Angin tidak sekadar berhembus di Kutub Selatan. Ia menderu. Ia meraung seakan ribuan roh yang terperangkap dalam gumpalan salju dan es, menerpa segala sesuatu yang berani hadir di hamparan putih tak berujung itu. Di sini, dingin bukan sekadar suhu. Dingin adalah penguasa. Ia mencekik napas, membekukan ujung jari dalam hitungan detik, dan mengubah air mata yang jatuh menjadi butiran es yang keras. Banyak raja dan kaisar dari ujung dunia pernah mendengar kabar tentang tanah yang tak pernah melihat matahari bersinar terang sepenuhnya. Mereka mengirimkan pasukan besar, kapal-kapal kayu yang gagah berani, dan prajurit yang gagah perkasa. Namun tak satu pun yang berhasil. Kapal mereka membeku di tengah samudera sebelum mencapai daratan. Prajurit mereka jatuh kaku di atas perisai sendiri, napas mereka berhenti sebelum sempat melihat pemandangan di seberang lautan es.
Namun di tengah hamparan tak berujung itu, berdiri sebuah bangunan yang tidak kalah dingin namun tak pernah hancur. Sebuah kastil. Tinggi, megah, dibangun dari balok-balok es yang sejernih permata namun sekeras batu gunung. Menara-menaranya menjulang menembus kabut salju, memantulkan cahaya pucat bulan yang tak pernah terbenam sepenuhnya. Di dalamnya, hidup seorang ratu yang memerintah tak atas rakyat yang berjumlah ribuan, melainkan atas keheningan dan keindahan yang tak tertandingi. Namanya adalah Shinta.
Shinta bukanlah ratu yang lahir dari pernikahan bangsawan. Ia datang ke tempat ini sendirian bertahun-tahun silam, membangun istananya dengan tangannya sendiri dan kekuatan yang mengalir dari dalam jiwanya. Rambutnya berwarna biru sejernih lapisan es terdalam, jatuh bergelombang di atas bahu yang tegap namun lembut. Kulitnya pucat seputih salju yang baru turun, matanya sepasang batu permata biru yang memancarkan cahaya tenang namun menyembunyikan kesepian yang panjang. Ia mengenakan gaun yang teranyam dari benang es dan sutra tipis, berkilauan setiap kali ia bergerak, seakan mengenakan ribuan bintang kecil yang turun ke bumi.
Di sekelilingnya berdiri para prajuritnya. Mereka terbuat dari es murni, tegak dan diam, perisai dan tombak mereka siap dipegang sepanjang masa. Mereka tidak tidur, tidak makan, tidak lelah. Mereka hanya ada, setia kepada penciptanya tanpa pertanyaan. Dan di ruang terdalam istana, di sebuah kolam es yang tenang, tinggal peliharaannya. Seekor ular es raksasa yang tubuhnya sebesar batang pohon raksasa, sisiknya berkilau seperti berlian, matanya dua bongkahan es yang tajam. Ia tidak pernah mengganggu siapa pun selama tidak ada yang mengusik ketenangan istananya. Namun jika ada langkah asing terdengar mendekat, ia akan bangun, dan tak ada yang bisa menahannya.
Namun kekuatan dan keindahan itu tidak mampu mengisi kekosongan yang tumbuh perlahan di hati Shinta. Setiap malam, saat angin menderu di luar menara, ia berdiri di jendela besar dan menatap ke arah kegelapan yang membentang tak bertepi. Ia tidak butuh harta. Ia tidak butuh takhta yang diperebutkan orang-orang. Ia hanya butuh seseorang yang akan memandangnya bukan sebagai penguasa yang menakutkan, melainkan sebagai wanita yang ingin dicintai sepenuh hati.
“Apakah tidak ada satu pun jiwa di dunia ini yang datang bukan untuk menaklukkan, melainkan untuk menyayangi?” bisiknya pelan, suaranya bergema di ruangan yang luas dan sunyi. Ia memeluk dirinya sendiri, merasa dingin yang kali ini bukan berasal dari udara, melainkan dari dalam hatinya sendiri. “Aku tidak meminta pangeran yang kaya raya atau perkasa. Aku hanya ingin seseorang yang melihatku dan tidak merasa takut. Seseorang yang tetap tinggal meski dunia di luar sana membeku.”
Ia menanti. Hari berganti minggu, minggu berganti bulan. Namun yang datang hanyalah angin dan kabar tentang pasukan yang gagal mencapai tepian benua es.
Hingga suatu pagi, di mana cahaya samar keemasan menyentuh puncak-puncak bukit es, terdengar suara derap langkah yang tidak biasa. Bukan langkah pasukan ribuan. Hanya empat orang. Namun mereka berjalan tegak, janggut mereka tebal, baju mereka terbuat dari kulit binatang tebal, dan kapak perang tersampir di punggung. Mereka adalah orang-orang Viking. Berani, kasar, dan tidak takut pada apa pun yang bernama dingin.
Pemimpin mereka bernama Jogrot. Tubuhnya kekar, bekas luka melintang di pipinya, dan matanya menyala penuh ambisi. Ia menatap gerbang istana es yang menjulang tinggi di hadapannya dan tertawa keras.
“Jadi ini dia tempat yang dikatakan tak tertaklukkan?” suaranya menggelegar, memecah keheningan lembah. “Hanya istana cantik tanpa pelindung yang nyata! Teman-temanku, kita akan pulang membawa berlian dan emas yang tak terhitung jumlahnya!”
Tiga orang pengikutnya bersorak. Mereka melangkah maju, mendekati gerbang besar yang terbuat dari balok es yang kokoh. Namun sebelum tangan mereka menyentuh permukaannya, gerbang itu terbuka perlahan. Shinta muncul di ambang pintu, berdiri tegak, tatapannya tajam namun sedih.
“Kalian tidak diundang,” ucap Shinta, suaranya tenang namun terdengar jelas di telinga semua orang, “pulanglah. Tempat ini bukan untuk dijarah.”
Jogrot menyeringai. Ia melangkah mendekat tanpa rasa hormat sedikit pun. “Dan siapa kau? Gadis cantik yang bermain menjadi ratu? Kami tidak meminta izinmu. Kami mengambil apa yang kami inginkan.”
“Aku memohon padamu,” kata Shinta lagi, mencoba menahan amarah yang mulai tumbuh di hatinya, “dingin di sini bukan hal biasa. Pulanglah sebelum terlambat. Aku tidak ingin menyakiti siapa pun.”
“Menyakiti?” Jogrot tertawa mengejek lalu menoleh ke teman-temannya, “Apakah kau mendengar itu? Gadis kecil ini mengancam kami!” Tawa mereka memecah udara yang dingin. Jogrot kembali menatap Shinta dengan tatapan yang kasar, “Lebih baik kau menyerahkan harta istanamu dan dirimu sendiri kepada kami. Mungkin kami akan membiarkanmu hidup.”
Mata Shinta berubah dingin. Ia sudah mencoba bersikap baik. Ia sudah meminta mereka pergi dengan sopan. Namun mereka tidak mau mendengar. Ia mengangkat tangannya perlahan dan memberi isyarat ke arah kolam es di belakang istana.
“Baiklah,” ucapnya pelan, “kalau begitu rasakanlah ketangguhan tempat ini.”
Tanpa perintah lain, tanah di dekat kolam terbelah. Sesuatu yang besar dan panjang meluncur keluar dengan gerakan yang tenang namun mengerikan. Ular es raksasa itu muncul sepenuhnya, kepalanya yang besar menjulang di hadapan orang-orang Viking, matanya menyala dingin. Angin seketika berubah lebih dingin, napas mereka membeku di udara.
“Makhluk apa ini?” bisik salah satu pengikut Jogrot, mundur perlahan.
“Jangan takut!” bentak Jogrot meski suaranya sedikit bergetar, “hanya binatang! Serang!”
Mereka mengayunkan kapak. Namun bilah senjata itu nyaris tidak meninggalkan goresan pada sisik ular yang sekeras permata. Ular itu menggerakkan kepalanya dengan cepat, menepis dua orang Viking ke samping seakan mereka anak-anak yang tidak berdaya. Mereka terlempar jauh ke dalam tumpukan salju, terkejut dan kesakitan. Sebelum mereka sempat bangkit, mulut besar ular itu terbuka lebar. Salah satu prajurit yang tersisa tidak sempat berteriak sebelum ditelan utuh.
Jogrot dan dua orang temannya yang tersisa pucat pasi. Keberanian mereka lenyap seketika. Mereka berlari secepat mungkin, tidak menoleh lagi ke belakang, tidak memikirkan harta atau kejayaan. Mereka hanya ingin selamat.
Shinta menatap mereka pergi tanpa rasa gembira. Hati terasa berat. Ia kembali sendirian di antara tembok es yang indah namun sunyi.
“Mengapa mereka tidak datang untuk mencintaiku?” gumamnya pelan sambil menatap ke arah cakrawala yang putih kabur. “Mengapa semua yang datang hanya ingin mengambil sesuatu dariku? Apakah aku harus selalu sendirian?”
Dua minggu berlalu. Luka di hati Shinta tidak sembuh, namun ia berusaha tetap tegar. Ia berjalan menyusuri lorong-lorong istananya, menyapa para prajurit es yang diam menjaga tempatnya. Mereka setia, namun mereka tidak bisa mengobrol, tidak bisa memeluknya saat ia sedih.
Hingga suatu siang, bayangan dua sosok tinggi muncul di depan gerbang. Kali ini mereka tidak membawa kapak besar atau tameng yang mencolok. Pakaian mereka adalah jubah kain tebal yang dihiasi sulaman halus, pedang melengkung tersampir di pinggang, dan wajah mereka tampak tegas. Mereka adalah Sho Khan dan Mughal Khan, dua jenderal dari kerajaan Mongolia yang gagah perkasa dan dikenal tak terkalahkan di medan perang.
Shinta melihat mereka dari menara. Hatinya berdebar kencang. Mungkinkah ini dia? Mungkinkah salah satu dari mereka adalah orang yang selama ini ia nanti? Ia bergegas turun, menyisir rambut birunya, dan melangkah keluar menyambut mereka dengan senyum yang malu-malu namun penuh harap.
“Salam sejahtera untuk kalian,” sapa Shinta lembut saat berdiri di hadapan mereka, “selamat datang di istanaku. Aku Shinta, penguasa tanah ini.”
Sho Khan menatapnya dari atas ke bawah. Matanya tidak memancarkan kekaguman yang tulus, melainkan tatapan yang kasar dan penuh keinginan. “Jadi kau ratu di sini,” ucapnya suaranya berat, “kabar tentang keindahanmu ternyata tidak berlebihan.”
Mughal Khan tersenyum namun senyumnya tidak sampai ke matanya. “Kami datang dari jauh, melewati hutan dan samudera yang berbahaya,” katanya melangkah selangkah lebih dekat, “dan kami lelah. Kami ingin istirahat, dan kami ingin kau menemani kami.”
Hati Shinta yang tadi berbunga perlahan mengerut. Ia mundur selangkah. “Kau datang untuk berkunjung, atau ada maksud lain?”
Sho Khan tertawa pelan, tertawa yang membuat bulu kuduk berdiri. “Kami bukan datang untuk minum teh, Ratu cantik,” ucapnya, “tanah ini milik siapa yang mampu menguasainya. Dan kau... kau akan menjadi milik kami.”
Tangan Shinta mencengkeram gaunnya erat. “Beraninya kau!”
“Kau sendirian,” bisik Mughal Khan, “tidak ada yang akan tahu. Kau bisa hidup mewah bersama kami, atau menolak dan hancur sendirian.”
Kemarahan perlahan menguasai dada Shinta. Harapan yang ia genggam erat ternyata hanyalah bayangan kosong. Ia tidak membiarkan air mata jatuh. Ia mengangkat tangannya, memegang tongkat es yang terselip di ikat pinggangnya, lalu menghentakkan ujungnya ke tanah dengan kekuatan penuh.
“Kalian salah jika mengira aku lemah!” bentaknya.
Tanah di bawah kaki mereka bergetar. Retakan halus menyebar ke segala arah. Dari celah-celah itu, muncul sosok-sosok tegap yang perlahan naik ke permukaan. Ratusan prajurit es dengan perisai dan tombak terangkat tinggi, berdiri berbaris rapat mengelilingi kedua jenderal itu.
“Menyerahlah!” perintah Shinta, suaranya bergema tegas, “keluar dari sini sebelum aku murka!”
Sho Khan menyeringai. Ia mencabut pedangnya. Mughal Khan melakukan hal yang sama. “Ratusan patung es? Apakah itu senjatamu?”
Prajurit-prajurit itu maju serentak. Namun kedua jenderal itu bergerak dengan kecepatan dan kekuatan yang mengerikan. Pedang mereka berkilauan di udara. Setiap kali mereka mengayunkan senjata, satu per satu prajurit es hancur berkeping-keping. Potongan es beterbangan ke segala arah. Prajurit yang jatuh tidak bangkit lagi. Shinta memperlebar matanya ngeri. Ratusan prajurit yang ia bangun dengan kasih sayang hancur dalam hitungan menit.
Mughal Khan mematahkan perisai musuh di hadapannya lalu menendang sosok itu hingga hancur. “Lemah!” bentaknya. Mereka terus maju, menyingkirkan sisa-sisa barisan seakan mereka bukan prajurit, melainkan tumpukan kayu kering. Tak lama kemudian, tidak ada yang tersisa berdiri di antara Shinta dan mereka berdua. Mereka berjalan mendekat, napas mereka teratur, tidak tampak lelah sedikit pun. Tatapan mereka seperti serigala yang melihat mangsa yang terperangkap.
“Tidak ada yang bisa melindungimu sekarang,” gumam Sho Khan sambil tersenyum lebar.
Shinta mundur perlahan, tangannya gemetar memegang tongkat es. Ia sendirian. Ia tidak tahu harus melakukan apa. Kakinya terasa berat, napasnya tercekat.
Namun saat mereka melangkah untuk menangkapnya, suara raungan yang menggelegar terdengar dari belakang istana. Tanah berguncang. Ular es raksasa itu melesat keluar, tubuhnya yang besar meluncur cepat, lalu melompat ke hadapan kedua jenderal itu, menghalangi jalan mereka.
“Binatang sialan!” geram Mughal Khan. Ia menyerang lebih dulu, pedangnya menyambar ke arah kepala ular. Sisik itu melindunginya, namun goresan tetap muncul. Ular itu meraung kesakitan lalu membalas dengan pukulan ekor yang dahsyat. Sho Khan terlempar ke samping, berguling di atas salju.
Pertarungan itu berlangsung sengit. Ular itu kuat, namun pedang kedua jenderal tajam dan kecepatan mereka luar biasa. Mereka menghindari serangan gigi dan ekor, mencari celah, lalu menyerang bersama-sama. Darah yang berwarna biru pucat menetes dari luka-luka di tubuh peliharaan Shinta. Shinta menonton dengan cemas, tidak bisa berbuat banyak.
“Kalahkan dia!” teriak Sho Khan sambil menusuk punggung ular.
Ular itu mengerang kesakitan namun tidak mundur. Ia mengerahkan sisa tenaganya, melilit tubuh kedua jenderal itu sekuat tenaga. Mereka terjepit, napas mereka tertahan. Namun Mughal Khan berhasil mengayunkan pedang ke arah mata ular. Ular itu meraung keras, melepaskan lilitan, dan mundur kesakitan.
Kedua jenderal itu menyeringai penuh kemenangan. Mereka melangkah maju lagi. Namun sebelum mereka sempat menyentuh Shinta, ular itu mengumpulkan sisa kekuatannya dan meluncur dengan kecepatan luar biasa, menabrak mereka berdua hingga terpelanting jauh ke arah tepi tebing es. Mereka terhuyung-huyung, kehilangan keseimbangan, dan menyadari bahwa jika mereka terus bertarung, mereka mungkin tidak akan pulang hidup-hidup. Dengan wajah penuh amarah dan malu, mereka akhirnya berbalik dan pergi, menghilang di balik kabut salju, tidak pernah kembali lagi.
Shinta berlari ke arah peliharaannya yang terbaring lemah. Ia berlutut di samping kepala besar itu, menyentuh sisik yang dingin dan berdarah.
“Kau menyelamatkanku,” bisiknya sambil meneteskan air mata yang membeku di pipinya. “Terima kasih.”
Ular itu menatapnya pelan lalu menutup matanya perlahan, beristirahat setelah pertarungan berat itu.
Sebulan berlalu. Istana kembali tenang, namun kesepian Shinta tidak berkurang. Suatu sore, ia berdiri di dekat jendela kaca besar di menara tertinggi. Di tangannya ada bola es mungil yang berputar pelan. Ia memainkannya dengan jari-jarinya yang lentik sambil melamun.
“Seperti apa wajahnya nanti?” bisiknya pada diri sendiri. “Apakah ia akan datang dengan kuda putih? Atau berjalan kaki sambil menahan dingin? Apakah ia akan melihatku dan berkata bahwa aku adalah satu-satunya untuknya?”
Ia membayangkan sosok yang lembut, yang tidak takut pada dingin, yang tidak menginginkan apa-apa selain kehadirannya. Ia tersenyum sendiri, meski hatinya terasa perih karena keraguan.
Tiba-tiba matanya menangkap sesuatu di kejauhan. Di antara kabut salju yang turun perlahan, ada sosok yang berjalan. Bukan rombongan besar. Hanya satu orang. Ia berjalan tertatih-tatih, sesekali terhuyung namun bangkit lagi. Pakaiannya berwarna kuning cerah, kain yang indah namun kini kotor dan robek di beberapa bagian. Ia berlari sisa tenaganya menuju pintu gerbang istana.
Shinta memperlebar matanya. Ia berlari turun tangga secepat mungkin. Saat ia sampai di gerbang, pemuda itu sudah jatuh berlutut di tanah, napasnya memburu, wajahnya pucat karena dingin namun tetap tampan. Matanya memandang ke arah Shinta sesaat sebelum akhirnya ia kehilangan kesadaran dan terkulai jatuh ke atas salju.
“Jangan!” teriak Shinta. Ia berlutut memeluk kepala pemuda itu. “Kalian! Para dayang es!” panggilnya pada sosok-sosok yang anggun terbuat dari es yang melayang pelan di lorong-lorong istana, “bantu aku membawanya masuk! Cepat, sebelum ia membeku!”
Mereka mengangkat tubuh pemuda itu dengan lembut, membawanya ke ruangan terhangat di istana, tempat di mana api es yang tidak membakar menjaga suhu tetap nyaman. Shinta duduk di sampingnya, mengusap wajahnya yang dingin, membasuh keringat dan debu perjalanan.
Dua jam berlalu perlahan. Akhirnya, kelopak mata pemuda itu bergerak. Ia membuka matanya perlahan. Matanya berwarna cokelat lembut, menatap bingung ke sekeliling ruangan sebelum akhirnya tertuju pada wajah Shinta yang duduk di dekatnya.
“Di mana aku?” suaranya lemah namun merdu.
“Kau di istanaku,” jawab Shinta pelan, tersenyum lembut, “namaku Shinta. Aku penguasa tanah ini.”
Pemuda itu menatapnya kagum. Cahaya di ruangan itu menyinari rambut biru Shinta, membuatnya tampak bercahaya. “Aku Hien,” jawabnya pelan, “aku dari Bhutan.”
Shinta mengangguk. “Hien... nama yang indah. Bagaimana kau bisa sampai ke tempat yang sejauh ini?”
Hien menghela napas panjang, menatap ke arah jendela tempat salju turun di luar. “Ayahku ingin aku menjadi menteri keuangan di istananya,” ceritanya, “ia menyuruhku belajar menghitung emas dan mengurus pajak. Tapi hatiku tidak di sana. Aku ingin menjadi raja yang memimpin dengan hati, bukan dengan hitungan uang. Saat aku menolak, ayahku marah besar. Ia berkata jika aku tidak menurut, aku bukan lagi anaknya.” Hien menunduk, “Aku tidak mau menyerah pada impianku. Jadi aku kabur. Aku berjalan menyusuri hutan yang lebat, mendayung perahu kecilku melintasi samudera yang mengamuk, berharap menemukan tempat di mana aku bisa menjadi diriku sendiri. Aku tidak tahu ke mana arahku, aku hanya terus berjalan hingga akhirnya melihat cahaya istanamu.”
Shinta mendengarkan dengan mata berkaca-kaca. Ia melihat keberanian dan ketulusan di mata pemuda itu. “Kau berjuang untuk apa yang kau yakini,” katanya lembut, “itu membuatmu mulia, Hien.”
Ia menyiapkan makanan terbaik yang bisa dihidangkan di tanah es: roti yang hangat, buah-buahan yang disimpan dengan sihir agar tetap segar, dan minuman yang menghangatkan tubuh tanpa membakar. Hien duduk di hadapannya, tersipu malu namun tak mampu mengalihkan pandangan dari wajah Shinta. Setiap kali ia menatapnya, hatinya berdebar kencang. Ia belum pernah melihat wanita secantik ini, tidak di istana ayahnya, tidak di mana pun.
“Terima kasih,” ucap Hien pelan setelah menyuap suapan pertama, “rasanya lezat.”
“Makanlah yang banyak,” kata Shinta tersenyum, “perjalananmu jauh dan melelahkan.”
Sejak hari itu, keheningan istana berubah menjadi keindahan yang hidup. Hien tidak pergi. Ia tidak merasa ingin pergi. Mereka berjalan bersama di antara taman bunga es, bercerita tentang masa lalu, tentang impian, tentang ketakutan. Shinta menceritakan kesepiannya yang panjang, dan Hien memegang tangannya lembut sambil berkata, “Kau tidak akan pernah sendirian lagi, Shinta. Aku berjanji.”
Hien bukan pangeran yang datang dengan kereta kencana atau pasukan yang gagah. Ia datang dengan pakaian yang lusuh dan hati yang tulus. Dan itulah yang paling berharga bagi Shinta.
Beberapa bulan kemudian, mereka menikah di halaman terbesar istana. Para dayang es berdiri berbaris, memegang bunga yang terbuat dari kristal bening. Para prajurit es menunduk hormat, seakan ikut merayakan kebahagiaan penciptanya. Ular es raksasa itu muncul perlahan, menundukkan kepalanya besar sebagai tanda berkah. Di bawah langit yang diterangi cahaya pucat bulan, Shinta mengenakan gaun yang bersinar terang, dan Hien mengenakan pakaian kuning yang baru, mereka bersumpah setia satu sama lain seumur hidup.
“Aku mencintaimu, Shinta,” bisik Hien saat mengucapkan janji setia, “bukan karena kekuatanmu atau istanamu. Aku mencintaimu karena hatimu yang lembut dan teguh.”
“Aku mencintaimu juga, Hien,” jawab Shinta dengan mata berbinar bahagia, “kau adalah jawaban dari doa-doaku yang panjang.”
Namun kebahagiaan seringkali membuat iri mereka yang hidup dalam kegelapan. Ada sosok yang mengamati dari jauh, menunggu kesempatan. Namanya Totoki, seorang penyihir tua yang hatinya penuh kebencian. Ia tidak tahan melihat keindahan dan kebahagiaan yang bukan miliknya.
Suatu pagi yang kelabu, langit tiba-tiba menggelap. Angin yang biasanya bernyanyi berubah meraung marah. Dari balik awan hitam, turunlah sesosok bayangan besar bersayap lebar. Seekor naga hitam bersisik kasar, matanya menyala merah, dan napasnya bukan api, melainkan uap panas yang melelehkan apa pun yang disentuhnya. Di punggungnya duduk Totoki, tersenyum jahat.
“Ini milikku sekarang!” teriak Totoki suaranya menggelegar.
Naga itu menyemburkan uap panas ke arah menara istana. Es yang kokoh perlahan meleleh, jatuh berceceran seperti air mata. Para prajurit es maju mempertahankan istana, namun sentuhan napas naga membuat mereka hancur menjadi air dalam sekejap. Ular es raksasa itu berjuang sekuat tenaga, melilit tubuh naga, namun naga itu terlalu kuat. Ia mencakar dan membakar, hingga peliharaan Shinta jatuh terkulai, terluka parah dan tidak mampu bangkit lagi.
Shinta berdiri di halaman istana, memeluk Hien erat. “Lari Hien! Selamatkan dirimu!”
“Tidak! Aku tidak akan meninggalkanmu!” tolak Hien.
Namun Totoki turun di hadapan mereka. Ia mengangkat tongkatnya, dan sebelum mereka sempat melawan, kekuatan sihir yang gelap memisahkan mereka. Shinta ditarik ke udara, tertahan di cengkeraman sihir penyihir itu.
“Shinta!” teriak Hien berusaha meraihnya namun terdorong mundur.
Totoki tertawa keras. “Istana ini hancur, dan ratu ini milikku! Selamat tinggal, pangeran tak berguna!”
Naga itu mengepakkan sayapnya, terbang membawa Shinta ke arah utara, menghilang di balik awan hitam yang tebal. Hien ditinggal sendirian di tengah tumpukan puing-puing istana yang meleleh. Ia berlutut, air matanya jatuh ke tanah yang basah. Namun ia tidak menangis lama. Ia mengangkat kepalanya. Ia tidak akan menyerah.
“Aku akan menyelamatkanmu, Shinta,” janjinya pada diri sendiri, “apa pun yang terjadi.”
Hien berlari menuju perahu kecilnya yang masih utuh di tepi pantai. Ia mendayung. Ia mendayung tanpa kenal lelah, melintasi samudera yang luas dan berbahaya, menuju ke arah utara seperti yang ditunjukkan arah terbang naga itu. Hari berganti minggu, makanan menipis, tenaga hampir habis, namun ia tidak berhenti. Hingga akhirnya ia melihat daratan di kejauhan. Itu adalah pesisir Australia.
Ia mendarat di tepi pantai yang berpasir putih, tubuhnya lemah namun tekadnya tidak goyah. Saat ia berjalan tertatih-tatih mencari petunjuk, ia melihat sosok berdiri di bawah pohon yang rindang. Seorang lelaki bertubuh tegap mengenakan jubah hitam yang menutupi wajahnya. Ia berdiri diam seakan sudah menunggu kedatangan Hien.
“Kau mencari seseorang,” ucap lelaki itu tanpa menoleh.
Hien berhenti. “Ya. Istriku diculik oleh penyihir bernama Totoki. Aku harus menyelamatkannya.”
Lelaki itu berbalik perlahan. Matanya tajam namun tidak jahat. “Kau tidak akan mampu melawannya dengan tangan kosong. Kau butuh kekuatan, bukan kekuatan fisik semata, melainkan kekuatan hati yang teguh.”
“Ajari aku,” mohon Hien berlutut di hadapannya, “apa pun yang terjadi, aku harus menyelamatkannya.”
Lelaki misterius itu mengangguk. “Bangkitlah. Namaku tidak penting. Yang penting adalah apa yang akan kau pelajari.”
Mulai hari itu, Hien berlatih. Ia bangun sebelum matahari terbit dan berlatih hingga matahari terbenam. Ia belajar pedang, belajar mengendalikan napas, belajar memahami kekuatan yang tersimpan di dalam dirinya sendiri. Tubuhnya yang dulu lemah menjadi tegap dan kuat. Matanya yang dulu penuh keraguan kini teguh dan percaya diri. Ia tidak lagi sekadar pemuda yang kabur dari rumah. Ia menjadi ksatria.
“Kekuatan terbesarmu adalah cintamu,” kata gurunya suatu hari, “itulah yang tidak dimiliki Totoki. Itulah kelemahannya dan kekuatanmu.”
Setelah berbulan-bulan berlatih, gurunya berkata, “Kau sudah siap. Pergilah. Ikuti panggilan hatimu.”
Hien berterima kasih sepenuh hati. Ia melanjutkan perjalanan, menuju tempat persembunyian Totoki di pegunungan utara yang suram dan dingin. Saat ia tiba di gerbang benteng gelap itu, ia tidak gemetar. Ia memegang pedangnya dengan teguh.
Totoki muncul di hadapannya, tersenyum sinis. “Jadi kau datang untuk mati bersamanya?”
“Untuk membawanya pulang,” jawab Hien tenang.
Pertarungan itu panjang dan menegangkan. Totoki mengerahkan sihir gelap, menciptakan badai dan bayangan yang menyerang dari segala arah. Hien menghindar dan menangkis, mengingat setiap ajaran gurunya. Ia tidak membiarkan amarah menguasainya, melainkan membiarkan cinta pada Shinta menjadi penuntun gerakannya. Ia menyerang dengan tepat, tidak membuang tenaga sia-sia.
Kekuatan sihir Totoki perlahan melemah. Ia tidak siap menghadapi seseorang yang berjuang bukan untuk ambisi, melainkan demi cinta. Akhirnya, dengan satu serangan terakhir yang teguh, Hien menghantam sihir penyihir itu hingga retak dan hancur. Totoki berteriak lalu menghilang ke dalam asap tipis, tidak pernah terlihat lagi.
Hien berlari ke ruangan terdalam benteng itu. Di sana, terikat namun tidak terluka, duduk Shinta. Saat melihat Hien, matanya melebar tak percaya.
“Hien...”
Hien melepaskan ikatannya dan memeluknya erat. “Aku datang. Aku berjanji akan kembali.”
Mereka pulang bersama, kembali ke Kutub Selatan. Di sana, mereka membangun kembali istana es, kali ini lebih indah dan kokoh dari sebelumnya. Para prajurit dan dayang es kembali terbentuk, dan ular es raksasa pun pulih dan kembali menjaga kedamaian tempat itu.
Istana itu kini bukan lagi tempat kesepian. Ia menjadi rumah bagi dua jiwa yang saling menemukan, saling menyelamatkan, dan saling mencintai. Di bawah langit yang selalu menyelimuti mereka dengan cahaya lembut, Shinta dan Hien hidup bahagia selamanya.














Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!