggam.

Kay mengeratkan genggamannya pada gagang pedang itu. Jantungnya berdegup kencang bukan karena takut, melainkan karena cemas. Dua hari telah berlalu sejak Zept hilang. Dua hari sejak sekelompok makhluk pucat bertaring datang di tengah malam dan membawa pergi adiknya yang masih berusia sepuluh tahun.

“Zept…” bisiknya pelan, suaranya tertelan desiran daun-daun. “Kakak datang. Tunggu ya.”

Ia melangkah masuk ke dalam hutan. Tanah di bawah kakinya lembap dan licin. Akar-akar pohon besar melilit permukaan tanah seperti ular yang tidur. Cahaya matahari nyaris tidak bisa menembus dedaunan yang rimbun di atas sana, membuat suasana di dalam hutan selalu terasa seperti senja yang mendung.

Langkah Kay tiba-tiba terhenti. Dari kejauhan terdengar suara gemuruh yang aneh. Bukan suara angin. Bukan suara binatang. Itu suara langkah kaki. Banyak sekali langkah kaki.

Kay memutar tubuhnya ke kiri lalu ke kanan. Matanya menelusuri bayang-bayang di antara pepohonan. Semakin lama suara itu semakin keras. Bunyi derap kaki yang berat dan tidak beraturan, disertai rintihan-rintihan serak yang mengerikan.

“Siapa di sana?” seru Kay, suaranya lantang membelah keheningan hutan.

Dari balik pohon-pohon besar itu, sosok-sosok mulai muncul. Kulit mereka pucat keabu-abuan, mata mereka kosong melotot, pakaian mereka compang-camping dan berlumuran darah kering. Mereka berjalan dengan gerakan yang kaku namun cepat, tangan mereka terjulur ke depan seakan ingin meraih apa saja yang ada di hadapan mereka. Dan jumlahnya bukan puluhan. Mereka berbaris sejauh mata memandang, ribuan sosok kelabu yang menutupi lantai hutan dari ujung ke ujung.

“Zombie…” gumam Kay, keringat dingin mulai menetes di pelipisnya.

Pasukan itu melihatnya. Serentak mereka mengerang dan mempercepat langkah. Kay tidak berpikir dua kali. Ia mencabut pedang belati hitamnya dari sarung di punggung. Bilahnya memantulkan cahaya remang-remang hutan, tampak tajam dan mematikan.

“Kalau kalian mau menghalangiku mencari Zept,” teriak Kay sambil mengangkat pedang tinggi-tinggi, “kalian harus lewat dulu mayatku!”

Gelombang pertama pasukan itu sudah sampai. Seorang lelaki yang wajahnya sudah sebagian membusuk menerjang ke arah leher Kay. Kay melompat ke samping, menghindari serangan itu dengan gerakan yang lincah. Lalu dengan satu ayunan tangan yang kuat, ia menebas ke arah leher makhluk itu. Kepala itu tergelincir jatuh ke tanah dengan bunyi yang lembek. Tubuhnya roboh diam.

Namun itu hanya satu. Di belakangnya masih ada ratusan yang terus maju tanpa henti.

Kay berputar mengelilingi dirinya. Pedang hitamnya menari di udara. Setiap kali ia mengayunkan tangan, satu sosok jatuh. Ia menebas ke kanan lalu ke kiri, melompat ke atas lalu merunduk ke bawah. Tubuhnya bergerak seirama dengan naluri bertahan hidup yang tajam. Napasnya memburu namun ia tidak boleh berhenti. Di setiap sisi makhluk-makhluk itu datang berdesak-desakan, tangan-tangan kotor mencoba meraih lengannya, rambutnya, bajunya.

“Minggir!” bentak Kay sambil menendang perut sosok yang mendekat terlalu cepat. Makhluk itu terpelanting menabrak temannya di belakang. Kay menyusul dengan tebasan ke arah dada makhluk berikutnya. Pedang hitam itu menembus pakaian kotor dan daging yang sudah dingin seolah menembus kertas.

Namun semakin ia bertarung, semakin banyak yang datang. Keringat membasahi seluruh tubuhnya. Lengannya mulai terasa berat. Napasnya menjadi pendek dan perih. Ia sudah berjuang sedemikian lama namun barisan zombie itu tidak menipis sedikit pun. Mereka terus datang tanpa lelah, tanpa ampun, tanpa akhir.

“Kapan ini akan berhenti?” desis Kay sambil mengusap darah kental yang memercik ke pipinya.

Ia mundur perlahan, menjaga jarak sebaik mungkin. Namun tanah di belakangnya licin dan ia hampir terpeleset. Saat itu, di antara kerumunan pasukan itu, sosok-sosok lain mulai tampak. Mereka lebih tinggi, lebih tegap, dan matanya bukan kosong melainkan bersinar merah menyala. Taring panjang menonjol dari bibir mereka yang pucat. Mereka adalah vampir klan Zakku.

“Anak manusia,” suara salah satu dari mereka terdengar parau namun penuh wibawa, “kau tidak akan bisa melewati kami. Kembalilah ke tempat asalmu sebelum terlambat.”

Kay mengangkat pedangnya lebih tinggi lagi meski tangannya gemetar. “Di mana Zept? Di mana adikku?”

“Zept milik Tuan Garlik sekarang,” jawab vampir itu sambil tersenyum licik, “dia akan menjadi persembahan yang indah.”

Wajah Kay memerah menahan amarah. “Kalian tidak akan menyentuh sehelai rambut pun di kepalanya selama aku masih bernapas!”

Ia melesat maju menyerang vampir itu. Vampir itu tertawa sinis lalu melompat ke samping dengan kecepatan yang luar biasa. Kay tidak berhenti. Ia mengejar, pedangnya menyambar ke arah perut musuh itu. Vampir itu tidak sempat menghindar sepenuhnya. Sayatan di sisi tubuhnya mengeluarkan darah yang berbau anyir.

“Berani kau!” geram vampir itu.

Tiga vampir lain melompat turun dari dahan pohon di atas sekaligus. Kay memutar tubuhnya sekuat tenaga. Satu tebasan menyambar kaki musuh di sebelah kiri. Sabetan kedua menghantam dada musuh di sebelah kanan. Yang ketiga ia hadapi dengan menangkis serangan cakar tajam menggunakan gagang pedang lalu menyusul dengan tusukan cepat ke arah leher. Tiga musuh tumbang dalam sekejap mata.

Namun itu baru permulaan. Semakin banyak vampir yang maju ke depan. Mereka bertarung dengan kecepatan dan kekuatan yang jauh melampaui manusia biasa. Kay harus berputar dan menghindar terus-menerus. Setiap kali ia menebas satu, dua lagi muncul menggantikan posisinya. Bajunya yang putih kini merah kucel di banyak bagian, bukan darahnya sendiri melainkan darah musuh yang membasahinya.

Ia sudah lelah sekali. Kakinya terasa berat seolah tertanam di tanah. Penglihatannya mulai kabur karena kelelahan. Tetapi ia tidak boleh menyerah. Zept menunggunya. Ia harus terus maju.

Tiba-tiba angin berubah arah. Sesuatu melesat dari kegelapan di sampingnya begitu cepat hingga mata Kay nyaris tidak sempat menangkap gerakannya. Sesosok bayangan hitam melompat ke tengah medan pertempuran, mengulurkan tangan dan menghantam dada Kay dengan kekuatan yang dahsyat.

Kay terpelanting mundur seakan dipukul palu raksasa. Pedang hitamnya terlepas dari genggaman dan meluncur jauh di atas dedaunan. Tubuhnya membentur batang pohon besar sebelum jatuh terjerembap ke tanah. Napasnya tertahan sejenak karena rasa sakit yang tajam di rusuknya. Ia mencoba bangkit namun kakinya tidak mau menuruti perintahnya.

Di depannya berdiri sosok tinggi mengenakan jubah hitam tebal dengan tudung yang menutupi seluruh wajahnya. Wajahnya tersembunyi dalam bayang-bayang yang pekat.

“Siapa kau?” tanya Kay dengan napas tersengal-sengal sambil berusaha merangkak mundur.

Sosok itu tidak menjawab. Ia melangkah perlahan mendekat. Gerakannya tenang namun memancarkan kekuatan yang mengerikan. Ketika ia berdiri tepat di depan Kay, ia berjongkok dan mengangkat wajah Kay dengan ujung jarinya yang dingin.

“Kau berani,” ucapnya dengan suara berat dan dalam, “tapi kau belum siap.”

“Siapa kau?” tanya Kay lagi, matanya menatap tajam ke arah bayang-bayang di balik tudung itu.

“Namaku Tromp,” jawabnya, “dan aku tidak datang untuk melukaimu. Setidaknya bukan hari ini.”

Tromp berdiri lalu mengangkat tubuh Kay seolah anak kecil yang tidak berbobot. Kay berusaha meronta namun tenaganya sudah habis. Ia hanya bisa terkulai lemah di gendongan pria itu sementara pasukan zombie dan vampir yang tadi mengepung mereka mundur perlahan segan menyusul.

“Lepaskan aku!” seru Kay dengan sisa tenaganya, “Aku harus menyelamatkan Zept!”

“Diamlah anak muda,” kata Tromp sambil berjalan masuk lebih dalam ke hutan, “kau tidak akan menyelamatkan siapa pun dalam keadaan seperti ini. Percayalah.”

Kay ingin membantah namun rasa sakit di tubuhnya membuatnya tak mampu berkata-kata lagi. Ia memejamkan mata dan membiarkan dirinya dibawa pergi, berharap semoga apa yang dikatakan pria ini tidak berbahaya bagi Zept.

Ketika Kay terbangun, ia mendapati dirinya duduk di sebuah kursi kayu yang kokoh di dalam ruangan yang remang-remang. Tangan dan kakinya terikat kuat oleh tambang kasar yang mengiris kulitnya sedikit. Ruangan itu dingin dan lembap. Dindingnya terbuat dari batu-batu besar yang gelap. Di sudut ruangan hanya ada satu obor yang menyala redup, menciptakan bayang-bayang panjang yang menari-nari di permukaan dinding.

“Kau sudah bangun,” suara Tromp terdengar dari kegelapan. Ia berdiri di dekat pintu, masih mengenakan jubah hitamnya, “bagus.”

Kay menarik-narik ikatan di pergelangan tangannya. “Kenapa kau mengikatku? Katakan di mana Zept!”

Tromp melangkah maju dan berdiri tepat di hadapan Kay. “Aku mengikatmu supaya kau tidak melakukan hal bodoh sebelum waktunya. Dengarkan aku baik-baik Zept masih hidup untuk saat ini. Dia ditahan oleh Garlik, pemimpin klan Zakku. Dan tempat persembunyian Garlik ada di wilayah selatan hutan ini, jauh dari tempat kau bertarung tadi.”

“Kalau begitu lepaskan aku!” seru Kay, “Aku akan pergi ke selatan sekarang juga!”

“Dengan apa?” tanya Tromp tenang, “dengan tubuh yang penuh luka dan pedang yang hampir tak pernah kau latih dengan benar? Kau akan sampai di sana hanya untuk dibunuh sebelum sempat melihat adikmu.”

Kay terdiam. Ia tahu kata-kata itu benar. Meski ia berjuang sekuat tenaga tadi, ia menyadari bahwa ia belum cukup kuat. Namun ia tidak bisa duduk diam saja.

“Aku tidak peduli,” kata Kay dengan suara bergetar, “aku harus menyelamatkannya.”

Tromp menghela napas pelan. Ia melangkah mendekat lalu melepaskan ikatan di tangan Kay. “Aku tahu keberanianmu besar. Tapi keberanian saja tidak cukup melawan Garlik. Dia bukan musuh biasa.”

“Lalu apa yang harus kulakukan?” tanya Kay sambil mengusap pergelangan tangannya yang memerah.

Tromp menoleh ke arah jendela kecil di dinding ruangan itu. Ia bersiul pelan. Tak lama kemudian, bayangan besar menutupi cahaya di jendela. Seekor burung gagak berukuran luar biasa besar hinggap di ambang jendela itu. Bulu-bulanya hitam pekat seakan menyerap semua cahaya yang ada di sekitarnya. Matanya tajam dan cerdas, menatap Kay dengan pandangan yang seakan memahami segalanya.

“Ini temanmu mulai sekarang,” kata Tromp sambil menunjuk burung itu, “namanya Kra. Dia bisa menuntunmu ke tempat persembunyian Garlik. Tidak ada peta yang lebih tepat daripada dia.”

Kay menatap burung itu takjub. “Dia akan ikut denganku?”

“Ya,” jawab Tromp, “tapi sebelum kau pergi, ada satu hal lagi yang harus kau lakukan.”

Tromp berjalan ke sudut ruangan lalu mengambil sebilah pedang yang terselip di dinding. Ia melemparkannya ke arah Kay. Kay menangkapnya dengan kedua tangan. Pedang itu sederhana namun kokoh dan seimbang.

“Kau harus belajar bertarung dengan benar,” kata Tromp sambil mencabut pedang di pinggangnya sendiri, “dan aku yang akan melatihmu.”

“Hanya aku?” tanya Kay, “mengapa kau membantuku?”

Tromp terdiam sejenak sebelum menjawab, “karena ada hal-hal yang lebih penting daripada dendam pribadi. Dan karena Garlik adalah musuh yang harus dihentikan, bukan hanya untuk Zept, tapi untuk semua orang.”

Mulai hari itu Kay tidak berhenti berlatih. Setiap pagi sebelum fajar, ia sudah berdiri di halaman luas di depan tempat persembunyian Tromp. Tromp mengajarinya cara memegang pedang dengan benar, cara mengatur napas, cara membaca gerakan lawan, dan cara menyerang tanpa membuang tenaga sia-sia.

“Jangan hanya mengandalkan kekuatan tangan,” kata Tromp sambil menangkis serangan Kay, “gunakan seluruh tubuhmu. Biarkan pedang itu menjadi perpanjangan tanganmu.”

Kay berlatih sampai lengannya terasa mati rasa. Ia jatuh bangun berkali-kali. Tubuhnya penuh memar dan keringat. Namun setiap kali ia merasa ingin menyerah, bayangan wajah Zept muncul di benaknya. Ia tidak boleh berhenti. Ia harus menjadi kuat.

“Lebih cepat Kay!” seru Tromp sambil melesat menghindari tebasan Kay, “Garlik tidak akan menunggu kau siap!”

Kay mengangguk. Ia mengerahkan seluruh tenaganya. Gerakannya menjadi lebih lincah dan lebih terarah. Ia belajar mengantisipasi serangan sebelum serangan itu datang. Ia belajar bertahan lalu menyerang balik di saat yang tepat. Minggu berganti menjadi bulan. Perlahan tapi pasti, keahlian Kay bertumbuh. Pedang di tangannya kini bukan sekadar senjata, melainkan bagian dari dirinya.

Suatu pagi, saat mereka berlatih seperti biasa, Tromp berhenti tiba-tiba. Ia menatap Kay dengan senyum tipis yang jarang terlihat.

“Kau sudah siap,” katanya.

Kay menarik napas panjang. Ia mengangguk. “Aku tahu. Terima kasih, Tromp.”

“Pergilah,” kata Tromp sambil menunjuk ke arah Kra yang sudah menunggu di dahan pohon tinggi, “Kra akan menuntunmu. Dan ingat, jangan biarkan amarah menguasaimu sepenuhnya. Itu akan membuatmu ceroboh.”

“Aku ingat,” jawab Kay. Ia melangkah pergi tanpa menoleh ke belakang, hatinya teguh namun penuh rasa syukur.

Kra terbang rendah di depan Kay, menembus dedaunan hutan yang semakin lebat dan gelap. Semakin jauh mereka berjalan ke arah selatan, semakin asing dan mengerikan suasana hutan itu. Pepohonan tumbuh berantakan dan gelap. Tidak ada suara burung lain atau hewan kecil. Hanya keheningan yang berat dan sesekali suara sayap Kra yang mengepak pelan di udara.

Setelah berjalan seharian penuh, Kra tiba-tiba turun dan hinggap di bahu Kay. Ia mengeluarkan suara parau lalu menunjuk ke arah sebuah bangunan batu yang menjulang di tengah hutan. Bangunan itu tua dan suram, dikelilingi pagar berduri yang tinggi.

“Di sana,” gumam Kay, “Zept ada di sana.”

Ia menyelinap mendekat. Tidak ada penjaga di luar. Kay berhati-hati melonggarkan pintu belakang yang sudah lapuk. Di dalamnya koridor panjang dan gelap membentang ke segala arah. Kay berjalan mengikuti arah yang ditunjukkan Kra, melewati ruangan-ruangan kosong dan lorong-lorong sempit. Hingga akhirnya ia sampai di sebuah pintu besar yang terbuat dari kayu gelap yang kokoh.

Dari balik pintu itu terdengar suara percakapan. Kay menguping dengan hati-hati.

“Anak itu masih menolak bicara,” suara seseorang terdengar dingin dan tajam, “dia hanya memanggil nama kakaknya terus-menerus.”

“Biarkan saja,” suara lain terdengar berat dan menggetarkan dada, “sebentar lagi dia akan berguna.”

Kay mengeratkan genggamannya pada gagang pedang. Ia mendorong pintu itu terbuka perlahan. Ruangan itu luas dan remang-remang. Di tengah ruangan, di atas kursi tinggi yang terbuat dari kayu hitam, duduk seorang pria bertubuh besar mengenakan jubah panjang berwarna hitam legam. Rambutnya putih panjang terurai jatuh menutupi bahunya, wajahnya pucat namun matanya bersinar tajam menatap Kay yang baru masuk. Di sudut ruangan, terikat pada tiang batu, duduk Zept yang terkulai lemah.

“Zept!” seru Kay tanpa sadar melangkah maju.

Zept mendongak. Matanya yang sembab melebar tak percaya. “Kakak!”

Pria di kursi itu berdiri perlahan. Tingginya luar biasa, seakan menembus kegelapan ruangan itu. “Jadi kau akhirnya datang. Aku Garlik, pemimpin klan Zakku. Dan kau pasti kakak dari anak ini.”

“Lepaskan Zept,” kata Kay, suaranya tenang namun penuh ancaman, “atau aku akan memaksamu.”

Garlik tertawa keras, suaranya bergema di seluruh ruangan. “Kau? Anak kecil yang baru belajar memegang pedang? Jangan bermimpi!”

Garlik melompat turun dari kursinya begitu cepat sehingga Kay hampir tidak sempat bereaksi. Ia melayangkan tangannya yang besar ke arah Kay. Kay melompat mundur, namun ujung jari Garlik sempat menyayat pipinya. Darah menetes perlahan.

“Jangan meremehkanku,” geram Kay.

Ia menyerang lebih dulu. Pedangnya menyambar ke arah perut Garlik. Pemimpin klan itu tidak menghindar. Ia menangkap pergelangan tangan Kay dengan satu tangannya saja lalu mendorongnya ke belakang dengan kekuatan yang dahsyat. Kay terhuyung mundur, kakinya menyentuh dinding batu.

“Lemah,” ucap Garlik dingin.

Kay tidak menyerah. Ia melompat ke udara lalu menebas ke arah kepala Garlik. Garlik mengangkat lengan jubahnya untuk menangkis. Bunyi benturan logam terdengar nyaring. Kay memutar tubuhnya lalu menendang dada musuhnya. Garlik mundur selangkah namun tidak tergoyahkan. Ia menepis Kay ke samping seakan mengusir lalat. Kay jatuh berguling di lantai batu yang keras.

“Kakak!” teriak Zept dengan suara serak.

Kay bangkit kembali meski tubuhnya terasa sakit sekali. Ia mengingat semua ajaran Tromp. Ia tidak boleh menyerang membabi buta. Ia harus menunggu celah.

Garlik menyerang kali ini. Tangannya berubah menjadi cakar yang panjang dan tajam. Kay menghindar ke kiri lalu ke kanan, menghindari serangan demi serangan yang bisa merobek dagingnya. Setiap kali ia mendapat kesempatan, ia menebas atau menusuk. Namun kulit Garlik sekeras batu. Luka-luka yang ditimbulkan Kay tampak kecil dan tidak menghentikan langkah musuhnya sedikit pun.

“Kau tidak bisa membunuhku,” kata Garlik sambil tertawa, “aku adalah kegelapan yang abadi!”

“Kau salah,” jawab Kay sambil mengatur napas, “cahaya selalu ada untuk menandingi kegelapan.”

Kay berlari ke arah dinding lalu melompat memantul ke belakang Garlik. Garlik berbalik dengan cepat namun Kay sudah menebas. Pedang itu menembus bahu kiri Garlik. Darah hitam kental mengucur. Garlik meraung marah. Ia memukul Kay dengan punggung tangannya. Kay terlempar jauh dan menabrak meja batu di sudut ruangan. Pedangnya tergelincir ke lantai.

Garlik berjalan mendekat perlahan. Wajahnya penuh amarah. Ia mengangkat kaki untuk menginjak Kay yang terbaring lemah. Kay meraba-raba di lantai mencari pedangnya. Ia tidak menemukannya. Ia melihat ke arah Zept yang menangis tertahan. Ia tidak boleh gagal.

Tiba-tiba Kra melesat dari atas dan mencakar wajah Garlik. Garlik berteriak kesakitan dan menutup wajahnya dengan kedua tangan. Itulah kesempatan yang Kay tunggu. Ia meraih pedangnya yang berada tak jauh dari jangkauannya. Dengan sisa tenaga terakhirnya, ia melompat ke udara dan menusukkan pedang hitam itu tepat ke dada Garlik.

Garlik berdiri mematung. Matanya yang tajam perlahan kehilangan kilaunya. Ia menatap Kay dengan tatapan tak percaya lalu perlahan berlutut dan akhirnya jatuh tertelungkup ke lantai. Ruangan itu hening seketika.

Kay berdiri terengah-engah, pedang masih tergenggam erat di tangannya. Ia berjalan terhuyung-huyung ke arah Zept. Ia melepaskan ikatan di tubuh adiknya dengan tangan yang gemetar.

“Zept…” bisiknya sambil memeluk adiknya itu erat-erat, “sudah selesai. Kakak datang.”

Zept menangis tersedu-sedu di pelukan kakaknya. “Aku tahu Kakak pasti datang. Aku tahu.”

Mereka berdua tidak berlama-lama di sana. Kay memapah Zept keluar dari bangunan tua itu. Kra terbang di depan mereka menuntun jalan pulang. Perjalanan pulang terasa lebih ringan meski tubuh mereka penuh luka dan kelelahan. Hutan yang tadi terasa mengerikan kini tampak lebih bersahabat.

Hari mulai gelap ketika mereka akhirnya melihat atap rumah mereka di kejauhan. Asap tipis mengepul dari cerobongnya. Kay tersenyum. Ia menggenggam tangan Zept lebih erat. Mereka berjalan berdampingan, pulang ke tempat yang paling mereka rindukan di dunia ini.

“Kakak,” kata Zept pelan, “terima kasih.”

Kay menoleh dan tersenyum pada adiknya. “Kita adalah saudara. Tidak ada yang bisa memisahkan kita, apa pun yang terjadi.”

Matahari terbenam sepenuhnya di balik pegunungan, menyisakan cahaya keemasan yang membelai wajah mereka. Di depan mereka, pintu rumah terbuka dan cahaya hangat menyambut kedatangan mereka. Mereka pulang. Mereka selamat. Dan mereka tidak akan pernah berpisah lagi.

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Komentarnya bisa dibaca siapa saja, tapi menulis butuh akun.

Masuk